
Andi dengan gaya bos melambai pada Tokcer untuk datang ke tempat dia berdiri. Sekarang Andi merasa lebih tinggi dari Tokcer karena dia berada di dalam kantor jadi tangan kanan bos.
"Kita ke mana?" Tokcer segera siap jalankan tugas pertama sebagai supir pribadi.
"Sementara belum. Tapi lhu telepon Bonar agar siap ikut pak Alvan berangkat jenguk kak Citra."
Tokcer terbelalak kaget lihat kepiawaian Andi lobi pekerjaan untuk teman-temannya. Barusan dia masuk kerja sekarang Bonar konco mereka telah direkrut.
Tokcer acung jempol puji kehebatan Andi. Siapa sangka banci kalengan model Andi jadi kepercayaan bos. Di kampung Andi dianggap sampah perusak lingkungan. Di sini Andi tunjukkan jati diri berguna untuk perusahaan.
"Hebat...Akhirnya Bonar dapat kerja! Aku telepon sekarang!" Tokcer keluarkan hp produk ntah tahun berapa. Model jadul dengan keypad nyaris hilang huruf dan angka. Tokcer tetap pede dengan hp seangkatan dengan dirinya. Orang sudah pakai smartphone dengan berbagai merek. Tinggal sentuh ponsel akan nyala. Ini pakai manual butuh tenaga ekstra pula berhubung beberapa tombol tak berfungsi normal.
"Halo...Horas bah!"
"Horas...kamu sudah dapat kerja dari Ance ya! Selamat ya bro!"
"Tak ada Ance lagi Bray...namanya Andi Similikiti!" Tokcer sengaja usilin Andi luapkan rasa bahagia temannya bakal dapat kerja juga.
Tawa derai di Batak bergema di ponsel jadul Tokcer. Tak ada nada cemburu di nada suara Bonar walau dia masih jadi pengangguran sejati.
"Hahaha...Andi si cantik! Ada apa bray? Mau pamer dapat kerja?"
"Isshhh...otak kering! Tuh Andi tawarin lhu kerja. Datang ke sini. Gue SMS alamatnya. Naik ojek bang Pengkor biar cepat sampai."
"Aku? Aku ikut kerja di kantormu? Wah...mau kerja apa? Jadi tukang sapu atau tukang ngepel?"
"Mana kutahu? Kau datang saja! Yang penting kerja kita halal. Apa aja nggak masalah! Woi... berpakaian yang rapi ya! Celana digigit tikus jangan kau bawa sini! Kutunggu sekarang juga! Kalau tak ada ongkos nanti Kubayar sini."
"Wah temanku mendadak kaya! Ok...aku segera ke sana! Tunggu aku bray!!"
"Beres...tuh Andi sudah tak sabar mau muka jelek lhu!"
"Sialan tuh anak! Muka seganteng gini dibilang jelek! Kemarin saja ada orang bilang aku ganteng kayak Kevin Sanjaya."
"Iya ganteng dilihat pakai sedotan jus! Cepat sini kau!"
"Yoi.."
Tokcer menyimpan ponselnya dengan wajah sumringah. Bonar dapat kerja artinya geng mereka telah berhasil keluar dari julukan pengangguran sejati. Mereka yang dianggap pengacau kampung akhirnya bisa unjuk gigi katakan mereka bisa jadi manusia berfaedah.
"Aku balik kerja ya! Nanti si Bonar datang kau kabari aku! Eh...sudah kau lihat hadiah uang kita?" bisik Andi takut terdengar orang lain. Andi memahami keadaan tidak umbar kalau mereka dapat bonus. Karyawan lain bisa iri hati bila tahu karyawan baru langsung dapat bonus lumayan.
"Belum dihitung tapi kuintip tadi merah semua. Aku mau beli baju dan ganti kain sholat ibu. Kasihan ibu sudah lama tidak pernah beli baju. Apa boleh sama pak Alvan?" Tokcer tampak ragu gunakan uang itu di tempat lain. Amanah Alvan adalah buat mereka beli baju agar tampak pantas sebagai karyawan kantoran.
Andi memuji niat tulus Tokcer utamakan ibunya. Sejak ayah Tokcer meninggal kehidupan keluarga Tokcer jadi tak karuan. Tokcer berganti jadi tulang punggung keluarga dengan gaji tak seberapa.
"Kita tanyakan pada pak Alvan nanti. Aku tinggal dulu! Kalau mau minum minta saja pada bagian pantry. Jangan norak ya!" Andi segera balik ke ruang kerjanya mengingat tugasnya masih cukup banyak. File yang sedang dia teliti belum ada setengah. Bisa kena semprot bila asyik bercanda.
__ADS_1
Tokcer biarkan Andi lanjut bekerja. Posisi dia dan Andi berbeda. Andi ngerti soal pembukuan sedang dia dan Bonar hanya ngerti kerja tak pakai otak. Cukup pakai tenaga.
Belum satu jam Bonar tiba di kantor. Sama seperti Tokcer waktu pertama masuk kantor. Si Batak juga terkagum-kagum melihat kemewahan kantor Alvan. Bermimpi saja Bonar tak berani untuk kerja di situ. Tapi kenyataan detik ini kakinya sudah menginjak lantai gedung menjulang ke langit.
Tokcer kabari Andi mereka sudah menanti di bawah. Andi tak buang waktu jemput keduanya naik ke ruang Alvan. Andi perlihatkan wibawa lelaki kantoran pasang mimik cool seolah dia memang cowok keren tanpa kekurangan.
Bonar tak punya kemeja terpaksa hanya pakai kaos terbaiknya. Celana jeans andalannya unjuk diri hari itu. Pokoknya penampilan Bonar tidak memalukan walau bukan yang terbaik.
Andi dan kedua temannya segera naik ke ruang Alvan. Andi mulai terbiasa masuk ruang kerja Alvan karena sudah berkali diminta menghadap. Alvan bukan bos galak tapi tegas. Selama semua berjalan di atas rel kebenaran bos mereka takkan protes.
Bonar menahan nafas salut pada nasib Andi bisa masuk di kantor Alvan. Berkat Andi dia ikut kecipratan rezeki nomplok.
Tokcer tetap kagum pada keindahan kantor Alvan walau tadi sudah sempat datang. Tiga serangkai dengan kelakuan beda berjalan tiba di depan pintu kantor Alvan.
Andi memberi aba-aba pada Tokcer dan Bonar agar tenang. Menghadap bos utama perusahaan harus sopan tahu tata Krama. Mereka berada di kantor bukan di pasar.
"Yang sopan ya!" bisik Andi ingatkan kedua temannya jangan terbawa gaya preman pasar.
Bonar angguk kepala kaku. Andi tak tahu jantung Bonar sedang bergemuruh mengalahkan pecahan ombak di bibir pantai. Biasa tak ada kamus kata takut di dalam dada. Sekarang nyalinya kok menciut mirip nyali tikus.
Andi mengetok pintu perlahan. Tokcer dan Bonar menahan nafas takut suara nafas terdengar oleh bos.
"Masuk!!!"
Andi membuka pintu dengan sopan. Andi mulai bisa beradaptasi dengan kehidupan baru penuh kesopanan dan intelek sebagai orang kantoran.
"Kau Bonar?" Alvan tak heran sosok Bonar keras ciri khas orang dari pulau Sumatera Utara. Tampang keras belum tentu hatinya juga keras. Tak bisa menilai orang dari penampilan casing.
"Iya pak! Aku datang ke sini diminta Andi. Katanya aku boleh kerja di sini. Aku akan rajin pak! Kerja apa saja boleh asal halal." Bonar keluarkan suara khas orang Batak yang serak basah.
Alvan manggut-manggut suka pada kejujuran Bonar. Tidak munafik langsung ke pokok bahasan. Ciri khas orang bertujuan lurus.
"Berhubung kamu adalah kawan Andi aku akan atur kerja untukmu. Kerja di sini yang penting rajin dan jujur. Hari ini kau ikut aku ke daerah. Kita berangkat sebentar lagi." Alvan tidak ragu terima Bonar selama Andi setuju. Andi orangnya lugu pasti takkan rekom orang berbahaya bekerja di kantor.
"Terima kasih pak! Aku si Bonar bersumpah akan rajin dan jujur! Kalau aku berbohong biar bisulan tahunan." Bonar berkata tanpa ragu tak peduli sumpahnya aneh di kuping. Mana ada orang sumpah bisulan. Biasa sumpah disambar petir. Ini malah ngawur nyasar ke bisul segala.
"Kok bisul?" Alvan ingin ketawa namun ditahan karena itu akan merusak image seorang big bos.
"Tumbuh bisul itu sakit pak! Badan meriang, tidur tak enak, makan tak sedap. Cukup sekali deh dalam hidupku!" ujar Bonar serius takut pada yang namanya bisulan. Ceritanya Bonar pernah bisulan di pantat, tidur susah apalagi duduk. Sebulan Bonar tersiksa oleh radang benjolan itu. Selama itu Bonar tak bisa berbuat apapun merawat benjolan bernanah.
"Aku terima janjimu! Kau bersiap tunggu di bawah. Seusai makan siang kita berangkat. Kalian boleh pergi!" Alvan beri tanda pakai tangan meminta tiga serangkai itu pergi.
Andi dan Tokcer merasa berat pergi sebelum utarakan niat mereka berbelanja untuk ibu mereka pakai uang Alvan. Uang diberi Alvan untuk beli pakaian mereka bukan beli keperluan ibu mereka. Kalaupun ingin beri hadiah pada orang tua tetap harus ijin Alvan agar uang itu berkah.
"Pak..." lirih Andi ngeri-ngeri sedap sebelum utarakan niat hati.
"Ya...ada apa lagi?"
__ADS_1
"Begini pak! Uang yang bapak kasih tadi. Bolehkah kami pakai beli pakaian untuk ibu kami? Tokcer mau beli mukena dan baju untuk ibunya. Aku mau beli baju batik untuk ibu. Kami minta ijin apak dulu."
Alvan tertegun dengar pernyataan jujur Andi. Sejujur itukah anak buahnya itu? Beli sesuatu buat orang tua minta ijin dulu takut disalahkan. Niat suci kedua orang itu bahagiakan orang tua patut dapat acung jempol. Berbakti dan takut ingkar janji.
"Tentu boleh. Selama kalian tidak salah gunakan ke jalan kiri aku ijinkan."
"Terima kasih pak!" seru Andi dan Tokcer barengan. Batu besar pengganjal dada terangkat hanya satu kalimat dari Alvan. Artinya kalau mereka pakai uang Alvan untuk orang tua tidak bersalah. Sudah ada ijin dari yang punya.
Bonar yang tak paham apa terjadi hanya mematung ikuti arus.
"Pergilah! Oya Andi! Jaga adik-adik kamu dengan baik ya!"
"Beres pak cuma alangkah baik bila bapak pamitan sama mereka. Kasih tahu bapak pergi jenguk mami mereka. Bapak pergi tanpa pamit nanti mereka merasa bapak terlantarkan." kata bijak keluar dari mulut yang pernah berhias lipstik murahan itu.
Lagi-lagi Alvan kaget pada usulan Andi. Alvan tak sangka di balik kekurangan Andi simpan jiwa Arif. Apa yang di usulkan Andi adalah ide bagus. Mengapa tak terpikir oleh Alvan pergi tanpa pamitan pada anak-anak akan bawa dampak buruk. Hubungan baik yang baru terbina bisa berantakan. Apalagi si mulut tajam Azzam. Kata-kata dari mulut anak laki itu bisa kuliti Alvan hingga tembus ke daging.
"Kau benar! Kita tunggu mereka pulang sekolah dulu. Pergilah kerja!"
"Siap pak!"
Kini ketiga serangkai benaran hilang dari pandangan mata Alvan. Alvan termenung bersyukur tidak gegabah nyaris kehilangan tanggapan positif dari kedua anaknya. Andai dia lupa diri pergi tinggalkan anaknya bukan hanya dimarahin Azzam. Citra juga takkan memaafkannya.
Untung Andi ingatkan Alvan sebelum salah langkah. Kehadiran Andi di lingkungan Alvan bukan tidak bagus, malah terlalu bagus. Seorang anak berpotensi nyaris terkubur oleh jiwa labil. Alvan harus berhasil keluarkan Andi dari lingkaran hitam.
Selepas makan siang Alvan ajak Tokcer jemput Azzam dan Afifa. Kini tambah seorang pengawal baru berjalan di samping Alvan. Untung sudah bisa lega tidak perlu berkejaran dengan waktu laksanakan perintah Alvan. Sudah ada ajudan lain ringankan tugas dia.
Alvan duduk di jok belakang sementara Tokcer di depan beserta pengawal baru Alvan. Baru kali ini Bonar dan Tokcer naik mobil semewah ini. Sejuta rasa berbaur dalam dada. Bangga punya kerja serta bangga bisa jadi orang kaya semu. Bisa naik mobil mewah tapi bukan punya pribadi.
Alvan menanti dalam mobil biarkan Tokcer dan Bonar menunggu kedua bocahnya keluar dari sekolah. Bonar dan Tokcer berdiri di bawah pancaran sinar matahari tanpa berani mengeluh. Bonar dan Tokcer sudah terbiasa hidup di lapangan terbuka di bawahan curahan sinar matahari.
Cukup lama mereka menanti akhirnya muncul kedua anak Alvan. Azzam menggandeng Afifa melewati murid-murid lain mencapai pintu gerbang sekolah. Guru pengawas amati setiap murid yang dijemput orang tua agar tidak terjadi hal di luar dugaan. Hal paling menakutkan bila terjadi penculikan murid. Pihak sekolah bertanggung jawab bila terjadi hal gini.
Azzam dan Afifa hentikan langkah lihat dua makhluk yang mereka kenal berdiri di samping mobil papi mereka. Kedua anak itu bertanya dalam hati mengapa preman kampung mereka bisa muncul di sekolah. Pakai mobil papi mereka lagi.
Guru pengawas merasakan hal aneh pada dua penjemput Azzam. Biasa yang jemput Untung ataupun Alvan sendiri. Kini diganti dia orang dengan tampang tidak menjanjikan. Guru itu jadi curiga segera dekati Azzam dan Afifa.
"Azzam...kenapa nak?" guru itu sigap melindungi kedua anak Alvan dari incaran dia sosok sangar.
"Itu kak Tokek dan kak Boneng kok di sini?" Azzam menunjuk Tokcer dan Bonar yang mulai inisiatif dekati anak bos baru mereka.
Guru pengawas makin tak tenang dengar nama aneh yang disebut Azzam. Apa tujuan kedua orang sangar itu jemput kedua murid sekolah mereka. Secara naluri guru itu merangkul Azzam dan Afifa. Tujuannya tentu menjaga kedua anak itu dari cekalan orang tak bertanggung jawab.
"Koko...Amei...yok pulang!" Tokcer duluan sapa Azzam.
"Siapa kalian? Siapa suruh kalian jemput Azzam dan Afifa?" bentak guru pengawas garang gertak duluan sebelum kalah mental. Kalau hendak melawan dua begundal sangar guru itu tentu dijamin KO.
"Oh gini Bu! Aku ini supir baru papi Azzam! Itu ada papi dalam mobil. Bo...panggil bos! Ntar kita dikira penculik!" Tokcer mencolek Bonar agar minta tolong jelaskan siapa mereka. Betapa tidak sedap ditatap liar oleh guru wanita berkacamata setebal pantat botol itu.
__ADS_1
Bonar mengangguk segera balik ke mobil kasih tahu Azzam dan Afifa tak dibolehkan pergi oleh guru. Sebenarnya gurunya tak bersalah karena ini adalah tanggung jawab pihak sekolah.