ISTERI CEO YANG TERLUPAKAN

ISTERI CEO YANG TERLUPAKAN
Keluarga Utuh


__ADS_3

"Tunggu di depan pak! Aku segera siap."


"Tidak undang aku masuk ke dalam?" olok Alvan disambut delik mata indah Citra. Alvan ingin sekali berkata betapa indah mata Citra. Cuma Alvan takut Citra mengira dia sedang menggombal.


"Di sini tidak terima tamu. Beri contoh baik pada anak-anak pak!"


Alvan angkat tangan menyerah tak mau berdebat. Kesempatan berduaan dengan Citra masih jauh dari jangkauan. Citra seperti barang langka sulit dimiliki. Perlu kesabaran untuk lelehkan kutub yang terlanjur membeku.


Alvan tidak jadi masuk ke kamar Citra. Alvan lega Citra punya prinsip kokoh tidak sembarangan sambar cowok untuk hilangkan kesepian. Kalau wanita lain di posisi Citra ntah apa jadinya. Ceritanya tentu berbeda.


Tidak perlu jauh kasih contoh. Orang yang dimaksud dekat dengan Alvan, bahkan terlalu dekat. Saking dekat Alvan tidak dapat melihat dengan jelas bagaimana rupa asli orang terdekatnya. Yang dimaksud Alvan bukan lain Karin.


Selesai menyusun sisa pakaian Citra segera menuju ke ruang makan. Jam dinding telah menunjukkan waktunya makan siang. Matahari bersinar tepat di atas kepala insan di bumi persada. Yang beraktifitas di lapangan terbuka pasti akan rasakan betapa ganas gigitan cahaya matahari.


Untunglah Citra sekeluarga masih punya tempat berteduh walau sederhana. Terlindung dari ganasnya sinar ultra violet dan berteduh dari curahan air hujan. Di luar sana masih banyak makhluk tak beruntung hidup beratap langit. Tak bisa melawan sinar matahari, tak bisa menampung tetesan air langit.


Citra melihat Azzam dan Afifa sudah duduk manis di meja makan menanti kehadiran hidangan dari restoran papinya.


"Sudah cuci tangan?" Citra mencolek pipi Afifa yang tak sabaran menunggu menu makanan.


"Sudah mi...tadi dibantu papi! Papi boleh ya tidur sama Amei! Mami tidur di kamar Amei biar papi dan Amei tidur di kamar mami. Kasihan papi tidur di sofa. Banyak nyamuk."


Citra mendaratkan mata pada Alvan menghargai kebijakan Alvan tidak terobos rambu masuk ke kamarnya. Beginilah sikap lelaki gentle. Tidak gunakan kesempatan dalam kesempitan.


"Papi masih ada kerjaan. Malam ini papi pulang ke rumahnya dulu! Kapan-kapan papi akan datang lagi. Ya kan Pi?"


Alvan mengangguk setengah hati. Maunya sih ikuti permintaan Afifa. Bisa kumpul dengan keluarga kecilnya merupakan nikmat dunia. Sayang Citra masih belum buka diri menerimanya. Alvan tidak ingin mengejutkan Citra pakai cara kekerasan.


"Tapi Amei mau papi." suara Afifa mulai bindeng menahan Isak dalam dada. Mata bening Afifa mulai berembun membuat sepasang mata itu berkilauan hendak jatuhkan cairan bening.


Azzam menunduk tak tega melihat adik kesayangan menahan kesedihan. Mau nangis tapi ditahan. Citra selalu mengajarkan mereka tak boleh mudah keluarkan air mata. Citra mungkin lupa kalau Azzam dan Afifa hanya anak kecil punya perasaan halus.


"Sayang papi...papi akan di sini sampai Afifa bobok. Pagi-pagi esok papi sudah di sini. Ok?" Alvan bangkit memeluk putrinya. Sejujurnya Alvan tak tega membiarkan Afifa menelan rasa kecewa, duka Afifa bagai silet menyayat kisi hati Alvan.


"Amei cuma mau papi bobok di samping Amei. Teman Amei ditemani paginya sampai pagi. Tengah malam haus diambilkan air minum. Amei juga mau gitu!" Afifa berkata dengan suara serak hendak hujan lokal.


"Ya sudah. Papi temani anak kesayangan papi!"


"Betul Pi?" seru Afifa riang. Sepasang mata yang tadinya nyaris meneteskan air mata berubah ceria. Janji Alvan bagai angin segar berhembus halau awan mendung.


Azzam dan Citra hanya bisa saling tukar pandangan. Kegembiraan Afifa adalah kunci kebahagiaan keluarga ini. Afifa tidak seperti Azzam lebih paham keadaan. Afifa hanya anak kecil butuh kasih sayang penuh dari orang tua. Betapa hausnya Afifa sentuhan sayang dari sang papi.

__ADS_1


"Nah Amei tak boleh bersedih lagi! Tuh papi janji akan temani Amei! Pergi cuci muka sana! Anak gadis kok cengeng!" Citra mau tak mau terima usulan Alvan nginap di situ. Semoga pengorbanan seorang Citra berdampak baik pada Afifa.


"Xie Xie mami.(Terima kasih mami)" Afifa melorot turun dar bangku berjalan ke belakang dengan hati plong. Berdrama sedikit ternyata senjata ampuh meluluhkan sang mami. Afifa sangat menyayangi Alvan tidak rela kalau sang mami pindah hati dari Alvan. Mami harus jadi milik papi selamanya.


Tak lama berselang dua preman tanggung datang membawa pesanan Alvan. Berkotak-kotak makanan ditenteng Tokcer dan Bonar. Semua makanan orderan Alvan untuk menyenangkan kedua anaknya. Azzam dalam masa pertumbuhan butuh asupan gizi lebih dari yang lain. Alvan ingin Azzam tumbuh sehat menjadi penerus marga Lingga. Maka itu Alvan akan lakukan apapun agar Azzam hidup sehat.


Tokcer dan Bonar meletakkan kotak di ruang tamu lalu mengundurkan diri. Keduanya tahu diri tidak ganggu acara makan siang keluarga kecil itu.


"Tok..kalian sudah makan?" tanya Citra sebelum kedua lajang itu keluar dari rumah.


"Jatah kami ada kak! Kami makan di teras saja. Lebih enak ada angin!" Tokcer bikin alasan agar tidak mengusik keluarga Citra.


"Makan di dalam saja! Duduk saja di sini! Apa kata orang lihat kalian mirip gembel makan di teras? Kakak yang malu nanti. Ambil air minum di belakang!"


"Iya kak!" Tokcer bungkukkan badan baru ijin ke belakang. Tokcer tidak ragu ke dapur karena tuan rumah ada di dalam. Anak laki masuk rumah perempuan tanpa suami gampang tersebar fitnah. Tokcer tak ingin nama baik Citra dijadikan bahan gosip emak-emak bermulut dower.


Bonar mematung kaku menanti Tokcer ambil air minum. Tanpa Tokcer di samping Bonar tak berkutik di depan Citra. Preman garang yang paling disegani kalah pamor dari seorang dokter muda. Bonar bukan takut namun hormat pada mami Azzam. Sama seperti Tokcer, Bonar tak ingin ciptakan masalah buat Citra.


Citra tinggalkan Bonar di ruang tamu karena harus hidangkan makanan untuk anak-anak dan Alvan. Citra yakin anak-anaknya sudah pada kelaparan. Drama Afifa mempertahankan papinya di sekitar mereka jadi beban Citra. Secara agama mereka bukan suami isteri. Haram bagi Citra dekat dengan Alvan. Di balik itu Citra juga tak bisa abaikan perasaan Afifa.


Ke kanan salah ke kiri dobel salah. Citra bak diberi buah simalakama, makan tak makan tetap buruk hasilnya.


Citra menata meja makan tanpa bersuara. Satu persatu makanan restoran mahal dikeluarkan dari kotak styrofoam di pindahkan ke piring mangkok. Bau harum makanan restoran mahal memang beda dari makanan warteg. Baru dihidangkan aromanya sudah menggelitik hidung.


Citra menyendok nasi ke piring Alvan baru menyusul ke piring Azzam dan Afifa. Sekilas mata mereka tampak layak keluarga harmonis tanpa cacat. Isteri telaten melayani suami dan anak makan siang. Pemandangan lazim di rumah tangga bahagia.


Alvan tak jauh berbeda dengan Afifa. Kegembiraan menguasai seluruh tubuh. Inilah keluarga sesungguhnya. Sembilan tahun Alvan hidup dalam kebohongan Karin. Makan di tempat berbeda karena Karin sibuk dengan dunianya. Karang pulang makan dengan alasan sibuk dengan kegiatan dunia showbiz. Alvan tidak mengerti semua kegiatan Karin. Atas nama cinta Alvan menutup mata asal Karin senang. Sayang semua berakhir sad ending. Karin kebablasan melangkah terlalu jauh.


Di ruang tamu dua preman insaf sedang mengagumi makanan dari restoran mahal. Bonar pesan bistik sapi dengan saos lada hitam sedang Tokcer pesan tuna bakar disiram saos campuran susu dan tomat. Keduanya mencoba makanan mahal yang seumur hidup belum pernah mereka rasakan.


Dua kali gigit makanan mereka pindah ke perut. Berdasarkan data tampung perut kedua preman itu makanan sekutil gitu hanya cukup menempel di ujung lambung. Masih banyak sisa tempat kosong belum diisi.


Bonar melototi kotak styrofoam yang sudah bersih namun perutnya masih belum puas cuma menerima Sekutil daging.


"Tok...gue kok kayaknya makan angin doang! Dua kali kunyah habis..." Bonar meraba perutnya makin kempes dari biasanya.


"Gue lagi...ikannya cuma sekali gigit. Enaknya cuma seangin. Coba tadi kita minta duit beli nasi Padang. Bisa dapat sepuluh bungkus. Nyatanya jadi orang kaya tak enak. Makannya ngirit."


"Gimana sekarang? Gue masih lapar nih! Lhu punya duit nggak? Gue pergi beli nasi Padang. Kita bagi dua ya!" bujuk Bonar sengsara perutnya masih bunyi minta diisi lagi.


"Sabar dulu! Ntar kalau pak Alvan tidak ke mana baru kita serbu warung nasi Padang. Minum air yang banyak biar perut lhu kembung! Bisa tahan lapar! Ini cara efektif hilangin rasa lapar."

__ADS_1


"Jadi orang kaya susah juga ya! Makan dijatah! Mending gue tetap jadi orang miskin deh!" Bonar mengelus perut merasakan gendang bertalu-talu di daerah pulau tengah tubuhnya. Orang model Bonar sanggup habiskan dua bungkus nasi Padang sekali santap. Disuruh makan sepotong daging seukuran hp android mana ada rasa.


"Sudah jangan banyak bacot! Nih minum!" Tokcer menyerahkan botol minum pada Bonar untuk ganjal perut.


Mau nangis tak keluar air mata. Cukup ikat pinggang lebih kencang agar tidak terdengar lagu keroncong asal dari perut. Kedua preman itu menghela nafas memandangi makanan dari restoran mahal. Ternyata mahal tak menjamin kepuasan mulut mereka.


Terbalik dengan Tokcer dan Bonar. Penghuni rumah Citra malah kekenyangan menyantap makanan yang sangat banyak. Azzam sampai tak sanggup bergerak saking kenyang. Afifa lebih feminim tidak makan melebihi batas perut. Cuma mata gadis ini sayu menahan ngantuk. Setelah kenyang orang jadi malas pingin baringkan tubuh di ranjang melanjutkan nikmat hidup. Makan dan istirahat itu vital bagi manusia sehat. Banyak makan dan banyak istirahat akan hasilkan tubuh sehat walafiat.


Citra perhatikan kedua bocahnya yang jauh dari ok. Keduanya butuh kasur empuk untuk memanjakan mata. Waktu tidur siang bagi keduanya. Sebenarnya siap makan langsung tidur bukanlah metode bagus untuk kesehatan. Berhubung Azzam dan Afifa masih kanak-kanak maka metode itu tidak terlalu berfungsi.


"Koko...Amei..ngantuk ya? Pergi cuci tangan dan bersihkan muka! Pergi tidur saja!"


"Iya mi..." sahut Afifa paling duluan. Afifa turun dari kursi berjalan lesu ke kamar mandi. Azzam tak mau kalah menyusul sang adik. Mereka terbiasa mengurus diri sendiri sehingga Citra tidak terlalu repot turun tangan.


Di ruangan itu tinggal Alvan dan Citra. Citra agak segan pada Alvan mengingat laki itu akan tinggal di rumahnya malam ini. Citra sangat keberatan karena status mereka bukan muhrim. Namun siapa sanggup mengecewakan gadis kecil nan lucu. Melihat wajah Afifa membentuk awan mendung hati Citra terasa dicubit. Bagaimana bila gadis itu menangis?


"Citra...kok betah melamun?" tegur Alvan melihat Citra tak bergeming dari kursi padahal telah selesai makan.


"Oh...makanannya masih banyak. Mungkin Tokcer dan Bonar masih sanggup. Boleh kusuruh mereka habiskan?"


"Terserah kamu! Kamu kan nyonya rumah."


"Terima kasih...bapak tidak ke kantor?"


"Tidak...sebentar lagi juga bubar. Mungkin aku akan pergi ke rumah sakit lihat Karin. Sudah lama aku tak tahu kondisinya. Kau tidak keberatan?"


Citra berusaha tersenyum walau senyum hambar. Citra sadar Alvan tidak mungkin melupakan Karin begitu saja. Sejelek apapun akal Karin tetap saja masih tersisa cinta di hati laki itu. Perjalanan cinta mereka cukup panjang, tak masuk akal bilang bubar kontan bubar.


"Pergilah! Memang seharusnya bapak beri perhatian karena dia istri bapak!"


"Aku pergi dengan taksi saja! Tokcer kutinggalkan untuk kalian. Siapa tahu ada keperluan mendadak. Nanti akan kuminta Untung jemput aku di rumah sakit."


"Tidak perlu pak! Aku tidak ke mana-mana kok! Aku ingin istirahat hari ini. Mana lagi banyak cucian. Bawa saja Tokcer tapi setelah dia habiskan makanan ini!"


"Baiklah! Aku ke ruang depan ya!" Alvan bangkit membawa langkah ke ruang tamu beri kesempatan pada Citra bereskan sisa makanan.


Di ruang tamu masih duduk dua preman gigit jari biar merasa sedang makan. Jari kan takkan habis dimakan. Digigit puluhan kali masih utuh cuma perut juga utuh lapar.


"Kalian dipanggil Bu Citra! Masuk saja!" Alvan berkata tanpa basa basi. Memangnya Alvan harus omong apa pada kedua pegawai itu. Kalau bukan beri tugas mana mungkin diajak ngobrol panjang lebar. Pasti tidak nyambung.


Tokcer dan Bonar saling berpandangan. Ada apa Citra memanggil mereka. Diminta cuci piring atau bersihkan dapur? Tokcer masih lumayan kalau disuruh mengerjakan pekerjaan perempuan karena sering bantu ibunya. Kalau Bonar tak usah diharap. Piring dan gelas Citra pasti jadi korban kekasaran Bonar.

__ADS_1


__ADS_2