
Alvan satu-satunya lelaki dalam hidup Citra. Dicerai Alvan secara lisan tak terbersit di hati jalin hubungan intim dengan cowok manapun. Kalau Citra mau mungkin dari dulu sudah laku. Citra trauma bangun rumah tangga dengan laki. Cukup sekali gagal.
"Kenapa kak Karin berpaling? Atau bapak terlalu kaku hingga bini kabur bersama laki lain."
"Kalau aku bicara panjang lebar nanti pikir aku bela diri. Biarlah waktu yang bicara! Aku kecewa pada Karin. Sakit hati aku dikhianati orang terdekat." keluh Alvan tak sadar sedang korek luka Citra di masa lalu. Bukankah Alvan juga lakukan hal sama padanya.
"Bapak sadar gimana nikmatnya terluka dalam hati? Tidak terlihat tapi perih dari atas kepala hingga ujung kaki. Roda itu berputar pak! Hari ini aku, besok giliran orang lain. Ajak kak Karin bicara dari hati ke hati. Soal Aids jaga diri saja. Hindari dulu kontak hubungan intim."
"Aku lelaki Citra..." seru Alvan tersinggung bila harus terima Karin si ayam loncat. Di mana harga Alvan punya bini tukang selingkuh.
"Ooo... lelaki tak boleh diselingkuhi! Cewek boleh ya?" tanya Citra tersenyum ejek. Kepala Alvan kontak dirayapi ratusan semut. Gatal ntah bagian mana. Semua terasa gatal.
Citra membalas perbuatan tak menyenangkan dari Alvan dengan telak. Siapa menanam dia akan menuai. Alvan petik hasil dari karma masa lalu. Tidak tanggung-tanggung Karin berkhianat membuahkan anak.
"Kamu ini...bukannya prihatin tapi malah ngejek. Apa solusinya soal bayi dan kesehatan Karin."
"Cek kandungan dulu! Lalu test darah Karin! Jangan cerita soal HIV dulu! Takut pengaruhi emosi ibu hamil. Resikonya besar. Kak Karin bisa stress."
Alvan tertawa pahit. Andai Karin punya otak berpikir akibat hidup bebas mungkin rumah tangga mereka takkan berakhir pahit. Mabukan bersama teman satu geng lupa diri. Lupa isteri orang. Masih pantaskah Karin menyebut diri isteri dari pengusaha top Alvan?
"Aku akan turuti nasehatmu. Tapi aku tetap tak ijinkan Karin berada dekat aku. Aku tak mau ambil resiko tertular virus mematikan itu. Aku masih ingin hidup seribu tahun lagi bersama anak-anak aku."
"Terserah pemahaman bapak. Aku cuma ingin katakan jangan kucilkan Karin! Dia berhak dapat kata maaf."
"Apa aku juga berhak dapat kata maaf darimu?"
Citra pura-pura tak dengar kalimat terakhir Alvan. Citra masih berstatus isteri Alvan namun tak punya hak berdiri di samping Alvan sebagai isteri. Posisi Citra sudah tergantikan oleh Karin. Seluruh dunia tahu hanya Karin isteri Alvan. Citra tak ada tempat di sisi Alvan.
"Aku keluar sebentar cari perawat. Afifa harus cek lab lagi. Kita harus tahu HB darah sudah meningkat belum."
Alvan tahu Citra sengaja hindari pembicaraan mengenai perasaan. Jelas sekali Citra belum hapus kenangan buruk di otak. Alvan hanya bisa mengurut dada menahan rasa sesal yang datang terlambat. Kalau ada orang jual mesin waktu Alvan bersedia beli mahal untuk kembali ke waktu dia bersama Citra. Alvan akan perbaiki sikap pada Citra.
Sayang itu hanya angan kosong belaka. Sejauh ini belum ada ilmuwan sanggup ciptakan mesin waktu khayalan semua orang. Banyak fiksi karang cerita soal mesin waktu. Namun sampai detik ini belum ada bukti tentang hal itu.
Sosok mungil Citra hilang telan pintu. Wanita menghindari Alvan. Bahasa tubuh Citra menolak bincang masalah pribadi mereka. Citra ingin mengubur masa lalu tanpa perlu diingat lagi. Citra berharap Alvan dan Karin bersatu agar pengorbanannya tidak sia-sia.
Alvan mengepal tinju kesal pada diri sendiri terobsesi cinta buaya Karin. Lalui hari-hari bersama tak jadi jaminan kenal sifat detail Karin. Detik demi detik berlalu memunculkan belang Karin. Kini belang itu telah terpahat nyata di muka Karin. Manusia bermuka palsu. Manis di luar, pahit di dalam.
"Papi..." terdengar suara manja sang tuan putri.
Alvan tersentak dipanggil manja oleh Afifa. Suara itu yang akan tuntun Citra kembali ke pelukannya. Alvan akan andalkan Afifa untuk luluhkan hati Citra. Afifa bisa jadi maskot Alvan merangkul bini tersiakan itu. Semoga Afifa jadi azimat keberuntungan Alvan.
Alvan bangkit dari kursi dekati Afifa seraya mengelus pipi montok itu. Rasa bangga di hati Alvan tak pernah putus punya anak secantik Afifa.
"Ada apa sayang?" tanya Alvan lembut.
__ADS_1
"Amei mau pipis. Tadi kelewat banyak minum. Papi bisa antar Amei ke WC?" mata bening Afifa pancarkan keraguan akan kesanggupan Alvan mengurus dirinya.
"Tentu sayang...mari papi gendong!" Alvan ulurkan tangan hendak gendong Afifa ke kamar mandi.
"Tak usah gendong. Amei sudah gede kok! Papi bawa cairan infus saja. Amei bisa jalan sendiri." Afifa turun dari ranjang tanpa bantuan Alvan. Gadis kecil ini lebih bijak dari Avan yang mati kutu harus jadi papi idaman. Alvan mana pernah urus anak kecil. Apa yang harus dilakukan seorang papi belum terdaftar dalam memo Alvan.
Alvan hanya pandai merayu, bujuk dan memeluk Afifa. Tugas lain masih awam bagi Alvan. Mengurus anak gadis beda dengan urus anak laki. Alvan tak tahu anak gadis mesti disisir rambut indahnya, diberi baby lotion untuk merawat kulitnya, termasuk ajar Afifa menjaga diri dari kenakalan remaja.
Mujur nasib Alvan. Belum sempat bawa Afifa ke kamar mandi Citra sudah balik dengan seorang perawat. Perawat itu membawa beberapa peralatan medis di atas baki stainless. Sekilas mata peralatan ambil sampel darah.
Citra cepat ambil alih Afifa dari tangan Alvan. Alvan belum bisa dipercaya urus anak gadis ke kamar mandi. Laki itu belum bisa membantu Afifa walau itu anaknya. Afifa pun mungkin segan dibantu Alvan bersihkan daerah intim. Sebagai anak gadis pasti ada rasa malu kendatipun itu papanya.
"Yok biar mami saja! Papi bangunkan Azzam. Terlalu lama tidur ntar malam jadi satpam ronda." Citra antar Afifa ke kamar mandi sambil pegang tube infus. Sebelumnya harus dikunci supaya darah dari urat tidak naik ke selang infus.
Alvan tak perlu disuruh dua kali langsung dekati Azzam agar dibangunkan. Lajang itu tidur nyenyak sampai tak open orang mulai ramai dalam kamar rawat Afifa.
"Boy...bangun!" Alvan menepuk pipi Azzam pelan. Alvan tak kalah bangga punya jagoan ganteng macam Azzam. Allah beri ujian berat sekaligus beri karunia indah. Allah itu maha adil. Di satu sisi menguji iman Alvan, sisi satunya lagi turunkan berkah tak ternilai. Alvan tak punya hak hujat kebesaran Allah.
"Oh..." Azzam meloncat bangun seperti amnesia lupa dia di mana. Matanya liar memantau kondisi kamar berbeda dari biasa. Sungguh berbeda dengan kamarnya.
"Boy...ini papi!" Alvan mengembalikan ingatan Azzam di mana dia barusan ini.
"Oh..." hanya kata itu keluar dari bibir Azzam.
"Mau minum? Papi ambilkan ya!" Alvan maklumi anaknya masih linglung baru bangun dari tidur. Alvan bergerak cepat ambil air mineral yang tersedia. Alvan dengan sikap kebapakan memberi minum ke mulut Azzam. Suara glek air meluncur ke kerongkongan Azzam samar-samar terdengar di kuping Alvan. Jakun Azzam mulai terlihat tanda akan menuju ke Akil baliq. Anak lajangnya akan menjadi cowok remaja.
"Terima kasih om!"
Alvan sangat tidak suka kata om dari mulut Azzam. Azzam belum tempatkan Alvan di hati sebagai papi. Masih tersisa ganjalan di hati lajang itu. Alvan harus menelan kekecewaan itu dalam-dalam sambil berdoa semoga pintu hati Azzam terbuka siap menerima Alvan sebagai papi.
"Koko mau ke kamar mandi!" Azzam turun dari sofa jejakkan kaki ke lantai granit yang dingin.
"Afifa masih di dalam bersama mami. Tunggu sebentar."
"Iya..." sahut Azzam sabar.
Alvan tersenyum suka pada gaya Azzam sok cold. Lajang ini pantas sandang nama Lingga. Segala tindak tanduk Azzam cerminkan lelaki sejati. Kelak bagaimanakah profil Azzam. Sekeren apa tuh bocah. Dewasa nanti pasti cewek antrian curi perhatian Azzam.
Tak lama Afifa datang dibantu Citra. Afifa harus naik ke atas tempat tidur khusus orang sakit. Segala peralatan medis terpasang dekat bed Afifa. Otomatis gadis mungil ini tak bisa bergerak ke mana-mana.
"Nah sayang! Ibu suster mau ambil sampel darah Amei. Sedikit saja! Amei sanggup tahan?" Citra menunjuk perawat yang menanti ditepi tempat dengan sabar. Orang yang dia layani anak dokter favourite rumah sakit. Wajar harus tampil profesional agar dapat pujian.
"Tidak sakit kok sayang! Cuma seperti digigit semut." perawat itu makin dekat Afifa. Afifa merengut takut pada jarum suntik bakal tembus kulit putihnya.
Citra mengelus kulit tangan Afifa perlahan datangkan rasa nyaman. Elusan Citra bagai siraman air surgawi. Lembut meresap ke dalam pori-pori.
__ADS_1
"Amei tak takut!" ujar Amei kuatkan mental tak mau tampak lemah di depan mata papi idola. Amei sodorkan lengan agar perawat cari Vena darah untuk ditarik sedikit sampel darah.
Azzam tepuk tangan beri spirit pada sang adik untuk tegar. Kena ujung jarum merobek kulit tentu saja perih. Yang namanya luka tak ada istilah tak sakit. Semua luka berakhir pedih.
"Nah! Sudah siap! Tidak sakit kan?" perawat bereskan peralatan serta sampel darah untuk dibawa ke lab. Di situ akan tentukan hasil HB darah Afifa. Kalau HB nya naik artinya kesehatan Afifa membaik.
"Tidak sakit kok!" sahut Afifa bangga pada ketegaran sendiri. Afifa boleh sombong di depan Azzam karena tidak nangis kena jarum suntik.
"Itu baru adik Koko! Keren...eeiitt..Koko sakit pipis! Ndak tahan lagi." Azzam terbirit-birit lari masuk kamar mandi. Semua tertawa renyah saksikan ada orang menahan pipis dari tadi. Kalau sempat kencing di celana bisa runtuh kesombongan Azzam. Image cold Azzam bakal terkikis oleh kekonyolan kecil ini.
"Koko lucu deh! Amei lapar mi! Boleh makan roti manis?"
"Boleh...mami suruh Tante Nadine pergi beli ya! Amei kan suka yang ada kismis kan?"
"Papi pergi beli saja sama Azzam. Afifa mau apa lagi?" serobot Alvan cari simpatik Citra dan Afifa.
"Tak usah repot pak! Di bawah ada jual roti enak kok! Aku sering beli bawa pulang ke rumah. Biar Nadine saja. Dia tahu selera anak-anak."
"Baiklah!" Alvan tak ngotot merusak suasana yang sedang hangat. Salah omong dikit taruhannya lebih besar dari kalah menang proyek. Alvan tak mau ambil resiko terusir dari ruang rawat Afifa.
Alvan malas pulang ke rumah jumpa Karin. Hati Alvan belum bisa terima dikhianati Karin. Rasa sakit masih memerah di dada. Ternyata begitu sakit dikhianati. Dulu Citra berada di posisi Alvan sekarang ini. Sakit dikhianati suami. Karma datang juga hampiri Alvan walau sedikit terlambat.
"Tunggu sini! Mami cari Tante Nadine." Citra tinggalkan Afifa dan Alvan mencari Nadine yang dari tadi kan tak tampak batang hidung. Perawat itu tidak masuk piket atas perintah Alvan. Tujuan Alvan rawat Afifa.
Afifa tidak rewel macam anak lain suka nangis kalau sakit. Afifa warisi ketegaran Citra. Tak ada yang bisa dilakukan Nadine berada di ruang rawat Afifa. Nadine malah canggung berada satu ruang dengan bos rumah sakit.
"Papi bobok sini kan?"
"Iya sayang. Afifa mau papi di sini kan?"
Kepala kecil Afifa mengangguk. Alvan makin gemas ingin gigit pipi ranum anaknya. Mengapa Tuhan ciptakan makhluk secantik ini? Bikin orang jatuh cinta dalam satu kali memandang.
"Papi akan di sini. Afifa harus cepat sehat biar kita bisa pergi jalan-jalan."
"Tapi papi janji takkan pergi jauh seperti dulu? Afifa mau papi tinggal bersama kami. Kita satu keluarga mengapa harus tinggal pisah. Papi harus pulang ke rumah Afifa. Ada mami, Koko, kak Ance, nenek dan Tante Nadine. Papi mau kan?" nyerocos Afifa disambut anggukan kepala Alvan.
Memang ini yang ditunggu Alvan. Berkumpul dengan anak isteri sah. Cuma mungkin Alvan harus putar otak nikah secara agama lagi dengan Citra. Cuma perlu penghubung sah kan status Alvan sebagai suami. Dari segi hukum mereka tetap suami isteri.
"Iya papi janji! Tiap pagi papi antar Azzam dan Afifa ke sekolah."
"Horee...Amei bisa pamer papi. Teman-teman Amei tidak bisa ejek Amei lagi. Amei punya papi juga." seru Afifa kegirangan.
Tak urung Alvan terharu saksikan kebahagiaan Afifa. Gadis kecil sudah lama merindukan sosok seorang papi. Kehadiran Alvan bagai matahari bersinar tepat di atas kepala Afifa. Bersinar terang benderang jadi pedoman hidup gadis kecil itu.
Apa Citra tega bumi hanguskan kerinduan Afifa pada figur Alvan? Alvan harus pakai tak tik agar Afifa tetap lengket padanya. Makin lengket makin bagus. Kalau perlu kayak lintah nemplok di kulit.
__ADS_1
Alvan tak dapat tahan diri untuk tidak memeluk Afifa. Alvan telah bersalah abaikan perasaan anak kandung sendiri. Tapi ini semua salah Alvan total? Dipikir-pikir Citra punya andil untuk kasus ini. Mengapa Citra tidak berterus terang hamil anak Alvan. Citra malah kabur bawa ketiga kurcaci Alvan. Masih syukur ketemu di rumah sakit. Andai mereka tak jumpa maka seumur hidup Alvan tak tahu punya tiga anak cantik dan ganteng.