ISTERI CEO YANG TERLUPAKAN

ISTERI CEO YANG TERLUPAKAN
Jalan Keluar


__ADS_3

Janji setia matahari tak pernah meleset. Dia tetap setia bersinar walau kadang dimarahi gara terlalu panas. Tak peduli umpatan manusia di bumi dia tetap setia menguarkan cahaya hingga ribuan tahun mendatang. Itu kalau bumi belum berakhir.


Citra dan Alvan serta kedua anak sarapan pagi dengan mewah. Sarapan ala kadar tidak berlaku karena Bu Sobirin sangat memperhatikan semua gizi cicit-cicitnya.


Pagi buta Bu Sobirin rela bangun untuk sediakan sarapan buat cucu dan cicitnya. Pagi ini Bu Sobirin dan suami numpang sarapan di rumah Citra karena Heru tidak ada. Gibran juga telah tinggal di rumah Citra. Otomatis dua orang tua ini kesepian ditinggal cucu dan anak.


Kedua orang tua itu memilih bergabung dengan cucu dan cicit. Sarapan terasa lebih semarak bila makan bersama. Makan bukan dilihat seberapa mewah hidangan di atas meja melainkan suasana tenteram. Jika bersama sepotong singkong goreng saja akan terasa nikmat.


"Om Gi mana mami? Kok belum sarapan?" Afifa bertanya karena tak melihat om gaul mereka.


"Keponakan sayang...om ganteng di sini!" terdengar suara tergesa-gesa turun dari tangga atas. Gibran terlambat bangun karena keasikan main game online. Heru tak ada di rumah membuat Gibran merdeka bisa berbuat seenak dengkul.


"Gi...kok terlambat?" tegur Bu Sobirin tidak senang Gibran teledor.


"Mimpi jumpa Afisa..." sahut Gibran sambil melucu.


"Apa bukan gamenya sedang naik level?" ejek Azzam sambil melirik tajam ke arah Gibran. Gibran membalas Azzam dengan cibiran bibir memanjang ke depan.


"Level apa? Om kan lagi belajar. Minggu depan kita sudah ujian. Om mau cepat tamat sekolah biar susul Cece kalian di Tiongkok." sahut Gibran sambil duduk di samping Afifa. Gibran menyentuh kepala Afifa dengan lembut sebagai tanda sayang. Gibran sangat menyayangi ketika keponakannya yang luar biasa. Terutama pada Afifa yang imut dan lucu.


"Ayo makan dulu! Ntar kalian terlambat ke sekolah!" lerai Citra agar acara makan tidak diwarnai oleh debat mulut.


Bu Sobirin membantu Gibran mengambil roti dan susu. Sarapan full gizi disuguhkan oleh keluarga Perkasa kepada anak-anak agar mendapat asupan energi untuk menjalankan aktivitas.


Selanjutnya satu persatu makanan yang terhidang di meja pindah ke perut masing-masing. Wajah Citra sedikit murung memikirkan nasi Bu Dewi yang harus diantar ke luar negeri. Citra dan Alvan belum menemukan cara terbaik untuk mengantar Bu Dewi dan Pak Jono berangkat ke Tiongkok. Mereka masih harus diskusi mengenai hal ini.


"Oya...gimana kesehatan mamamu nak Alvan?" tanya pak Sobirin teringat pada Bu Dewi yang sedang sekarat.


"Sudah sadar tapi belum bisa bergerak dan belum bisa bicara. Ini kami lagi diskusi mau bawa mama ke Tiongkok. Kata Citra di sana ada profesor yang ahli."


"Oh...kapan berangkat?"


Alvan menatap Citra tak tahu harus jawab apa. Mereka sendiri belum mempunyai keputusan bagaimana cara mengantar Bu Dewi dan Pak Jono ke sana.


"Opa... Kami sedang bingung juga. Minggu depan anak-anak sudah ujian nggak butuh perhatian dari Citra sedangkan Alvan sedang membenahi perusahaan. Maka kami sedang diskusi bagaimana cara terbaik mengantar kedua orang tua Alvan ke sana."


"Lha gimana ini? Apa mama nak Alvan bisa menunggu sampai anak-anak siap ujian?" tanya Bu Sobirin ikut prihatin.


"Kita doa saja Oma..." Citra hanya bisa berdoa semoga Bu Dewi bisa bertahan sampai ada keputusan bagaimana dia berangkat.


"Aduh kok ribet...opa dan Oma kan pengangguran sejati. Opa dan Oma yang antar. Anggap saja jalan-jalan. Dan lagi yang kalian temui itu profesor. Kan bisa sekalian cek up." Gibran beri pendapat dengan santai. Bagi Gibran hidup tak perlu dibuat ribet kalau masih ada solusi.


"Wah...usul keren! Ok...opa dan Oma yang antar asal sampai di sana ada yang urus." ujar pak Sobirin setuju usul Gibran. Toh mereka berdua juga tidak bekerja. Pak Sobirin ke kantor kalau kangen suasana kantor. Semua sudah dihandle oleh Heru.


"Benar opa?" seru Citra senang dapat solusi terbaik untuk pecahkan pikiran buntu.

__ADS_1


"Iya...opa dan Oma tidak ngerti jalan di sana! Kalian harus atur biar opa dan Oma tidak jadi gelandangan di sana. Nanti masuk berita sepasang suami isteri dari Indonesia tersesat di Tiongkok."


"Ach opa...mana ada berita itu? Di sana ada Afisa dan kedua orang tua angkatnya. Bisa tinggal di rumah baru Afisa. Afisa dapat hadiah rumah dari pemerintah atas prestasinya. Soal perawatan biar langsung ditangani profesor Wu."


"Ckckck... keponakan aku yang satu ini emang keren habis! Gi maulah ke sana lihat rumah Afisa!" ujar Gibran geleng kepala makin salut pada Afisa. Betul-betul gadis sempurna untuk jadi pasangan. Tapi sayang Gibran hanya punya kesempatan jadi om Afisa.


"Nanti kita ke sana kalau sudah libur nanti. Sekarang kalian fokus ujian dan Afisa sedang tanding di Singapura." Kata Citra lega opanya bersedia antar pasangan Lingga ke Tiongkok. Citra akan atur tiba di sana sudah ada yang jemput. Selanjutnya biar ditangani dokter ahli.


"Lalu gimana Heru? Apa dia ijinkan kita pergi?" Bu Sobirin teringat Heru yang tak ada kabar.


"Opa Heru sibuk pacaran sama Afung ie. Mana ingat pulang. Kata Cece opa tiap hari ikut ke mana Afung ie pergi. Ngomong pakai bahasa tangan." lapor Afifa lugu tak tahu kalau laporannya bawa efek luar biasa.


Semua terkesima tak percaya kabar yang keluar dari mulut Afifa. Afifa yang lugu mana ngerti apa sesungguhnya pacaran. Dia hanya dengar dari laporan Afisa.


"Amei jangan sembarangan omong!" kata Citra tak enak hati Afifa bawa berita ngawur.


"Amei tidak bohong. Katanya pulang nanti mau bawa Afung ie untuk kenalan sama Uyut. Afung ie juga mau masuk Islam." Afifa ngotot kalau beritanya akurat.


"Emang Afung ie cantik?" pancing Bu Sobirin tertarik pada cerita Afifa.


"Cantik...putih dan tinggi. Pesenam kayak Cece cuma matanya agak kecil."


"Sipit maksudmu?"


"Iya tapi Afung ie itu baik. Sopan tak pernah marah walau kadang kami nakal. Dia masih muda lho!"


"Hampir sama sama mami cuma Afung ie lebih tinggi dari mami. Dia kan ikut tanding juga di Singapura. Uyut pasti akan suka sama Afung ie. Kue buatan Afung ie itu enak."


"Oh...Afifa sayang pada Afung ie?"


Afifa anggukan kepalanya yang kecil. Mata bening Afifa bersinar sewaktu ingat sosok Afung ie nya.


"Sayang dong! Afung ie kan baik. Cuma suka bertengkar sama Koko!"


"Lha kok bertengkar? Emang dia judes?"


"Yang judes itu Koko! Afung ie kerja di toko kue. Bajunya harus ketat sexy gitu. Koko tak suka maka tiap hari merepeti Afung ie."


Azzam masam-masam dilaporkan tingkah absurd nya. Anak kecil tapi banyak protes. Alvan tak heran dengar laporan Afifa tentang Azzam. Anak lajangnya itu berusaha lindungi sesuatu yang dianggap berharga. Artinya orang yang disebut Afung ie mendapat tempat di hati Azzam.


"Ooo gitu! Afung ie genit dong!" timpal Gibran yang simak dari tadi. Kalau Heru suka pada Afung Ie berati dia akan segera punya ibu tiri.


"Idihhh...Afung ie itu sopan. Dia kan pakai baju itu hanya untuk kerja. Hanya ketat tidak nampak tubuhnya kok!" Afifa bela orang bernama Afung ie tanpa ragu. Nada Afifa agak sewot Gibran menuduh Afung ie genit.


"Sori nona cilik...Om hanya tanya! Kalau papa suka sama dia artinya dia jadi Oma kalian." ujar Gibran tersenyum tidak keberatan menambah anggota baru di keluarganya. Papanya juga sudah cukup lama menduda. Pantas dapat ganti mamanya. Semoga Afung ie ini tidak norak kayak Viona.

__ADS_1


"Ok...sudahi rapat hari ini! Kalian harus ke sekolah. Nanti terlambat." Bu Sobirin anggap percakapan pagi ini telah mendapat satu titik temu. Sudah waktunya anak-anak berangkat ke sekolah sebelum jalanan macet.


Di luar Tokcer telah siaga menanti majikan-majikan kecilnya untuk berangkat ke sekolah. Satu persatu anak-anak itu menyalami yang lebih tua. Mulai dari Gibran sampai ke Afifa mengalami Bu Sobirin Pak Sobirin Citra dan Alvan. Bu Sobirin lega melihat Gibran telah mendapat pelajaran berharga daripada kedua keponakannya. Gibran mulai meniru semua kelakuan baik daripada kedua anak Citra.


Sekarang Gibran ikut-ikutan shalat serta memberi salam pulang pergi dari rumah. Ini adalah angin yang baik bertiup di dalam rumah keluarga Perkasa. Angin positif yang akan mendatangkan kedamaian di dalam keluarga.


Setelah ketiga itu berangkat ke sekolah tinggallah empat orang dewasa melanjutkan acara sarapan. Citra ingin memastikan kedua orang tua itu bersedia mengantar mertuanya berangkat ke Tiongkok. Citra butuh kepastian karena dia akan segera mengurus visa dan tiket untuk berangkat ke sana.


"Opa dan Oma betul-betul ingin berangkat ke Tiongkok? Citra tak ingin Opa dan Oma memasak diri mengantar kalau hanya ingin menyenangkan Citra."


"Bukan itu nak! akhir-akhir ini kesehatan Opa juga kurang bagus. Opa ke sana sekalian check up keadaan tubuh Opa dan Oma agar tidak terjadi seperti yang terjadi pada mertua kamu. Menjaga bukankah lebih bagus daripada mengobati?" ujar Pak Sobirin meyakinkan Citra bahwa mereka benar-benar tulus ingin mengantar mertua Citra. Sekaligus ingin jumpa dengan profesor yang menangani mertua Citra.


Setelah mendengar pernyataan Pak Sobirin kini Citra menghadap ke arah Bu Sobirin bertanya pendapat perempuan tua itu.


"Oma gimana? Apa Oma keberatan berangkat ke Tiongkok?"


"Ya nggaklah... betul kata opa mu! Oma dan Opa ke sana sekalian check up seluruh tubuh cari di mana onderdil yang telah soak. Kalau perlu langsung diganti yang baru agar tetap awet muda selamanya. Oma bercita-cita hidup lebih lama untuk melihat wajah piyut Oma." ujar Bu Sobirin menenangkan Citra yang tampak agak gelisah mengira mereka mengantar karena terpaksa.


"Terimakasih opa Oma...Citra sangat tertolong! Citra akan mengurus Gibran dengan baik selama kalian tak ada." janji Citra bahagia satu masalah terselesaikan. Tinggal urus semua surat jalan ke Tiongkok.


"Nanti Oma akan siap kan berkas agar kamu bisa urus surat pemberangkatan."


Citra bangkit dari kursi memeluk Bu Sobirin tanda terima kasih. Pak Sobirin dan Alvan tersenyum haru lihat betapa indahnya bila masalah dijinjing bersama. Pundak terasa lebih ringan bila ada pundak cadangan siap menampung.


Alvan iri pada keluarga ini. Mereka utamakan kebersamaan ketimbang pertahankan ego yang tak pernah ada ujung pangkal. Andai keluarga belajar sedikit saja dari keluarga ini maka kejadian hari ini takkan terjadi.


"Kami berangkat kerja dulu ya! Nanti akan ada orang jemput surat dari opa dan Oma. Mereka adalah pengurus visa." Citra bersiap berangkat ke rumah sakit tunaikan janji seorang dokter.


"Tidak perlu Citra. Biar mas yang urus sekalian sama punyaan papa dan mama. Kamu tidak perlu repot pikir itu! Kita berangkat sebelum terjebak macet."


"Iya mas..." Citra menyalami pak Sobirin dan isterinya. Alvan masih segan melakukan hal sama karena dia seorang pemimpin yang biasa dihormati. Alvan jarang tunduk pada orang tapi kini laki tinggi besar ini takluk oleh makhluk bertubuh mungil.


Alvan dan Citra berangkat juga ke tempat kerja masing-masing. Alvan mengantar Citra ke rumah sakit dulu baru berangkat ke kantor. Alvan tetap setia menjalankan tugas sebagai suami dari Citra. Hal yang tak pernah dia lakukan pada Karin. Kadang Alvan bertanya pada diri sendiri. Apakah dia sungguh cinta pada Karin atau hanya terbius oleh keglamoran wanita itu? Mengapa tak ada rasa menggebu bila jumpa Karin. Semuanya flat tanpa emosi. Karin pergi ke mana Alvan tidak pernah tanya. Dengan siapa perginya Alvan tidak open. Apa ini cinta?"


"Mas...kok melamun?" tegur Citra melihat Alvan tidak fokus pada jalan. Sudah dekat rumah sakit namun Alvan masih layangkan pikiran ntah ke mana.


"Nggak melamun sayang! Lagi bersyukur opa dan Oma kamu bersedia antar orang tuaku."


"Oh...Oya mas! Mas kirimi kak Karin nomor kontak pondok pesantren di Demak itu. Dia mau konsultasi dengan pemilik di sana sebelum berangkat ke sana. Biar dia cek sendiri dan bikin keputusan mau ke sana atau tidak. Kita tak boleh memaksanya."


"Mas ngerti...bidadari mas! Sebenarnya mas agak lelah hari ini. Semalaman cangkul sawah. Cuma sayang tak ada bibit untuk ditanam. Cangkul lahan kosong doang!"


"Dasar CEO mesum...bibitnya sudah expired! Tak bisa digunakan lagi."


"Bukan expired tapi sedang dalam kondisi macet. Ayok dong di buka jalannya biar bibitnya hasilkan buah segar. Dijamin melimpah ruah." Alvan merayu Citra agar bersedia operasi dirinya agar bisa menambah anggota baru di keluarga.

__ADS_1


"Operasi gampang mas! Hasilnya kita belum tahu. Bukan setiap operasi membuahkan hasil. Tergantung sampai di mana kerusakan jaringan syaraf mas."


"Berhasil atau tidak bukan tujuan utama. Setidaknya kita telah coba. Selebihnya kita berserah. Umurku sudah tak muda. Tak lama lagi capai empat puluh tahun. Kalau tidak dimulai sekarang mungkin tak ada kesempatan lagi."


__ADS_2