ISTERI CEO YANG TERLUPAKAN

ISTERI CEO YANG TERLUPAKAN
Api Cemburu


__ADS_3

Kedua makhluk hidup itu segera mencari Untung untuk minta petunjuk kerja mereka selanjutnya. Andi mengetok pintu perlahan takut ganggu tangan kanan bos. Andi tetap hargai Untung sebagai senior walau dia telah berjasa bongkar konspirasi jahat dalam perusahaan. Andi masih belum matang di bidang bisnis, jalan Andi masih panjang untuk capai ke posisi Untung.


"Masuk!" terdengar suara Untung dari dalam. Untung tentu sudah terima perintah Alvan untuk layani dua orang ndeso itu. Mereka orang kasar tapi jujur. Tokcer boleh bertampang preman namun hati Cinderella.


Andi dan Tokcer masuk sedikit segan mendekati takut. Belum kerja susah diberi hadiah. Takutnya Untung iri hati mengira Andi menghasut bos minta sesuatu.


Syukurlah ekspresi wajah Untung biasa saja cuma muka tampak tambah bundar. Mungkin kebanyakan makan udang dan kepiting hasilkan lemak dua kali lipat.


"Kamu supir baru pak Alvan?" tanya Untung tanpa bangkit dari tempat duduk. Gaya Untung seperti bos sedang meneliti calon pekerja baru.


Tokcer grogi disidak Untung yang tentu punya kuasa lebih dari Andi.


"Iya pak. Aku Tokcer..."


"Tokcer? Nama aneh...emang kamu berapa bersaudara?"


"Sendiri doang pak! Tinggal sama ibu. Ayah sudah berpulang ke Rahmatullah."


"Baru hari ini aku dengar ada orang bernama Tokcer."


Andi gatal mulut langsung ikut nimbrung walau belum jatahnya angkat bicara.


"Nama Tokcer ada sejarahnya pak! Ayah Tokcer kasih nama itu karena kawin langsung hamil anak. Artinya burung perkututnya tokcer maka dinamakan putranya si Tokcer. Ya kan Tok?" mulut ember Andi tak bisa diajak jaga martabat Tokcer. Rahasia terselubung dalam keluarga dibuka secara umum.


"Benar Tok?" tak urung Untung tertawa geli dengar asal mula nama Tokcer.


Tokcer tersipu malu tidak iyakan juga tak mengangguk. Andi memang suka asal bunyi tak tahu di mana dia berdiri. Di kantor sebesar ini masih berani bercanda dengan senior. Andi tak tahu Tokcer sudah panas dingin disuruh jumpa guru pembimbing.


"Ini hadiah dari pak Alvan! Beli sepatu dan pakaian layak pakai ke kantor. Kalau mau kerja lama di sini yang jujur dan rajin. Jangan membantah kalau disuruh majikan! Terutama kau Tok! Dua harta pak Alvan sedang kau kawal. Jangan lengah! Jauhi hal negatif karena pak Alvan tak pernah ngasih kesempatan kedua. Ingat semua kata-kata aku! Kau Andi balik ke ruangmu dan kau Tokcer ikut aku ke parkiran untuk pelajari mobil yang bakal kau jaga!" Untung berkata sambil menyodorkan dua amplop cukup tebal.


Andi dan Tokcer masih ragu mengambil dua amplop di meja Untung. Serasa mimpi baru kerja sudah dapat bonus plus plus. Bisa dibayangkan betapa baiknya bos mereka.


"Ambil! Mau bermalasan ya!" bentak Untung lihat kedua laki muda ini masih mematung tak maju.


Tak mau dibentak dua kali Andi dan Tokcer maju bersamaan. Amplop di tangan terasa adem bakal jadi pengisi kantong mereka. Kantong yang biasanya menganggur tak punya kerjaan kini pasti repot harus diisi dengan lembaran yang ntah warna merah atau biru.


Senyum tipis bertengger di bibir Andi. Malam ini dia bisa pamer belanja di toko pakaian dekat komplek mereka. Biasa beli kaos seharga lima puluh ribu kini bisa beli kemeja ratusan ribu. Untung jumpa pak Alvan menaikkan derajat mereka berdua.


Andi pamitan membawa amplop yang telah terselip di saku celana. Nyaman banget berjalan dengan saku padat. Hari ini Andi merasa jadi orang terkaya sedunia dengan uang tak seberapa. Mungkin hari ini sejarah pertama kali Andi memegang uang setebal gitu.


Sebentar-sebentar Andi mengelus sakunya rasakan apa uang itu nyata atau hanya ilusi. Sakunya tetap padat artinya dia tidak sedang bermimpi. Andi merasa lebih ganteng ketimbang hari biasa. Dari situ Andi bersyukur temannya telah temukan kerja cocok untuk ukuran pendidikannya. Kini tinggal usahakan temannya satu lagi dapat kerja si Bonar anak Batak. Si Bonar anak yatim piatu. Orang tua meninggalkan sewaktu pulang ke Sumatera. Kapal yang ditumpangi tenggelam di lautan. Semoga Alvan punya lowongan untuk Bonar.


Untung mendidik Tokcer kenali mobil mewah Alvan. Mobil Alvan beda dengan angkot. Mobil Alvan serba matic penuh tombol rahasia. Untung terangkan satu persatu dengan sabar sampai Tokcer paham. Tokcer dasarnya memang supir tidak terlalu sulit belajar.


Di dalam ruang kantor Alvan kedatangan wakilnya yang serba agung. Sekilas mata memandang takkan percaya wanita seanggun Selvia punya jiwa maling. Maling elite tapi berbahaya.

__ADS_1


Selvia tetap bergaya elegan temui Alvan bahas kerja sama dengan klien dari Jepang. Andai Andi tidak deteksi kecurangan Selvia sampai mati Alvan tak percaya wanita anggun itu ular berbisa.


Selvia tunjukkan proposal dari pihak Jepang untuk dipelajari Alvan. Selvia tak tahu kalau Untung sudah siapkan segalanya untuk temui klien mereka. Alvan pura-pura belum mengetahui soal klien dari Jepang padahal Untung telah mengatur semuanya.


Selvia duduk cantik menyilang kedua kaki lalui paha mulusnya. Pakaian ketat warna putih bersih menambah pesona Selvia. Daya pikat Selvia terpancar dari setiap inchi tubuh wanita itu. Sayang Alvan tidak bernafsu pada wanita culas. Cukup sekali berjalan di jalan sesat. Alvan takkan salah lagi mencari lubang maut mengubur diri sendiri.


"Van...kau tahu nggak? Si Heru berhasil menemukan dokter pujaannya. Semalam dia berada di tempat pengungsian demi kejar buah hatinya. Lihat postingan foto si tolol Viona! Dia pikir bisa gaet Heru dengan otak kosongnya." Selvia tersenyum perlihatkan gigi berbaris rapi. Putih bersih minta diadu gigi pejantan tangguh.


"Maksudmu?" Alvan terhenyak kaget tak sangka Heru berani kunjungi Citra di lokasi gempa. Heru maju selangkah dari Alvan. Alvan jaga anak di rumah sedang Heru maju lancarkan serangan fajar.


Selvia menyodorkan ponsel berisi rekaman Viona di akun milik pribadinya. Di situ terekam segala kegiatan para pengungsi dan para medis. Sosok yang dirindukan Alvan memang berada di dalam rekaman. Laporan Selvia akurat tanpa cela.


Dada Alvan terasa terbakar api cemburu dan amarah setinggi gunung Mount Everest. Kalau punya sayap ingin sekali Alvan terbang ke lokasi pengungsian bawa kembali isterinya dari incaran elang jantan nan nakal. Kalimat makian bertaburan dalam hati Alvan kutuk kenekatan Heru kejar Citra sampai ke lokasi bencana.


Mengapa tak terpikir oleh Alvan ada orang senekat Heru. Berdasar kekuatan Heru bukan hal sulit terbang ke lokasi gempa. Paling pakai alasan sumbang bantuan ke korban gempa. Namanya terangkat sebagai dermawan dapat bonus jumpa dokter incaran.


"Heru bawa Viona beri bantuan ke lokasi. Ternyata dokter pujaan Heru sedang bakti di sana. Semalam Heru tidak pulang temani doi. Katanya sore ini dia mau balik ke lokasi untuk temani dokter kecilnya." Selvia masih santai bercerita betapa Heru telah majukan pion jauh tinggalkan Alvan yang terpaku di tempat.


Secara diam-diam Alvan mengepal tinju geram. Sungguh tak tahu malu kejar bini orang. Apa Heru tak tahu Citra sudah punya tiga anak dari Alvan? Citra sengaja tutupi kehidupannya agar bisa bersama Heru?


"Oh...Oya Sel...aku harus pergi sebentar! Ada keperluan mendadak di rumah. Nanti kita bahas lagi soal si Jepang! Kau tak apa kan?"


"Oh tidak...aku tunggu kamu balik sini! Aku menunggumu! Aku takkan ke manapun." sahut Selvia kalem memberi senyum maut bikin Sukma para cowok melayang ke langit. Sayang Alvan tidak tertarik. Alvan lebih panik bininya sedang diganggu elang jantan tak tahu diri.


Alvan bergegas cari Untung untuk cari solusi cegat Heru berbuat sesuka hati merayu bini orang. Alvan tidak malu-malu minta bantuan Untung cari jalan keluar. Alvan punya tanggungan dua anak kecil. Tak bisa bilang pergi langsung pergi. Dia juga papi dari anak-anak yang harus jaga anaknya.


Alvan masuk ke ruang kantor Untung tanpa permisi. Untung yang sedang fokus terloncat kaget disambangi bos tanpa pemberitahuan. Hal urgen apa membuat Alvan rela turun tahta datangi anak buah.


"Pak..." Untung berlari secepat mungkin hampiri Alvan sebelum bosnya capai meja kerjanya.


Alvan menghempas tubuh ke sofa merasa dadanya sesak. Wajah Alvan kusam menahan perasaan terpendam dalam hati. Benci dan jengkel beradu satu dalam dada.


Untung berdiri di dekat Alvan menanti kalimat keluar dari mulut lelaki yang biasa kokoh itu. Masalah apa bisa menjatuhkan mental Alvan. Apa terjadi sesuatu pada Azzam dan Afifa?


"Persiapkan dua helikopter. Isi dengan sembako. Aku akan antar ke lokasi bencana." kata Heru dengan mata merah menyala.


Untung belum ngerti apa tujuan Alvan terjun langsung ke lokasi gempa. Bukankah dari perusahaan sudah menyumbang sejumlah dana melalui pihak ketiga. Jin dari mana bisikin hati Alvan untuk terjun ke tempat yang asing baginya.


"Pak...Kita tak bisa tinggalkan kantor saat ini! Dan lagi bagaimana Azzam dan Afifa?"


"Minta Nadine tak usah ke rumah sakit! Jaga kedua anakku! Panggil Andi ke sini!" perintah Alvan merasa seluruh badan panas dingin kena serangan malarindu pada Citra. Dia harus bertindak atau dia akan kehilangan untuk kedua kali.


"Iya pak!" Untung hanya bisa melaksanakan perintah walau belum ngerti sepenuhnya.


Untung meneleponi Andi agar segera datang ke ruangnya. Nada suara Untung tak bersahabat menciutkan nyali Andi. Jangan-jangan Untung menarik kembali hadiah dari Alvan. Saku yang baru hangat akan kembali dingin. Dasar nasib orang kecil.

__ADS_1


Andi datang juga walau langkah berat bak dirantai bola besi. Terseok-seok tiba juga Andi di hadapan kedua pembesar kantor. Andi maki. yakin Alvan berubah pikiran akan minta kembali uangnya.


"Ya pak!" sapa Andi tanpa suara lebay. Suaranya kecil banget tanpa semangat. Mimpi berlagak orang kaya pupus sudah.


"Andi...kau bisa jaga Azzam dan Afifa?" tanya Alvan tak sabaran.


"Pasti bisa...emang selama ini siapa yang jaga mereka? Aku, kak Nadine dan Ibu."


"Bagus...malam ini Azzam dan Afifa tidur di rumahmu! Besok kau dan Tokcer antar mereka ke sekolah. Pulangnya kau jemput lagi. Aku akan pergi dua hari. Urusan kantor tanggung jawab kamu dan Untung. Urusan Azzam dan Afifa tanggung jawab kamu dan Nadine."


"Kok aku terus pak! Tokcer juga dong!" protes Andi merasa terbebani dua tugas berat.


"Iya...Tokcer harus ikut kawal anak-anak! Aku akan kunjungi isteri aku di lokasi gempa. Sebentar lagi aku terbang. Persiapkan dua helikopter ya! Isi kebutuhan pengungsi! Jangan lupa susu anak bayi!" Alvan sedikit cerah sudah temukan jalan keluar untuk halangi Heru berduaan dengan Citra. Alvan mau lihat Citra pilih siapa? Heru atau Alvan.


Andi mengurut dada bahagia uangnya tak diminta kembali. Ada rasa dosa bersarang di hati telah suudzon pada Alvan. Seharusnya Andi percaya Alvan bukan pemimpin abal-abal merusak image sendiri.


"Bapak butuh pengawal untuk ke daerah gempa?" Andi mencoba cari sela agar si Bonar terpakai bantu Alvan.


"Pengawal?"


"Iya..kan bisa bantu bapak di daerah gempa. Ada teman aku namanya Bonar. Orangnya keras tapi baik banget! Jagoan juga pak!"


"Kamu seperti agen pekerja. Baru tawar Tokcer sekarang tawarkan siapa namanya?"


"Bonar pak! Anak yatim piatu. Kuli bangunan..." Andi promosi Bonar. Kuli bangunan dibanggakan. Gimana kalau Bonar seorang sarjana. Bisa diangkat ke langit oleh Andi.


"Baiklah! Minta dia langsung ke sini! Dua jam lagi berangkat. Oya Tung! Kau atur Nadine tak usah kerja selama aku pergi. Kau juga harus jaga majikan kecilmu. Mereka sudah tidur kau baru pulang ya!"


Perintah inilah diharap Untung. Kembang setaman ada di samping rumah Citra. Kesempatan hirup harum bunga terbuka lebar. Siapa tahu punya modal beli seisi taman jadikan milik pribadi.


Andi menangkap senyum licik di bibir Untung. Andi bukan tak tahu pemilik badan tambun itu sedang incar kakaknya. Andi tidak keberatan asal Nadine suka.


Pekerjaan Untung telah lumayan. Orangnya lumayan baik dan setia. Salahnya badan terlalu subur tertimbun lemak satu kantong. Andi akan hasut Nadine provokasi Untung agar turunkan berat badan biar tambah lebih gagah.


"Hei...tunggu apa lagi! Ayok gerak cepat!" seru Alvan tak sabar ingin cepat-cepat jumpai Citra."Oya Tung! Jangan lupa pakaianku!"


"Siap pak!" Untung lega ternyata bukan hal urgen. Ini cuma menyangkut perasaan asmara. Alvan tiba-tiba rindu pada bini di tempat terpencil merupakan hal wajar. Cuma anehnya munculnya kok mendadak. Apa rasa rindu itu bisa timbul tenggelam bak matahari? Muncul pagi hari tenggelam malam hari.


Andi mencari Tokcer di bawah suruh anak itu hubungi Bonar. Aji mumpung Alvan butuh pendamping di tempat rawan maka Bonar bisa diandalkan.


Tokcer sedang duduk bareng satpam menanti tugas dari bos. Tokcer baru kali ini merasa jadi manusia beradab. Punya pekerjaan tetap dan dihargai. Tak perlu perang urat dengan sesama supir angkot dan bersitegang dengan preman pasar. Ternyata jadi orang benar itu nikmat.


"Tok?" panggil Andi dari kejauhan.


Tokcer berlari kecil hampiri Andi mengira ada tugas dari bos. Sebentar lagi dia akan duduk di belakang stiur mobil berbau harum. Bukan mobil sejuta cita rasa. Dari parfum harga gocengan serta bau ikan asin.

__ADS_1


__ADS_2