
Heru masam digoda oleh Alvan dan senyuman penuh misteri Citra. Tampaknya Heru memang sangat tertarik pada Afung. Sampai lupa daratan menggombal melalui anak kecil.
"Amei sayang...tuh hidangan sudah datang! Kita makan dulu! Tanya Afung ie kamu mau makan apa duluan?" Heru mengalihkan pembicaraan agar Afifa tidak makin jauh keceplosan semua kata-kata untuk Afung. Bisa jatuh dasi Heru bila terbongkar semua.
Pelayan mengantar beberapa hidangan sesuai pesanan pelanggan. Azzam dan Gibran paling sibuk melihat hidangan yang masih mengepul asap. Wanginya udang masak asam manis tercium buat perut kedua lajang itu makin meronta minta diisi dengan hidangan yang sangat menggoda selera itu.
Citra bukan tertarik pada makanan yang mulai berdatangan satu persatu melainkan teringat rencana Heru mengganti mereka membawa anak-anak liburan ke Beijing. Perjalanan cukup panjang karena harus transit di beberapa tempat sebelum tiba di ibu kota negeri tirai bambu itu.
Citra tak ingin mengecewakan anak-anak juga tak ingin membuat Heru bersedih tak dapat mengantar Afung pulang ke Beijing. Kalau semua berangkat maka tak ada yang urus rumah dan kantor. Citra agak gundah memikirkan cara terbaik menyenangkan anak-anak tanpa menunda rencana Heru.
Alvan memperhatikan wajah Citra yang tak bahagia. Seharusnya Citra bahagia bisa kumpul bersama orang-orang tercinta. Semua komplit di sini.
"Ada apa sayang?" bisik Alvan kecil di kuping Citra.
"Ach nggak ada mas.. ayok semua makan sepuasnya!" Citra beri aba-aba agar acara makan segera di mulai.
Heru perhatian pada Afung mengambil makanan paling mahal malam ini yakni udang galah masak asam manis. Udang besar-besar penyumbang kolesterol berpindah ke piring masing-masing. Azzam dan Gibran paling duluan comot udang dari hidangan. Afifa santai saja tahu akan ada yang akan memanjakannya kupas udang hingga bebas dari kulit baru diberikan padanya.
Benar dugaan Afifa. Papi tercinta dengan senang hati mengupas kulit udang untuk Afifa. Anak gadis itu hanya terima bersih saja. Tinggal buka mulut nikmati makanan yang telah tiba di piring.
Citra menatap Afung harap gadis itu menyukai masakan Ala chef Indonesia. Citra tahu Afung kurang suka pedas karena rata orang sana tidak konsumsi makanan pedas.
"Fung...suka makanannya?" tanya Citra kepada gadis bermata sipit itu.
"Lumayan enak walau dikit pedas. Ini menyegarkan!" kata Afung perlihatkan senyum iklan pasta gigi. Afung tampak makin manis dengan senyum cling gadis bergigi bersih.
Heru tidak ngerti obrolan Afung dan Citra. Sedikit banyak Heru menduga Citra sedang bahas soal makanan. Senyum Afung bikin hati Heru meleleh hingga bucin.
"Kau harus terbiasa dengan pola makan sini. Orang sini suka masakan pedas. Perlahan kamu akan beradaptasi dengan makanan Indonesia."
"Aku bisa..."
"Bisa karena cinta. Kapan kau harus balik? Apa ada warning khusus?"
"Bulan depan masuk latihan. Cuma kami sudah disuruh kumpul. Cece tidak di masukkan dulu karena tak lama lagi dia ujian. Prestasi yang dia ukir membuat dia dapat keringanan."
"Tunggu Koko dan Amei ambil buku laporan baru sekalian kita berangkat."
"Kita? Apa Heru juga ikut?"
Citra menatap Heru menimbang pertanyaan Afung. Gadis ini sangat berharap Heru yang antar dia sementara Citra tak ingin membuat kedua anaknya kecewa. Kedua bocah itu ingin sekali liburan bersama orang tua. Mana mungkin Citra dan Alvan kecewakan mereka.
"Mi...gini saja! Opa antar Afung ie bersama kami. Setelah itu opa pulang ganti papi dan mami berangkat liburan bersama kami. Kami tinggal di sana menunggu papi dan mami. Gimana?" usul Azzam omong dalam bahasa Mandarin.
Citra menimbang usul bijak Azzam. Anak itu selalu ada solusi menyelesaikan masalah. Otak Azzam licin hasil sesuatu yang positif bisa di terima akal sehat.
"Ko...papimu sangat ingin liburan bersama kalian. Apa nanti dia tidak kecewa?" Citra menjaga perasaan Alvan selaku papi yang rindu menikmati liburan bersama anak-anak. Ini liburan pertama mereka setelah sekian tahun tidak jumpa.
"Mi...ini hanya masalah waktu! Opa di sana paling seminggu. Setelah itu gantian papi dan mami yang datang."
__ADS_1
"Makan dulu! Nanti mami diskusi dengan papi kalian. Kita cari jalan terbaik. Ya kan Fung?"
Afung mengangguk membenarkan kata Citra. Apapun dapat dibicarakan dengan baik-baik tanpa harus menyakiti siapapun. Azzam setuju ide Citra untuk diskusi dulu dengan Alvan. Azzam tidak menyalahkan Alvan yang ingin menghabiskan liburan bersama anak-anaknya. Bagi Alvan ini adalah momen yang sangat penting. Bersatu dengan anak-anak menikmati hari-hari bebas tanpa memikirkan beban tugas dan yang lain-lain.
"Koko dukung apapun keputusan papi. Yang terbaik saja!"
"Terimakasih sayang! Ayok makan!" Citra menunjuk makanan lain untuk Afung. Gulai kepala ikan kerapu dengan santan kuning. Dari warnanya menarik selera. Tapi ntah bagaimana rasanya.
Afung menggeleng takut kepedasan karena warna kuning yang dianggap dari gilingan cabai. Afifa tak peduli sekeliling lebih suka habiskan makan malam yang berkesan.
Tatkala lauk pauk di atas mulai kandas satu persatu Citra merasa perlu bincangkan rencana antar anak-anak liburan. Tak ada yang boleh kecewa. Baik Heru maupun Alvan. Kedua laki itu mempunyai kepentingan berbeda tetapi tujuan tetap satu yaitu ingin menyenangkan hati orang terkasih.
"Well...tadi koko beri usul biar keinginan semua orang terpenuhi!" ujar Citra secara tiba-tiba.
"Usul apa? Kok kayaknya sangat misterius?" Gibran yang menyahut.
"Ini mau dibahas! Koko kasih usul Om Heru antar Afung bareng mereka. Seminggu di sana om Heru harus balik ganti kami yang ke sana untuk berlibur. Koko dan Amei tinggal di sana menunggu kita datang. Gimana pendapat kalian?" Citra mengedarkan mata ke seluruh anggota yang duduk di kursi kelilingi meja restoran.
"Lha...emang om Gi ngak dimasukkan? Om Gi kan mau juga ikut jumpa Afisa." koar Gibran tak senang tidak dilibatkan namanya.
"Ikut...ikut...sibuk amat! Om Gi bertugas jaga Amei mana boleh ditinggal." Citra mencolek Gibran yang gabuk tidak dimasukkan dalam daftar orang berangkat liburan.
"Gitu dong! Om Gi siap layani tuan Puteri kecil."
"Memang liburan anak-anak berapa lama? Takutnya belum sempat main sudah harus masuk sekolah. Kita kan akan pergi banyak tempat." kata Alvan ungkap keberatan posisinya diambil alih Heru. Heru sudah curi start dampingi Afisa di pertandingan kini mau ambil jatah liburannya bersama anak-anak. Alvan pasti tak setuju.
"Libur tiga Minggu Pi! Opa hanya dapat jatah satu Minggu. Dua Minggu untuk papi. Kalau mau keliling Tiongkok setahun juga takkan selesai. Daratan Tiongkok itu sangat luas dan indah." Azzam promosi tempat yang pernah dia jadikan tempat menuntut ilmu.
"Koko sering baca tapi belum pernah ke sana. Tapi kalau di sana Koko dan Amei sering dibawa tamasya oleh mami dan keluarga di sana." sahut Azzam jujur apa yang terlintas di benak. Mereka memang tak pernah diajak liburan oleh Citra sejak pulang tanah air. Citra asyik kerja dan mereka sibuk belajar. Kapan ada waktu luang?
"Kita akan liburan ke Bali akhir tahun ini. Di sana pemandangan juga indah. Azzam pasti suka." lagi-lagi Alvan umbar janji yang belum tentu dapat direalisasikan.
"Ok...sekarang gimana rencana Opa antar kami?"
"Azzam benar Van! Beri aku waktu satu Minggu! Setelah itu akan akan pulang ganti kalian ke sana. Jangan biarkan bunga baru mekaran jatuh layu! Kering meranggas." Heru memohon pengertian Alvan.
Alvan menggeleng tak paham Heru menganut sistim cinta model apa? Bucin akut? Gimana playboy cap badak jatuh cinta sampai hilang akal sehat.
"Janji cuma seminggu? Nanti kamu sabotase jadwal liburan kami."
"I swear..." Heru angkat sumpah dibalas delikan Alvan. Alvan sungguh tak berdaya hadapi orang mabuk kepayang. Sedetik bersama serasa hidup di taman Eden.
"Terserah kamu! Yang penting cepat pulang! Aku mau liburan bersama anak-anak aku!"
"Ok... secepatnya pulang! Deal ya anak-anak! Opa yang antar kalian jumpa Afisa. Kita keliling Tiongkok!" ujar Heru semangat.
Citra berterimakasih pada Alvan yang tidak ngotot hendak liburan bersama anak-anak. Makin lama bersama Alvan makin muncul sisi baik laki itu. Citra tidak tahu itu hanya sementara atau permanen.
"Azzam sayang tidak keberatan kalian berangkat duluan dengan opa?" tanya Alvan takut anak lajangnya mengira dia ingkar janji lagi.
__ADS_1
"Koko ngerti kok! Nanti kita tetap liburan. Amei gimana? Ngak masalah kita diantar opa?"
Afifa menggeleng tidak ambil pusing. Dia lebih sibuk santap sisa ikan dan udang yang ada. Bisa dibayangkan berapa berat isi perut anak kecil itu? Badan kecil tapi daya tampung tak kalah sama orang dewasa.
"Opa ucapkan terima kasih atas pengertian kalian. Kasih tahu kapan kita berangkat. Biar opa persiapkan visa ke sana."
"Tunggu pengumuman dari sekolah dulu. Kalau boleh bolos kita berangkat duluan berarti bisa liburan lebih lama."
"Besok papi ke sekolah tanya apa boleh kalian duluan ambil liburan. Berarti kita punya waktu tiga Minggu bersama Afisa."
"Mungkin waktu itu Cece sudah selesai ujian. Kita bisa bawa dia liburan di sini pula. Koko mau ke raja Ampat di Papua. Menurut cerita pemandangan di sana sangat bagus." kata Azzam mengkhayal liburan Afisa yang datang ke tanah air.
"Untuk sementara nggak usah ke sana. Ada terjadi kekacauan. Kita liburan ke Bali, Lombok dan banyak tempat indah lain."
"Iya Pi.." sahut Azzam lirih. Tujuan Alvan memang bagus. Sebagai orang tua Alvan tak mungkin menjerumuskan anak ke dalam bahaya. Pasti memikirkan yang terbaik.
Keputusan sudah final. Alvan dan Citra harus mengalah ijinkan Heru jadi kepala tim berangkat ke Beijing. Malam ini betulan milik Heru. Dunia seakan sedang berpihak padanya. Nikmati makan malam bersama pujaan hati dan dapat restu antar pujaan kembali ke kampung halaman. Alvan kalah telak.
Alvan bukannya tak ingin habiskan waktu lebih lama bersama Afisa di negeri orang. Alvan punya perasaan gimana rasanya jatuh cinta sekali lagi. Kalau bisa setiap detik bersama orang yang hiasi mimpi kita. Alvan sudah rasakan hari-hari pahit kehilangan orang tercinta maka dia beri kesempatan pada Heru wujudkan cintanya.
Sesuai makan malam Alvan ajak anak-anak keliling pusat perbelanjaan sekedar cuci mata sebelum Afifa ngantuk. Anak itu paling tak tahan ngantuk. Begitu waktu menunjuk pukul sembilan, mata manja Afifa tak bisa diajak kompromi lagi. Dia tetap harus tidur tak peduli dunia dilanda bencana.
Alvan duluan bawa pulang anak-anak biarkan Heru dan Afung lanjutkan acara jalan-jalan. Dapat dibayangkan bagaimana kedua orang itu komunikasi. Pakai bahasa isyarat seperti orang tuna wicara. Andai orang tak tahu pasti menduga salah satu dari Heru atau Afung orang bisu.
Terserah dunia mau pikir apa. Yang penting cinta mereka terus berdenting ciptakan nada indah berdendang dalam kalbu masing-masing. Itulah dunia penuh cinta.
Alvan dan Citra mengawal para kurcaci pulang untuk istirahat. Hari ini cukup melelahkan bagi mereka yang baru siap bertempur lawan puluhan soal ujian. Harapan utama adalah ranking terdepan untuk tunjukkan hasil selama setahun belajar.
Azzam, Gibran dan Afifa masuk kandang masing-masing. Waktunya mereka menyambut esok hari baru. Sebelumnya mereka harus bermimpi dulu sesuai keinginan anak-anak itu. Tentu bermimpi indah.
Di kamar lain sepasang suami isteri duduk berdampingan di atas ranjang. Alvan memeluk Citra dengan tangan kanan karena Citra tidur di sebelah kanan Alvan. Keduanya masih terpikir rencana liburan yang disabotase Heru.
Kalau boleh Alvan ingin menolak rencana Heru gantiin mereka antar Azzam dan Afifa. Namun ingat sikap bucin Heru pada Afung rasanya Alvan tak tega pupuskan harapan Heru.
Citra menyandarkan kepala di bahu kanan Alvan sambil menatap suaminya dari samping.
"Mas... kecewa ya?" tanya Citra lembut.
Alvan menurunkan kepala menatap isterinya dilanjut gelengan kepala.
"Kenapa harus kecewa? Waktu kita bersama anak-anak masih panjang. Kita harus beri kesempatan pada om kamu itu. Biarlah dia temukan cinta sejati! Afung sudah korbankan segalanya jadi kita harus dukung mereka."
"Terimakasih mas! Kukira mas kecewa."
"Kecewa pasti ada...cuma kita tak boleh dukung indahnya bunga cinta di hati om kamu." Alvan tak mau munafik tidak bahagia Heru menemukan calon isteri. Alvan bukannya tidak tahu Heru pernah mencintai isterinya. Heru bukan orang gampang jatuh cinta. Sekali dia suka pada seorang wanita tak mudah terkikis gitu saja. Alvan yakin Heru dilanda badai kecewa besar saat tahu Citra tak bisa dinikahi karena terhalang hubungan darah.
Heru dapat pengganti Citra merupakan kabar bagus. Otomatis cintanya pada Citra akan memudar. Alvan bisa tenang menapaki hidup damai bersama wanita yang telah memberinya tiga anak cantik.
"Aku akan pesan pada Afisa untuk ngajar Afung ngaji dan sholat. Kalau sudah fasih baru kita minta dia masuk Islam."
__ADS_1
"Ini kau salah sayang! Afung masuk Islam dulu baru belajar. Pelajaran akan cepat masuk otak karena memang itu pegangan hidupnya."