ISTERI CEO YANG TERLUPAKAN

ISTERI CEO YANG TERLUPAKAN
Pengakuan


__ADS_3

Mungkin dengan begini kesehatan Karin akan stabil. Siapa tahu Allah Maha pemurah memberi kesembuhan pada Karin dan ustadz Syahdan. Semua orang berhak mendapat pengampunan dan kesempatan kedua.


"Baiklah. Aku ini bukan orang pintar dalam agama jadi mohon pak ustad arahkan Apa yang harus kulakukan!"


"Kalau kau talak Karin secara langsung silahkan! Melalui ponsel juga tak masalah asal ada saksi. Jangan gegabah ambil keputusan! Pikirkan lagi matang-matang."


"Aku berserah pada Karin. Apa yang dia inginkan akan aku wujudkan."


"Van...aku tak meminta apapun darimu cuma kata talak saja! Seperti janjiku, rumah kuwariskan pada anak-anak. Juga semua perhiasan dan mobil. Aku sudah tak butuh semua itu."


"Kau yakin Karin?"


"Insyaallah itu yang kumau.. aku bahagia hidup di sini!"


"Baik tapi rumah dan seluruh isinya tetap milik kamu. Mobil juga. Tak ada yang berubah."


"Tidak perlu Van...cepat atau lambat semua itu milik Azzam. Aku sudah serahkan pengurusan pada notaris balik nama Azzam. Aku tak mau kelak ada orang tuntut rumah itu. Aku ikhlas jadi milik anakmu."


"Tak boleh gitu! Aku akan kirim semua mobilmu ke pesantren. Untuk transportasi anak pesantren kan boleh. Lagian anak-anak masih kecil untuk apa mobil. Sampai di jaman mereka dewasa sudah ganti model lain."


"Bagaimana bijaksana kamu saja Van! Rumah tetap milik Azzam ya! Perhiasan untuk Afifa. Sekarang apa rencanamu terhadap talak aku?"


"Aku ke sana?"


"Bisa... sekarang juga bisa!"


"Tak sabar amat ingin cepat bercerai dari aku. Ingin cepat menikah dengan ustadz Syahdan ya!"


"Nggak gitu juga! Soalnya tak enak kami sering berduaan sementara aku masih terikat pernikahan dengan kamu. Kalau kita sudah bercerai maka aku terbebas untuk menjalin hubungan lebih baik dengan pak ustad."


"Baik...aku akan ucapkan talak sekarang biar kamu senang. Nanti ada waktu aku akan ke sana jumpa kamu."


"Terimakasih niat baikmu Van! Kudoakan kamu hidup bahagia dengan Citra selamanya. Citra berhak mendapat yang terbaik. Silahkan!"


Alvan menarik nafas dalam-dalam. Ini adalah kali kedua dia jatuhkan talak pada isteri. Dulu dia talak Citra di bawah tekanan kakek Wira sekarang dia lakukan secara suka rela.


"Bismillahirrahmanirrahim... Aku Alvan Lingga menjatuhkan talak pada wanita bernama Karin binti Usman. Dengan talak dijatuhkan maka mulai detik ini kami putus hubungan suami isteri." kata Alvan dengan lantang tak takut di dengar oleh Untung dan Andi.


Semoga keputusan ini tepat dan terbaik untuk Karin dan juga dirinya. Alvan merasakan kelegaan luar biasa melepaskan Karin menemukan kebahagiaan sendiri. Alvan percaya ustaz Syahdan akan mengayomi Karin dan menjaganya. Alvan tak yakin ada cinta diantara kedua orang itu karena mereka bertemu dalam waktu yang cukup singkat. Untuk memetik nyalakan api asmara masih butuh waktu yang panjang.


"Alhamdulillah... terima kasih Van! Aku minta maaf sekali lagi telah mengacaukan hidupmu! Selanjutnya kita akan tetap bersilaturahmi sebagai saudara. Semoga tidak ada permusuhan di antara kita."


"Kujamin tak ada dendam dariku maupun Citra. Aku doakan semoga kamu menemukan apa yang kamu cari Karin. Hiduplah dengan baik-baik dan katakan apapun kesulitanmu. Aku siap membantu kalian bilang ada kesulitan. Jangan segan-segan katakan kepadaku!"


"Untuk sementara ini tidak ada! Aku janji akan mencarimu bila menemukan kesulitan."


"Aku akan transfer sejumlah uang ke rekening kamu untuk berjaga-jaga suatu saat kamu membutuhkannya. Itu bukan uang untuk donatur ke pesantren tetapi uang untuk pribadi kamu."


"Terima kasih Van! Sampaikan juga kata maaf ku kepada Citra dan katakan bahwa semua yang terjadi di masa lalu adalah rencana busuk aku. Semoga kalian bahagia ya Van!"

__ADS_1


"Kamu juga...Oya pak ustad! Titip Karin ya! Jangan segan bila memerlukan bantuan! Aku siap mem-back up kalian bila ada kebutuhan untuk kekurangan di pondok pesantren."


"Itu tak perlu kamu kuatirkan Pak Alfan. Aku janji akan merawat Karin dan menjaganya. Mengenai kekurangan pondok pesantren memang ada yang harus ditambah. Mungkin pak Alvan bersedia membeli kasur untuk orang yang tinggal di sini. Karena dari hari ke hari banyak yang datang untuk menimba ilmu agama di sini."


"Baik... Aku akan segera mengirim dana untuk pak ustad. Mungkin pak ustad akan lebih bijak menggunakan dana yang akan ku kucurkan. Mengenai biaya obat aku akan transfer uang setiap bulan untuk membeli obat bagi orang yang mondok di situ."


"Aku ucapkan ribuan terima kasih atas niat baik pak Alvan! Singgah lah kemari agar bisa lihat langsung bagaimana kegiatan kami di sini!"


"Baik...nanti ada waktu aku akan ke sana bersama isteri aku. Kabari bila hari baik kalian tiba. Kami akan datang bila diundang."


"Kami akan kabari kalian setelah selesai masa Iddah dek Karin."


"Iya...iya...kalau gitu lain kali kita ngobrol lagi. Aku masih ada kerja yang harus aku selesaikan. Semoga keputusan hari ini adalah yang terbaik untuk kita semua. Aku doakan kebahagiaan pak ustad dan Karin."


"Amin... assalamualaikum..."


"Waalaikumsalam.." Alvan meletakkan ponsel belum percaya segitu gampang dia ceraikan Karin. Hanya melalui ponsel dia jatuhkan talak pada Karin. Apa ada kejadian begini terjadi pada orang lain? Bercerai tanpa tatap muka. Sah apa tidak perceraian ini?


Kali ini perceraian yang dilakukan Alvan keluar dari lubuk hati. Bukan tekanan dari siapapun. Kata talak yang diucapkan pun keluar dari hati terdalam Alvan bukan kejam terhadap Karin tetapi memikirkan yang terbaik untuk Karin. Kalau Karin bisa mendapat kebahagiaan dari ustadz Syahdan maka Alvan wajib melepaskannya merangkul kebahagiaan itu.


Bersama Alvan Karin tidak akan menemukan apapun lagi. Alvan tidak mungkin bersatu dengannya selain menggantung Karin dalam satu pernikahan yang tidak jelas. Biarlah Karin menikmati kebebasannya merangkai hidup baru dengan pak ustad.


Alvan belum ingin mengatakan kejadian ini kepada Citra. Takutnya Citra mengira Alvan ingin mencampakkan Karin demi dirinya. Citra pasti tidak akan terima bila Karin ditalak secara tidak sopan. Tunggu nanti setelah ada waktu luang Advan akan membawa Citra berangkat ke Jawa Tengah untuk menemui Karin.


Alvan betul sangat lega setelah menjatuhkan talak pada Karin. Batu besar yang menghimpit dadanya selama ini telah terangkat. kini Alvan hanya ada tanggung jawab sebagai saudara dan memberi bantuan sekedarnya kepada pondok pesantren pak ustad. Alvan akan memberi Karin hak sebagai pengganti harta gono gini. Karin memang tidak meminta semua itu justru Karin telah memberi yang menjadi haknya kepada anak-anak Alvan.


Alvan berjanji akan memberi yang terbaik pada Karin sebagai tanda Alvan manusia yang mempunyai hati nurani. Bercerai bukan berarti harus menghapus nama Karin selamanya.


Citra yang duluan pulang menyambut kehadiran Alvan dengan senyum lembut seperti biasa. Di wajah itu tidak tampak ada beban sedikitpun. Mungkin wanitanya telah mendapat kabar baik dari negeri tirai bambu tentang perawatan kedua orang tuanya.


Alvan memberi kecupan lembut di kening Citra sebagai ucapan syukur telah terbebas dari satu tanggung jawab semu terhadap Karin. Alvan harus mencari hari yang baik untuk menjelaskan semuanya kepada Citra. Tidak untuk saat ini karena Citra masih disibukkan oleh perawatan kedua orang tuanya di Tiongkok.


Citra mengambil tas kerja Alvan dan menyimpannya di tempat semestinya. Anak-anak juga menyambut riang kehadiran Alvan. Anak-anak bisa tertawa lega karena telah terbebas daripada tekanan waktu mengikuti ujian naik kelas. Mereka bisa main dengan bebas bersama kucing-kucing mereka.


Afifa melompat manja ke pelukan Alvan menyingkirkan Citra yang berada di samping papinya.


Afifa menciumi Alvan bertubi-tubi saking kangen pada papinya padahal berpisah juga belum seharian.


"Ada apa anak papi?" tanya Alvan masih menggendong Afifa.


"Amei mau kita berenang di kolam renang. Sejak pindah sini mami tak ijinkan kita berenang. Takut kita tenggelam. Sekarang ada papi yang jaga mami tak bisa melarang lagi." Afifa melirik Citra yang pura-pura tidak dengar.


"Oh gitu ya! Ok...papi ganti pakaian dulu ya! Ajak om Gi!"


Afifa melorot turun dari rengkuhan Alvan meloncat naik ke tingkat 2 mencari om Gi dan sekalian tukar pakaian untuk ke kolam renang.


Azzam masem-masem malu ikut berenang dengan Alvan. Azzam tidak begitu intim dengan Alvan. Beda dengan Afifa yang lengket dengan papinya. Azzam kan orangnya sangat sensitif. Susah ramah tamah bila tak kena di hati.


"Koko tidak ganti pakaian?" tegur Citra melihat Azzam masih bengong belum bergerak ikut Afifa ganti baju renang.

__ADS_1


"Apa Koko boleh?"


"Ya Allah nih anak! Kenapa tak boleh? Kau kan pandai renang. Kan tak perlu papi ajar lagi. Ayo ganti pakaian!" Citra menepuk pantat Azzam agar susul Afifa ke atas.


Azzam tersenyum sekilas melirik Alvan. Alvan tak menyangka Azzam masih menyimpan rasa sungkan padanya. Anak lajang itu memang istimewa di mata Alvan. Tak pernah terlintas di benak akan punya penerus yang hebat. Pintar, tahu diri dan bijak. Cuma mulutnya sangat mengerikan.


Gibran dan Afifa duluan turun. Anak gadis Alvan sudah berganti pakaian renang model skirtini. Baju renang yang bawahan model rok. Citra sengaja beli baju renang model gitu agar masih ada kesopanan. Tak mungkin Afifa masih kecil memakai baju renang model burkini.


Gibran santai saja telanjang dada hanya kenakan celana renang khusus cowok. Gibran tidak ada kata malu melenggang Santuy menuju ke samping rumah di mana adanya kolam renang. Azzam belum tampak batang hidung.


Alvan segera masuk kamar ganti pakaian demi anak tersayang. Selama permintaan anak-anak masih dalam batas wajar sesulit apapun Alvan ingin mewujudkannya. Kalau hanya sekedar berenang bukanlah satu permintaan yang berlebihan. Anak-anak tentu ingin menikmati kebersamaan bersama Papi mereka yang selama ini tak dapat mereka dapatkan.


Alvan muncul dengan memakai kimono handuk untuk menutupi tubuh sebelum capai kolam renang. Citra tertawa senang Alvan tahu diri tidak telanjang dada macam Gibran. Alvan beda dengan Gibran.


Gibran anak-anak sedang Alvan lelaki dewasa. Pamer aurat di depan perempuan lain bukanlah satu keputusan baik. Di rumah ada Iyem dan Bik Ani. Mereka bukan muhrim Alvan mana boleh melihat Alvan dalam kondisi telanjang walaupun cuma dada.


Citra menyuguhkan minuman segar sebagai penghapus rasa haus. Sayang hari ini Citra tak punya cemilan untuk dihidangkan. Para perenang dadakan harus puas dengan jus jeruk segar.


Sewaktu Citra tiba sudah ada Azzam berada di pinggir kolam renang. Alvan dan Afifa sudah berada dalam kolam saling bercanda dalam lautan air. Gibran cukup ahli sebagai pencinta air. Anak itu berenang bak katak ketemu genangan air.


"Ko...tidak turun?" tegur Citra melihat Azzam masih ragu terjun ke kolam. Lajang itu hanya menatap nanar pada Alvan dan Afisa.


"Bentar lagi mi...mami tidak ingin berenang?"


"Mami masih harus bantu nek Ani siapkan makan malam. Sekarang kan nggak ada Oma Uyut masakin buat kita lagi. Mami yang harus urus makan kita semua."


"Koko ngerti. Jangan terlalu capek ya! Jangan mami kerjakan semua sendirian!"


"Kan ada kak Iyem dan Nek Ani! Ayo gabung sama papi. Tak baik abaikan papi."


"Iya mi..." Azzam menyahut lalu terjun ke kolam dengan gaya manis. Azzam paling senang gunakan gaya bebas sebagai gaya andalan. Afisa lebih profesional di kolam renang karena mereka punya jadwal latihan renang untuk melenturkan tubuh.


Afisa beruntung dapat belajar lebih banyak berkat bimbingan mama angkatnya. Afisa pintar, punya banyak skill nyaris anak sempurna. Tapi Afisa paling tak suka berada di dapur. Suka makan tapi tak suka dekat dengan kompor. Kata Afisa dapur penuh asap polusi. Makanya orang bilang tak ada manusia sempurna itu kalimat mengandung fakta. Di balik kelebihan tetap ada kekurangan.


Citra ikut bahagia melihat kebahagiaan anak-anak dan suaminya. Sebagai mami dari anak-anak hanya itu harapan terbesar dalam hidup. Melihat orang terdekat bernafas dengan lapang tanpa tekanan.


Afifa berganti pindah bercanda dengan om Gi. Afifa bisa berenang tapi tidak ahli. Cukuplah untuk melindungi diri bila terkena banjir.


Azzam berenang sendiri disaksikan Alvan. Kalau Azzam dilatih serius bisa jadi perenang profesional. Cuma sayang anak itu bukan terlalu senang pada kegiatan ini. Sekedar tidak tenggelam berada di massa air cukup banyak. Itu sudah cukup bagi Azzam.


"Zam...sini!" panggil Alvan Azzam melewati depan Alvan masih setia gunakan gaya bebas.


"Ya Pi..." Azzam berenang mendekat.


"Ada yang mau papi omongkan dengan kamu tapi untuk sementara cukup kita berdua tahu. Mami tak perlu tahu."


"Papi berbuat hal menyakiti mami lagi?" Azzam berenang ke pinggir berpegang pada dinding kolam.


"Bukan..mami kamu itu banyak pertimbangan maka papi belum berani kasih tahu."

__ADS_1


"Emang papi berbuat apa? Jangan bikin Koko penasaran!"


Alvan menghembus nafas berkali-kali agar punya nyali cerita kejadian besar hari ini. Azzam sebagai anak sulung perlu tahu kalau dia dan Karin telah berpisah secara baik-baik.


__ADS_2