
Hati Afisa terasa adem punya papi pengertian. Biasanya orang tua akan memaksa kehendak menuntut anak harus begini harus begitu menunjukkan prestasi. Alvan sangat pengertian tidak memaksa kehendak pada anak-anak.
"Afisa ingin apa dari papi?" Alvan mengelus rambut Afisa yang terurai panjang.
"Cece hanya ingin papi sayangi keluarga papi. Itu saja." kata Afisa membuat hati Alvan mencelos. Satu permintaan yang sangat sederhana namun sangat bermakna.
"Papi berjanji akan menyayangi mami dan kalian dengan sepenuh hati. Tidak ada wanita lain lagi dalam hidup tapi selain kalian bertiga. Jika Tuhan mengizinkan ada penambahan anggota keluarga kita yang baru maka Papi akan menyayangi mereka sama menyayangi kalian bertiga."
"Mami mau melahirkan adik untuk kami lagi?" tanya Afisa dengan semangat. Hati gadis kecil ini senang dengar ada rencana punya adik. Afisa ingin punya adik lelaki. Azzam terlalu tua untuk dijadikan teman main.
"Insyaallah...papi dan mami sedang usaha! Besok kita pulang. Kau sudah puas main?"
"Sejujurnya belum tapi Koko dan Amei kan sudah harus masuk sekolah. Kita tidak boleh mengabaikan pendidikan. Itu sangat penting bagi masa depan kami sebagai anak."
"Kalau kau maklum papi sangat berterima kasih. Kalian memang anak Papi yang sangat baik dan berharga. Papi sangat mencintai kalian."
"Cece juga sayang papi!" Afisa melingkar tangan ke leher Alvan dengan manja. Alvan tertawa ternyata kakak adik punya kebiasaan sama suka bermanja pada pada leher papi. Bahagianya Alvan malam ini.
Malam terakhir di Bali membawa kenangan manis bagi Alvan. Kini dia telah menjadi Papi sepenuhnya bagi 3 anak yang cantik-cantik.
Seusai sarapan pagi Alvan mengajak anak-anak mencari buah tangan untuk dibawa pulang. Citra telah membeli lumayan banyak oleh-oleh untuk Afisa bawa pulang ke Beijing untuk dibagikan pada saudara di sana. Setiap daerah pasti mempunyai pernak-pernik ciri khas daerah itu.
Apapun yang diinginkan oleh anak-anak tidak pernah ditolak oleh Alvan. Asal anak-anak mengatakan ingin memiliki Alfan langsung merogoh kocek untuk membayar keinginan anak-anak. Hasilnya berkantong-kantong oleh-oleh di bawa pulang oleh keluarga Alvan. Untunglah Alfan meminta untuk mengurus pesawat pribadi keluarga untuk menjemput mereka. Kalau mereka pulang dengan pesawat komersial maka akan berkali lipat membayar denda bagasi. Datang dengan pesawat komersial pulangnya dengan pesawat pribadi. Alvan hanya menuruti keinginan Citra yang tidak ingin pamer kekayaan di depan umum. Sosok Citra sangat rendah diri.
Ketiga anak Citra terbelalak tak sangka keluarga mereka punya pesawat pribadi. Selama ini tak pernah diungkit kalau pesawat pribadi siap antar jemput ke manapun mereka pergi. Kalau Gibran mungkin tidak kaget. Heru pasti juga punya tunggangan di langit atas nama Perkasa. Cuma mereka tidak menyombongkan diri umum kan kalau mereka punya segalanya.
Citra agak risih pulang dengan pesawat bertulisan Lingga di tubuh pesawat. Siapapun tahu itu pesawat jet milik keluarga Lingga. Dua pilot dan dia pramugari cantik siapa melayani penumpang khusus pemilik pesawat.
Isi pesawat ditata luks tak seperti pesawat komersial yang sarat tempat duduk untuk penumpang. Ini tempat duduk tak banyak cuma lebih nyaman karena bisa disetel jadi tempat tidur. Ada tempat duduk mirip sofa bulat melingkar dekat ekor pesawat. Ada bar mini dan dapur untuk menyiapkan makanan bagi penumpang.
Afifa paling sibuk menjurus ke norak saking senang naik pesawat tanpa ada orang lain selain keluarga mereka. Gadis kecil ini periksa dari depan hingga ke ujung pesawat. Betul-betul tak ada penumpang lain selain mereka.
Azzam dan Afisa lebih kalem tak banyak komentar. Kini mereka sadar kalau papi mereka bukanlah orang biasa namun luar biasa. Tidak semua orang mampu beli pesawat.
"Apakah ini milik papi?" tanya Afifa lugu tak dapat sembunyikan kegembiraan.
"Ini milik kamu sayang...milik kita semua!" jawab Alvan sambil melirik Citra. Citra diam saja tak banyak mulut seperti Azzam dan Afisa. Rasa kagum hanya ditanam dalam hati.
"Wow...Amei kaya banget dong!" Afifa busungkan dada seakan dia orang paling kaya sedunia.
"Kaya banget! Masih ada satu lagi di Hanggar untuk Amei. Nanti om minta papa cat ulang dan cantumkan nama G 3 A! Ok?" Gibran menambah biar Afifa makin bahagia. Keluarga Perkasa juga punya tunggangan model ini.
"Punyaan Amei juga?" seru Afifa makin tinggi nilai jual.
"Iya dong!"
__ADS_1
"G 3 A apa artinya?" tanya Afisa penasaran.
"Gibran Azzam Afisa dan Afifa." Azzam yang menyahut. Gibran tertawa puji kepintaran Azzam. Otak anak itu memiliki kecepatan melebihi pesawat super jet. Meluncur mulus.
"Nama kita...Amei rasa kurang bagus! Buat GIA saja! Ada nama om dan nama kita walau cuma diwakili satu huruf A. Lebih keren.."
"Itu tak boleh kita pakai sayang! Itu nama maskapai penerbangan negara. Nanti kita pikir nama lebih keren. Sekarang duduk manis." Ujar Gibran ngerti pesawat akan tinggal landas. Penumpang harus duduk manis pasang seat belt.
Benar saja dugaan Gibran. Dua pramugari cantik beri aba-aba agar duduk. Mereka membantu anak-anak memasang seat belt karena pesawat akan tinggal landas. Semua duduk manis menanti pilot menjalan tugas membawa burung besi mengudara di langit.
Sang pramugari tetap jalankan tugas memberi pengarahan dan pemberitahuan bahwa pesawat segera take off. Alvan sengaja duduk dekat Citra agar bisa merasakan keharuman tubuh isteri tercinta.
Pesawat agak sedikit berguncang sewaktu tinggal landas. Perlahan dan pasti mengudara terbang stabil di udara. Pesawat menanjak tinggi menembus awan membawa penumpang pulang ke rumah.
Pramugari mengijinkan penumpang lepaskan seat belt setelah pesawat stabil. Berada di pesawat pribadi seraya berada dalam kamar sendiri. Bisa bebas bergerak sesuai keinginan masing-masing. Yang paling sibuk tentu Afifa. Anak itu penasaran dengan lingkungan pesawat milik keluarga. Anak itu bolak-balik memeriksa dari muka ke belakang.
"Amei tak sangka punya pesawat. Nyatanya Amei juga orang kaya. Kata teman Amei dia punya banyak mobil. Papinya kaya banget! Amei lebih kaya lagi. Punya pesawat, dua lagi. Amei hebat..." Afifa ngoceh sendiri bangga pada diri sendiri.
Citra melirik Alvan minta tanggung jawab atas perasaan sombong Afifa. Sikap inilah yang selalu ingin dihindari oleh Citra. Citra tak ingin anak-anak menyombongkan diri dengan kekayaan orang tua.
Alvan pura-pura tak melihat delikan tajam dari Citra. Kadang Alvan merasa Citra ini sangat aneh. Mempunyai segalanya tetapi tak ingin memberitahu pada dunia bahwa dia bukan seorang dokter dari kalangan biasa. Dua keluarga besar berada di belakang punggung Citra namun Citra justru menutupi semua itu.
Beda dengan Alvan yang ingin katakan pada dunia bahwa dia mempunyai segalanya termasuk keluarga sempurna. Maka itu Alvan ingin moments ulang tahun anak-anak jadi momentum memperkenalkan keluarganya pada seluruh rekan bisnis di tanah air.
Pramugari menawarkan minuman dan makanan untuk keluarga Lingga. Hanya anak-anak yang meminta makanan ringan sedang Alfan dan Citra hanya minta minum teh pahit. Waktu makan siang masih beberapa jam ke depan.
Afisa dan Afifa tidak lupa berselfie di dalam pesawat untuk menunjukkan bahwa mereka mempunyai sesuatu dapat dibanggakan. Azzam lebih tenang tanpa bikin ulah norak. Alvan sendiri tak habis kagum pada anak lakinya. Mengapa anak seumur Azzam bertingkah seperti dewasa. Apa karena didorong rasa tanggungjawab pada keluarga membuat anak itu cepat matang. Secara tak langsung Alvan yang menempa Azzam jadi begini.
Tak panjang cerita keluarga Alvan mendarat langsung dijemput oleh Untung dan Tokcer. Dua mobil mewah menjemput majikan yang baru pulang liburan. Alvan dan Citra pulang bersama Untung sedang anak-anak pulang dengan Tokcer. Mereka lebih suka dengan Tokcer yang merupakan anggota jagoan neon.
Anak-anak senang bisa pulang dengan bawa sejuta kenangan dan oleh-oleh. Afisa yang paling banyak beli oleh-oleh untuk dibawa pulang ke negeri tirai bambu. Afisa memilih yang gampang di bawa seperti batik khas Bali dan kain tenun Bali. Setiap daerah di tanah air memiliki ciri khas batik tersendiri. Begitu juga Bali, daerah ini juga memiliki batik dan kain tenun khas Bali. Dua macam oleh-oleh ini cukup membuat keluarga di sana kesenangan.
Bik Ani dan Iyem sudah menyediakan menu makan yang lezat untuk sambut kepulangan majikan mereka. Bik Ani betah kerja di tempat Citra karena Citra baik dan penyabar. Belum ada satu kata kasar keluar dari mulut Citra. Beda dengan Karin yang kerjanya hanya mengumpat bila tak senang. Marah di tempat lain imbasnya pada orang kerja.
Alvan segera ke kantor mumpung masih ada waktu. Kantor sudah seminggu tak bertuan. Alvan harus pantau semua perkembangan kantor agar tak ada kecurangan lagi. Tak lupa Alvan minta Untung mengirim undangan acara ulang tahun anak-anak kepada kenalan baru di Bali. Alvan harus hormati orang terpandang itu. Siapa tahu kelak bisa jadi rekan bisnis.
Untung kirim email ke kotak surat Juragan kapal itu. Semoga saja kartu nama yang di berikan George Smith bukan kartu nama abal-abal catut nama besar juragan kapal terbesar di daratan Eropa.
Tak lupa Alvan mengundang Ustad Syahdan dan Karin. Alvan hanya meneleponi ustad Syahdan kabari bahwa dia mengundang Ustad dan Karin. Untuk Karin pribadi biarlah jadi bagian Citra. Alvan segan hubungi wanita yang pernah jadi isterinya karena sekarang mereka tak ada hubungan apa-apa. Alvan harus jaga perasaan ustad agar jangan salah paham.
Untung membawa seluruh laporan selama seminggu untuk di cek ulang oleh Alvan. Bertumpuk map kerja diletakan di atas meja kerja Alvan. Belum kerja kepala Alvan sudah pusing lihat banyaknya pekerjaan.
Alvan terpaksa memanggil Andi untuk bantu dia cek file kalau ada yang melenceng dari jalur sesungguhnya. Alvan percaya Andi tidak akan main curang seperti Wenda yang sampai sekarang masih nginap di hotel gratis.
Alvan dan Andi lembur sampai malam untuk menyelesaikan pekerjaan yang terbelangkai. Alvan tak dapat pulang kumpul dengan anak-anak demi kemajuan kantor.
__ADS_1
Alvan mengabari Citra kalau dia pulang terlambat. Di jaman sekarang tinggal keluarkan senjata pamungkas yakni benda pipih dengan aneka model dan warna. Semua isi hati dan pesan segera tiba tepat waktu.
Andi masih sibuk dengan tumpukan kertas, Alvan curi waktu teleponi isteri tersayang untuk lepas rindu. Baru tak jumpa setengah hari sudah rindu. Ke mana rindu selama puluhan tahun ini? Terkurung dalam kotak Pandora? Kotak dibuka barulah rindu itu melayang keluar.
"Halo assalamualaikum sayang...sudah makan?"
"Waalaikumsalam..baru saja siap dengan anak-anak! Mas kok belum pulang?"
"Lembur..mungkin agak telat pulang nanti."
"Dengan siapa lembur?"
"Maunya dengan siapa? Cewek cantik bergincu merah?" olok Alvan merasa nada waspada Citra.
"Cobalah ngelaba! Aku tutup praktek lari bawa anak-anak."
"Kenapa tak buka praktek dukun sunat lagi? Aku pasien pertama..." gurau Alvan membuat orang yang dengar tersenyum. Ada juga orang secara sukarela jadi bahan percobaan dukun sunat kelas amatir.
"Huh..mau mas! Jadi dukun duitnya kecil! Aku ingin alih profesi jadi pembunuh burung cucak Rowo. Tak perlu main sunatan, main tebas saja."
Alvan tertawa terbahak-bahak karena suara Citra mengancam. Jelas sekali Citra mulai pagari Alvan dengan kecemburuan. Alvan sangat tidak keberatan dicemburui Citra. Itu malah berkah. Cemburu artinya Citra mencintai dirinya.
"Sadis banget! Aku di sini dengan Andi. Bilang sama anak-anak papi sibuk di kantor."
"Ya mas...sudah makan?"
"Belum...ini mau pesan makanan saja! Kau cepat tidur kalau mas pulang telat."
"Nggak nginap di kantor kan?"
"Ya nggaklah! Obat tidur mas ada di rumah mana mungkin tidak pulang. Mas tak bisa tidur tanpa kamu."
"Gombal...cepat makan lalu pulang!"
"Siap nyonya bos! Oya ..besok kamu jangan masuk kerja dulu! Temani anak-anak sampai selesai liburan. Tunggu anak-anak masuk kelas baru kamu baru pergi praktek."
"Apa tidak terlalu lama tinggalkan tugas? Aku tak enak pada dokter lain. Mereka harus ambil alih tugas aku."
"Beri yang terbaik untuk anak kita! Terutama Afisa. Jumpa kali ini harus tunggu berbulan baru jumpa lagi. Apa kau tak kasihan pada Afisa. Dia itu anak baik. Sangat pengertian walau kadang judes."
"Iya mas...Fitri ada kasih kabar kalau pasien lama banyak yang datang. Aku yang tahu riwayat penyakit mereka. Apa yang harus kulakukan?"
Alvan agak terkesima dengar curahan hati Citra. Isterinya ini mau jadi ibu baik namun di sisi lain tak bisa abaikan panggilan tugas. Tugas menyelamatkan nyawa manusia sama pentingnya dengan keluarga. Keduanya menjadi belahan jiwa Citra. Mana yang harus di dahulukan?
"Mas minta maaf membuat kamu harus memilih. Gini saja! Mas ijinkan kamu bertugas tapi setengah hari. Begitu waktu Zuhur kamu sudah harus bersama anak-anak." Alvan mengalah tidak memaksa Citra harus berada di rumah 24 jam. Biarlah dia penuhi panggilan jiwa.
__ADS_1