ISTERI CEO YANG TERLUPAKAN

ISTERI CEO YANG TERLUPAKAN
Misi Baru


__ADS_3

Alvan menatap Heru terkesima mendengar Viona menuntut hak dari Heru. Hak apa yang diminta Viona. Memangnya Heru ada janji apa dengan wanita histeris itu.


Heru dapat rasakan tatapan menuduh dari Alvan. Heru menggeleng sambil angkat bahu tanda dia juga tak paham. Persoalan tidak segampang itu. Pasti ada sesuatu antara Viona dan Heru baru dia ngotot tuntut sesuatu dari Heru.


"Well...sekarang gimana? Mengapa bisa ada darah hewan dalam lab. Ini harus kita selidiki, ini bukan untuk Hanna tapi nama baik rumah sakit kita." ujar Hans penasaran apa yang telah terjadi.


"Kau benar Hans...artinya kau kecolongan! Keamanan rumah sakit gampang diganggu orang. Kau harus tegas pada orang yang terlibat. Nanti kita libatkan pihak kepolisian." kata Alvan.


Hans mengangguk setuju atas saran Alvan. Kejadian ini tidak dapat diabaikan karena menyangkut hidup mati seorang pasien. Kesehatan seorang pasien tidak dapat dibeli dengan uang.


Dari luar terdengar seseorang mengetuk pintu. Hans menatap ke arah pintu lihat siapa yang mengetok pintu. Apa mungkin Viona balik lagi tidak puas dengan hasil pembicaraan serta hasil lab yang negatif. Apapun cerita harus diselesaikan pada hari ini maka itu Hans mengizinkan orang yang mengetuk pintu untuk masuk.


"Masuk..."


Yang masuk bukanlah Viona seperti pemikiran Hans melainkan segerombolan anak-anak dan Tokcer masuk satu persatu dengan tertib. Heru dan Alvan heran mengapa anak-anak berada di rumah sakit.


"Kalian? Sejak kapan kalian di sini?" tanya Alvan.


"Maaf Pi... persoalan ini kami lebih jelas. Dari awal kami sudah menduga kalau perempuan itu akan melakukan hal tidak terpuji. Maka itu secara diam-diam kami datang ke rumah sakit untuk melihat apa yang dia lakukan. Ternyata perempuan itu membayar perawat untuk menukar hasil sampel darah Opa. Kami punya bukti perawat itu melakukan kecurangan." Azzam mengeluarkan ponsel untuk memberi bukti bahwa Viona dan timnya melakukan perbuatan tidak terpuji.


Hans, Heru dan Alvan menyaksikan hasil rekaman Fitri. Di situ tampak jelas kalau perawat itu menukar tabung Hanna dengan satu tabung lain sementara darah Hanna dimasukkan ke dalam kantong. Untunglah Jasmine menukar dara membelakangi rekaman dan CCTV sehingga tidak nampak Jasmine ikut menukar darah. Semua sudah diperhitungkan dengan jitu oleh Jasmine dan kelompoknya. Sekilas dilihat Jasmine dan kelompoknya tidak terlibat dalam masalah ini.


Heru sangat marah melihat hasil rekaman ini Dan makin yakin kalau Viona sedang berbuat skandal untuk memasukkan seorang perempuan ke dalam keluarga Perkasa. Perawat yang membantu Viona harus mendapatkan jalan sesuai dengan kejahatannya.


"Siapa yang bantu kalian?" tanya Hans mau tahu berapa orang terlibat dalam kasus ini. Perawat yang curang harus ditendang sejauh mungkin dari rumah sakit. Tak ada tempat untuk orang jahat.


"Tak ada pak! Cuma kami-kami saja. Tak ada orang di dalam rumah sakit membantu kami. Kami melakukannya secara swadaya." sahut Azzam dengan cepat tak ingin melibatkan Fitri dan Jasmine di dalam masalah ini. Andai Azzam mengaku Jasmine dan Fitri ada di balik semua ini maka mereka pasti akan mendapat hukuman juga. Azzam tak mungkin khianati teman yang telah membantu mereka mencari kebenaran.


"Baiklah! Biar om selesaikan masalah ini! Terima kasih telah membantu. Kelak kalau ada sesuatu yang mencurigakan kalian harus melapor kepada kami. Jangan bertindak sendiri-sendiri akan membahayakan kalian!" kata Hans menasehati anak-anak agar lebih hati-hati dan waspada di kemudian hari.


"Iya om... kami juga minta maaf telah berbuat di luar sepengetahuan pihak rumah sakit. Ini kami melakukan untuk melindungi keluarga kami." timpal Gibran bertindak seolah dia adalah kepala keluarga yang harus melindungi seluruh keluarganya.


Heru Acungkan jempol memuji tindakan anaknya kali ini telah benar. seorang lelaki sejati memang harus melakukan apa yang masih dilakukan. Heru juga lega karena orang yang mengaku keluarga Perkasa ternyata hanya seorang penipu. Heru makin tidak ragu keabsahan Citra sebagai anggota keluarga Perkasa.


"Baiklah! Sekarang kalian pulang ke rumah dan tidak boleh ke mana-mana lagi. Nanti segalanya kita bicarakan di rumah. Satu lagi harus Papi ingatkan pada kalian kisah ini tak perlu kalian ceritakan kepada mami. Takut mami kalian akan berpikiran. Anggap saja cerita ini telah tamat dan tidak ada kelanjutan. Selanjutnya biar Papi dan Om Hans yang menangani kasus ini." Alfan menyuruh anak-anak segera pulang agar tidak terlibat lebih jauh. Dalam hati Alfan sangat bangga pada kepintaran ajang namun mereka bertindak sendiri sangat membahayakan mereka. Bagaimana kalau pihak Viona menyadari kehadiran anak-anak dan berbuat sesuatu yang membahayakan jiwa anak-anak?


"Iya Pi.. kami minta maaf telah membuat semuanya kuatir kepada kami. Tapi ini murni untuk melindungi keutuhan keluarga kita dari orang jahat." kata Azzam dengan mata bersinar tajam.


"Papi ngerti...tapi maunya diskusi dengan dulu dengan Papi maupun opa kalian."


"Kami belum punya bukti bagaimana berani mengatakan hal yang belum tentu terjadi."

__ADS_1


"Satu lagi... Apakah darah Hanna berubah menjadi darah hewan itu juga pekerjaan kalian?" tanya Heru menyadari tak mungkin darah manusia berubah menjadi darah hewan kalau tidak ada orang usil menukar darah.


"Kami tidak tahu. Kami hanya merekam apa yang dilakukan oleh perawat itu dan kami langsung pergi setelah merekam. Bagaimana kami bisa menukar daranya sementara darah itu dipegang oleh perawat tersebut." kilah Gibran tidak mau mengaku kalau terlibat. Kalau mereka mengaku persoalan akan makin panjang.


Apa yang dikatakan oleh Gibran masuk akal. Sampel darah itu dipegang oleh perawat bagaimana mungkin mereka mengambil sampel darah dari tangan perawat.


"Baik... terima kasih atas semua penjelasan kalian. Biarlah selanjutnya menjadi tanggung jawab rumah sakit untuk memberi satu jawaban kepada Pak Heru!" Hans mewakili Rumah Sakit mengucapkan terima kasih kepada kepintaran anak-anak keluarga Perkasa dan Lingga itu.


Anak-anak keluar dengan tertib meninggalkan Rumah Sakit sesuai amanah dari Alvan. Anak-anak ini sangat puas berhasil membongkar kedok Viona ingin berbuat curang.


"Kau percaya mereka bukan tersangka darah hewan?" tanya Heru kepada Alvan setelah anak-anak pergi.


"Kurasa anak-anak itu tidak berbohong. Azzam dan Afisa tak pernah berbohong kepada aku."


"Yang menjawab kan bukan Azzam melainkan Gibran. Aku tak percaya mereka tidak terlibat dalam masalah darah hewan. Apa kau tak lihat bagaimana licinnya otak anak kamu itu?" kata Heru tidak percaya kalau anak-anak tidak terlibat dalam penukaran darah manusia dengan darah hewan ada. Tak mungkin lah darah Hana maupun darah Heru berubah menjadi darah hewan kalau tidak ada campur tangan pihak ketiga.


Dari pihak Viona tidaklah mungkin menukar sampel darah tersebut karena mereka yang ingin melakukan tes DNA. yang paling pantas dicurigai adalah kelompok anak-anak berotak cemerlang ini. bagaimana cara mereka menukar darah ini yang masih menjadi pertanyaan Heru dan Alvan.


"Biar aku interogasi perawat yang bertanggung jawab mengambil sampel darah Hanna dan Heru. Nanti semua akan terang benderang bila kau tuntut tanggung jawab perawat itu. Dan aku minta maaf atas segala ketidaknyamanan ini." Hans bangkit berdiri dan membungkuk badan meminta maaf kepada Heru dan Alvan. dia sebagai kepala rumah sakit harusnya mengetahui apa yang terjadi di dalam rumah sakit. Semua yang terjadi di dalam rumah sakit adalah tanggung jawab Hans.


"Ya tak apa... yang penting sekarang kita tahu bahwa Hanna itu bukan anggota keluarga Perkasa. Hasil test DNA aku dan Citra adalah yang akurat. Kalau begitu kami permisi dulu karena di kantor masih banyak pekerjaan." Heru berdiri tak ingin buang waktu lebih lama di rumah sakit.


"Pasti... hasil test dulu adalah hasil yang paling akurat karena kami sedikitpun tidak manipulasi. Apa yang ada itulah hasilnya."


Alvan lagi memikirkan bagaimana cara anak-anak menukar darah Hanna dengan darah hewan. Seberapa licik anaknya bisa lakukan hal sebesar ini tanpa ketahuan. Tak mungkin perawat itu gila ambil resiko tukar darah sementara dia telah terima uang suap.


Sepanjang jalan Alvan dipenuhi pertanyaan di atas kepala. Heru mana santai tidak anggap pertukaran darah menjadi masalah. Malah Heru bersyukur anak-anak telah membantu secara diam-diam. Andai kata anak-anak tidak membantu maka dengan mulusnya Hanna masuk ke dalam keluarga Perkasa. Heru bukanlah Alvan mencampakkan Citra demi orang lain. Heru dari dulu memang menyayangi Citra sampai detik ini pun lelaki ini menyayangi Citra walaupun statusnya berubah.


"Ok Van... aku langsung ke kantor dan kamu apa rencana selanjutnya? Kamu langsung ke kantor atau balik ke rumah?" tanya Heru setelah berada di pelataran parkir.


"Aku masih heran teknik anak-anak menukar darah. Pakai ilmu siluman?" gumam Alvan masih bingung.


Heru hanya tertawa lebar menanggapi kebingungan Alvan. Heru tidak peduli dengan cara apa anak-anak itu bertukar darah Hanna. Yang penting dia telah terbebas daripada jeratan Viona yang sedikit sinting itu.


"Sudahlah! Fokus ke kantor! Aku akan minta orang selidiki si Hanna. Siapa dia sesungguhnya. Seenak perut ngaku keturunan aku. Dia belum pantas jadi anggota Perkasa. Hanya Citra dan cucu aku yang berhak. Pergi sono!" Heru mendorong Alvan masuk ke dalam mobilnya.


Alvan menghela nafas sangat takut pada kepintaran anaknya yang telah keluar dari batas wajar. Dari mana dia bisa menganalisa pemikiran Fiona secara akurat. Apa anak itu terlalu yakin dia keturunan Perkasa sehingga tidak ingin orang lain mengusik ketenangan mereka?


"Aku pergi dulu!" Heru melambai dari dalam mobil meninggalkan Alvan yang masih termangu.


Alvan tersadar telah ditinggal oleh Heru. Lelaki ini bergerak masuk ke dalam mobil melanjutkan aktifitas mencari rezeki untuk bangun istana emas untuk keluarga.

__ADS_1


Sementara ketiga anak keluarga kaya raya itu tak segera pulang melainkan nongkrong di gerai makanan ringan untuk berembuk jalan tak libatkan Jasmine. Cctv rumah sakit pasti akan memunculkan kehadiran Fitri dan Jasmine padahal keduanya tidak ada jadwal waktu kerja.


Kening Azzam berkerut-kerut memikirkan jalan terbaik menghindarkan Fitri dan Jasmine dari masalah. Jalan satu-satunya adalah terobos sistim keamanan rumah sakit. Mereka harus balik ke sana untuk masuk ke daerah terlarang yakni bagian pengawasan.


"Begini saja ko...aku dan om Gi pergi cari Om Hans pura-pura cari kebenaran. Koko cobalah pintar menyelinap ke bagian pengawasan CCTV. Nanti Koko hapus bagian yang ada kak Fitri dan kak Jasmine. Apa Koko pikir papi dan opa orang bodoh tak tahu ada orang dalam bantu kita?" usul Afisa.


"Di mana ruang pengawas CCTV? Kita tak mungkin minta tolong pada kedua kakak perawat bawa kita ke sana. Lebih cepat kena hukuman."


"Yaelah...untuk apa hp? Main tuntunan dong! Minta kak Fitri arahkan Koko ke tempat dimaksud. Gitu saja tak terpikir! Apa pula otak berlian?" sindir Afisa mencibiri Azzam.


"Apa kak Fitri tahu di mana ruang pengawas? Coba kak Tokcer hubungi kak Fitri!" Azzam tak peduli sindiran Afisa. Bukan itu topiknya, yang penting adalah hindarkan Fitri dan Jasmine dari malapetaka kena sanksi.


Tokcer tentu saja dengan senang hati hubungi gadis yang dekat dengannya beberapa waktu ini. Tokcer tidak umbar cinta karena masih teringat Natasha. Namun cukup dekat sebagai sahabat dalam tanda kutip.


"Halo.. assalamualaikum.." ujar Tokcer begitu disambut gadis di seberang sana.


Ketiga anak menatap penuh harapan pada Tokcer. Semoga saja Fitri tahu tempat yang diinginkan mereka.


"Waalaikumsalam kak Tokcer.. tumben telepon?"


"Bukan tumben tapi urgen. Apa kau tahu tempat pusat pengawas CCTV di rumah sakit?"


"Tahu .. ada di ujung dekat lab. Tempat kemarin kita sembelih ayam. Ada apa ini? Jangan bilang mau bikin proyek baru!"


"Bukan...kami mau hapus tayangan CCTV kehadiran kalian di rumah sakit. Kalian bisa disanksi bila ketahuan bantu kami!"


"Oh.. bagaimana ini?" Fitri panik di sana.


"Tenang nona! Kami akan menyelinap hapus memori di kamera pengawas. Nanti Azzam akan hapus semua yang berkaitan kehadiran kita. Kau harus yakin di mana tempatnya. Kita berhubungan via telepon saja."


"Baiklah! Kalian datang saja. Nggak usah lalui pintu besar. Kalian lalui pagar belakang, di sana ada pintu besi kecil. Pintunya tidak dikunci karena untuk keluar masuk pengantar bahan makanan dapur. Di sana mungkin tak ada CCTV. Pokoknya setelah di rumah sakit kalian hubung aku lagi."


"Ok...kau tak usah cemas! Kami akan bertanggung jawab bersihkan nama kalian dari kasus ini."


"Iya kak! Terimakasih."


"Lanjut kerja! Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam..."


Hubungan terputus. Azzam berpikir keras bagaimana masuk ke tempat pengawas CCTV tanpa timbulkan rasa curiga petugas. Mereka baru saja jumpa Hans. Kalau cari alasan jumpa Hans lagi malah akan timbul rasa curiga di hati Hans. Azzam harus pikir cara lain dekati ruang CCTV.

__ADS_1


"Begini...nanti Cece pura-pura tersesat minta diantar ke ruang praktek mami. Katakan Cece anak dokter Citra dan Alvan hendak cari mami. Minta petugas antar Cece ke tempat praktek. Nanti Koko dan om Gi yang urus di sana."


__ADS_2