
Alvan mengaduh manja. Dicubit tangan mungil Citra bukannya sakit malah terasa nikmat. Alvan merasa damai bersama Citra. Apalagi perut Citra sudah menggunung. Lebih besar dari kehamilan orang awam. Yang tak tahu pasti mengira Citra sudah dekat lahiran. Padahal masih lima bulanan.
"Nanti kau ajak Afung periksa ya! Siapa tahu ada keajaiban untuk sahabatmu itu. Jangan hanya kita yang bahagia! Dia juga berhak bahagia."
Citra manggut setuju dengan usulan Alvan. Mereka hanya mendengar karangan Meng Si yang belum tentu terbukti. Harus ada pembuktian ilmiah baru Citra bisa ambil keputusan terbaik.
"Ya mas...besok aku ajak dia ke rumah sakit setelah antar Afisa pulang ke Beijing."
"Mas antar kalian ya! Sekalian cek kandungan kamu. Apa mereka sudah bergerak?"
"Sudah dong! Mungkin kita sudah bisa tahu jenis kelamin mereka."
"Tidak usah tahu. Cewek cowok tak jadi masalah. Yang penting mereka hadir dengan selamat."
"Terima kasih mas!"
"Maaf sudah membuat kamu susah dengan hamil anak mas!"
"Isshhh omong apa? Itu kan anakku juga! Tuhan sangat baik pada kita maka kita harus bersyukur."
"Iya sayang! Tuhan sayang pada kita!" gumam Alvan teringat pada nasib Karin yang terkatung-katung di pesantren.
Artinya Tuhan tidak meridhoi hubungan dia dengan Karin maka berakhir dengan kisah yang sangat tragis. Ini akan menjadi pelajaran yang sangat berharga bagi Alvan. Betapa nikmatnya menjadi orang yang mengikuti semua ajaran Tuhan Yang Maha Esa.
"Tidurlah sayang! Besok masih ada tugas antar anak kita balik ke Beijing. Aku harap Afisa segera bergabung dengan saudaranya di sini. Om Heru juga kuatir kejadian Afung terulang pada Afisa."
"Nanti kita pikirkan! Kita tidur. Selamat tidur sayang!"
Alvan ikuti saran Citra. Sebelum pejamkan netra Alvan sempatkan diri mengelus perut yang berisi darah dagingnya. Hanya doa dan harapan Alvan panjatkan pada Ilahi agar anak isteri di beri keselamatan.
Azzam, Gibran dan Afifa tak dapat mengantar Afisa karena harus ke sekolah. Hanya mereka yang sudah cukup umur antar kepulangan keluarga Afung balik ke tempat asal mereka.
Pesawat keluarga Thomas jauh dari bayangan Alvan dan Heru. Semula mereka mengira pesawat Thomas sebelas dua belas dengan pesawat mereka. Nyatanya perkiraan itu meleset jauh. Pesawat keluarga Thomas jauh di atas pesawat keluarga mereka. Harganya berkali lipat dari harga pesawat mereka.
Alvan dan Heru hanya bisa nyengir kuda tak mungkin melawan raja kapal mendunia itu. Kekayaan mereka mungkin tak seujung kuku keluarga Thomas. Hebatnya mereka tidak sombong dengan apa yang mereka miliki. Mereka malah berkesan merakyat. Afisa sangat beruntung bisa berteman dengan anak orang super kaya itu.
Acara cipika cipiki berlangsung sebelum pesawat take off. Afisa bahkan sempat mencium perut Citra untuk mengatakan bahwa Afisa juga sayang pada saudaranya.
"Jaga mereka untuk Cece ya! Cece akan pulang untuk lihat mereka musim liburan nanti." kata Afisa sambil memeluk perut Citra yang sudah menggunung.
"Mereka akan menunggu cece nya. Kamu yang rajin ya nak! Hati-hati waktu latihan. Dan satu lagi. Jauhi Tante Meng Si! Dia bukan orang baik. Kalaupun dia tanya ini itu tak usah banyak bicara."
"Emang kenapa dia mi?"
"Dia teror Afung ie kamu! Dia suka pada opa kamu jadi dia jelekkan Afung ie supaya opa tak suka pada Afung ie."
Afisa mencibir gemas pada orang licik. Dalam hati Afisa akan beri pelajaran pada wanita licik itu. Tega benar merusak kebahagiaan teman sendiri.
"Iya mi...Cece akan jauhi dia! Hati-hati ya!" Afisa melepaskan Citra berpindah pada Alvan yang matanya berkaca-kaca ditinggal anak keduanya. Setelah ini harus tunggu berapa bulan lagi baru jumpa lagi.
"Afisa jaga diri ya! Papi selalu rindu padamu!" Alvan menurunkan badannya yang tinggi agar bisa merangkul anaknya.
__ADS_1
"Iya Pi! Cece titip mami dan adik-adik ya! Jauhi kuman penyakit! Cece juga punya rumah di Beijing! Cece sanggup beli tiket untuk keluarga!" ancam Afisa yang hanya dipahami Alvan.
"Papi akan ingat anak papi sudah dewasa! Papi akan jaga semua saudaramu dan juga mami. Papi janji!" Alvan dua jari ikrarkan janji akan lindungi seluruh anggota keluarga.
Afisa tersenyum lalu peluk Alvan dengan damai. Alvan merengkuh tubuh semampai itu erat-erat tak ingin berpisah. Cuma sayang anaknya terikat janji pada tempat dia menuntut ilmu.
Selanjutnya Afisa menyalami anggota keluarga lain sebelum masuk ke gate untuk naik ke pesawat. Thomas dan kedua orang tuanya menanti dengan sabar biarkan Afisa pamitan dengan keluarga. Sungguh kehormatan bagi Afisa jumpa keluarga tajir yang benar ingin jalin hubungan dengan Afisa.
Afisa melambai sebelum hilang ditelan pintu kaca. Alvan melihat Thomas mengulurkan tangan menggandeng Afisa berjalan beriringan masuk ke badan pesawat bertubuh besar.
Alvan menduga Thomas sangat suka pada anaknya. Mereka datang bukan untuk pesta melainkan untuk Afisa. Jalan mereka masih panjang dan berliku. Sekedar menjadi teman baik masih wajar. Thomas lebih tua dari Afisa pasti paham kalau mereka hanya bisa jadi teman.
Akhirnya pesawat pribadi milik keluarga Smith terbang membelah langit menuju ke titik tujuan. Semua terkagum pada kekayaan keluarga Smith. Mereka kaya namun bersahaja.
"Kelak kita akan berbesan dengan orang tajir. Bangga dah aku sebagai kakeknya!" ujar Heru tak tahu malu. Lupa kalau cucunya masih anak kecil.
"Halu kelewat tinggi! Cucu kamu masih berusia delapan opa. Baru genap delapan tahun beberapa bulan lalu." Alvan ingatkan Heru agar sadar Afisa hanya bocah kecil.
Heru menggaruk kepala merasa lucu tak sadar Afisa hanya bocah kecil. Bawaan Afisa kayak ABG suka hilangkan jejak anak kecil. Anak itu tak mirip anak kecil. Lebih mirip anak remaja.
"Aku takut kalian salah hitung tanggal lahirnya. Dia itu gimana ya? Seperti anak gadis."
"Nggak sabar mau jadi Uyut termuda ya?" gurau Bu Sobirin bikin semua tertawa.
"Oma sudah ada saingan jadi Uyut muda." sahut Citra.
"Afisa sangat pintar. Tunggu dia berhasil dalam pendidikan baru boleh berkeluarga. Jangan hilangkan masa remajanya! Pacaran boleh saja tapi tak boleh cepat menikah."
"Kuno banget! Contoh Citra berhasil semuanya. Karir dan keluarga semuanya ok!" timpal Heru tak sabar ingin cepat lihat Afisa dewasa. Jadi opa Uyut muda kan keren. Heru bermimpi saingi papa dan mamanya jadi Uyut di usia produktif.
"Itu tidak mudah Om! Biarlah waktu yang bicara! Apa kita mau nginap di bandara?" Citra tak sabar ingin segera ke rumah sakit untuk cek kondisi Afung. Tak mungkin hanya dia yang beri keturunan pada keluarga. Harus ada wanita ini bantu dia jadikan keluarga Perkasa makin ramai.
Semua tersenyum bergerak meninggalkan bandara. Heru bertugas antar kedua orang tuanya sedangkan Alvan bertugas antar dua nyonya muda cek kesehatan di rumah sakit. Waktunya Citra kontrol kondisi kandungan yang makin membesar.
Alvan sangat telaten urus Citra agar terbebas dari segala bentuk tekanan. Seperti biasa Hans yang langsung cek up kandungan Citra. Hans adalah dokter kandungan cukup senior maka Citra lebih percaya pada Hans.
Cuma Alvan yang selalu naik angin jahat bila Hans periksa Citra. Wajah Alvan berkerut-kerut persis kakek tua kehilangan tongkat.
Hans cek kondisi kesehatan Citra dan USG bayi-bayi dalam rahim Citra. Berkat kecanggihan teknologi bayi dalam perut Citra terlihat jelas. Mereka lumayan aktif bergerak walau belum sempurna sekali.
Afung dan Alvan takjub melihat perut kecil Citra berisi empat sosok janin. Tiga hampir sama besar cuma ada satu lebih mungil. Mungkin kejadian Afifa terulang lagi. Dua agak besar dan satu kecil. Ini tiga besar dan satu kecil.
Alvan ingin berseru bahagia lihat kurcacinya aktif dalam rahim maminya. Semoga mereka lahir dengan selamat.
"Mau tahu jenis kelamin mereka?" tanya Hans sambil tersenyum pada Alvan yang matanya berembun saking senangnya dapat karunia ajaib.
"Tidak usah bro! Biarlah jadi rahasia sampai lahiran! Aku tak keberatan jenis kelamin mereka. Asal selamat saja." ucap Alvan berusaha gagah. Namun tetap tampak lelaki ini lemah bicara tentang bayinya.
"Ok...yang jelas ada jagoan! Aku harus belajar darimu bro! Keren! Dua lahiran punya tujuh bayi. Tiga kali selusin ya!" gurau Hans sudahi pemeriksaan. Perawat segera bantu Citra bersihkan sisa gel di perut yang besar itu.
Citra dibantu perawat dan Alvan turun dari brankar pemeriksaan. Citra dibantu duduk di kursi di depan Hans. Alvan dan Afung berdiri di belakang menanti nasehat dari Hans mengenai kehamilan luar biasa Citra.
__ADS_1
"Ini luar biasa! Aku berharap aku yang operasi dokter Citra. Aku belum pernah tangani bayi sebanyak ini. Kembar dua sudah biasa. Kembar empat ini bikin aku syok. Semoga pak Alvan beri kehormatan padaku untuk bantu mereka melihat dunia." Hans menatap Alvan memohon di beri kesempatan menjadi dokter Citra.
"Kau yakin?"
"Insyaallah...aku akan usaha! Kusarankan sebelum sembilan bulan kita harus keluarkan mereka. Perut dokter Citra takkan sanggup terlalu lama menampung mereka."
Citra bukannya tak tahu resiko hamil anak kembar lebih dari dua. Rawan keguguran. Belum waktu tetap harus dikeluarkan.
"Kita lihat nanti dokter Hans! Aku akan hati-hati jaga mereka. Gimana kesehatan mereka?" Citra jawab sebelum Alvan beri jawaban ngawur. Laki itu mana ngerti ilmu kedokteran. Asal jawab kehendak hati.
"Sejauh ini sehat. Minum susu dan makan makanan bergizi. Mereka butuh asupan lebih dari kehamilan umum. Tak ada pantangan selain hindari minuman bersoda dan air es. Satu lagi makanan pedas."
"Aku kucatat. Oya...aku mau minta tolong lihat rahim isteri om aku! Baru ini dia kecelakaan olahraga dan kena bagian perut. Apa ada kena rahimnya?"
"Bukankah ini isteri Heru? Yang baru pesta?
"Tepat. Aku mau minta tolong cek dia!"
Hans berdiri berjalan ke arah brankar beri kode pada perawat persiapkan alat USG untuk lihat kondisi tempat anak Afung yang dikatakan rusak.
Citra memberitahu Afung agar naik ke brankar untuk diperiksa oleh Hans. Afung tentu tak menolak karena dia berharap bisa beri keturunan pada Heru walau laki itu tidak menuntut. Afung yang malu tak bisa jadi isteri baik.
Hans menekan bawah perut Afung cari ada yang tak beres. Afung diam saja sewaktu Hans lakukan prosedur seorang dokter.
"Tolong tanya apa ada rasa nyeri waktu hubungan intim, nyeri di dalam perut, nyeri buang air kecil, sakit waktu haid!" Hans berkata pada Citra untuk bertanya pada Afung.
Citra segera bertanya sesuai permintaan Hans.
Afung hanya mengatakan kadang perut terasa nyeri. Selain itu semua aman. Hans segera laksanakan USG untuk lihat bagaimana kondisi rahim Afung.
Hans perhatikan dengan teliti. Alvan tahu diri segera keluar dari ruang praktek Hans. Gimanapun dia harus hormati Afung sebagai isteri Heru. Alvan bukan dokter ataupun muhrim Afung maka tak boleh ikut lihat aurat isteri Heru.
Citra ikut memantau isi perut Afung. Sedikit banyak Citra mengerti bagaimana rahim yang sehat. Hans menunjuk sesuatu pada Citra tanpa berkata apapun. Hans sekedar menunjuk kalau titik itu ada sedikit masalah. Citra paham maksud Hans tak ingin pasien panik.
Hans merasa cukup periksa kandungan Afung. Sesuai prosedur perawat bersihkan sisa gel di perut Afung dan bantu wanita itu turun dari brankar pemeriksaan.
Hans kembali duduk di meja kerja menatap Citra lekat-lekat tanpa omong apa-apa. Afung berdiri di samping Citra menanti vonis dari dokter ini. Afung sudah siap terima hasil terburuk sekalipun. Mungkin ini suratan takdirnya tak pernah punya anak.
"Gimana dokter Hans? Ada harapan punya anak?"
"Ngawur...kalau ada suami ya pasti punya anak. Rahimnya ada memar akibat benturan. Kita cuma butuh pengobatan rutin selama beberapa waktu. Insyaallah ada anak kok. Aku akan beri obat untuk di konsumsi secara rutin. Bukan depan kita cek lagi. Tak ada yang perlu dikuatirkan."
Mata Citra kontan bercahaya mendengar berita baik dari Hans. Artinya rahim Afung tak ada masalah cuma perlu pengobatan rutin satu masa.
"Oma aku yang cantik... rahim kamu tak ada masalah cuma harus minum obat karena ada memar akibat benturan. Setelah itu kamu siap hamil. Saingi aku kembar empat juga ya?" kata Citra pada Afung sampaikan hasil pemeriksaan Hans.
Afung segera memeluk Citra dari belakang saking senang divonis bisa punya anak. Tapi semua berpulang pada kemurahan hati Yang Maha Kuasa. Manusia boleh berusaha tapi yang ketok palu tetap Yang Di Atas.
Hans ikut terharu saksikan kegembiraan wanita yang sedang berusaha jadi seorang ibu. Ada yang diberi kesempatan jadi ibu malah buang darah daging untuk tutup malu. Berbuat maksiat hasilkan anak lalu di lenyapkan untuk hilangkan jejak berbuat jahat. Itu contoh manusia berhati setan. Setan yang menyamar sebagai seorang manusia. Berwajah manusia tapi isi hati tetap setan.
"Ok...ini kutuliskan resep! Minum teratur. Setelah habis obat balik lagi ya!" Hans menyodorkan resep untuk Afung. Citra meraih resep itu dan perhatikan isi resep Hans untuk Afung.
__ADS_1
Vitamin, antibiotik dan tambahan dua macam obat untuk penyembuhan luka memar Afung.