
Alvan melenggang masuk ke kamar rawat Afifa. Hati Alvan langsung plong begitu injak kaki di ruang berisi orang-orang yang menjadi tumpuan masa depan. Ntah kenapa perasaan Alvan berubah tenang setelah melihat kedua anaknya serta wanita muda sang ibu dari buah hatinya. Rasa galau pada Karin berangsur sirna berubah adem. Azzam tidur di kasur tambahan sedang Afifa tidur di ranjang khusus pasien. Citra bergulung di atas sofa menjemput mimpi.
Di tengah kesendirian Alvan tidak merasa sunyi. Hatinya menghangat berada di tempat tepat. Alvan membersihkan diri sebelum merebahkan diri di samping Azzam. Alvan baru datang dari kantor polisi tempat segala kejahatan berakhir. Tempat itu bawa kenangan buruk bagi Alvan. Semoga kelak Alvan tak perlu menginjakkan kaki di tempat itu. Baik sebagai pelapor atau terlapor.
Alvan cepat lelap menyusul kedua anaknya. Detik demi detik berlalu mengejar fajar yang bakal menampakkan diri begitu subuh menjelang. Hari penuh kejutan berlalu meninggalkan berbagai kenangan di hati masing-masing insan di bumi. Esok penuh harapan baru siap menyambut.
Alvan tak tahu berapa lama dia tidur. Tidurnya nyenyak tanpa mimpi buruk setelah lalui hari berat. Baru kali ini Alvan rasakan bagaimana tidur bersama darah daging sendiri. Betapa nyaman berbaring dengan orang yang tumbuh dari bagian tubuhnya.
Begitu buka mata Alvan tak melihat Azzam. Citra juga tak ada. Putri mungilnya masih lelap dengan senyum senang terukir di bibir. Afifa bahagia dalam tidur. Gadis kecil itu telah menemukan apa yang dia dambakan selama ini. Papi idola serta gadget pribadi. Harapan Afifa tidak muluk-muluk. Tidak harap banyak harta serta barang mahal. Cukup punya sosok papi bisa dipamerkan pada teman-teman sekolah. Jika perlu Afifa ingin pasang pengumuman kalau dia juga punya papi.
Alvan meregangkan otot merentangkan tangan panjang ke kiri kanan. Perlahan Alvan memutar badan cari posisi nyaman melepaskan ketegangan. Berulang laki ini lakukan gerakan sama sampai benar-benar merasa otot lemas.
Lelaki tinggi ini bangkit setelah merasa tubuh lebih fit. Yang pertama dilakukan Alvan adalah melihat kondisi Afifa. Wajah anaknya sudah berona merah. Tanda-tanda kesembuhan tampak jelas di wajah imut itu. Alvan tak tahu apa yang terjadi setelah dia ketiduran. Saking nyenyak sampai lupa daratan.
Alvan hadiahkan kecupan salam selamat pagi di kening Afifa. Alvan lakukan sangat hati-hati takut bangunkan gadis kecilnya. Terasa bau asam terpancar dari sela rambut Afifa. Sudah beberapa hari Afifa tak mandi, aroma kurang segar memancar dari tubuh mungil itu. Alvan tak masalahkan aroma kurang fresh dari Afifa. Yang penting gadisnya cepat sembuh kembali aktifitas.
Tanpa mengusik Afifa, Alvan masuk kamar mandi bersihkan diri. Alvan ingin buang segala keruwetan dalam otak dengan mandi pagi dengan air dingin. Biar otak ikut dingin. Pagi ini masih ada misi penting bagi Alvan. Alvan harus ke rumah orang tuanya urus mamanya pergi ke Banjarmasin. Secepatnya Bu Dewi harus pergi sebelum skandal Karin meledak. Alvan takut mamanya tak sanggup terima pengkhianatan papanya. Berselingkuh sudah merupakan aib, parahnya berselingkuh dengan menantu sendiri. Siapa sanggup terima perbuatan tak terpuji ini? Alvan merasa sakit namun tak bisa berbuat apa-apa mengingat Karin ancam sebar skandal ini bila ada kerugian di pihaknya.
Makin dipikir makin sakit kepala Alvan. Laki ini tak tahu sudah berapa gumpalan rambut rontok dari batik kepala. Lama-lama kepalanya klimis hemat sampo.
Cukup lama Alvan berenung dalam kamar mandi. Satu persatu rencana tersusun di benak hari ini bagaimana harus melangkah. Yang utama tentu mamanya. Bu Dewi harus pergi sejauh mungkin dari rumah. Selanjutnya baru ke kantor lanjutkan pekerjaan tertunda.
Tatkala Alvan keluar dari kamar mandi, Citra dan Azzam sudah ada dalam kamar. Di meja tersusun beberapa macam makanan. Alvan menduga itu menu sarapan pagi untuk mereka sekeluarga. Beginilah seharusnya satu keluarga. Makan bersama menciptakan keakraban. Biasa Alvan sarapan sendiri karena Karin tak pernah bangun pagi. Bangun setelah Alvan berangkat ke kantor. Alvan tak pernah protes selama Karin tak berulah. Yang penting rumah tangga adem ayem tanpa konflik itu sudah merupakan surga bagi Alvan. Siapa sangka Karin membangun neraka di rumah.
"Sudah bangun?" Citra basa basi.
"Iya. Semalam Afifa tidak naik demam?"
"Naik sedikit. Tapi sudah aman. Kayaknya panasnya sudah berlalu. Rencana hari ini Afifa keluar rumah sakit. Soal biaya rumah sakit aku akan minta keringanan potong dari gajiku."
Alvan merintih sedih dalam hati. Ternyata Citra belum bisa menerima dirinya sebagai papi dari Afifa. Afifa anak Alvan, laki ini punya kewajiban menanggung semua biaya pengobatan. Apalagi ini rumah sakit milik keluarga Lingga. Kalau Afifa anak Alvan otomatis pengeluaran jadi tanggungan Alvan.
"Aku papi Afifa. Aku yang akan tanggung semua biaya pengobatan. Itu kau tak perlu pikirkan. Cukup kau rawat anak-anak dengan baik. Berapa hari ini aku sibuk mungkin tak bisa temani Afifa dan Azzam. Tapi bukan berarti aku lepas tangan. Aku akan datang bila pekerjaanku selesai."
Citra tak mau jawab hemat tenaga. Menyahut sama saja pertontonkan drama di depan anak. Mereka boleh tidak bersatu bukan berarti harus saling serang di depan anak. Ini memberi edukasi buruk pada anak. Azzam mulai beranjak remaja, pola pikirnya juga kritis. Bisa-bisa lajang ini membangun rasa benci pada Alvan. Citra tak mau Azzam menjadi anak durhaka.
"Om silahkan pergi bertugas! Tanpa om kami tetap akan hidup bahagia." sahut Azzam tanpa perasaan. Lajang ini tak ngerti perkataannya melukai sudut hati Alvan.
__ADS_1
Pagi tak ceria buat Alvan. Sambutan tak ramah awali pagi Alvan. Bayangan pagi ini akan lebih baik dari kemarin ternyata hanya bulan kosong.
"Baiklah! Papi pergi kantor dulu. Kalau kalian mau pulang telepon saja! Aku akan minta Untung jemput kalian." Alvan ancang-ancang pergi dari ruang rawat Afifa.
"Tidak sarapan dulu? Aku sudah beli mie goreng." sergah Citra tak mengira Alvan langsung pergi tanpa sarapan.
"Nanti di kantor. Salam untuk Afifa. Jaga Afifa ya boy! Papi ada untuk kalian setiap saat."
"Itu tugas Koko jaga Amei. Dia adik kandung Koko maka Koko wajib melindungi dia. Om tak usah kuatir. Semoga hari om baik." Azzam sedikit bermulut manis menutupi kesalahan berlidah tajam tadi.
Azzam menangkap kesedihan di wajah Alvan ditolak secara tak langsung masuk ke dalam kehidupan mereka. Azzam tak mau beri harapan palsu pada Alvan. Sejujurnya Azzam tak ingin Alvan menjadi bagian dari kehidupan mereka. Selama Alvan masih ada wanita lain pasti akan melukai hati Citra. Azzam tentu saja membela Citra. Bagaimana kaya Alvan tak mampu menyedot perhatian Azzam beralih pada Alvan.
"Terima kasih nak! Telepon saja kalau ada keperluan."
"Iya..." sahut Azzam mewakili Citra. Mulut jawab iya tapi dalam hati Azzam berkata lain. Azzam tak Sudi memohon bantuan Alvan mengurus keperluan sehari-hari. Azzam memilih hidup susah ketimbang mengemis.
Anak lajang ini lupa telah menerima sogokan Alvan berupa hp canggih. Keangkuhan Azzam ternodai oleh Kilauan warna ponsel pintar. Gimanapun Azzam tetap seorang anak kecil punya sejuta keinginan. Diberi gratis maka tak menolak.
Citra merasa bersalah biarkan Alvan pergi tanpa sarapan. Baik buruk Alvan dia telah berusaha menjadi papi bertanggung jawab. Cukup banyak uluran tangan laki itu menyelesaikan sedikit kesusahan Citra. Citra tak boleh egois menahan Alvan karena di rumah masih ada wanita butuh perhatian Alvan.
Citra salah sangka mengira Alvan pulang menemui Karin. Citra tak tahu Alvan sedang usahakan mamanya tinggalkan rumah demi kesehatan wanita tua itu. Tak ada komunikasi maka tercipta salah paham lebar. Kadang orang bilang diam itu emas. Ternyata tak semua diam menjadi emas. Bisa jadi lahar panas siap luluh lantak setiap materi dilewati.
"Mami ini...bukankah tak ada Ance lagi? Sudah ganti film. Andi..mami harus bantu kak Andi biar tidak seperti cewek. Kasihan dia tiap hari jadi bahan olokan." ujar Azzam bijak bak kakek lagi kasih wejangan pada cucu. Tua banget bawaan.
"Sori nak! Mami lupa. Keseringan sih panggil Ance. Mami akan berubah. Ayo sana telepon Andi!"
Azzam tersenyum senang Citra merubah cara panggil Andi. Azzam mempunyai harapan suatu saat Andi kembali jadi cowok tulen. Harapan Azzam mulai tampak wujud walau masih abstrak. Kembali pada Andi mau berubah atau terjebak dalam ilusi tak berkesudahan. Mau tidak tergantung kesungguhan Andi sendiri.
Azzam segera keluarkan ponsel kebanggaan dari tas. Azzam sangat hati-hati menyentuh barang mahal itu takut tergores melukai ponsel perdananya. Citra perhatikan dari samping terharu lihat cara Azzam hargai setiap benda yang dimiliki. Citra bersyukur punya anak sebaik Azzam. Tak pernah neko-neko bikin ulah menyusahkan Citra. Justru Afifa yang banyak tingkah. Untung Azzam punya cara meredakan semua emosi adiknya.
"Assalamualaikum kak Andi! Ini Koko...panggilan perdana lho!" gurau Azzam diterima Andi perdengarkan tawa lebar. Kelihatannya suasana hati Andi sedang berbunga. Pagi-pagi sudah tertawa lebar.
"Suaranya jelas, signal mantap. Ada apa bro?"
"Kak Andi tak usah ke sini lagi. Kami mau pulang. Amei sudah sehat. Mami pesan kakak nyapu bersihkan rumah. Nanti dibawakan kodok goreng!"
"Idihhh... amit-amit nih bocah! Hewan menggelikan dimakan. Ogah...beliin ayam bakar madu! Kak Andi pingin banget makan!"
__ADS_1
"Kak Andi hamil ya! Ngidam ayam bakar. Dibakar sama bulu sekalian ya!"
"Mulai dah nih bocah kupret! Baru saja semanis madu kini berubah jadi racun. Maminya sangat baik kok bisa punya anak kayak gentong racun."
"Bisa dong! Kan racunnya warisan kak Andi. Cepat deh ambil sapu! Bersihkan sampai kinclong! Jangan tinggalkan debu! Berdebu dikit jatah kak Andi ceker ayam."
"Woi...gentong racun! Sini kugilas pake traktor biar gepeng! Kecil-kecil perintah orang tua. Kualat lhu!"
Azzam tertawa terbahak-bahak dengar nada Andi mulai tidak kondusif. Azzam tidak takut Andi marah padanya. Keseharian mereka juga selalu berantem. Di situ berantem di situ selesai. Tidak pernah simpan di hati. Andi sudah biasa dikuliti si mulut pedas cabe rawit si ganteng cilik.
"Sori kakakku yang can...eee sori kakakku yang ganteng!" Azzam sengaja goda Andi lagi. Niat hati ingin mengatakan Andi cantik, Azzam putar lidah katakan ganteng. Andi lagi proses peralihan watak. Dari feminim ke macho. Azzam mau lihat seberapa macho Andi di kemudian hari.
"Gitu dong! Nanti bantu kakak buat surat lamaran kerja di kantor papi ya!"
"Beres...kita minta petunjuk mami. Koko kan belum pernah kerja mana ngerti surat lamaran. Atau kita tanya Om Untung. Ok bro?"
"Woke...kakak beresin rumah Koko dulu! Ngak kotor amat sih! Kemarin sudah kakak sapu kok! Cuma banyak cucian. Nanti kita antar ke laundry! Kasihan mami kalau cuci segitu banyak."
"Kita cuci berdua saja! Laundry kan pake bayar. Tunggu Koko pulang dulu! Kita diskusi bersama."
Citra mendengar semua pembicaraan Azzam. Dari semuanya Citra menarik kesimpulan Azzam tak ingin memberatkan Citra mengeluarkan uang lebih bayar jasa laundry. Setiap sen uang Citra terasa berharga bagi Azzam maka itu si lajang tak pernah menuntut lebih. Bisa sekolah di sekolah elite lajang ini sudah bersyukur.
"Ko... kenapa ke laundry?"
"Kata kak Andi banyak baju kotor. Mau bawa ke laundry. Kita kan punya mesin cuci ngapain buang uang. Koko bisa kok!" Azzam menepuk dada membanggakan kekuatan cowok sejati.
Samar-samar masih terdengar suara Andi berteriak memanggil Azzam. Ternyata Azzam belum close hpnya. Azzam melupakan Andi karena pertanyaan Citra mengenai laundry.
Azzam terkekeh bayangkan betapa kesalnya Andi dicueki Azzam ngobrol sama Citra.
"Ya kak...kirain sudah mati hpnya! Ya sudah kita copy darat nanti. Ntar pulsa Koko habis lho! Kan belum beli paket telepon."
"Woke boy...see you! Cup..cup.." Andi perdengarkan kecupan dari jauh. Terbawa juga gaya lebay cowok feminim itu. Artinya Andi belum sembuh total. Masih butuh Alvan beri syok terapi tekan jiwa kewanitaan Andi. Sekarang hanya Alvan bisa merubah Andi. Selama dia mau jadi orang kantoran mesti tunduk pada Alvan. Itu harga mati.
Azzam menutup ponselnya seraya mengelus layar takut ada lecet. Disentuh sedikit Azzam ketakutan bakal tertinggal goresan. Padahal layarnya ada anti gores dari kaca. Azzam saja parno takut hpnya bergaris.
"Ko...sekarang beres-beres! Mami bangunkan Amei!"
__ADS_1
"Koko boleh sarapan dulu? Perut Koko kayaknya sudah demonstrasi minta diperhatikan."
Citra tertawa geli lihat cara Azzam dramatis dia lapar. Lajang kecil itu menyimpan ponselnya ke dalam tas lalu memeriksa sarapan apa cocok ganjal perutnya. Ada bubur, mie goreng, nasi uduk dan nasi goreng. Azzam kesampingkan bubur sebab tahu itu jatah Afifa. Kasihan juga anak itu. Sehari tiga kali makan bubur kayak lem kertas. Azzam seratus persen tidak suka. Di Beijing dulu bubur jadi makanan wajib sarapan pagi. Tiap pagi bubur ditambah roti ataupun cahkwee.