
Heru tertawa bangga punya cucu dapat diandalkan. Kenal sama orang hebat berarti bisa menambah pundi kendi emas dua keluarga. Kalau George bergerak di bidang kapal keluarga Perkasa yang akan dapat jatah. Bisnis Perkasa mencakup pelayaran juga.
Kerjasama di bidang ini bermain di mata Heru. Semoga adanya perkenalkan ini akan jembatan bisnis baru.
"Kau panggil Afisa biar jumpai orang dealer mobil. Terserah Afisa mau terima atau tidak! Jangan memaksa! Kado ini atas nama dia!"
Alvan mengangguk setuju. Afisa yang berhak tentukan diterima atau tidak. Kalau Citra diajak berembuk pasti akan tolak tanpa pertimbangan perasaan orang yang telah susah payah kirim hadiah. Citra terlalu kuno. Semua tak boleh.
Alvan naik ke pentas berbisik pada Afisa untuk ikut dengannya. Semula Afisa tertegun mendengar bisikan Alvan, tak lama dia ikut papinya keluar dari arena pesta. Heru ikut juga dari belakang untuk lihat kelanjutan nasib mobil mewah itu.
Beramai mereka menuju ke luar hotel untuk lihat mobil hadiah dari Thomas. Satu mobil warna kuning muda diikat dengan pita warna merah terparkir di depan pintu masuk hotel.
Alvan dan Heru terkesima sadar itu bukan mobil murah. Dari lambang yang tertera di depan kap mobil dapat diketahui bahwa itu bukanlah mobil murah. Berapa kekayaan keluarga Smith tidaklah dapat diukur dengan kata-kata. Baru kenalan dengan Afisa mereka telah memberi hadiah yang luar biasa. Begitu berhargakah Afisa bagi mereka?
"Sayang ..ini kado dari Thomas Smith! Teman barumu sewaktu jumpa di Bali." kata Alvan menanti reaksi Afisa.
"Untuk Cece? Cece kan belum boleh bawa mobil. Dan lagi untuk apa mobil? Bukankah Cece akan segera kembali ke Beijing?" Afisa tampak acuh pada kado istimewa ini.
"Bukan soal butuhnya sayang tapi niat Thomas. Sekarang terima dulu! Nanti malam kamu bisa pulangkan setelah Jumpa Thomas. Dia akan datang ke pesta nanti malam." kata Heru sabar.
"Iya deh! Nanti Cece bilang ke Thomas tak perlu repot ngasih hadiah mahal. Kan sayang duitnya. Bisa dipakai buat beli makanan berbulan-bulan." jawab Afisa lugu. Orang sederhana tapi tidak tamak.
"Bukan cuma berbulan tapi bertahun." gurau Heru salut pada kesederhanaan Afisa. Afisa dari kecil hidup sederhana tanpa sadar dari keluarga kaya raya. Jiwa merakyat telah tertanam dari kecil maka sulit untuk diarahkan hidup glamor walau memiliki.
Alvan wakili Afisa terima hadiah dari keluarga Smith. Untuk sementara mobil harus dipindahkan ke tempat parkiran karena menganggu aktivitas hotel. Alvan terima kunci dan semua berkas- berkaitan dengan mobil.
Berhubung kado mewah sudah sampai di tangan orang berhak pihak maka orang dealer mobil segera meninggalkan tempat pesta.
Alvan dan Heru membawa Afisa masuk kembali ke aula tempat. Untuk sementara Alvan tak ingin katakan kado dari Thomas, takut sifat norak Citra mendadak kumat di tempat umum.
Alvan jamin Citra pasti akan marah-marah Afisa menerima hadiah dari Thomas Smith. Citra tidak tahu bagaimana sakitnya ditolak di depan orang ramai, maunya nanti Afisa mengatakan dengan baik-baik pada Thomas tentang hadiah yang terlalu mewah itu. Dari situ Afisa dapat mengembalikan hadiah dari Thomas dengan cara yang sopan. Cara elegan orang terpelajar.
Pesta berlangsung hingga sore. Setiap anak mendapat oleh-oleh bingkisan berupa alat-alat sekolah. Heru sengaja pilih barang yang bermanfaat untuk anak sekolah ketimbang kasih boneka atau mainan. Mainan hanya dimainkan sesaat lalu terlupakan sedangkan peralatan sekolah dapat digunakan sehari-hari bagi anak sekolah. Tentu saja bukan peralatan sekolah abal-abal yang dibeli di kaki lima. Semuanya produk dari merek ternama.
Ketiga anak Citra diberi waktu untuk istirahat sebelum sambut acara untuk orang dewasa. Lebih tepat dikatakan perjumpaan para orang kaya tukaran cerita seputar bisnis. Ajang ulang tahun anak-anak bisa dijadikan moments saling tukar bisnis.
Ketiga anak Citra telah ganti pakaian lebih elegan untuk pesta malam. Mereka kenakan gaun malam ala anak-anak kembang sana sini. Gibran dan Azzam kenakan jas warna gelap. Kedua lajang itu kelihatan sangat tampan. Pokoknya terlahir sebagai Lingga maupun Perkasa tidak memalukan. Tampang rupawan warisan Lingga maupun Perkasa tetap menarik.
Bagi anak-anak acara malam sangat tidak menarik. Yang hadir kebanyakan orang-orang berdasi dengan wajah penuh senyum palsu. Senang tidak senang tetap harus tersenyum karena yang hadir rata-rata bukan orang sembarangan.
Yang kere di situ mungkin hanya jagoan neon dan pasangan masing-masing serta pelayan pesta. Yang lain dari kalangan atas. Kado yang dibawa rata-rata paper bag kecil ataupun kotak indah tak begitu gede. Isinya dapat diprediksi perhiasan ataupun j tangan mahal. Tidak ada kotak besar seperti siang tadi.
Apapun yang dibawa tak jadi soal bagi anak-anak. Mereka mana peduli soal kado. Yang penting adalah kebahagiaan berpesta sangat meriah bersama teman sekolah.
Daniel juga hadir bersama Laura serta murid Citra yang lain. Bryan benar keder lihat kemewahan pesta anak Citra. Kapan dia bisa saingi Alvan rebut perhatian sang dokter. Tak ada akses ke situ sedikitpun. Lebih baik mundur pendam niat tak wajar jatuh cinta pada bini orang.
Daniel membawa kado juga buat ketiga anak. Daniel adil bawa tiga kotak karena kenal ketiga anak kembar. Tak mungkin dia sebagai om hanya bawa satu kado padahal tahu anak Alvan memang tiga orang.
Laura dan temannya juga bawa kado sebagai basa basi dengan anak kecil.
"Selamat ulang tahun sayang om! Semoga panjang umur dan makin pintar." ucap Daniel sambil beri kecupan di kening ketiga anak.
__ADS_1
"Terimakasih om...kalau ulang tahun bisa tambah pintar maunya tiap hari ulang tahun biar pintarnya banyak." kata Afifa melucu.
Daniel tertawa geli Afifa salah artikan ucapannya. Itu hanya kalimat klise untuk menyenangkan anak kecil malah ditanggapi serius.
"Boleh...tiap hari om ucapkan selamat ulang tahun biar Afifa tambah pintar. Ok?"
"Kado juga tiap hari kan?" gurau Azzam sambil tersenyum simpul.
"Cafe om akan lebih cepat bangkrut." bisik Daniel bercanda.
Semua tertawa renyah. Laura gregetan lihat senyum Afifa yang teramat manis walau gigi depan ompong. Justru makin manis bikin orang bisa kena diabetes. Citra beruntung dapat anak demikian cantik mirip anak dalam dongeng. Kapan dia akan punya anak seperti ini.
Sedang asyik bercanda datang sepasang suami isteri muda. Mereka langsung hampiri anak-anak Alvan yang sedang bercanda dengan Daniel. Mereka mengenal Daniel dengan tentu tak merasa canggung bercanda dengan orang dewasa. Yang lain tak kenal maka hanya bisa umbar senyum tatkala di kasih kado. Andi cs bertugas kawal kado yang harganya tentu tidak murah.
Menjadi pengawal hadiah dadakan membuat Andi cs lebih cepat lapar. Dua bidadari jagoan neon jadi juru atur menu makan ketiga orang itu. Iyem dan Jasmine resmi masuk anggota neon sedang Fitri masih mengambang soalnya Tokcer masih ragu untuk khianati Natasha.
Kembali pada pasangan muda yang terkagum pada anak-anak Citra. Mereka ingin punya anak secantik anak Citra maka coba adu nasib minta pelukan Azzam. Isteri dari pasangan itu sedang hamil maka berharap anak mereka seganteng Azzam.
"Dek...isteriku sedang hamil. Bolehkah dia peluk kamu?" pinta laki muda itu berharap sangat pada Azzam.
Azzam tersipu malu tak berani menjawab. Gibran tertawa geli ada yang ingin jiplak kegantengan Azzam. Berharap boleh tetap Tuhan yang tentukan bentuk rupa manusia. Kalau wajahnya total mirip Azzam nanti dikira isterinya selingkuh pula dengan Alvan hasilkan anak mirip Azzam.
"Sekalian sama mas kecil ini ya!" pinta isteri laki itu menunjuk Gibran di pemilik wajah dewa Yunani warisan Heru.
Giliran Azzam tertawai Gibran. Wanita itu incar dua cowok terganteng dalam keluarga. Jadikan contoh wajah anaknya kelak.
Gibran berbesar hati duluan peluk si ibu hamil yang ngidam aneh. Gibran lebih dewasa tentu lebih paham tujuan wanita itu incar pelukan mereka.
Tepuk tangan bergema tatkala wanita itu mendekatkan kepala Azzam ke perutnya yang agak buncit. Afifa dan Afisa tertawa terpingkal-pingkal melihat wajah Azzam merah padam menahan malu.
"Semoga anak kalian ganteng dan pintar. Anak ini pintar lho! Rangking satu di sekolah." Daniel bantu promosi prestasi Azzam.
"Oh iya? Semoga terkabul..." wanita berkata dengan mata berbinar-binar. Bahagia dapat jumpa anak tampan dan pintar. Harapan demi harapan berbunyi dalam hati.
"Amin..." semua bantu berdoa.
Di luar sana terjadi sedikit kehebohan ada tamu tak bawa undangan. Mereka datang dengan pengawalan cukup ketat. Ada pengawal berdiri di belakang kawal tamu dari jauh itu.
Heru terpaksa turun tangan temui tamu yang dimaksud. Betapa kaget Heru melihat orang yang datang. Ternyata orang itu adalah keluarga Smith di bawah pengawalan ketat pengawal.
Heru memang tidak kenal orang itu namun Heru sudah dengar dari cerita Alvan kalau mereka telah kenal orang tajir dari benua Eropa ini.
Heru segera minta satpam. ijinkan mereka masuk beserta pengawal mereka yang berbadan tegap. Di mana-mana pengawal itu tubuhnya kekar dengan tampang sangar. Untunglah yang ini cuma bertubuh kekar tidak pasang wajah drakula yang dingin.
"Mr. Smith?" sapa Heru duluan.
George Smith tertawa ramah seraya mengangguk.
"Maaf datang telat." kata George rendah hati minta maaf.
"Belum terlambat...acara juga baru mulai! Ayo silahkan masuk!"
__ADS_1
Heru mengiringi ketiga tamunya ke dalam ruang pesta. Thomas membawa buket bunga sedang mamanya menjinjing tiga paper bag yang ntah apa isinya. Tadi sudah kasih hadiah sekarang bawa hadiah lagi. Apa orang ini kelebihan uang?
Heru membawa keluarga Smith langsung ke hadapan tiga kurcaci Alvan. Alvan dan Citra yang lihat kehadiran orang kaya itu segera bergabung.
Thomas begitu senang jumpa Afisa lagi. Lajang itu menyerahkan buket bunga pada Afisa lalu mengambil tangan Afisa menciumnya dengan gaya Eropa. Selanjutnya Thomas lakukan hal sama pada Afifa. Afifa hanya melongo tak paham. Adat apa pula anak kecil saling cium tangan. Bukankah hanya anak yang cium tangan orang tua.
Thomas juga memberi pelukan hangat pada Azzam sambil ucapkan selamat ulang tahun. George dan isterinya juga menyalami ketiga anak. Mamanya George menyerahkan kado lagi pada masing-masing anak.
Afisa merasa tak enak hati. Belum selesai masalah mobil mewah kini mereka dapat kado lagi. Hadiahnya pasti tidak murah. Mobil harga miliaran saja mereka berikan seperti kasih permen kecil.
"Kamu sangat cantik!" puji Thomas dengan tatapan penuh penghargaan pada Afisa.
Gibran merasa ruangan yang tadinya adem ayem kok berubah jadi panas. Hawa panas membara dalam dada seolah ingin membakar seseorang. Gibran anggap Thomas calon playboy kondang masa depan. Seumur gini saja sudah mulai jual aksi gombalan.
"Terima kasih pujiannya! Adikku Afifa lebih cantik." Afisa melirik Afifa yang manyun tak dianggap cantik.
"Tentu saja cantik...Afifa seperti peri dan kamu seperti bidadari. Kalian sama cantik dengan ciri khas berbeda."
Para orang tua telah berpindah tempat masuk dalam kelompok orang-orang bisnis. Citra dan Mami Thomas bergabung pula dengan para emak-emak.
"Thomas...bolehkah aku bicara sedikit?" tanya Afisa gelisah ingat mobil pemberian Thomas.
"Tentu nona cantik...jangankan sedikit! Banyak juga boleh!"
"Apa kalian belum pulang ke Inggris?"
"Belum...kami lanjut perjalanan ke pulau Lombok. Kami sengaja tunda rencana pulang untuk ikut pesta kamu. Besok kami pulang."
"Oh gitu...senang bisa keliling Indonesia ya!"
"Tiap tahun Daddy harus ke Bali. Dia tak pernah bisa pulau itu. Kapan kau balik ke Beijing?"
"Masih dua Minggu lagi. Kapan-kapan kau main sana ya! Di sana juga banyak tempat wisata."
"Pasti...aku akan datang saksikan kau bertanding!"
"Iya kami akan tanding lagi akhir tahun. Kamu jangan berdiri terus! Ayok duduk!" Afisa beri kode pada Thomas ambil kursi untuk duduk di pentas bersama mereka.
Undangan manis ini mana mungkin ditolak Thomas. Afisa sudah undang ikut duduk di pentas artinya sudah anggap orang dekat. Itu yang diinginkan Thomas.
Si bule menarik kursi membawanya dekat Afisa. Afifa tak open pada obrolan Thomas dan Afisa. Dia lebih tertarik pada hadiah mami Thomas yang dikemas sangat indah.
Kotak berudu warna biru tua dengan atasnya berupa kaca transparan. Dari luar tampak benda berkilauan memancing perhatian Afifa. Dengan polosnya Afifa buka hadiah dari keluarga Smith.
"Wah...sangat indah mainan ini!" seru Afifa mengeluarkan kalung bertahta berlian.
Suara Afifa menarik perhatian Azzam dan Gibran. Mereka kaget melihat Afifa seenak perut mainkan kalung yang harganya pasti tidak murah.
Cara Afifa mainkan kalung itu bikin ngilu. Kasar tak tahu itu barang mahal. Afisa ikutan syok lihat Afifa bolak balik kalung itu serampangan. Afisa takut kalung itu putus akibat kekasaran Afifa.
Thomas yang lebih paham segera bertindak Galant. Anak itu hampiri Afifa dengan senyum membujuk.
__ADS_1
"Ini hadiah untuk gadis cantik! Mari kupakai kan!" Thomas mengambil alih benda itu sebelum jadi korban orang tak paham perhiasan.