ISTERI CEO YANG TERLUPAKAN

ISTERI CEO YANG TERLUPAKAN
Sejuta Maaf


__ADS_3

Pak RT mengagumi kebaikan dan kemuliaan hati Citra. Kalau orang lain yang mengalami kejadian hari ini pasti tidak akan memaafkan Bu Maryam. Ini bukan menyangkut masalah kecil.


Citra bukan orang bodoh tidak mengetahui ada dalang yang lebih besar di balik semua ini. Bu Maryam hanyalah pion kecil yang ditendang untuk melaksanakan provokator hari ini. Menghukum Bu Maryam tidak ada artinya sama sekali kalau tidak mengetahui siapa di balik semua ini. Dari gelagat Alvan lelaki ini mengetahui siapa yang aktor di belakang panggung yang meminta Bu Maria memfitnah dirinya. Citra akan mengorek keterangan dari Alvan. Nampaknya perang tidak dapat dihindarkan antara suami istri ini.


"Pak RT kejadian hari ini cukup sekian dan saya amanahkan pada bapak agar pergunakan uang dari Bu Maryam dengan sebaik mungkin. Selanjutnya biarlah kami menangani masalah ini secara pribadi." Citra memberi pesan pada Pak RT sebelum meninggalkan kantor desa.


Alvan menarik nafas dalam-dalam lalu menyimpannya dalam perut. Rasanya Alvan tidak ingin bernafas lagi melihat raut wajah Citra yang tidak bersahabat. Alvan sudah membayangkan bakal ditelanjangi oleh Citra sampai sepolos-polosnya. Tiada badai tiada angin tiba-tiba seorang perempuan. Parahnya menunjuk Citra sebagai perempuan nakal yang menggoda pacar orang. Citra mana mungkin menerima tuduhan yang sangat tidak masuk akal ini.


Citra meninggalkan kantor desa diiringi oleh Alvan dan temannya. Kantor desa yang barusan hiruk pikuk dipenuhi oleh para ibu-ibu kini telah menjadi sepi kembali. Citra telah duluan pulang ke rumah dengan motor matic nya. Di belakang Alvan menyusul dengan mobilnya menuju ke rumah Citra.


Kelihatannya perang dunia ke-3 tidak akan terelakkan. Alfan harus siap-siap dengan tameng kokoh untuk menahan serangan dari Citra. Syukur-syukur kalau Azzam dan Afifa tidak ikut menyerang dirinya. Andaikata kedua anak ikut menyerang dirinya maka tamatlah riwayat Alvan.


Citra masuk ke dalam rumah tanpa menyapa ketiga jago neon yang bertanya-tanya mengapa Citra pulang dengan cepat. apakah masalah ini telah selesai atau ada sesi kedua. Wajah Citra yang ditekuk merek kue panekok menyurutkan nyali ketiga anak lajang itu untuk bertanya sesuatu. Mereka memilih diam menanti kelanjutan dari cerita ini.


Belum sampai 5 menit mobil Alvan berhenti di depan pintu pagar. Wajah Alvan juga sangat tidak sedap dipandang. Ketiga jagoan itu makin bertanya-tanya apa yang telah terjadi di kantor desa.


"Andi kamu ikut masuk ke dalam!" perintah Alvan.


Andi terhenyak ketakutan. Salah apa dia dalam masalah ini sehingga harus terbawa-bawa. apa karena dia tidak melindungi Azzam dan Afifa dengan baik. Namun Andi tidak banyak bertanya selain mengikuti Alvan masuk ke dalam.


Citra telah duduk di ruang tamu dengan menaikkan sebelah kaki ke sebelah ke atas lutut dengan gaya anggun. Kini Citra perlihatkan bahwa dia seorang wanita yang kuat. Bertahun dia telah menerjang badai dan angin membesarkan anak. Citra tidak terima difitnah oleh perempuan yang mengaku pacar Alvan. Citra harus tahu siapa perempuan itu?


"Silahkan duduk pak Ustad! Maaf kejadian ini datang mendadak! Aku sama sekali tidak tahu bakal ada orang tak bertanggung jawab sebar berita bohong!" Alvan persilahkan lelaki berpeci duduk seberangan dengan Citra.


"Tak apa...hidup ini memang penuh gelombang! Kita yang sabar dan tawakal baru bisa lalui semua ini! Mari kita bicara dengan kepala dingin."


Citra baru sadar kalau Alvan datang bersama alim ulama ke tempatnya. Ada rasa sungkan di hati Citra telah umbar amarah di depan orang ramai pada Alvan.


"Oh maaf pak Ustad...!" Citra bangkit merapatkan tangan ke dada tanda maaf.


"Duduklah nak! Bapak paham bagaimana suasana hatimu. Bapak malah bangga melihatmu begitu mulia tidak memasukkan para ibu-ibu itu ke penjara. Sekarang coba nak Alvan gambarkan siapa wanita yang mengaku-ngaku pacarnya Alvan. Kita buka bersama-sama biar semuanya jadi jelas." kata ustad itu dengan lemah lembut. kelembutannya sangat cocok dengan kharismanya sebagai seorang alim ulama.


"Sejujurnya aku tidak mengetahui siapa perempuan itu. Tetapi secara garis besar aku bisa membayangkan siapa dia. Andi coba kamu tunjukkan foto Selvia pada Pak Ustad dan Kak Citra kamu!" ujar Alvan kepada Andi.


Andi yang semula terbengong akhirnya sadar bahwa dia dipanggil untuk menjadi saksi siapa sesungguhnya Selvia. Tanpa perlu menunggu lama Andi membuka galeri di ponselnya dan menunjukkan seorang wanita dengan segala keanggunan.


"Siapa dia? Cantik banget!" sinis Citra.

__ADS_1


"Orang ini bernama Selvia. Dia adalah salah satu pemegang saham di perusahaan aku. Posisinya di kantor adalah wakil aku tapi aku tidak mempunyai hubungan apapun dengan Selvia. Hubungan kami murni hubungan antara rekanan kerja. Andi bisa jadi saksi dari semua ini." Alvan menjelaskan dengan gamblang.


"Lantas mengapa berani dia mengaku pacar dari bapak?" todong Citra dengan belikan mata tajam.


"Mana aku tahu? Itu urusan dia. Aku ini lelaki beristri dan mempunyai anak. Untuk apa lagi perempuan-perempuan lain?"


Citra mendengus sambil buang muka setelah mendengar jawaban Alvan. Kata-kata Alvan sangat sederhana mengandung rayuan. Alvan ingin menunjukkan bahwa dia tidak tertarik pada perempuan manapun karena telah memiliki Citra dan anak-anak. Dari sini Alfan ingin mengatakan bahwa Citra dan anak-anak sangat berharga baginya. Karin yang telah bertahun-tahun menemaninya seakan terhapus dari ingatan Alvan.


"Apa yang dikatakan Pak Alvan itu benar Kak. Pak Alvan dan Bu Selvia tidak pernah menjalin sesuatu hubungan intim. Mereka bertemu hanya dalam suasana kantor. Andi juga tak ngerti mengapa Bu Selvia tega memfitnah Kak Citra."


"Kamu membela bos kamu An?" tanya Citra menatap tajam ke arah Andi. Andi membalas tatapan Citra karena tidak merasa bersalah. Apa yang dikatakannya itu 100% murni keluar dari hati kecilnya.


"Andi bersumpah jerawatan bila berbohong sama Kak Citra. Kalau harus membela yang harus Andi bela adalah Kak Citra bukan orang lain." tegas Andi dengan suara yakin. Gayanya yang gemulai hilang bak ditelan bumi. Kini Andi yang ada adalah Andi yang gagah perkasa.


Citra kembali mendengus setelah mendengar pembelaan Andi pada Alvan. Citra memang percaya Andi tidak akan berbohong padanya. Citra lebih mengenal Andi daripada siapapun. Baik buruknya Andi berada di dalam telapak tangan Citra.


"Lalu apa yang akan bapak lakukan pada perempuan yang telah menyebar fitnah itu?"


"Jangan lakukan apapun Kak!" tukas Andi cepat. Andi tak ingin memperburuk keadaan karena Andi sedang menyelidiki raibnya uang perusahaan diduga telah berpindah ke kantongnya Selvia. Kalau Citra ribut dengan Selvia maka takutnya Selvia akan kabur membawa uang yang telah dicuri dari kantor Alvan.


"Apa maksudmu Andi? Kamu membela orang lain?"


Citra bukan orang yang tidak beradab menekan seseorang yang telah mengakui sesuatu. Citra tahu kalau Andi menyimpan sesuatu di balik semua ini. Maka itu Citra memilih memberi Andi kesempatan untuk menjelaskan di lain waktu.


"Baik... kakak tunggu penjelasan dari kamu!"


Pak ustad makin kagum pada kewelasan hati Citra. Alvan beruntung memiliki seorang istri yang berhati emas. Manusia model Citra sudah mulai langka di dunia ini. Sekarang ini lebih banyak manusia yang suka mencari kesalahan orang lain daripada melihat kesalahan diri sendiri. Pandainya berkoar-koar membuka aib orang lain tanpa berdiri di depan kaca melihat bagaimana sosok diri sendiri.


"Nak... duduklah biar bisa kita bicara dengan baik-baik!" Pak utas kembali bersuara meminta Citra duduk di tempat semestinya.


"Maaf pak ustad terbawa emosi! Saya sangat kasihan pada anak-anak yang harus melihat ibu mereka dicaci maki orang."


"Bapak maklumi perasaanmu nak maka itu bapak datang ke sini untuk menjelaskan sesuatu yang sangat penting bagi masa depan kalian."


"Ya pak Ustad!" Citra duduk dengan manis menanti apa yang akan dijelaskan pak Ustad.


"Begini nak! Nak Alvan ada berkonsultasi dengan bapak masalah pernikahan kalian! Nak Alvan juga bercerita kejadian yang terjadi 9 tahun yang lalu." kata pak Ustad dengan nada lembut.

__ADS_1


Andi dan Alvan diam saja memberi kesempatan pada pak Ustad membuka pikiran Citra tentang status pernikahan dia dan Alvan. Citra ikutan diam menyimak apa yang akan diutarakan sang ustad.


"Talak yang diucapkan dalam tekanan itu tidak sah. Waktu itu nak Alvan menalak nak Citra di bawah tekanan kakek Wira jadi otomatis talak itu gugur. Dalam artinya kalian sah masih suami isteri dalam hukum dan agama. Tidak perlu rujuk karena kalian masih suami isteri."


Alvan dan Andi tersenyum senang dapat pencerahan dari pak Ustad. Citra tidak kaget mendengar penjelasan pak Ustad karena dia tahu semua hukum itu. Dari dulu Citra tahu dia masih isteri Alvan sah lahir batin maka itu dia melarang diri sendiri dekat lelaki lain. Cuma rasa jengkel dan amarah membuat Citra sengaja kaburkan status Alvan di keluarganya.


"Aku tahu pak Ustad..." sahut Citra pelan tak berani melirik Alvan. Memang dosa mengabaikan suami sah tapi perlakuan Alvan di masa lalu membuat Citra dendam dalam hati.


Alvan menggeram dalam hati. Citra sengaja menyiksanya dalam ketidak pastian. Ternyata Citra tahu persis hukum agama bila talak diucapkan di bawah tekanan tidak sah. Citra sengaja permainkan dirinya seperti bohongi anak kecil. Mungkin kini Citra tertawa ngakak telah berhasil permainkan seorang CEO perusahaan besar. Alvan dibuat pusing tujuh keliling bagaimana cara menikahi Citra lagi. Ternyata tanpa ijab kabul Citra masih sah isterinya.


"Lalu kenapa nak Citra tidak jelaskan pada nak Alvan tentang status kalian? Nak Citra telah berdosa ingkari suami sendiri! Apalagi kalian ini pasangan resmi secara hukum. Kau tahu apa dosa isteri yang mengabaikan suami? Neraka menanti mereka. Bapak melihat nak Citra bukan orang tak ngerti agama maka bapak harap kejadian ini takkan terulang lagi. Minta maaf pada suamimu dan hiduplah dengan damai!"


"Maaf pak Ustad! Aku memang salah tapi apa yang kulakukan ada alasannya. Aku takkan semena-mena bila tidak dilukai duluan."


"Suami itu adalah pemimpin keluarga. Kalau suami bersalah tegurlah dengan kasih sayang! Kita semua manusia tidak luput dari kesalahan. Bapak tahu berbuat salah itu gampang, memaafkan itu sulit. Tapi justru memaafkan kesalahan orang adalah mulia. Seperti yang nak Citra lakukan pada ibu-ibu tadi. Memaafkan semua kesalahan mereka! Bapak puji nak Citra wanita mulia. Mengapa kemuliaan itu tidak nak Citra letakkan pada diri nak Alvan?"


Citra terdiam. Dia memang tidak benci pada sosok Alvan tapi Citra benci pada tingkah Alvan meremehkan seorang wanita lemah macam dia. Maka itu Citra bangun diri menjadi wanita tegar.


"Pak Ustad...aku akui dulu aku pernah salah pada isteriku ini! Aku yang harus minta maaf! Aku ingin membangun kembali rumah tanggaku yang hancur. Aku berjanji takkan ulangi semua kesalahan di masa lalu." Alvan tak malu akui kesalahan di depan Ustad dan Andi. Alvan seorang gentleman berani berbuat berani bertanggung jawab. Mengakui kesalahan bukanlah hal memalukan bila bisa bersatu dengan anak isteri.


"Nah nak Citra ..nak Alvan sudah minta maaf atas kesilapan masa lalu! Beri dia kesempatan perbaiki yang telah berantakan! Bapak yakin kalian telah petik pelajaran dari kegagalan di waktu yang telah berlalu. Perbaiki diri agar tercium bau surga!"


"Iya pak Ustad..." sahut Citra tak berdaya kena siraman rohani pak Ustad. Citra bukannya tak tahu melawan suami adalah calon penghuni neraka. Wanita demikian akan dijauhkan dari surga.


Tapi siapa akan berpikir ke mana di kemudian hari bila hati dipukul remuk redam. Jangankan berpikir surga neraka, memikirkan hari depan saja Citra tak berani. Susah payah Citra bentengi diri sendiri dengan tembok tebal. Setelah berhasil apa harus siap dibodohi Alvan lagi?


"Saya bersumpah takkan main gila dengan wanita manapun lagi. Cukup ada Citra dan anak-anak. Aku siap disumpah atas Al Qur'an." Alvan menyakinkan Citra dengan janji tidak main-main.


Psk ustad tertawa kecil dengar semangat Alvan. Umbar janji itu sifat manusia, di saat genting gini apapun berani dia katakan. Namun bila nafsu Angkara merajai hati segalanya terlupakan.


"Nak Alvan...tidak perlu sumpah segala. Cukup bersihkan hatimu dari segala kemaksiatan! Tataplah mata anak-anak kamu bila tergoda ajakan setan! Bapak harap kalian bersatu besarkan anak-anak kalian! Jadilah panutan bagi mereka! Dan kau nak Citra! Bukalah hatimu agar menjadi istri shalihah!"


"Terimakasih pak Ustad! Semua nasehat pak Ustad akan kuingat!" Citra menurunkan kadar ego demi kebahagiaan anak-anak. Kejadian hari ini cukup membuka mata Citra kalau dia masih butuh Alvan untuk perkuat status anak-anak mereka.


"Alhamdulillah...bapak doakan semoga keluarga kalian sakinah mawadah warohmah!"


"Amin..." sahut Citra, Andi dan Alvan serentak.

__ADS_1


Kini tak ada gap antara mereka. Pak ustad telah membangun jembatan penyeberangan antara hubungan mereka. Untuk sementara salah paham yang telah mengakar dalam dada tercabut sudah. Kini tinggal bagaimana Alvan menata keluarganya.


__ADS_2