ISTERI CEO YANG TERLUPAKAN

ISTERI CEO YANG TERLUPAKAN
Balik Ke RS


__ADS_3

"Amei lagi demam jadi kita tunda dulu. Kalian tidur siang ya! Mami masih ada dikit kerja." Citra mengelus pipi Puteri bungsunya dengan lembut. Pipi Afifa terasa hangat dari biasanya. Anaknya itu memang tak sekuat Azzam dan Afisa. Afifa sering sakitan terutama demam. Imun tubuh Afifa tak sebagus kedua saudara kembarnya.


"Amei pinginlah naik kereta api panjang." mulut mungil itu berkata tak lupa kunyah pizza potong terakhir. Saos masih terhias di sekitar bibir walau baru dibersihkan Citra.


Sifat Azzam dan Afifa bagai langit dan bumi. Azzam sangat dewasa sedang Afifa tak ubah anak kecil umum dengan pola pikir lugu.


"Mei...Tunggu kamu sembuh baru kita pergi! Nanti malah sakit di jalan. Yok bersih-bersih biar Koko kawani bobok!" Azzam dengan segala kedewasaan membujuk Afifa agar tak tuntut berangkat ke Jogja naik kereta api malam.


"Iya Mi?" Afifa ingin memastikan omongan Azzam bukan isapan jempol kosong.


Citra mengangguk untuk menyenangkan hati Afifa. Gadis kecil itu tampak puas dapat kepastian dari sang mami yang cantik.


"Yok Koko kawani cuci tangan!" Azzam mengandeng Afifa menuju ke wastafel kecil dekat dapur.


Citra sengaja memasang wastafel kecil dekat situ agar kedua anaknya budi daya kan cuci tangan secara rutin. Untuk menjaga kebersihan dan terhindari dari virus yang sedang naik daun. Virus Covid 19 yang rajin mutasi. Sebagai dokter Citra tanamkan pada anak-anak hidup sehat agar tak dihinggapi bakteri..


Azzam telaten melayani Afifa dan membawa adiknya tidur siang. Azzam lupa kalau Afifa sedang demam butuh obat penurun panas. Anak itu membawa Afifa masuk kamar khusus untuk Afifa. Kamar Azzam di samping kamar Afifa sedangkan Citra tidur di kamar utama. Sejak kecil Citra tetapkan sikap mandiri pada anak-anak agar kelak tak kaget bila harus berpisah dengan orang tua.


"Koko Azzam...Amei belum minum obat lho!" seru Citra meminta Azzam bawa adiknya balik ke ruang makan.


Azzam menepuk jidat sambil tertawa lucu. Afifa masem-masem ditarik abangnya balik lagi ke ruang makan. Gandengan kedua akan itu balik ke meja makan. Ance senang melihat keakuran kedua saudara itu. Azzam sangat care pada adiknya. Azzam bertindak dia jauh lebih tua dari Afifa.


"Nih kak Citra! Kukembalikan boneka Barbie mu!" Azzam angsurkan tangan Afifa pada Citra.


Citra menyentik kening Azzam yang lancang memanggilnya kakak. Anak itu selalu menggoda maminya begitu dapat kesempatan. Azzam ingin menghibur Citra memahami kesulitan wanita terbaik di dunia ini. Namun Azzam tak pernah bertanya di mana bapaknya? Azzam bukannya tak ngerti perasaan Citra. Susah payah besarkan tiga anak bukan tugas mudah.


"Awas kau anak kecil!" Citra mendelik kesal digoda anak tanggung itu. Citra bergerak mengambil obat penurun panas untuk obati Afifa sebelum demam tinggi.


Citra berikan parasetamol sesuai takaran untuk anak seumur Afifa. Citra seorang dokter tentu tak sulit tangani demam anaknya. Semoga demam Afifa cepat turun.


Afifa tak rewel karena obatnya tak pahit. Citra sengaja sediakan penurun demam rasa Cherry yang disukai anak-anak umumnya. Rasanya manis dan wangi.


"Ok...sekarang anak kesayangan mami tidur ya! Bangun nanti sudah segar." Citra hadiahkan kecupan di kening Afifa sebagai tanda sayang.


"Iya Mi! Yok ko kita tidur!" Afifa menarik tangan Azzam berlalu dari ruang makan. Azzam bagai kerbau dicocok hidung ikut saja dibawa adiknya.


Citra dan Ance menarik nafas lega melihat kedua bocil akhirnya siap istirahat untuk pulihkan tenaga terutama Afifa yang sedikit demam.


Pizza di meja tersisa cukup banyak cuma tak utuh sekotak lagi. Citra tak ada selera walau pizza cukup menggoda lidah. Citra galau harus bertemu Alvan lagi. Kali ini Citra harus kuatkan mental lawan tirani dari masa lampau. Apapun terjadi Citra takkan berikan anak-anak pada Alvan. Soal keturunan itu masalah pribadi Alvan. Citra tak mau campur tangan. Dia hanya ingin hidup tenang bersama anak-anak.


"Mbak...Ance pulang ya!"


"Ance sini saja! Mbak mau keluar sebentar. Kamu jaga Afifa dulu. Dia lagi demam. Mbak takut demamnya tinggi nanti!"


"Iya mbak! Tapi cepat balik ya! Soalnya ada janji sama teman mau keluar sebentar."


"Baik...teleponi mbak kalau terjadi sesuatu! Jangan tunda ya!"


"Mau terjadi apa? Afifa kan cuma demam biasa. Dia kan sudah sering demam. Mbak tenang saja! Semua akan Ance bersihkan!" janji Ance tak definisi apa yang akan bersih. Kotoran di meja atau pizza akan ikut bersih.

__ADS_1


"Mbak percaya! Mbak ganti baju dulu! Mbak langsung ke rumah sakit ambil dokumen tertinggal."


Citra meninggalkan Ance sendirian di ruang makan. Rumah sederhana itu sudah menjadi rumah kedua Ance sejak Citra bawa anak-anak pindah ke situ. Keluarga Ance merupakan tetangga terdekat Citra. Mereka cepat akrab karena Citra yang lembut dan anak-anak baik Citra.


Ance yang nama aslinya Andi punya dua dunia. Terlahir lelaki namun jiwa Andi menolak sosok jantan dari fisiknya. Andi atau Ance merasa dia cewek yang terkurung dalam raga laki. Ance selalu ingin jadi perempuan tapi fakta seluruh fisiknya adalah laki-laki. Jadilah Andi bersifat kebancian.


Ance punya seorang ibu dan kakak perempuan yang bekerja sebagai perawat di rumah sakit sama dengan Citra. Bedanya kakak Ance sedang Citra seorang dokter. Umur Citra dan kakak Ance tak jauh beda. Kisaran dua puluh tujuh atau dua delapan.


Citra melihat Afifa sebelum pergi menemui Hans sesuai janji. Citra takut juga tinggalkan Afifa yang lagi kurang sehat. Tapi Citra tak bisa menunggu lebih lama untuk segera keluar dari rumah sakit Alvan. Citra tak mau berhutang budi pada Alvan. Apa lagi mengemis pekerjaan.


Berdasarkan pengalaman Citra tentu tak susah cari kerja di rumah sakit lain. Masih banyak rumah sakit siap terima Citra untuk mengabdi.


"Ance...mbak pergi ya! Afifa sudah tidur. Kamu lihat-lihat dia!"


"Beres mbak! Pulangnya beli bakso urat ya!"


"Ngidam?" olok Citra dibarengi seulas senyum.


Ance menciutkan bibir manyun digoda aneh-aneh oleh Citra. Dari mana cowok bisa hamil kalau bukan joke ringan Citra.


"Di dengar mbak Nadine bisa terkelupas seluruh kulitku. Mbak cepat balik ya!"


"Iya... assalamualaikum.."


"Waalaikumsalam..."


Citra pakai jaket dan helm sebelum dorong motor keluar rumah. Citra sengaja tak starter motor dalam pekarangan takut ganggu waktu istirahat Afifa. Citra dorong motor sampai luar pagar baru stater meninggalkan rumah menuju ke dokter Hans.


Hiruk pikuk kenderaan bersahutan sepanjang jalan raya. Citra tetap setia kendarai motornya sampai ke halaman rumah sakit Health Center. Citra tak tahu itu rumah sakit keluarga Alvan. Kalau tahu Citra tak sudi mengabdi di situ.


Citra berhenti di parkiran seraya menatap gedung berlantai lima belas tempat dia bekerja selama setengah tahun ini. Sebenarnya Citra nyaman bekerja di situ. Rumah sakitnya bersih sesuai standar serta para medis yang ramah. Apa boleh buat kondisi tak memungkinkan Citra bekerja lagi.


Dari parkiran Citra menuju ke kantor Hans. Citra berdoa semoga tak ada kendala lain lagi. Citra mulus resign tanpa ciptakan konflik. Hans sudah terima surat resign Citra berarti direktur rumah sakit itu telah mengijinkan Citra mundur.


Tiba di depan pintu kantor Hans, Citra mengetok pintu perlahan.


"Masuk!" terdengar seruan dari dalam. Citra familiar suara yang sudah jadi rekan selama setengah tahun.


Citra mendorong pintu model sorong ke samping. Hans mengangkat kepala lihat siapa yang datang. Begitu melihat Citra laki itu tinggalkan kerja beri kode pada Citra agar duduk di sofa.


Citra mengangguk paham. Wanita ini menempatkan bokong ke sofa tak melepaskan mata dari sosok berbaju putih itu. Hans selalu serius kerjakan tugas. Baik sebagai direktur maupun dokter. Itu yang Citra kagumi dari sosok berdedikasi tinggi itu. Citra berharap suatu saat bisa menyamai kedudukan Hans.


"Sendiri?" Hans awali pembicaraan dengan basa basi.


"Iya...Pak Hans tahu tujuan kedatanganku kan?"


"Tahu...tapi aku minta maaf Bu Citra! Dokumen kamu ditahan Pak Alvan." ujar Hans perlihatkan wajah tak berdaya. Sebenarnya Hans malu tak bisa menolong Citra di saat sulit ini. Alvan lebih berkuasa sebagai pemegang saham mayoritas rumah sakit.


"Apa? Bukankah Pak Hans sudah setuju?" tanya Citra dengan nada suara bergetar.

__ADS_1


"Bu Citra...kontrakmu dua tahun. Di situ tercantum bila resign sebelum waktu harus bayar denda seratus kali lipat dari gaji. Bu Citra mungkin tak lupa perjanjian itu?"


Otot Citra kontan lemas ingat perjanjian kontrak yang sangat kejam itu. Gaji Citra sebagai dokter spesialis cukup lumayan. Kalau di kali seratus kali berapa milyar harus dibayar Citra untuk tutupi denda. Dari mana Citra dapat uang sebanyak itu.


Citra mengutuk dalam hati terjebak oleh kontrak mematikan ini. Dasar Alvan sinting gunakan kesempatan ini menekan Citra. Apa mau Alvan menahannya? Bukankah dia sudah hidup bahagia dengan isteri bidadari pujaan hati.


"Pak Hans...aku janji akan bayar kontrak setelah dua tahun ambil S3. Tolonglah aku!" rengek Citra memelas harap Hans luluh. Merengek kan senjata ampuh para wanita melelehkan hati pria. Citra coba pakai jurus ini untuk merayu Hans.


"Bu Citra...bukan aku tak mau tapi pemilik rumah sakit ini yang larang kamu resign. Kau kan sudah jumpa dia. Atau kau bantu dia dulu. Mana tahu setelah sembuh dia akan bebaskan kamu."


Citra tak yakin Alvan akan baik hati beri dia kebebasan walau sembuh. Mungkin laki itu mau balas dendam karena dia pergi sebelum mereka cerai di hukum. Alvan tak bisa nikahi Karin secara sah karena tersandung mereka belum resmi bercerai.


Citra siap bercerai secara hukum asal Alvan tak ganggu hidupnya. Citra sudah bosan menghindari Alvan seumur hidup. Mungkin ini saatnya mereka diskusi soal perceraian secara resmi.


"Aku mau jumpa Pak Alvan." Citra beranikan diri berkata lantang menantang Alvan.


"Bagus...tunggu kuteleponi dia! Kalian bisa bicara soal penyakitnya dan tentang resign kamu!" Hans bagai dapat durian runtuh bisa bebas dari konflik antara Citra dan Alvan.


Hans tak tahu apa yang terjadi antara Alvan dan Citra. Dokter ini cuma mau segala masalah berakhir damai. Citra dapat kebebasan sedang Alvan dapat bantuan medis dari Citra.


Hans mencari kontak Alvan di hp. Benda pipih canggih itu menghubungi Alvan. Satu di timur satu di barat tapi tetap tersambung berkat teknologi canggih saat ini. Tak ada jarak di seluruh dunia sejak muncul alat komunikasi abad atom ini.


"Halo Van...Citra di sini tunggu kamu! Segera merapat sini!"


Citra hanya dengar suara Hans. Ntah apa jawaban Alvan di seberang sana. Hans mungkin sudah dapat jawaban karena laki itu cepat letakkan hp di meja kerja.


"Alvan segera datang! Mau minum apa? Biar kusuruh ob antar sini!"


"Tak usah Pak Hans...aku cuma harap cepat bebas agar bisa lanjut ambil kuliah." Citra berbohong pada Hans. Citra tidak benar akan lanjut kuliah. Dari mana biaya sebesar itu ambil S3. Tanpa sokongan orang kuat Citra tak mungkin ambil gelar Doktor. Biaya hidup untuk biayai dua anak sudah habiskan separuh gaji Citra. Kedua anak Citra sekolah di sekolah Internasional karena kedua anak itu pernah sekolah di Tiongkok. Pelajaran yang diserap kedua anaknya adalah bahasa Inggris dan Mandarin maka itu pelajaran itu berlanjut di tanah air. Untung Afifa dan Azzam termasuk anak berotak encer mampu kuasai semua pelajaran dengan baik.


"Rencana mau lanjut ke mana?"


"Mungkin balik ke Tiongkok. Aku sudah terbiasa di sana."


"Oh...semoga Bu Citra sukses. Aku jadi iri..usia cukup muda sudah berprestasi. Kalau tamat pulang tanah air mengabdi pada masyarakat sini. Dokter seahli Bu Citra masih langka. Prestasi Bu Citra luar biasa. Banyak pasien sembuh di tangan Bu Citra."


"Pak Hans jangan merendah? prestasi bapak juga pantas dapat apresiasi. Dokter Obgyn yang handal." Citra balik balas puji Hans termasuk dokter punya jam terbang bagus.


Hidung Hans membesar dipuji wanita cantik itu. Hans mengagumi Citra dari awal Citra masuk jajaran rumah sakit Health Center. Sikap Citra yang dingin tak suka interaksi dengan dokter laki membuat Hans berpikir ulang untuk cari simpatik Citra. Perlu strategi untuk meraih simpatik dokter muda itu.


"Bu Citra bisa saja! Oya...gimana perkembangan syaraf presiden direktur Heru?"


"Tunggu perkembangan beberapa hari! Sudah diamanahkan pada dokter Rahma. Semoga penyambungan syaraf tangannya berjalan sukses. Tapi kurasa tak ada kendala. Waktu operasi semua aman."


"Kau tak tangani sampai selesai? Kudengar Pak Heru itu orangnya aneh. Susah dilayani."


"Tugasku sudah selesai Pak Hans! Tahap selanjutnya ya pemulihan. Itupun tergantung kerja sama beliau. Patuh tidak pada anjuran medis."


"Kudengar dia ada tanya kamu pada suster. Dia mau jumpa kamu secara direct. Dia itu pasienmu. Kamu wajib beri jawaban atas penyakitnya secara langsung. Itu sudah jadi tugas kita memberi yang terbaik pada pasien."

__ADS_1


"Aku tahu tapi operasinya sukses kok! Dokter Rahma cukup kompeten untuk lanjutkan pengobatan pada Pak Heru."


__ADS_2