ISTERI CEO YANG TERLUPAKAN

ISTERI CEO YANG TERLUPAKAN
Udang di balik Batu


__ADS_3

Bu Dewi telah salah memberi penilaian terhadap Citra. Ternyata Citra menyimpan duka sehingga memiliki meninggalkan tanah air mencari ilmu di luar negeri. Selama ini Citra tidak pernah mengungkit masalah warisan yang diberikan oleh kakek. Citra memilih masa bodoh dengan soal warisan itu. Andai Bu Dewi tidak membongkar masalah ini maka Alvan tidak pernah tahu masalah pembagian harta.


Mungkin kakek Wira mengira Alfan tidak pernah akan kembali pada citra maka merancang masa depan Citra dan anak-anaknya. Kakek yang berada di surga selalu berharap mereka bisa berkumpul kembali. Harapan kakek yang telah meninggal Alfan kembali berkumpul dengan keluarganya.


"Terima kasih atas semua penjelasannya Pak Man. Sekarang Citra telah kembali bersamaku. Kami telah berkumpul kembali dan anak-anak telah mulai beranjak dewasa."


"Alhamdulillah kamu telah bertemu dengan Citra. Sebelum kakekmu meninggal dia selalu berharap suatu hari kalian bisa berkumpul kembali. Pak Man akan meluangkan waktu untuk bertemu dengan Citra meneruskan sisa amanah kakek."


"Iya Pak Man. Berkat doa dan harapan dari kakek dan Pak Man kami telah berkumpul kembali. Kedatangan Pak Man selalu kami nantikan."


"Citra itu anak baik dan berhati mulia. Jangan kau sia-siakan dia lagi. Pak Man hanya berdoa semoga kalian hidup bahagia dan langgeng selamanya."


"Amin..."


"Kalau ada apa mau dipertanyakan silakan hubungi Pak Man! Semua kebenaran tentang Citra ada di tangan Pak Man. Memangnya nak Alvan mendengar dari siapa tentang pembagian warisan ini."


"Dari mama...dia menentang kehadiran Citra karena takut Citra kembali demi harta."


"Astaghfirullah... Pak menjamin Citra bukan orang begitu. Kalau dia mau harta kalian bukan hari ini dia kembali. Dari dulu dia telah bisa menikmati seluruh kekayaan keluarga Lingga. Dia justru menghindari keluarga kalian tapi takdir telah mempertemukan kalian kembali. Pak Man bersyukur juga."


"Alvan memang banyak bersalah pada citra maka itu Alvan ingin membayar semuanya secara kontan. Di saat semua telah membaik Mama pula yang menentang Citra. Dalam keluarga Lingga muncul banyak kali persoalan. Mungkin ini karena aku telah menyakiti hati wanita yang baik dan anak-anak yang seharusnya ku asuh."


"Kelihatannya pak Man harus menemui kedua orang tuamu untuk menjelaskan semua masalah mengenai Citra. Citra itu orangnya tulus dan berbudi. Nak Alvan tidak usah meragukan itu."


"Alvan tahu Pak Man! Makin hari Alvan makin mengenal Citra dan kedua anak Alvan. Mereka benar-benar pelita di tengah kegelapan keluarga Lingga. Mereka lah penerang hati Alvan saat ini. Alvan harap Pak Man segera datang untuk menjernihkan masalah pembagian harta warisan ini."


"Baik...pak Man akan usaha datang secepatnya untuk menjernihkan soal warisan. Pak Man cuma ingin nasehati kamu agar sayangi Citra. Walau dia hanya anak supir tapi akhlak Citra di atas kita."


"Akan Kuingat! Sekali lagi terima kasih. Assalamualaikum." Alvan tak ingin perpanjang obrolan.


Alvan bersyukur Pak Man bersedia jadi saksi atas penolakan Citra terhadap limpahan warisan. Alvan semakin mantap meniti masa depan bersama Citra.


"Citra...tunggu mas!" desis Alvan pada diri sendiri.


Alvan kembali fokus pada pekerjaan kantor. Dia sudah cukup tertinggal perkembangan kantor gara-gara masalah keluarga. Dia harus bangkit melanjutkan perjuangan kakek Wira. Betapa kecewanya Kakek bila perusahaan berakhir di tangannya.


Jam makan siang Alvan coba meneleponi Citra. Syukur ponselnya telah aktif. Alvan was-was takut Citra akan kabur lagi. Betah amat main kabur-kaburan. Apa Citra tidak kasihan pada anak-anak yang harus kena imbas dari perihal mereka?


"Assalamualaikum sayang...di mana kamu? Masih di hotel?"


"Sudah pulang...Azzam minta pulang karena bosan di sini! Sudah jemput papa kamu?"


"Astaghfirullah...hampir lupa soal papa. Untung kamu ingatkan! Aku akan segera ke rumah sakit."

__ADS_1


"Itu tandanya kamu anak tak berbakti!"


"Iya papa beruntung punya mantu berbakti? Kuharap kau jangan pergi lagi! Aku butuh kamu....aku bisa gila kalau kau pergi lagi! Kita akhiri semua kisah buruk."


"Mas...aku seorang ibu! Aku tahu gimana perasaan bila anak tak patuh maka aku memilih menyerah bila mamamu harus kehilangan anak karena aku! Aku sayang pada anak-anak aku, tak seorangpun boleh berkata buruk tentang mereka."


Alvan tertegun mendengar nada suara Citra mengandung kepedihan mendalam. Bu Dewi memang tak pantas hina Azzam. Wanita tua itu tidak pernah menanam Budi pada Azzam tapi bertingkah sok menguasai. Wajar Citra tidak terima.


"Maafkan Mama! Dia mungkin sedang panik sehingga ngawur. Aku akan pulang sore nanti. Masak yang enak ya!"


"Iya mas!"


"Mas tak sabar ingin pulang gigit hidungmu yang kecil. Salam mas untuk anak-anak!"


"Iya... assalamualaikum!"


Hubungan terputus. Alvan lega mendengar suara Citra. Setiap kalimat yang keluar dari mulut Citra merupakan alunan lagu termerdu di kuping Alvan. Mengapa sekarang dia jadi bucin? Di mana Alfan yang tergila-gila pada Karin? Apa karena zaman telah berubah membuat suasana hati Alvan ikut berubah.


Alvan harus segera ke rumah sakit untuk menjemput papanya pulang ke rumah. Tugas ini tidak bisa Alvan alihkan pada orang lain karena ini adalah tugas seorang anak. Citra banyak mengajar Alvan untuk berubah menjadi orang lebih baik. Dunia makin terbalik. Alvan yang telah berumur berguru pada seorang wanita muda yang umurnya belum 30 tahun. Itulah Alvan dan Citra.


Alvan memberi pesan pada Untung untuk mengawasi perusahaan sebelum dia berangkat ke rumah sakit. Tugas dan keluarga sama pentingnya. Apalagi ini menyangkut orang tua sendiri. Rasa benci di hati Alvan mulai terkikis sejak melihat bapaknya telah tersungkur tak berdaya.


Karin dan Pak Jono sama-sama memiliki kesalahan. Keduanya sama-sama terbawa arus nafsu angkara yang menjadi momok bagi manusia berakhlak rendah. Pak Jono dan Karin sama-sama telah menuai karma dari perbuatan mereka.


Alvan tak boleh lengah lagi menganggap semua persoalan itu remeh. Tetap harus ada hitam putih. Alvan tetap harus bayar walau uang itu kembali ke koceknya nanti.


Setelah semuanya telah selesai Alvan segera menemui Pak Jono dan Bu Dewi di ruang VVIP. Tak ada yang berubah dengan koridor VVIP. Tetap sepi lengang tanpa banyak pasien. Hanya tampak dua perawat berada di meja tugas menunggu jadwal pasien minum obat.


Alvan melewati perawat yang mengangguk hormat pada Alvan. Mereka semua tahu kalau yang barusan lewat ini adalah pemilik tunggal rumah sakit ini.


Alvan masuk ke ruangan setelah menggeser pintu ke kanan. Pak Jono tampak semangat duduk di atas brankar rumah sakit. Bu Dewi duduk santai di sofa sambil makan jeruk manis. Tak ada tampak bayangan Nadine yang bertugas merawat pak Jono.


"Assalamualaikum..." sapa Alvan berusaha ceria agar tak pengaruhi kesehatan pak Jono.


"Waalaikumsalam...jadi pulang papamu?" tanya Bu Dewi menatap Alvan lekat-lekat.


"Jadi...kita tinggal tunggu perawat antar kursi roda! Mana Nadine?"


"Oh..mama suruh beli SOP ayam untuk papa! Papamu bosan makan nasi rumah sakit yang itu-itu saja!"


"Ma...makanan papa sudah diatur ahli gizi. Mereka tahu yang terbaik untuk papa. Kalau gitu tunggu papa siap makan baru pulang."


"Citra mana?" Kok tidak ikut?" Pak Jono mencari sosok dokter yang merawatnya sekaligus menantunya.

__ADS_1


"Citra tidak masuk kerja pa! Dia istirahat di rumah." kata Alvan sambil melirik Bu Dewi. Bu Dewi pura-pura tidak melihat lirik kan anaknya padahal dalam hati tahu Alvan sedang menyalahkan dia.


"Bukankah Citra sudah berjanji akan mengurus papa?"


"Citra pasti akan melakukan sesuai janjinya. Citra adalah seorang wanita yang sangat mulia. Hatinya penuh dengan kasih sayang tanpa memandang tinggi rendahnya seorang manusia. Karin yang telah berbuat salah padanya dengan mudahnya dia maafkan! Di mana lagi Alvan harus mencari wanita model Citra?" Lagi-lagi Alvan lemparkan pandangan menusuk pada Bu Dewi.


"Ala manusia sekarang banyak yang tidak bisa dipercaya. Lain di mulut lain di hati. Lihat saja si Karin! Sok wanita sosialita, hidup di bawah tatapan ratusan pasang mata tetap saja sampah!" ujar Bu Dewi dengan sinisnya.


"Citra beda dengan Karin Bu! Dari segi manapun Citra tetap yang terbaik buat kita. Sudah Papa dengar kalau dia selalu tulus merawat pasiennya termasuk merawat papa. Buang jauh-jauh perasaan buruk terhadap Citra!"


Bu Dewi sudah tidak sabar mendengar pembelaan Pak Jono terhadap Citra. Menantu yang diagungkan oleh Pak Jono tak lebih dari seorang wanita mata duitan.


"Papa tahu nggak kalau Citra akan mewarisi setengah dari perusahaan kita. Kakek Wira telah meminta Pak Man menyimpan surat warisan yang telah dia buat." seru Bu Dewi dengan mata berapi-api. Bu Dewi tidak rela setengah kekayaan keluarganya diberikan pada citra dan anak-anaknya. Bu Dewi merasa Citra tidak berhak apapun atas kekayaan keluarga mereka karena Citra memilih meninggalkan keluarga Lingga.


Pak Jono menggelengkan kepala tidak paham dengan pemikiran Bu Dewi. Kakek Wira mewariskan setengah perusahaan pada Citra karena Citra memiliki anak-anak dari Alvan. Kakek Wira melakukannya untuk melindungi masa depan anak-anak Citra yang merupakan pewarisan dari keluarga Lingga.


"Papa sudah tahu hal ini dari dulu. Kakek Wira sudah diskusi masalah ini dengan papa. Cuma waktu itu kakek tidak mengatakan Alvan memiliki anak dari Citra. Mungkin kakek Wira ingin melindungi Citra dari gangguan kita. Kalau kita tahu Alvan memiliki anak dari Citra pasti akan merebut anak-anak itu dari tangan Citra."


"Jadi Papa setuju berikan setengah harta kita kepada Citra? Gimana kalau Citra memilih pergi lagi membawa setengah dari harta kita? Enak sekali dia hidup senang-senang dengan harta kita."


"Mama tidak tahu bagaimana sosok Citra sesungguhnya. Citra sama sekali tidak mau harta peninggalan kakek Wira. Citra menolak menerima limpahan kekayaan dan memilih meninggalkan tanah air untuk menuntut ilmu ke luar negeri. Ke mana Citra pergi Pak Man tidak pernah bercerita kepada papa. Pak Man sepertinya juga melindungi Citra dari tangan-tangan nakal yang merongrong hidupnya. Papa rasa ini adalah amanah dari kakek Wira."


Mata Bu Dewi nyaris meloncat keluar dengar Citra menolak harta bernilai triliunan. Sangat tidak bisa diterima akal sehat ada orang menolak limpahan aset sebesar triliunan. Ini hanya akalan Pak Jono untuk melindungi Citra atau memang fakta.


"Apa Citra setolol itu?"


Alvan sudah sangat geram pada mamanya. Pak Jono adalah saksi kedua penolakan Citra terhadap limpahan aset keluarga Lingga. Namun Bu Dewi masih tidak percaya pada ketulusan Citra. Di mata Bu Dewi semua orang sama sangat menyukai harta.


"Surat warisan kakek masih ada pada pak Man! Alvan akan minta pak Man langsung kembalikan pada mama biar tahu tidak semua orang tergila pada harta. Citra sudah punya harta tak ternilai yakni anak-anak. Untuk apa harta segunung bila tidak bahagia." Alvan hilang kontrol ketus pada mamanya.


Giliran Bu Dewi tergugu malu telah vonis Citra secara sepihak padahal wanita itu tidak ingin apa-apa dari Lingga. Kalau Citra mau dia bisa tuntut harta dari Perkasa. Sayang itu juga tak menarik perhatian Citra.


"Mama cuma takut Citra seperti Karin menyusahkan kamu. Wanita begitu tak pantas menjadi keluarga Lingga." kata Bu Dewi dihinggapi perasaan malu telah suudzon pada Citra. Orang yang dicurigai padahal tak tahu apa-apa.


"Yang pantas model apa? Atau mama punya calon menantu mau dikenalkan pada Alvan?" Alvan meraba ke mana arah pembicaraan mereka.


"Ngak ada sih! Cuma Mama sudah capek lihat wanita di sekeliling kamu model kucing garong maka mama ada lihat anak saudara dari isteri Amang kamu. Anak baik, punya satu anak. Telah bercerai dengan suaminya yang suka main tangan. Tidak ada salah kamu coba!" ujar Bu Dewi malu-malu. Ngakunya tak ada tapi keluar juga ekornya perkenalkan saudara jauh.


"Tidak usah...cukup Citra! Bintang film paling top pun takkan goyahkan tekad Alvan untuk membangun kembali rumah tangga kami. Mama tidak perlu susah payah pikir calon istri Alvan. Alvan sudah punya anak istri." tegas Alvan tidak ingin mengulang kesalahan yang sama. Sudah cukup kenangan buruk dari masa lalu merontokkan moral keluarga Lingga.


Bu Dewi tidak dapat berkata apa-apa melihat betapa Alvan sangat mencintai keluarganya. Rencana Bu Dewi ingin memasukkan wanita dari sebelah keluarganya ambyar sudah. Ternyata ini salah satu penyebab mengapa Bu Dewi tidak menyukai Citra. Udang di balik batu Bu Dewi terlalu berlebihan. Pertama memasarkan harta sekarang menyodorkan wanita. Tidak tanggung-tanggung seorang janda beranak pula.


"Bu... Kita tidak perlu mencampuri urusan rumah tangga anak kita. Kita cukup berdoa semoga mereka langgeng hingga anak cucu mereka. Apa rasa satu Citra telah mewakili 10 wanita di dalam hidup Alvan. Papa juga tidak setuju Alvan menikahi wanita lain lagi." Pak Jono menyumbang suara hati berdasarkan kata hati nurani. Citra terlalu baik untuk disakiti kedua kali.

__ADS_1


__ADS_2