
Citra tak sangka wanita yang pernah ganggu Daniel ternyata masih ada di sekitar mereka. Kali ini bukan Daniel sasaran melainkan pemuda sederhana macam Tokcer.
Natasha produk negara Barat dengan pergaulan bebas. Apa cocok hidup sederhana bersama Tokcer yang tak punya fasilitas memadai. Citra tak berani beri pendapat di hadapan banyak orang. Namun Citra janji akan beri Tokcer masukkan. Selanjutnya biar Tokcer yang pilih pendamping masa depan.
"Pikirkan yang terbaik. Di mana bumi diinjak di situ langit kita junjung. Kita fokus pada Bonar dulu. Semoga semua berjalan lancar. Amin..." Citra tak mau banyak komentar soal Tokcer. Ada masanya ngobrol dengan Tokcer.
"Amin..." sahutan serentak bergema di rumah Andi. Tinggal Tokcer galau punya dua pilihan. Natasha yang melangit atau Fitri yang membumi.
"Kalian makan di sini ya! Nek Menik akan masak untuk kalian. Kalian rindu pada masakan nek Menik kan?" tawar Bu Menik pada Azzam dan Afifa.
"Mau dong!" sahut Azzam semangat. Sudah cukup lama dia tidak pernah menikmati masakan Bu Menik. Dulu hampir setiap hari Azzam dan Afifa makan masakan Bu Menik kalau Citra sedang bertugas. Ada rasa kangen pada masakan Bu Menik.
"Nenek masak dulu! Ayo Jasmine bantu ibu di dapur!" pinta Bu Menik pada Jasmine.
Citra dapat melihat betapa Bu Menik sayang pada Jasmine bisa bergaul akrab. Jasmine bisa menjaga perasaan orang tua maka mendapat kasih sayang dari calon mertua. Jasmine cocok untuk Andi.
"Aku ikut bantu biar cepat siap!" emak Tokcer menawarkan bantuan ikut masuk ke dapur.
"Ayok!"
Para tamu dibiarkan duduk di ruang tamu. Citra memang sudah berat untuk bergerak tak mampu membantu. Duduk saja dia sudah susah apalagi harus ikut berdesakan di dapur. Citra tidak setegar dulu semasa hamil Azzam. Mungkin dulu usia Citra sedang pada puncak keemasan. Masih full energi sedang waktu telah berselang delapan tahun. Waktu telah mengubah segalanya.
Setelah melahirkan anak-anak Citra ingin vakum dari kehamilan. Dia punya energi hamil anak lagi apalagi dia punya riwayat hamil melebihi batas orang lain.
"Oya An...ibu Hajjah gimana? Sudah kasih keputusan mengenai rumahnya? Kok sampai sekarang belum ada solusi pasti." Alvan teringat rencana barter rumah dengan Bu Hajjah. Sudah cukup lama Alvan tak terima kabar dari Bu Hajjah.
"Bu Hajjah nggak masalah tapi keluarga Bu Hajjah ikut campur. Mereka buat harga semena-mena maka aku diam dulu. Biar mereka tawarkan pada orang lain dulu."
"Apa mau mereka?"
"Tiga kali lipat dari hasil negosiasi dengan Bu Hajjah. Aku belum gila turuti kemauan mereka. Aku diam saja! Seminggu lalu mereka ada datang bila ada yang tawar sesuai permintaan mereka. Aku bilang silahkan saja! Sampai sekarang belum laku. Itu cuma gertakan sambal terasi."
Perut Alvan agak mual dengar kata terasi. Awal Citra hamil dia paling mual dengan bau itu. Untunglah seiring waktu siksaan ngidam memudar.
"Betul pak! Biar mereka sok pintar mau jual harga selangit. Kita beli tanah bangun sendiri belum tentu semahal itu. Kudengar tanah di desa seberang mau dijual. Luasnya melebihi lapangan sepak bola. Mendingan beli itu kita bangun sendiri. Bangunan baru lagi. Bangunan Bu Hajjah perlu renovasi lumayan banyak." timpal Tokcer setuju dengan kata Andi.
"Terserah kalian saja! Kita beri mereka tempo satu bulan. Setelah itu kita cari tanah lain. Yang penting dekat dengan kalian."
"Iya pak!" sahut Andi setuju usul Alvan. Bu Hajjah sudah menyerah ingin cepat selesaikan masalah rumah tapi saudara Bu Hajjah bikin ulah ingin cari keuntungan dari penjualan rumah maka naikkan harga berkali lipat. Andi mau lihat siapa yang lebih bertahan.
Keluarga Lingga berada di kampung Andi sampai sore. Alvan sengaja biarkan Citra lepas kangen pada tempat dia pernah tinggal satu masa. Setelah ini harus tunggu Citra lahiran baru bisa kembali ke situ.
Sebelum senja Heru telepon minta Alvan sekeluarga segera pulang. Ini atas permintaan Bu Sobirin yang kuatir pada kandungan Citra. Maunya wanita itu tidak banyak bergerak karena perutnya sesak oleh bayi.
Alvan membawa keluarganya kembali ke rumah. Tempat Citra memang di keluarga. Di situ semua memanjakan Citra terutama si Heru yang punya rencana jangka panjang. Heru tidak terlalu ambil pusing Afung bisa hamil atau tidak. Syukur kalau Afung bisa hamil, tidak hamil juga tak apa karena sudah ada Gibran dan anak Citra. Itu juga aset Perkasa.
Dari hari ke hari perut Citra makin besar. Urusan pesta Bonar sama sekali tak ada jatah Citra untuk masuk ke dalam barisan pengurus. Semua diatur oleh Bu Menik dan Emak Tokcer. Mereka betul-betul wakili Bonar sebagai keluarga Bonar. Heru dan Alvan juga tidak berpangku tangan beri bantuan sekedarnya pada Bonar berupa dana untuk pesta Bonar di kampung Iyem.
__ADS_1
Untuk ukuran orang kampung pesta Iyem dan Bonar termasuk pesta mewah. Ada tanggap band untuk meramaikan pesta di kampung Iyem.
Dua keluarga besar berkenan datang beri muka pada Bonar. Mereka berangkat dengan pesawat pribadi berhubung Citra tak bisa berdesakan dengan penumpang lain bila gunakan pesawat komersial. Andi dan Tokcer ikut pesawat Alvan sedang Fitri dan Jasmine tak bisa ikut karena tak ada cuti libur. Perawat mana ada istilah libur karena piket tetap berjalan.
Andi paling norak naik pesawat jet pribadi. Laki ini berfoto seolah-olah dia pemilik pesawat mahal itu. Tak ada obat lagi untuk sembuhkan sifat lebay Andi. Foto-foto itu pasti akan muncul di media sosial milik Andi. Orang yang mengenal Andi pasti akan terkagum-kagum pada nasib pemuda nyiur melambai ini.
Mereka mendarat di bandara Dewadaru di daerah Jepara. Bandara Dewadaru hanyalah bandara kecil untuk penerbangan domestik. Bandara ini paling dekat dengan kampung Iyem. Desa tempat tinggal Iyem namanya desa Nyamuk berada di kecamatan Karimunjawa kabupaten Jepara. Penduduk di desa ini kebanyakan nelayan.
Penduduknya rata-rata hidup sangat sederhana maka itu mereka anggap Iyem menjadi orang desa pertama mendapat kehormatan menikah dengan orang kaya. Melihat pesta Iyem dalam pemikiran orang kampung suaminya kaya raya. Mereka tidak selidiki latar belakang suami Iyem. Apa yang tampak di depan mata itulah fakta.
Rumah Iyem yang sederhana menjadi sesak oleh tamu. Merupakan kehormatan didatangi orang tajir macam Alvan dan Heru. Orang kampung tak kenal siapa Heru dan Alvan tapi dilihat dari penampilan dan tunggangan mereka pastilah orang tajir.
Andi paling sibuk jadi fotografer dadakan. Sementara Bonar kaku tanpa senyum. Laki ini mati kutu jadi pengantin baru. Lebih mirip patung ketimbang pengantin. Andi dan Tokcer sangat menikmati kesusahan Bonar. Si Batak tak bisa berbuat apa-apa disuruh jalani adat orang Jawa yang kental.
Andi dan Tokcer mau ngakak takut dosa. Orang sudah hampir hilang nafas diejek nanti benaran meninggal. Masuk berita ada pengantin tewas akibat ketakutan berpesta.
"Ssssttt...Bonar...Belah duren jangan lupa bawa samurai tajam ya! Sudah lhu asah samurai ente?" olok Tokcer pas ada kesempatan dekat dengan Bonar.
"Mana lagi durennya super gede! Kelebihan pupuk sih!" sambung Andi bikin wajah Bonar merah padam.
Mau marah ntar dikira ada pengantin gila ngamuk di pesta. Keduanya temannya ini memang sudah tak ada obat. Di saat begini sempat-sempat ganggu teman.
"Nanti kita jumpa di rumah. Akan kusate kalian pakai pedangku!" ujar Bonar berbisik takut di dengar Iyem.
"Pedang lhu sudah keburu tumpul buat belah duren! Jangan lupa lhu dokumentasi acara belah duren ya! Biar kita jadikan story di medsos!"
"Dodol ketan? Salah...dari dodol durian!" Andi bukannya kesal di ejek Bonar. Andi sudah kebal diejek sebagai cowok loyo. Diejek Bonar anggap angin lalu saja. Masuk kiri keluar kanan.
Tokcer tertawa ngakak dengar balasan Andi. Bonar makin tegang diolok-olok oleh kedua konconya. Ternyata jadi pengantin tidak segampang bayangannya. Bersusah dulu baru dapat hadiah dari Iyem nanti malam. Mengingat itu hati Bonar sedikit terhibur.
"Habis acara lhu ikut kita pulang ya! Gudang tak ada yang jaga!" kata Andi mengedip mata pada Tokcer.
"Andi benar bro! Manalagi sekarang musim hujan. Maling merajalela. Lhu harus ikut pulang dulu! Malam pengantin tahun depan saja!"
Bonar melongo persis orang hilang akal sehat. Masa baru pesta langsung masuk kerja. Ngapain cepat kawin kalau malam pengantin tahun depan. Rugi cepat halalkan Iyem kalau cuma buat pajangan.
"Kata kalian atau pak Alvan?"
"Kamu jangan lupa aku ini tangan kiri pak Alvan! Apa yang kukatakan semua untuk keamanan gudang. Kau ikut pulang sama pesawat pribadi pak Alvan. Nanti malam langsung piket." Andi sengaja beratkan suara biar tampak keren.
Semangat Bonar yang tersisa sedikit kontan sirna. Betapa sedih harus tinggalkan pengantin wanita sendiri merenungi kesunyian malam pengantin. Iyem pasti tidak protes namun air mata mengalir dalam hati. Tidak akan tampak di kolam mata.
"Pak Alvan yang suruh ya?" lirih suara Bonar. Mau nangis hilang kegagahan orang Batak. Bonar berusaha tegar agar tetap gagah sebagai lelaki sejati.
"Lha kapan aku bilang Pak Alvan yang suruh? Aku cuma bilang aku ini tangan kiri pak Alvan." Andi mencolek Tokcer puas sudah permainkan si Batak.
"Sialan lhu banci! Kirain amanah pak Alvan! Karangan kalian kan?" Bonar ingin tinju wajah Andi yang makin kinclong berkat perawat produk kosmetik mahal. Andi kan sudah banyak duit maka kosmetika juga naik level.
__ADS_1
Andi dan Tokcer terkekeh senang sudah bikin konco mereka kebat kebit.
"Yaelah...pengantin cengeng! Apa lhu kira pak Alvan orang nggak punya hati? Kalau dia suruh lhu piket pasti dicincang kak Citra. Selamat ya Bro! Selamat menempuh hidup baru! Sudah punya Iyem jangan lupa pada kami!" Andi sudahi mainkan peran sebagai sahabat tak punya hati. Andi memeluk Bonar dengan erat. Bertahun jadi sahabat baru kali ini ada jembatan pemisah terbentang di antara mereka. Bonar tentu tak sebebas dulu lagi. Kakinya sudah kena rantai sebelah.
"Terima kasih bro! Kalian memang sahabat baik sekaligus paling jahat. Aku hampir kena serangan jantung." sungut Bonar tak urung bahagia. Andi menyelipkan amplop ke tangan Bonar sebagai kado.
Tokcer tak mau ketinggalan ucapkan selamat pada Bonar. Tokcer juga peluk Bonar terakhir kali sebelum jadi milik Iyem untuk seterusnya.
"Selamat ya bro! Semoga lhu dan Iyem langgeng hingga anak cicit. Tak ada pihak ketiga di antara kalian. Bahagia selamanya."
"Amin...semoga kalian juga menyusul! Kelak anak-anak kita juga akan bersahabat sepeti kita."
"Pasti dong! Kalau bisa kita besanan. Anak kita saling jodoh." angan Andi tinggi melambung ke arah belum pasti.
"Setuju..." sahut Bonar dan Tokcer. Sekedar berangan toh tidak dipungut bayaran. Bebas ekspresikan semua impian agar terwujud di masa depan.
Azzam sudah puas makan hidangan dari desa yang cukup lezat. Lajang kecil ini ikut bergabung dengan ketiga jagoan neon. Bonar sudah cium bau tak sedap dari senyum tipis Azzam. Si mulut beracun ini akan sembur racun apa buat santapan Bonar.
Azzam ambil tempat duduk di samping Andi melirik Bonar dengan ekor mata. Gayanya santai mungkin sedang bahagia saksikan teman bahagia.
"Sudah makan ko?"
"Sudah...masakan sini enak juga cuma agak pedes. Koko keringatan. Eh kak Bonar enak lho!"
"Emang kenapa? Jadi pengantin pasti enak. Jadi raja satu hari. Besok jadi jongos bini!" gurau Andi mulai baca Azzam akan olok Bonar.
"Punya isteri gede hemat uang. Tak usah keluarkan dana beli kasur. Sudah ada kasur alami."
Andi dan Tokcer tertawa geli sedang Bonar tersipu malu diganggu Azzam. Ada saja bahan olokan untuk jatuhkan mental pengantin.
"Ya nggak gitu ko! Pikir kak Bonar tidur di atas Iyem. Bisa gepeng dia."
"Gepeng dikit tak apa kak! Lebih berguna lagi. Bisa jadi meja, papan setrika."
"Kau pikir kak Iyem perabotan rumah apa? Dia itu bini kak Bonar tersayang."
"Sekarang sayang besok jumpa yang lebih licin jadi bayangan. Kita akan bela kak Iyem tanam kak Bonar di dalam septik tank. Ya kan kak Andi?"
Bonar menangkap nada mengancam dalam suara Azzam. Anak itu tentu tidak berharap kejadian sedih terjadi pada Iyem. Bukan cuma Iyem saja tapi buat seluruh wanita di bumi ini. Semua wanita berhak hidup bahagia terlepas dari suami nakal.
"Sadis bingit ko! Kau pikir kak Bonar itu tinja?" tanya Andi cium nasehat terselubung dalam kalimat Azzam.
"Lelaki yang menyakiti wanita tak ubah limbah kotoran. Kotoran kan ada tempatnya. Di mana dia berasal maka kembali ke tempatnya. Semoga kak Bonar terhindar dari pemukiman para limbah."
Andi dan Tokcer saling berpandangan ngeri bayangkan isi hati Azzam terhadap harapan pada Bonar. Mereka menduga Azzam sedang beri ultimatum pada Bonar agar jangan salah langkah. Pelajaran masa lalu didik Azzam jadi kritis pada pernikahan.
"Kak Bonar takkan bodoh buang kepercayaan Iyem. Kak Bonar tak mau hidup berakhir berantakan." janji Bonar yakin akan jaga Iyem sampai titik akhir
__ADS_1