
"Lhu ya...ingatin terus kasus lama! Sudah tamat. Sad ending. Ini lagi buka buku baru yang maunya happy ending. Doain ya!"
"Ngak usah lhu minta gue doa pagi siang malam semoga lhu cepat terbebas dari belenggu masa lampau. Kalau dikumpulkan doa gue satu kapal berbobot ratusan ribu ton."
Natasha hanya menyimak tak bisa ikut nimbrung karena tak ngerti topik pembicaraan Alvan dan Daniel. Gadis ini memilih jadi pemirsa yang manis. Duduk manis saksikan dua lelaki ganteng ngobrol. Di mata Natasha tentu saja Daniel lebih ganteng dari Alvan walau faktanya Alvan jauh good looking dari Daniel. Cinta itu buta. Kalimat tak terbantahkan.
"Trim's bro!" Alvan bersyukur punya teman selalu mendukung di kala senang dan sudah.
Selanjutnya mereka ngobrol soal pekerjaan termasuk topik trending nona Selvia yang gelap mata. Hukuman Selvia akan berlipat ganda karena terlibat kasus penculikan Citra. Makin banyak penghuni penjara karena Citra. Salah sendiri ambil jalan potong untuk capai tujuan. Ada jalan lurus tak mau. Justru pilih jalan ke kiri hingga tersesat.
Detik demi detik bergulir tak terasa hampir tiga jam Bu Dewi dioperasi namun belum ada tanda operasi berakhir. Lampu merah di depan pintu operasi masih menyala artinya operasi masih berlangsung.
Alvan menanti dengan hati kebat-kebit. Bagaimana akhir dari perjuangan hidup Bu Dewi sekaranglah penentuan.
Natasha sudah ngantuk bersandar pada Daniel untuk mencoba pejamkan mata ikuti permintaan tubuh. Alvan merasa tak enak menyusahkan Daniel ikutan berjaga menunggu hasil operasi.
"Dan ..ajaklah gadis lhu pulang! Ini sudah lewat tengah malam!" ujar Alvan bernada pelan. Alvan takut suaranya membangun gadis Daniel.
Daniel melirik Natasha sekejap lantas menggeleng. Tangan Daniel bergerak memeluk gadisnya agar lebih nyaman.
"Kita tunggu bersama. Natasha harus terbiasa kalau mau jadi istri Daniel. Harus kuat tak boleh manja. Masa Natasha kalah sama Citra? Tidak bisa menyamai Citra paling tidak harus berdiri setara."
"Kamu salah Dan. Setiap wanita punya kelebihan dan kekurangan sendiri. Kau pikir Citra sempurna? Dia juga punya kekurangan. Itu lumrah sebagai manusia normal! Kita tak perlu menyamakan wanita kita dengan wanita lain. Cukup kita tahu lebih dan kurangnya."
"Aku tak melihat kekurangan Citra. Nilainya plus melulu. Aku salut pada Citra. Hatinya tulus walau berkali kau sakiti dia tetap saja ada pintu maaf untukmu. Kau beruntung!"
Alvan mengangguk mensyukuri kesempatan yang telah diberikan oleh Citra. Di mata Alvan isteri lebih banyak kelebihan daripada kekurangan namun Alvan tidak ingin memuji Citra setinggi langit di depan lelaki lain. Cukup dia yang tahu semua tentang Citra.
Obrolan kembali terputus karena mereka masing-masing juga sedang dilanda oleh rasa ngantuk. Tak ada yang dapat mereka lakukan selain menunggu. Kata menunggu itu adalah kata yang paling membosankan.
Waktu terus berjalan menggeser jarum jam ke angka yang lainnya. Suasana rumah sakit makin sepi karena banyak aktivitas sudah berhenti selain beberapa perawat menjaga di bagian masing-masing.
Alvan hanya bisa panjatkan doa pada Ilahi agar mamanya di beri kesempatan menembus rasa bersalah pada anak mantu dan cucunya. Bu Dewi tidak sempat mengatakan apapun sebelum kolaps. Kalau umur Bu Dewi pendek dia pergi tanpa pesan terakhir. Amit-amit semoga tidak terjadi.
Lima jam berlalu, bunyi Ting lampu ruang operasi berubah hijau. Alvan segera bangkit berjalan ke arah pintu ruang operasi. Daniel tidak dapat bergerak karena Natasha bersandar padanya. Kalau Daniel bangun berarti Natasha akan ikut terbangun. Daniel iba melihat gadisnya terpaksa ikut menderita mengikuti dia menunggu operasi Mama Alvan.
Pak Zamroni dan Pak Eka duluan keluar tanpa Citra. Hati Alvan mencelos takut mendengar berita tak mengenakan.
Alvan secara tak sadar mencekal tangan pak Zamroni selaku dokter utama dalam operasi ini.
"Gimana mamaku dok?" buru Alvan tak sabar.
"Alhamdulillah sejauh ini operasi berjalan sukses. Cuma ada efek buruk harus kami katakan. Kita tak tahu apa yang akan terjadi setelahnya. Kami berusaha semaksimal mungkin perkecil efek buruk tapi itu rahasia Tuhan. Kita tak tahu bagaimana kondisi mamamu bila sadar." jelas pak Zamroni agar Alvan terima semua akibat operasi otak.
"Yang terburuk apa?"
"Banyak...ingatan mamamu akan jadi lemah, susah bicara, bahkan ada kemungkinan lumpuh. Ini akibat pembuluh darah pecah. Ibumu masih untung selamat. Banyak kasus pecah pembuluh darah langsung meninggal. Kita berdoa saja nak! Nanti Citra akan jelaskan lebih rinci. Dia wanita kuat dan hebat. Pertahankan dia di rumah sakit ini. Kelak kalau ada operasi begini kami akan libatkan dia! Dia pemula yang sangat jempolan." Pak Zamroni memuji Citra berkat keterampilan Citra menangani syaraf Bu Dewi yang telah rapuh.
"Terima kasih pak! Citra takkan ke mana karena dia adalah isteri aku!" Alvan pertegas status Citra kepada dokter senior di rumah sakit. Kedua dokter itu tertawa maklumi mengapa Citra demikian bersemangat perjuangkan kesembuhan Bu Dewi. Mertua sendiri.
"Pantesan Citra sangat teliti. Dia berusaha minimalisir cacat pada otak ibumu. Kamu beruntung punya isteri secakap Citra. Masih muda berprestasi. Jadi anak-anak pintar tadi anakmu?"
"Iya...mereka anak-anak aku!" sahut Alvan bangga satu keluarganya dapat pujian dokter yang punya jam terbang tinggi.
__ADS_1
Pak Zamroni tepuk tangan salut pada nasib Alvan dikaruniakan anak sepintar Afisa. Kecil-kecil sudah ngerti pelajaran kedokteran. Kelak bisa jadi penerus mereka yang akal pensiun.
"Aku suka pada anakmu. Sinar matanya tajam tanda cerdas."
"Dia sekolah di Beijing. Baru kelas tiga SD."
"Keren...bibit bagus! Sekolahkan dia semampu kamu. Dia akan jadi dokter hebat seperti ibunya. Ok kami permisi dulu. Mau istirahat sebentar. Kami telah kalah melawan umur." Pak Zamroni pamit untuk istirahat. Lina jam nonstop operasi bukanlah pekerjaan mudah.
Butuh konsentrasi dan pikiran jernih agar tak terjadi kesalahan. Satu sayatan salah akan bawa akibat fatal bagi pasien.
"Terima kasih telah bersusah payah."
"Itu tugas kami. Permisi..." pak Zamroni tak dapat menahan rasa penat di seluruh tubuh. Rasanya semua tulang mau rontok akibat lama berdiri. Pak Eka lebih parah. Jalan saja payah dipapah pak Zamroni.
Kedua dokter senior pergi cari tempat meluruskan badan. Alvan masih menanti Citra keluar dari ruang operasi. Ada tersimpan rasa haru di hati Alvan. Bu Dewi gunakan segenap trik kotor singkirkan Citra tapi Citra balas dengan segenap kasih sayang. Seluruh perhatian Citra tercurah pada kesembuhan Bu Dewi.
Sosok mungil yang ditunggu Alvan akhirnya muncul dengan wajah super lelah. Untung Citra masih muda belum muncul kerutan di wajah. Andai jatuh pada dokter berumur pasti telah bertambah kerutan di pipi.
"Mas..." panggil Citra dengan wajah agak pucat. Lingkaran hitam tercetak di bawah mata Citra tanda lelah.
"Citra ..ayok duduk! Wajahmu pucat! Mas cari minum ya!"
"Tak usah mas! Aku cuma ngantuk. Eh ada kak Daniel dan..." Citra menunjuk wanita yang berada dalam pelukan Daniel.
"Calon istri Daniel." sahut Alvan cepat sebelum Daniel jawab.
"Oh...aku ingin tidur sebentar mas! Aku bukan tukang ronda yang baik."
"Baiklah! Kau mau istirahat di mana?"
"Suruh Daniel bawa pulang saja!"
"Jangan! Kak Daniel juga ngantuk! Bahaya bawa mobil. Oya...mama mas dalam kondisi stabil. Sekarang dibawa ke ICU dulu tunggu mama sadar dari efek obat bius."
"Aku dengar apapun omongan kamu. Kita ajak Daniel ke ruang praktek kamu?"
"Ruang praktek aku kecil mas! Mana muat segini banyak orang. Bagusnya cari hotel sekitar sini. Mereka belum nikah tak boleh sekamar ya!"
"Iya .." Alvan memapah istrinya yang jauh dari kata ok. Citra pasti sangat lelah lakukan operasi full lima jam.
Mereka berdua singgah di tempat Daniel yang juga terngantuk seperti ayam sedang menyetujui usulan peternak besok dipotong. Mengangguk-angguk tanpa sandaran.
"Ssttt Dan..." bisik Alvan takut mengejutkan Natasha.
"Sudah? Gimana Tante?" Daniel berseru senang begitu lihat Citra. Citra wanita pujaan Daniel. Natasha ikut kaget dengar seruan Daniel. Ngantuk yang merajai mata seketika buyar.
Netra Natasha menangkap satu sosok mungil berpakaian scrub suits seragam dokter bedah yang tersanitasi. Wajahnya cantik imut. Cuma sayang tampak guratan kecapekan di raut wajah cantik itu.
"Ini dokter..."
"Ini Citra istriku...dokter yang operasi mama aku!" Alvan perkenalkan Citra pada Natasha.
Mata Natasha kontan membesar ternyata ini orang yang telah merampas seluruh hati Daniel. Pantas Daniel tergila-gila pada Citra. Dokternya cantik juga hebat di bidangnya.
__ADS_1
"Wah... cantiknya. Pantas Daniel tergila-gila padamu!" ujar Natasha terus terang.
Citra yang ngerti hanya melongo tak paham. Daniel tersipu dibuka kartu oleh Natasha. Daniel kan malu dianggap pagar makan tanaman. Bini teman sendiri diembat.
"Kok tergila padaku? Pada kamu dong! Sekarang kalian istirahat. Mama mas Alvan sudah siap dioperasi. Kita tinggal tunggu hasilnya."
"Kami pulang dulu ya! Ini sudah masuk subuh." kata Daniel meraih tangan Natasha agar punya teman berbagi rasa ngantuk.
"Jangan bro! Kalian cari hotel dekat untuk tidur. Gue yang bayar. Pisah kamar lho!" olok Alvan bikin Daniel mendelik. Otak Daniel masih waras untuk berbuat jahat pada Natasha. Kalau Daniel mau sudah dari dulu dia dapatkan Natasha.
"Ngak usah. Pulang saja. Bawa anak kecil masuk hotel ntar dipikir pedofil."
"Lhu waras kan Dan? Bahaya lho bawa mobil dalam keadaan ngantuk! Gimana kalau pulang sama taksi. Besok gue suruh Tokcer antar mobil lhu!"
"Lhu lupa ya gue ini kalong? Tenang saja! Gue akan hati-hati nyetir. Jalan kayak siput, tahun depan sampai rumah juga tak masalah."
"Lama amat!"
Semua tertawa dengar gurauan Daniel. Akhirnya Daniel dan Natasha meninggalkan rumah sakit pulang untuk merajut mimpi di pagi subuh. Ntah mimpi indah atau mimpi orang malas.
Alvan dan Citra memutar langkah menuju ke ruang praktek Citra. Di ruang itu tak ada tempat layak untuk pejamkan mata selain kasur untuk periksa pasien. Citra tak punya pilihan lain selain rebahkan tubuh lunglai ke atas kasur luruskan tulang.
Alvan ikutan berhimpitan dengan Citra di atas kasur sempit. Keduanya berpelukan tidur menyambut pagi yang akan hadir tak lama lagi. Citra terlalu ngantuk untuk memikirkan hal lain. Tidur itulah topik di benak Citra.
Ntah berapa mereka tidur. Tahu-tahu terdengar hiruk pikuk di luar ruang praktek Citra. Alvan duluan terbangun melirik ke arah Citra yang masih pulas. Alvan bangun perlahan takut ganggu tidur Citra. Alvan tidak tega bangunkan Citra yang benar-benar kelelahan semalaman urus Bu Dewi.
Alvan keluar lihat Fitri dan Nadine sudah duduk di depan pintu ruang praktek Citra. Kedua bawahan itu menunduk tak berani menantang mata Alvan. Tanpa omong mereka ngerti Citra dan Alvan tidur di ruang praktek Citra. Kabar Citra operasi mertua hingga subuh terdengar seantero rumah sakit.
Hasil operasi termasuk sukses walau belum tahu gimana perkembangan tubuh Bu Dewi.
"Jangan ganggu Bu dokter! Biar dia tidur sepuasnya. Dan kau Nadine siapkan sarapan Citra. Ini yang beli sarapan!" Alvan buka dompet keluarkan dua lembar uang warna merah.
Setelah beri pesan Alvan segera jenguk pak Jono sekaligus mau numpang bersihkan wajah dari sisa tidur tak nyenyak. Pikiran Alvan kacau balau. Tak tentu mana harus didahulukan. Bu Dewi sekarat, pak Jono masih dalam perawatan dan Afisa butuh liburan menghibur selama di tanah air. Alvan merasa bersalah tak dapat beri yang terbaik pada Afisa.
Pak Jono sedang sarapan dibantu seorang perawat khusus. Lelaki tua itu agak senang lihat kehadiran Alvan. Dari kemarin Pak Jono tak melihat istrinya. Sebagai suami pak Jono tentu saja kehilangan sosok yang dampinginya puluhan tahun.
"Selamat pagi pa!" sapa Alvan kurang semangat.
"Pagi ..hari ini papa merasa lebih kuat! Mana mamamu? Papa mau pulang!"
Lidah Alvan terasa terlipat tak sanggup menjawab. Apa yang harus Alvan katakan pada papanya kalau Bu Dewi sedang sekarat. Bisa-bisa Pak Jono kembali drop setelah mendengar kabar buruk ini.
"Begini pa...Mama kurang enak badan maka Alvan suruh dia istirahat! Hipertensinya turun naik maka Alvan tak ijinkan mama jaga papa untuk sementara ini." Alvan berbohong dengan mulus demi hindari papanya jatuh pingsan.
"Oh...sekarang mamamu di mana?"
"Ada dirawat di bawah! Biar mama tenang berada di ruang yang banyak ibu-ibu. Ada teman ngerumpi." Alvan makin lancar bohong. Pak Jono mangut tapi dipenuhi wajah ragu. Ada tidak percaya terlintas di otak pak Jono. Bu Dewi tak mungkin abaikan dia walau kurang sehat. Mengapa tidak gabung satu ruang dengannya.
"Nanti ajak mamamu ke sini ya!"
"Iya kalau tensi darah mama mulai stabil. Mama syok lihat papa drop lagi. Tapi semua akan berlalu. Papa istirahat saja. Nanti diperiksa Citra apa sudah boleh pulang!"
"Iya ..bilangin mama kalau papa sudah sehat! Tak usah kuatir lagi."
__ADS_1
Pak Jono melanjutkan sarapan sementara Alvan masuk ke kamar mandi untuk cuci muka.
Pak Jono menemukan keganjilan di wajah Alvan. Anaknya tampak pucat menyimpan sesuatu. Gerak gerik Alvan juga mencurigakan. Tak mungkin hanya hipertensi Bu Dewi diasingkan.