
Daniel terangan menyatakan kalau dia tetap mencintai Citra. Citra telah merebut seluruh cinta Daniel dari wanita lain. Cinta Daniel dari dulu hingga sekarang tetap pada citra kalaupun dia jatuh cinta pada wanita lain itu bukanlah cinta yang tulus keluar dari hati kecilnya. Itu hanya cinta pelarian.
"Dengar ya Bro...Citra itu milik pribadi yang tak bisa dibagi. Kini aku sadar aku tak bisa hidup tanpa Citra. Semoga suatu hari kamu akan mendapatkan wanita yang sesuai dengan hatimu."
"Amin deh! Kau telepon cuma kasih kabar ini?"
"Oh maaf! Aku mau minta tolong pada kamu untuk sediakan tempat buat Heru tembak cewek pujaannya. Tolong romantis dikit!"
"Heru dapat gebetan? Orang mana? Dapat cewek kayak beli baju di mal saja! Tinggal pilih dari pajangan. Emang ada cinta di hati playboy cap kadal buntung itu? Sebelumnya kejar yayang aku si Citra. Kena karma orang yang dicintai keponakan kandung. Cewek mana sial kena hembusan cinta palsu di playboy?"
"Ini adiknya mama angkat Afisa."
"What??? Cewek bermata sipit? Dari mana dia culik saudara jauhmu itu?"
"Dia kan antar Afisa ke Singapura. Jumpa di sana. Katanya jatuh cinta pada pandangan pertama. Kali ini dia tampak serius mau nikahi gadis itu. Pesenam kayak Afisa."
"Anak baik?"
"Menurut anak-anak Tante mereka orangnya baik dan penyayang. Dia bawa dua gadis lain. Dimataku mereka tidak secantik isteriku tapi mereka semua manis. Masing-masing punya daya tarik sendiri. Kau boleh coba lirik satu supaya jangan asyik ingat bini orang!"
"Ide bagus...ok..kau bawa mereka ke cafe malam ini! Kulihat gimana sosok gadis bermata segaris? Siapa tahu ada klik. Tapi di hatiku tetap yayang Citra is the best."
"Jangan suka berkhayal bro! Citra itu hanya milikku seorang. Siapa ingin rebut dia akan aku sate sosisnya. Kucincang lalu kupanggang sampai gosong."
Daniel bergidik tanpa sadar meraba sosis di tengah paha. Kasihan pusaka keramatnya bila harus jadi korban keganasan laki pencemburu.
"Kamu alih profesi jadi tukang jagal?"
"Tergantung kondisi. Bisa juga jadi dukun sunat burung nakal yang suka curi makan di rumah teman."
Daniel dibuat ngakak oleh kalimat ancaman Alvan. Walau sangat cinta pada Citra, belum terlintas di benak Daniel merusak kebahagiaan Alvan dan Citra. Melihat orang yang dia sayangi hidup bahagia hati Daniel ikut bahagia. Inikah yang dinamakan cinta sejati.
"Jadi orang tidak usah tamak. Kamu cukup jadi CEO saja."
"CEO juga manusia. Bisa fleksibel di mana dibutuhkan." kata Alvan dingin.
"Oke...oke...aku tunggu kalian saja!"
"Siap Isya kami datang. Pokoknya dekor yang bagus agar keduanya terkenang pada moments romantis mereka."
"Susah beres sobat! Bawa juga cewek sisanya. Mana tahu bisa timbul aliran listrik."
"Tenang ..kubawa!"
"Siippp...aku kerjakan sekarang!"
"Trim's bro."
Tak ada kata pamit hubungan terputus gitu saja. Alvan lega telah melaksanakan janji pada Heru. Membantu Heru sama saja membantu diri sendiri. Alvan bukan tak tahu Heru selalu kagum pada bini kecilnya. Kalau orang kudu cinta mana pantang hubungan keluarga. Bahkan ada yang kawin sedarah. Dunia ini makin tua makin menggila.
Kini pikiran Alvan kembali pada Karin. Apa yang menyebabkan wanita itu memilih pergi cari kedamaian? Karena ulah Alvan tidak open padanya atau memang sudah tobat. Apapun adanya tak mengubah cara pandang Alvan pada Karin. Wanita itu tidak berharga sedikitpun di mata Alvan. Sudah terlalu banyak kesalahan dibuat oleh Karin. Alvan sudah tak tahu harus pakai cara tambah atau perkalian untuk hitung dosa Karin.
Alvan memikirkan Karin namun hati tertuju pada Citra. Apa Citra mau jumpai Karin di rumahnya. Citra pasti canggung harus masuk ke rumah madunya. Dia sebagai isteri sah tak dapat fasilitas seperti Karin. Malah harus berjuang besarkan tiga anak Alvan.
Alvan tak ingin menyakiti hati Citra lagi maka mengambil inisiatif menghubungi Citra untuk mengabarkan bahwa karir ini bertemu. Alvan tidak ingin pergi sendirian untuk jumpa Karin sebelum berangkat ke Jawa Tengah. Citra harus tahu bahwa dia dan Karin telah tak ada kisah harus dirangkum lagi. Kisah cinta mereka telah berakhir. Alvan sendiri tidak mengerti apakah dia benar-benar mencintai Karin atau hanya sekedar terpesona. Yang Alvan tahu adalah dia sangat membutuhkan Citra dan tidak ingin kehilangan wanita itu.
Benda pipih di atas meja kembali difungsikan untuk meneleponi Citra.
__ADS_1
"Halo sayang... assalamualaikum..lagi ngapain?" sapa Alvan lembut sebelum bicara ke topik utama.
"Waalaikumsalam...aku lagi baca buku saja. Anak-anak berada dalam kamar masing-masing. Keduanya belajar sekarang berharap esok bisa rilex tak perlu baca buku lagi."
"Baguslah! Tamu-tamu pada ke mana?"
"Aku minta Tokcer bawa mereka jalan ke Monas."
"Oh...begini sayang...Karin ada telepon kabari besok dia berangkat ke Jawa Tengah. Dia mau jumpa kamu dan anak-anak. Kau bersedia?"
"Kok mendadak? Mas kan tak bisa pergi sekarang. Papa dan mama akan segera berangkat Selasa ini. Banyak persiapan harus kita selesaikan."
Citra salah sangka pikir Karin meminta Alvan mengantarnya ke Jawa Tengah. Permintaan Karin sangat mendadak sehingga mereka tidak mempunyai persiapan jadwal untuk mengantar Karin ke sana.
"Karin dijemput orang pesantren. Mereka mengutus orang jemput Karin. Dia cuma mau jumpa untuk terakhir kali sebelum pergi ke sana. Aku serahkan padamu. Apapun keputusan mas hargai."
"Aku sih tidak keberatan cuma kendalanya di Azzam. Aku takut Karin tidak tahan dengan mulut Azzam. Dia orang sakit kalau dapat tekanan demikian besar apa jadinya?"
"Aku juga terpikir ke situ. Dari setiap obrolan dia menyinggung nama Karin dengan nada sinis. Dia pasti akan bikin malu Karin."
"Jadi bagaimana? Atau kita bawa Afifa saja. Azzam kita tinggalkan bersama Andi. Bukankah mereka akan pergi jalan besok?"
"Ide bagus tapi Karin sangat berharap jumpa Azzam dan Afifa. Dari sudut nadanya seakan dia pamitan hendak pergi jauh. Aku menjadi merinding ingat nada suaranya."
"Gitu ya! Kalau gitu aku akan bicara dengan Azzam agar anak itu jaga mulut."
"Semanis apa mulut anakmu itu tetap tertinggal rasa pahit untuk orang yang dengar. Aku yang papinya saja sering kena sindiran halus. Apa kau pikir dia akan bebaskan kuping Karin dari racun mulutnya?"
"Kok gitu bilang anak sendiri? Apa bukan turunan dari gen Lingga?"
"Mas sedang bikin perhitungan dengan aku?"
"Mana berani ratuku sayang? Ini cuma perumpamaan. Sudah ya! Kabari mas kalau Azzam sudah janji tidak meremukkan Karin."
"Iya!"
Alvan memilih akhiri pembicaraan sebelum dibabat Citra. Isterinya tampak lembut tapi suka menyudutkan Alvan ke gang buntu. Alvan sampai tak mampu loloskan diri dari cercaan Citra.
Menjadi kepala keluarga juga tidak gampang. Ada saja masalah dalam rumah tangga. Dari istri, dari orang tua dan anak. Ternyata banyak isteri banyak pening. Herannya ada orang senang mengumpulkan banyak isteri. Ntah untuk apa? Bagi Alvan itu adalah pelajaran berharga. Tidak akan terang kedua kali.
Alvan segera pulang begitu siang menjelang. Alvan ingin makan siang di rumah yang sangat jarang dia lakukan. Sebagian waktu tertuang ke kantor. Makan siang di kantor ataupun sekali-kali kamu klien makan bersama.
Hati ini Alvan ingin habiskan waktu bersama keluarga. Sekarang Alvan baru ngerti pentingnya keluarga sakinah. Berkat dorongan keluarga Alvan bisa lalui semua prahara satu persatu.
Alvan tiba di rumah pas waktu makan siang. Suasana rumah sepi tanpa ada aktifitas menarik perhatian. Citra ntah di mana. Alvan yakin kedua anaknya berada dalam kamar. Kedua anak itu suka sekali habiskan waktu dalam kamar tanpa ada keinginan melihat dunia anak-anak yang lebih fantasi.
Alvan mencari Afifa duluan untuk lepaskan rasa rindu pada anak bungsunya.
Alvan mengetok pintu kamar Afifa untuk ajar anak sopan santun. Semua bermula dari didikan orang tua. Andai orang tua beri contoh bagus niscaya anak juga akan mengikuti contoh bagus. Sikap orang tua menjadi acuan bagi anak muda.
Tok tok. Alvan mengetok pintu kamar Afifa. Alvan tahu pintu itu tidak dikunci. Alvan bisa saja masuk tanpa permisi. Namun Alvan hargai privasi Afifa. Walau anak kecil Afifa berhak dapat ruang pribadi.
Pintu terbuka. Seraut wajah imut. Mata itu menatap Alvan sesaat lalu tersenyum.
"Papi...kirain mami! Ayok masuk!" tangan mungil Afifa menarik telapak tangan yang jauh lebih besar agar tubuh Alvan pindah ke dalam.
"Lagi belajar?"
__ADS_1
"Sudah siap Pi. Baru saja ngobrol dengan Cece. Dia sudah berangkat ke Beijing. Kalau sudah tiba sana dia akan kasih kabar ke Amei."
Afifa mendorong Alvan duduk di tempat tidurnya yang sekarang sudah besar. Dulu cuma muat untuk satu orang alias single bed, tempat tidur sekarang ukuran untuk dua orang.
Tempat tidur berguncang kena tubuh besar Alvan. Afifa ikut duduk di samping Alvan membuat pemandangan jadi aneh. Satu tinggi tegap dan satunya kecil mungil.
"Afifa mau liburan ke tempat Afisa kan?"
"Mau dong! Tak sabar ingin balik ke Beijing. Apa kita boleh tinggal di sana?" tanya Afifa lugu tak tahu jantung Alvan nyaris copot mendengar permintaan Afifa. Dunia Alvan hampir runtuh anak kesayangan ada niat bergabung dengan sang kakak.
"Sayang papi...kita ke sana untuk liburan saja. Papi janji asal ada liburan akan bawa kalian ke sana. Ataupun Cece kamu libur kita ajak ke sini! Ini tempat kita! Untuk apa tinggal di tempat orang lain." Alvan menerangkan isi hati dengan cara paling sederhana.
"Tapi Amei sudah janji sama Cece setelah naik kelas kita pindah sana."
Alvan mengangkat Afifa ke pangkuan agar anak itu tahu Alvan sangat mencintainya. Alvan tak ingin jauh dari penerusnya. Alvan bisa gila bila dipisahkan dari kurcacinya tanpa sisa. Sudah Afisa jauh di mata apa yang dua lagi harus terpisah juga?
"Amei sayang ..papi dan mami kerja di sini! Gimana kalau ke sana? Siapa yang urus perusahaan papi? Amei kan mau sekolah tinggi biar jadi dokter kayak mami kan? Itu butuh banyak uang jadi papi dan mami harus rajin cari duit."
Mata bening Afifa beradu dengan bola mata Alvan. Mata itu berkilauan kena pancaran sinar bola lampu. Alvan melihat ada bintang kecil di situ. Alvan mana rela kehilangan pijaran indah di mata anaknya.
"Lalu Cece akan sendirian di sana. Amei kasihan sama Cece. Kita di sini rame sedang Cece kesepian."
Alvan tergugu tak bisa menjawab. Afifa memikirkan kakaknya yang hanya sendirian tanpa saudara. Kedua orang tua angkatnya juga sibuk. Siapa yang temani gadisnya di kala sepi.
"Cece pulang sini saja!" Alvan beri jawaban agar Afifa senang.
Di luar dugaan Alvan kalau Afifa menolak Afisa pulang. Kepala mungil itu menggeleng kencang.
"Tak bisa Pi...Cece sedang di puncak prestasi! Cece dihargai di sana. Pulang ke sini belum tentu bisa gitu."
"Lalu apa rencana anak papi?"
Afifa mengedik bahu tak punya solusi untuk Alvan. Salah satu di antar mereka harus mengalah. Jalannya cuma satu, yakni Afisa pulang ke sini atau Azzam dan Afifa ke sana. Dari situ ketiga anaknya baru bisa kumpul.
"Tanya mami saja!"
"Baik...sekarang kita makan dulu! Apa om Gi kamu sudah pulang?"
"Amei nggak tahu Pi. Amei dalam kamar saja dari pagi. Amei sudah siapkan diri untuk ujian hari Senin nanti."
"Good...itu baru anak papi! Kita makan dulu ya! Mami pasti sudah tunggu di luar. Papi gendong atau jalan sendirian?"
Afifa melompat bangun dari kasur menolak digendong. Afifa mau perlihatkan pada Alvan kalau dia sudah dewasa. Malu kalau masih harus digendong sang papi. Afifa berjalan dahului Alvan ke ruang makan.
Alvan menyusul dari belakang menatap gundah punggung anaknya. Baru saja dia bernafas lega terbebas dari satu persatu prahara kini muncul lagi persoalan baru. Bukan dari luar pula melainkan dari internal. Alvan harus hati-hati tangani masalah ini. Salah sedikit dia akan kehilangan buah hati.
Di ruang tamu sudah Azzam dan Citra sedang menata meja makan. Azzam duduk tenang di kursi menanti hidangan di bawa Uyut mereka dari rumah sebelah. Citra dilarang masak oleh Uyut Azzam. Bu Sobirin mau cucu dan cicitnya cicipi masakannya sebelum bertolak ke luar negeri. Dua hari lagi Bu Sobirin dan suami akan berangkat ke Tiongkok untuk dampingi sepasang suami isteri yang stroke. Satu berat dan satunya lagi ringan.
Afifa dan Alvan bergabung di meja makan. Azzam melirik Alvan sekilas lalu menunduk. Alvan menduga Citra sudah bicara dengan Azzam soal Karin. Dari ekspresi wajah jelas Azzam tidak menerima permintaan Citra kunjungi Karin. Di hati Azzam Karin itu telah merebut kebahagiaan mereka. Karin sukses singkirkan Citra dari hidup Alvan.
"Gi belum pulang?"
"Belum...kita tunggu aja! Kasihan om Gi ditinggal makan sendirian." kata Afifa melayangkan mata ke depan.
"Iya sayang...kita tunggu om kamu! Azzam sudah lapar?" Alvan mencoba cari perhatian Azzam.
Si lajang hanya tersenyum tipis tanpa mengeluarkan kata dari bibir.
__ADS_1