
Afisa tidak menjawab kata Alvan. Afisa tidak butuh janji kosong melainkan fakta di lapangan. Afisa akan pantau segala tindak tanduk Alvan.
"Kalian anak bapak sudah boleh sudahi obrolan ini! Tuh rumah sakit sudah di depan! Cece mau ikut mami atau ikut papi ke kantor." Citra gerah dengar Afisa gurui bapak sendiri. Ini merendahkan nilai Alvan di mata anak sendiri. Alvan harus tegakkan badan agar tak dipandang remeh oleh anak sendiri.
"Ikut papi ke kantor saja! Anak kecil tak baik main di rumah sakit. Kau bisa lihat kondisi kantor papi. Suatu saat kau akan berada di sana."
"Tapi apa tidak ganggu kerja papi?"
"Tidak... papi percaya kamu anak baik. Nanti siang kita makan bersama. Ok?"
"Ok...kami jemput mami ya!" ujar Afisa kepada Citra.
"Iya..nanti mami kabari kalian bisa ikut tidak! Mami sudah sering bolos kerja. Tak enak bolos lagi. Kalian hati-hati ya!"
"Sip..."
Mobil berhenti di parkiran rumah sakit. Citra turun dari sebelah kanan lantas menciumi tangan Alvan untuk kasih contoh baik pada Afisa. Citra ingin sampaikan pesan moral pada Afisa bahwa Alvan adalah papi yang harus dihormati. Boleh kritik tapi dalam batas wajar. Bukan menghakimi.
"Daa..mami.." Afisa melambai dari sebelah kiri.
Citra membalas lambaian Afisa dibarengi senyum hangat. Begitulah seharusnya profil seorang ibu terhadap anak-anak. Mencintai bukan berarti harus memanjakan anak.
Setelah yakin Citra telah masuk ke dalam rumah sakit dengan aman Alvan segera menjalankan mobil menuju ke arah kantor. Di samping Alvan ada seorang tuan putri yang cantik berwatak keras.
Keduanya seiring menuju ke kantor Alvan. Kehadiran Alvan telah ditunggui oleh Untung yang tetap setia menanti di depan pintu besar kantor. Laki-laki ini tetap setia menanti kehadiran Alvan dalam kondisi apapun.
Alvan dengan bangga menggandeng Afisa masuk ke kantor yang sangat mewah. Afisa tak henti kagum pada tempat kerja papinya. Sepuluh kali dilihat tetap mengagumkan.
Pegawai berbisik-bisik melihat Alvan gandeng anak perempuan cantik. Bagi pencinta olah raga sosok Afisa tentu tak asing lagi. Gadis ini baru saja ukir prestasi cukup mumpuni di bidangnya. Sudah cantik berpretasi pula.
Alvan bukannya tak tahu pegawainya berbisik tentang Afisa. Anaknya yang satu ini jarang tampil di sekeliling Alvan. Kalau Azzam dan Afisa sudah sering ke kantor. Lain dengan Afisa yang tinggal jauh dari orang tua. Baru kali ini muncul di kantor Alvan.
Afisa ikut masuk ruang kerja Alvan menemani sang papi urus bisnis. Alvan tentu saja senang ada gadis kecil nan cantik temani dia menyelesaikan pekerjaan kantor. Tentu lebih semangat.
Di rumah sakit Citra disibukkan oleh pasien-pasien baru dan pasien lama. Hari ini lumayan banyak pasien. Untunglah Bryan sigap bantu Citra tangani pasien. Citra menemukan Bryan itu dokter berbakat. Cuma sekarang Bryan tidak se lincah dulu. Bryan tak berani menggoda Citra lagi mungkin sudah tahu Citra bukan wanita yang mudah ditaklukkan. Tulang belakang Citra dilindungi berlapis-lapis perisai tebal. Siapa berani dekati wanita itu apa lagi sakiti dia sama saja antar nyawa minta dipancung.
Menjelang siang Citra kedatangan seorang wanita muda berparas cukup bisa diandalkan. Bisa menggoda iman para lelaki. Wanita itu kenakan baju model baby doll warna pink hambar. Cukup serasi dengan warna kulit bersih.
Jasmine segera bertanya keluhan wanita itu serta tensi darah sebelum lapor pada Citra. Sesuai prosedur perawatan umum tetap harus tahu berapa tekanan darah sebelum dilanjut periksa oleh dokter.
Jasmine mencatat semua yang berkaitan dengan wanita muda itu. Setelahnya baru serahkan kartu pada Citra untuk tindak lanjuti.
Citra membaca data wanita itu tak menemukan hal mendesak. Citra mau tahu apa keluhan wanita itu sampai datang ke tempat prakteknya. Sekilas dilihat wanita itu tak ada penyakit.
"Ada keluhan apa nona?" tanya Citra lembut.
"Aku hamil..." kata wanita itu tenang.
__ADS_1
"Kalau gitu nona salah dokter. Harusnya nona ke dokter kandungan. Aku dokter syaraf." Citra menerangkan dengan pelan.
"Tidak...aku datang pada tempat tepat Citra Lingga!"
"Oh...anda mengenalku?"
"Tidak tapi kita akan segera kenalan. Aku Ambar...isteri siri Alvan Lingga. Anak ini anaknya. Aku hamil empat bulan." ujar wanita tenang menghanyutkan.
Citra tersenyum tidak terpancing permainan yang ntah siapa sutradaranya. Citra bukan dokter bodoh gampang terprovokasi. Empat bulan lalu Alvan belum dioperasi, dari mana asal usul bibit di perut wanita ini.
"Kalau gitu kalian harus diresmikan. Kasihan bayi kalian terlahir tanpa pengakuan bapaknya. Tapi Alvan tak pernah cerita dia punya istri simpanan. Bagusnya kita ke rumah untuk selesaikan masalah ini. Kalau Alvan tak mau akui anak ini kamu tempuh jalur hukum. Penjarakan dia!" Citra bantu Ambar cari keadilan. Gaya Citra yakin mau bantu Ambar tuntut Alvan.
Wanita itu melongo tak sangka tak bisa provokasi Citra. Citra malah dengan senang hati buka jalan bagi wanita itu dekati Alvan.
"Tapi aku ini rival kamu!"
"Rival kenapa? Aku sudah bosan layani wanita yang ngaku pacar Alvan, istri muda, istri siri. Semua berakhir di penjara. Bahkan ada yang meninggal karena sakit di penjara. Tak satupun bukti Alvan ada hubungan dengan mereka. Macam-macam tuntutan Alvan. Pencemaran nama baik, sebar berita bohong lebih parah bikin catatan palsu. Ini hukuman sepuluh tahun penjara. Semoga kamu bukan salah satu di antara mereka."
Ambar terpana tak sangka Citra tidak marah. Citra terlihat santai tidak anggap Ambar sebagai parasit. Citra tak percaya Alvan akan jajan di luar sementara sejuta masalah sedang melilit dia.
"Aku hanya mau Alvan akui anak ini. Lain tidak."
"Kita jumpa Alvan dulu. Biar dia yang tentukan nikahi kamu atau antar kamu ke penjara seperti yang lain. Oya.. di mana kau kenal Alvan?"
"Dulu aku pernah kerja di perusahaan. Kami sering keluar kota bersama jadi ya gitulah. Aku tak mau jumpa Alvan takut dia marah. Dia sudah paksa aku gugurkan kandungan tapi aku tak tega. Aku mencintai Alvan. Aku rela besarkan anak ini asal Alvan akui anak ini anak dia."
"Jasmine...kau keluar dulu! Bryan juga. Aku mau bicara empat mata dengan nona ini." Citra mengusir kedua asistennya agar lebih leluasa mengorek keterangan dari Ambar.
Kini mereka tinggal berdua. Citra menatap wanita ini dalam mencari kejujuran di mata wanita ini. Ditatap tajam Ambar menunduk tak berani adu mata dengan istri sah Alvan.
"Baik..aku hargai semua ceritamu tapi ada yang tak kamu ketahui. Alvan itu sudah tak bisa punya anak dari empat tahun lalu. Maka dengan mudah dia tangkap semua wanita yang ngaku ini itu. Kuharap kamu bukan salah satu orang yang akan masuk penjara. Aku bukan takuti kamu cuma kasihan anakmu harus lahir di penjara." ujar Citra dengan sabar karena tahu ada udang di balik batu.
"Aku memang hamil. Kau dokter pasti tahu aku hamil atau tidak." bantah Ambar belum menyerah.
"Aku tahu tapi itu bukan anak Alvan. Alvan tak mungkin punya anak."
"Lalu anak kamu anak siapa? Alvan akui mereka anak kamu kan?"
"Iya mereka anak Alvan sebelum dia alami kecelakaan yang membuatnya mandul. Belum terlambat kamu jujur! Aku takkan lapor pada Alvan bila kau jujur. Katakan siapa bapak anak ini secara jujur! Siapa berani kasih kamu nyali tuduh Alvan? Apa kau tak takut dihukum? Kenal Selvia? Dia juga bikin perkara dengan Alvan. Dia meninggal di penjara."
"Aku memang hamil Bu dokter!" ujar Ambar mulai gelisah kena hasutan Citra.
"Kamu hamil anak siapa? Kamu lebih jelas. Jangan bersandiwara di depan aku! Alvan dan keluarga aku tidak punya kesabaran macam aku!" Citra menaikkan oktaf suara karena wanita ini ngotot tak mau jujur. Citra kasihan kalau dia harus jumpa Alvan. Pasti berakhir di hukum. Alvan takkan biarkan orang fitnah dia. Apa lagi masalah cukup besar.
"Bicara!" Citra mengebrak meja kesal Ambar plin plan.
Ambar tersentak kaget. Ambar meremas kedua tangan sendiri mulai ketakutan di bentak Citra. Dokter juga manusia punya emosi bila diusik terus.
__ADS_1
"Aku disuruh Viona..." sahut Ambar meringis takut.
Citra terduduk ingat wanita yang sering ganggu dia dulu. Sungguh Viona hebat. Pantang menyerah mengusik hidupnya. Citra tak boleh tinggal diam dijadikan target oleh oknum gila harta. Kesabaran Citra telah capai limit terakhir.
"Viona? Apa tujuannya?"
"Kalau aku ngaku kau akan biarkan aku pergi?"
"Tergantung kejujuran kamu!"
Ambar menarik nafas panjang lalu ambil keputusan jujur pada Citra agar tidak mati konyol bersama Viona. Citra tidak bodoh segera aktifkan ponsel merekam pengakuan Ambar agar ada bukti kejahatan Viona. Saatnya antar wanita itu tidur di ranjang dingin. Tak perlu buang listrik hidupkan AC. Gratis malahan. Makan tidur tak usah bayar.
"Target Viona Pak Heru dan Alvan. Pokoknya dia incar salah satu dari dua laki ini. Sebelumnya dia minta seorang wanita malam untuk pura-pura jadi anak pak Hamka. Rencananya gagal maka dia gunakan aku untuk kacaukan hubungan kamu dan Alvan. Kalau kalian ribut dia akan masuk dalam hidup Alvan. Aku memang pernah kerja di perusahaan Alvan tapi dipecat karena merayu Alvan. Alvan tak suka wanita murahan. Aku memang hamil tapi ini anak pacar aku. Dia tak mau tanggung jawab maka aku beranikan diri bercanda dengan maut." kata Ambar lugas
"Kau sudah tahu tak mungkin jebak Alvan mengapa berani ambil resiko?"
"Aku tak sangka kamu begitu tenang. Biasa seorang istri pasti akan labrak suami bikin ribut. Hubungan kalian pasti hancur. Semua tak seperti rencana kami." Ambar tertawa sumbang tak sangka dugaan mereka meleset jauh.
Citra tenang tidak ngamuk malah beri solusi karena percaya pada Alvan. Alvan takkan melakukan perbuatan tak terpuji. Sudah cukup banyak masalah dalam hidup Alvan. Tak mungkin dia tambah biar rambut di kepala lebih cepat botak.
"Aku percaya pada suami aku maka tak yakin dia hamili kamu. Setelah ini apa lagi rencana Viona? Ada plan A sampai plan Z? Kunasehati kamu cari pacar kamu minta tanggung jawab. Bila perlu lapor polisi. Sekarang kau masih muda tak pikir akibat dari kesalahan kita. Kelak anak ini dewasa dia akan tuntut kisah awal hidupnya. Saat ini kau mau menangis darah juga sudah terlambat."
Ambar termenung mendengar nasehat Citra. Rencana bikin kacau malah Ambar yang kacau kena wejangan Citra. Pikiran Ambar jadi kalut dinasehati Citra. Semula dia pikir bisa meraup keuntungan dari Viona melaksanakan permainan dari wanita itu.
"Dia sudah tunangan dengan wanita lain. Dia mana mau ngaku ini anaknya." kata Ambar dengan pandangan mata kosong.
"Kau yakin itu anak pacarmu? Kalau kau yakin silahkan maju tapi kalau ragu kamu harus tunggu anakmu lahir lakukan test DNA. Kalaupun kalian tak bisa bersama tapi dia harus tanggung jawab terhadap anak ini."
Ambar mengangguk yakin. Dari rencana bikin kacau malah berubah menjadi tempat Ambar konsultasi masalah dia.
"Dulu aku memang ada hubungan dengan pacar lama, setelah putus aku cuma dengan pacar aku. Tak ada laki lain."
"Bagus kalau kau yakin. Kau bawa keluargamu temui keluarga pacar kamu dan jelaskan semuanya. Katakan kamu tidak akan menghalangi pertunangan pacarmu. Tetapi hanya ingin pacar kamu mengakui bahwa ini anaknya. Setelah anak ini lahir dia harus memberi nafkah kepada anak ini. Dan kamu harus berani menuntut tes DNA agar mereka tidak ragu pada pengaduan kamu."
"Begitu ya dok? Tetapi aku tidak punya siapa-siapa untuk dampingi aku menjumpai keluarga pacar. Bapak aku entah lari ke mana sedang ibuku sudah meninggal. Jadi pada siapa aku harus bergantung."
"Kamu sudah merasakan hidup tanpa orang tua. Jadi aku berharap anak kamu tidak mengalami nasib yang sama dengan kamu."
Ambar makin termakan omongan Citra. Dia menjadi begini karena tak ada yang membimbingnya. Jadi anak liar tak kenal yang namanya kata malu. Halalkan segala cara untuk hidup senang. Termasuk ikut konspirasi Viona yang janjikan uang ratusan juta.
"Aku takut dok!"
"Kau jangan terhasut Viona. Uang yang kamu dapat itu takkan bertahan lama. Begitu habis nasibmu dan anak kamu akan terlunta-lunta."
"Iya dok! Aku akan berusaha jumpai pacar aku! Dan aku minta maaf telah ceroboh menuduh Alvan. Antara kami tak ada apapun selain aku pernah kerja di kantor Alvan. Aku rakus mau uang dari Viona maka berani datang ke sini. Viona dalang dari semua ini. Dia bersumpah akan jadi nyonya Perkasa ataupun Lingga. Aku sudah mengaku terserah bagaimana kalian tangani dia. Aku takkan ikut lagi. Satu gerakan saja sudah dipatahkan. Aku bisa apa lagi?"
"Syukurlah kau sadar! Kau sudah periksa kandungan kamu?"
__ADS_1
"Belum dok! Belum ada dana." ujar Ambar malu-malu.
Citra terenyuh saksikan kondisi Ambar. Rela menantang maut demi segembok uang. Apa dia tak tahu resiko fitnah Lingga? Penjara yang dingin menantinya.