ISTERI CEO YANG TERLUPAKAN

ISTERI CEO YANG TERLUPAKAN
Diakui Afifa


__ADS_3

Hans menelan ludah terasa kerongkongan pedih sekali. Teman sekaligus bosnya telah terangan akui anak Citra adalah anaknya. Masih haruskah dia berjuang atas nama cinta pada pandangan pertama.


Untuk sementara Hans wajib melupakan sosok Citra sebagai gadis impian. Tunggu bagaimana Citra ambil keputusan hubungan dengan Alvan. Hans terpaksa bersabar menanti burung merpati jinak milik Alvan. Laki itu akan ijinkan sang merpati kepak sayap terbang cari kebebasan atau beli sangkar lebih kokoh kurung burung itu.


Kembali pada Afifa yang butuh perawatan lebih intensif. Suster laksanakan instruksi dokter Budi pindahkan Afifa ke ruang perawatan. Afifa yang mulai membaik tampak lebih tenang. Nafasnya tidak berkejaran dengan waktu lagi. Nafas teratur seakan tidur lelap. Citra bersyukur Afifa cepat dapat pertolongan. Ini tak luput dari kesigapan Ance awasi anak-anak.


Afifa di tempatkan di ruang super VIP atas permintaan Alvan. Kini laki ini mendapat semangat karena tak perlu bingung pikir soal keturunan. Dia punya buntut yang luar biasa terutama Azzam. Ganteng dan pintar. Masa bodoh dengan mandul. Alvan tak perlu kejar pengobatan lagi. Alvan sudah punya modal jawab tantangan orang tuanya. Tiga anak cantik dan ganteng.


"Ko... Amei sudah tidur! Sekarang Koko pulang sama kak Ance. Mami yang jaga Amei. Lihat adikmu sudah tidur pulas!" Citra mengelus kepala Azzam yang hampir sama dengan tinggi tubuhnya.


Alvan saksikan bagaimana interaksi anak ibu itu. Citra lembut sekali pada anak. Contoh ibu idaman setiap anak. Hati Alvan makin menyesal telah salah pilih bini. Menyiapkan sebongkah berlian langka.


"Mami...bukankah Koko sudah bilang pulang kalau Amei bangun!" ketus Azzam tak berubah pendirian.


Daniel angkat salut pada sikap tegas Azzam. Dari kecil sudah tampak jiwa pemimpin dari Azzam. Alvan beruntung punya anak macam Azzam. Pengertian serta dewasa.


"Azzam...mami mu benar! Anak kecil tak baik lama di rumah sakit!" timpal Alvan ikut bujuk Azzam agar pulang bersama Ance.


"Azzam laki satu-satunya di rumah maka wajar seorang lelaki sejati lindungi keluarga. Bukan mementingkan ego setinggi langit. Tugas lelaki adalah memberi perlindungan dan rasa aman pada keluarga." ujar Azzam tenang tapi menohok.


Daniel dan Ance tersenyum tahu Azzam sedang menyindir Alvan. Alvan mati kutu di skak oleh Azzam. Kata-kata Azzam tak salah. Memang Azzam jadi kepala rumah tangga ganti papinya yang tak pernah muncul selama ini. Alvan tenggelam dalam ketiak wanita yang diagungkan. Ketiak bau bangkai dianggap kubah aman.


Citra mencolek anaknya agar tak permalukan Alvan di depan orang ramai. Citra bukan orang bodoh tak ngerti ke mana arah tujuan kalimat Azzam. Citra tak ingin Alvan hadir di antara mereka maka tak bangun harapan apa pun. Tak ada guna hakimi orang yang tak punya hati nurani. Hanya hebat dalam bisnis, namun miskin di kalbu.


"Azzam..." kata Citra mengedip mata melarang anaknya lanjut bicara. Citra jarang memanggil Azzam dengan sebutan nama. Kecuali Citra sedang marah atau kesal pada Azzam. "Kak Daniel dan Pak Alvan sudah boleh pergi! Terima kasih sudah membantu! Selanjutnya biar kami urus sendiri."


"Kamu usir kami?" cetus Alvan tak senang. Bagaimanapun Afifa adalah anaknya. Sebagai bapak dari Afifa Alvan tak bisa pergi begitu saja. Alvan mulai ingin tunjukkan tanggung jawab walau sudah terlambat. Lebih baik terlambat dari pada sama sekali tidak.


"Bukan gitu pak! Peraturan rumah sakit pasien tak boleh dijaga ramai-ramai. Aku sebagai dokter tak mungkin melanggar peraturan. Azzam dan Ance juga harus pulang." sahut Citra sopan.


"Ini rumah sakit milik keluarga! Peraturan itu dibuat oleh manusia. Tinggal buat pengecualian kurasa tak jadi masalah. Afifa itu anakku...aku harus di sini dampingi dia sampai sembuh." tegas Alvan lontarkan tatapan tajam ke bola mata Citra.


"Peraturan dibuat untuk dipatuhi Pak! Afifa anakku...aku yang bertanggung jawab untuk hidupnya! Bukan orang lain." Citra berkata pelan namun menusuk perasaan Alvan. Citra mungkin lupa tanpa kerja sama Alvan tak ada anak-anak manis itu.


"Mereka juga anak-anak aku! Tanpa aku nyetrum apa kecebong ini bisa muncul sendiri?" tukas Alvan tak mau kalah.


Debatan dua orang bikin Daniel dan Ance tertawa karena lucu. Berdebat pakai nada rendah takut ganggu Afifa namun cukup seru. Azzam belum gitu ngerti makna perdebatan kedua orang tuanya. Azzam hanya ngerti keduanya saling klaim sebagai orang tua.


"Bapak tak punya hak atas anak aku! Aku yang lahiri dan aku yang besarkan. Di mana kontribusi bapak?" Citra berdiri menantang Alvan yang menjulang ke atas. Kepala Citra mendongak ke atas untuk menantang laki bertubuh tinggi itu. Citra tak gentar walaupun lawannya menang jauh.


"Aku punya hak atas mereka. Aku bisa tuntut kamu bawa lari anak-anak."


"Tuntut saja! Bapak yang akan malu terlantarkan anak-anak demi wanita lain. Selingkuh di depan anak-anak, nikah tanpa ijin. Itu kan kehebatan Pak Alvan yang kaya raya."


Azzam maju mendorong Alvan agar menjauhi maminya. Kini Azzam mengerti mengapa maminya memilih pergi dari papinya. Nyatanya demi wanita lain. Azzam tak salahkan Citra bila kabur. Azzam mendukung Citra pergi dari pada sakit hati kepanjangan.

__ADS_1


"Om...jauhi keluargaku! Kami tak butuh pengakuan seorang laki tak punya pendirian. Aku sudah besar bisa jadi pelindung keluarga. Bila bapak merasa ini rumah sakit pribadi bapak boleh seenaknya tekan mami aku. Detik ini juga kubawa adikku pindah rumah sakit."


Mata Alvan terbelalak tak sangka anak seumur jagung bisa keluarkan kalimat setajam sembilu. Siapa guru anak berlidah tajam itu. Pakai ilmu apa sampai jadikan murid sok tua. Daniel tepuk tangan dukung Azzam dibalas tatapan horor Alvan. Teman bukannya bantu teman.


"Azzam...bukan seperti kata mami mu. Kau masih kecil untuk pahami persoalan kami." Alvan tak berdaya diserang Azzam pakai kalimat menohok.


"Ok...kalau boleh kutanya? Di tempatmu ada wanita lain selain mami kami kan?" Azzam melipat tangan ke dada memandang remeh pada Alvan. Azzam senang Alvan tak segera jawab. Tak perlu dijawab Azzam sudah bisa tebak apa jawaban Alvan. Paling cari cara bela diri agar tak tampak tolol di depan anak.


"Azzam...papi akan cerita setelah kamu dewasa!"


"Ok kalau gitu datang lagi setelah aku punya anak. Kalau sudah berkeluarga artinya telah dewasa. Bukan punya akal plin plan kayak anak kecil!"


Kali ini Daniel tak bisa tahan tawa lagi. Azzam terlalu pintar untuk dibujuk model anak kecil. Azzam dewasa belum waktunya. Alvan kembali di hantam rudal ganda Azzam. Terdiam tak bisa membalas.


"Azzam...adikmu masih tidur! Jangan berdebat lagi! Kami akan pergi kalau adikmu bangun. Ok?" Daniel terpaksa bantu Alvan hindari serangan telak Azzam. Daniel yakin Alvan takkan mampu adu mulut sama Azzam. Lajang itu terlalu lihay dikalahkan.


"No problem..lebih baik semua diam sebagai tamu!" Azzam kembali tekankan tak terima Alvan sebagai bagian keluarga.


Semua termakan kata-kata Azzam. Tak ada yang bersuara. Bersuara mungkin dalam hati. Seorang CEO kaya raya terkapar oleh serangan telak dari seorang pemain amatiran. Alvan dibuat kayak orang tak berguna oleh Azzam. Racun apa ditanam Citra dalam otak anak-anak hingga dendam pada bapak sendiri.


Keangkuhan Alvan tak berlaku pada Azzam. Di dunia ini mungkin hanya Azzam berani melawan CEO tirani itu. Azzam super Hero baru bagi Daniel. Pemberani berwibawa.


Di tengah kebisuan hp Alvan berdering pakai nada dering klasik. Alvan cepat angkat untuk hindari kebisingan. Semua mata tertuju pada Alvan terutama Azzam.


"Halo...ada apa? Sudah puas mabukan?"


"Yang tak pulang siapa? Aku pergi pub lihat pemandangan liar seorang wanita tak tahu malu."


"Apa? Sayang ke pub? Aku di rumah pukul delapan. Sejak hamil aku cepat ngantuk maka tidur duluan. Sayang cepat pulang ya! Aku kangen."


Dasar pembohong rutuk Alvan dalam hati. Sudah nyata main serong masih sanggup cari alibi tutupi segala kebinalannya di pub. Pikir Alvan masih bisa dirayu seperti biasa. Mata Alvan sudah terbuka lihat fakta sosok siapa wanita yang dia cintai.


"Aku keluar kota. Di rumah saja! Kalau ketahuan kau pergi lagi. Jangan balik ke rumah! Tinggal di pub atau hotel." Alvan matikan ponsel secara permanen agar Karin tak bisa hubungi dia lagi.


Azzam menatap Alvan penuh kebencian. Azzam tak perlu bertanya lebih jauh Alvan sudah beri jawaban langsung di depan hidung. Maminya tak salah bila hindari Alvan. Alvan tak lebih laki brengsek pakai power tekan mami mereka.


"Om...pulanglah urus gundik piaraanmu! Mungkin dia lapar belum diberi makan. Nanti piaraanmu itu mati lho!" Azzam kasih nasehat seolah Alvan piara seekor binatang.


Daniel tak habis pikir Azzam ini produk kelebihan vitamin atau keadaan paksa anak itu harus pintar agar bisa lindungi mami dan adiknya. Daniel sendiri tak terpikir bicara gitu. Anak sekecil Azzam meluncurkan kalimat-kalimat bikin Alvan sport jantung.


"Azzam...yang sopan! Aku ini papi kalian. Suatu saat kau akan paham posisi papi." Alvan benar kena syok punya anak model Azzam. Baru jumpa harga diri Alvan dirontokkan oleh Azzam.


"Tak perlu tunggu saat itu. Kami terlahir memang anak yatim."


Sakit hati Alvan tak dianggap bapak oleh anak sendiri. Ini karma buat Alvan terlantarkan anak dan isteri demi seonggok sampah. Alvan harus membayar harga dari kesalahan fatal sendiri.

__ADS_1


"Papi...papi..." terdengar suara lirih dari tempat tidur ruang rawat mewah rumah sakit.


Citra bergegas hampiri Afifa yang mulai bangun. Azzam tak kalah cepat dekati adiknya. Lajang itu menggenggam tangan mungil adiknya penuh tatapan kasih sayang.


"Amei...ini Koko!"


"Amei di mana ko?" Afifa edarkan mata di ruang yang sangat asing baginya.


"Amei di rumah sakit. Tadi Amei pingsan. Sudah enakan?" Azzam mencium pipi Afifa lembut. Alvan malu pada diri sendiri tak pernah beri kasih sayang seorang bapak pada anak-anak. Azzam terangan menolak kehadirannya selaku bapak.


"Enak ko! Amei mau papi. Katanya mau bawa Amei naik kereta api."


"Amei...dari dulu sampai sekarang kita tak punya papi. Kita hanya punya papa di Beijing. Setelah Amei sehat kita pulang ke Beijing ya!" Azzam mengelus kepala adiknya patahkan impian Afifa punya papi. Di mata Azzam Alvan tak pantas jadi papi mereka.


Citra buang muka tak sanggup lihat cara Azzam bujuk Afifa lupakan bapak mereka. Cara Azzam cukup kejam. Tapi itulah yang keluar dari hati kecil seorang anak. Hati yang terluka atas perlakuan tak adil dari bapak mereka.


"Koko bohong. Tadi Amei dipeluk papi. Nah itu papi! Sini Pi..!" mata bening Afifa menangkap sosok tinggi besar yang akui diri sebagai papinya.


"Dia bukan papi kita! Dia majikan mami yang kasihan pada Amei maka ngaku papi." Azzam dengan tega matikan hasrat Afifa akui Alvan.


Hati Alvan yang tadi terasa hangat kembali layu. Azzam keras susah dilunakkan.


Mata Afifa yang tadi bersinar kontan kuyu lagi. Semangat yang menyala kontan redup kena guyuran air seember dari Azzam. Wajah gadis mungil itu muram durja.


Citra cepat ambil alih jaga perasaan anak yang baru sadar itu. Citra ambil alat ukur suhu tubuh tempelkan ke kening Afifa. Sudah turun di bawah tiga puluh delapan. Citra takut Afifa shock dengar orang dia harap sebagai papi bukan papi benaran.


"Amei...mau makan apa? Mami pergi beli untukmu? Atau mau kak Ance yang beli?" rayu Citra berusaha alihkan pikiran Afifa dari sosok papi.


Alvan puji cara Citra kaburkan bayangannya dari Afifa. Alvan tak boleh kalah dari gertakan Azzam dan Citra. Ini kesempatan curi perhatian Afifa. Andai Afifa lengket padanya akan lebih gampang merangkul keluarganya lagi.


Alvan maju dekati Afifa tak peduli tatapan horor Azzam. Alvan tersenyum manis pada Afifa yang menatapnya lekat-lekat.


"Afifa...ini papi! Tak usah ragu...kita akan naik kereta api kalau sudah sembuh nanti. Lihat! Afifa punya dekik kayak papi." Alvan perlihatkan dekik di pipi sama dengan punyaan Afifa.


Azzam menggeram lihat cara Alvan rebut perhatian adiknya. Namanya juga usaha. Alvan bertarung dengan anak sendiri rebut perhatian Afifa. Alvan berjanji takkan mengalah demi anak-anak.


"Benarkah?" bibir kecil itu takjub melihat kemiripan Alvan dengannya.


"Tentu...papi bersalah telah tinggalkan kalian! Kini papi kembali bayar hutang pada kalian. Afifa mau apa nak?"


"Peluk Amei!"


Tak usah disuruh dua kali Alvan rentangkan merengkuh tubuh mungil itu ke dada. Alvan memeluk Afifa erat-erat rasakan kehangatan seorang anak. Kontak batin anak bapak tak bisa terputus oleh gunting setajam apapun. Ikatan darah tak bisa dibohongi.


Tanpa sadar Alvan menetes air mata diakui Afifa. Alvan tak perlu malu perlihatkan betapa rapuhnya hati seorang ayah bila berada dalam rengkuhan sang anak. Tangan mungil Afifa terasa melingkar di tubuh Alvan. Cuma dapat sedikit karena jangkauan tangan Afifa terbatas di tubuh gede Alvan.

__ADS_1


Daniel ikut terharu lihat moments indah ini. Si Ance malah nangis tersedu-sedu bagai dicubit seribu jari. Keharuan menyelimuti ruang itu. Citra buang muka ke langit-langit atas tak sanggup melihat pemandangan sedih ini. Azzam membeku tak beri ekspresi.


__ADS_2