
"Iya nona. Aku akan segera keluar. Aku akan minta ijin dulu sama bibi aku."
"Pokoknya kalau ditanya mau ke mana bilang saja mau belanja keperluan di supermarket terdekat. Jangan sampai ketahuan! Tunggu aku!"
"Iya nona...nona mau kasih aku uang lagi?"
"Tentu...Tunggu aku!"
Dara mematikan ponsel dengan ragu. Azzam tak sabar ingin tangkap dalang utama dalam kecelakaan ini. Dara memang pelaku namun provokator yang harus ditangkap. Dara itu dasarnya sedikit kurang waras dan genit. Di beri angin segar langsung terbuai.
"Kamu ganti baju dan tunggu di luar. Jangan banyak ngoceh kalau tak mau dikirim ke penjara!" ancam Azzam tak sabar ingin bertindak.
"Penjara? Aku bukan maling. Kenapa harus dipenjara?" kata Dara ketus tak suka omongan Azzam.
Azzam merasa tak ada guna jelaskan detail pada orang yang urat syaraf kurang satu garis. Sekarang yang penting pancing orang yang punya niat jahat pada Citra. Azzam bersumpah akan minta bayaran dari orang jahat itu. Tak ada istilah kata kasihan atau damai. Yang ada hukum dan keadilan harus ditegakkan.
Bik Ani gundah tak sangka persoalan makin pelik. Dara dimanfaatkan orang untuk celakai keluarga Lingga. Dasar Dara tak punya akal sehat. Bermimpi terlalu tinggi sehingga berani turun tangan keji. Bik Ani tak salahkan keluarga ini bila bertindak sesuai hukum.
Heru segera minta pihak kepolisian berjaga dari jarak aman untuk tangkap sang provokator. Dara harus diarahkan untuk jadi umpan pancing sang penjahat. Heru tidak takut Dara akan kabur. Anak itu mau kabur ke mana karena bibinya masih di sini.
Heru dan Azzam pantau dari jarak sepuluh meter dari simpang. Keduanya bersembunyi dalam mobil pantau gerak gerik Dara yang disuruh menunggu di simpang. Sekilas tampak keadaan kondusif. Tak ada hal mencurigakan selain Dara cengar-cengir di simpang jalan.
Dua puluh menit kemudian meluncur perlahan mobil SUV warna hitam dekati Dara. Mobil berhenti tanpa matikan mesin kenderaan. Jendela sebelah kanan mobil terbuka tanpa tampak wajah orang itu.
Ntah apa yang dikatakan orang dalam mobil pada Dara. Yang pasti Dara tampak senang berlari kecil ke pintu sebelah kiri. Dara ini memang kurang akal. Bahaya sedang mengancam dia bisa senang saja ikut dengan orang dalam mobil.
Mobil itu bergerak meninggalkan simpang masuk rumah Citra. Dari jauh Heru bergerak ikuti mobil itu. Sementara pihak kepolisian juga bergerak mengintai dari jauh. Mereka harus punya taktik jebak orang itu. Paling tidak dapat rekaman pembicaraan dua orang ini. Menangkap tanpa bukti kuat sama saja tangkap angin. Orang itu bisa saja berkelit ajak Dara jalan-jalan.
Mobil itu berhenti di restoran seafood lumayan besar. Tampak dari jauh Dara turun dengan seorang wanita bertubuh kurus. Azzam dan Heru kurang kenal wanita itu hanya bisa menduga siapa gerangan orang itu.
Dalam hati Azzam menggeram kesal pada Alvan. Dalam otak Azzam berkelebat imajinasi kalau wanita pasti salah satu wanita dari masa lalu Alvan. Kalau tidak mana mungkin celakai Citra. Tujuannya jelas ingin singkirkan Citra lewat tangan Dara. Dasar Dara orang kelewat pede pikir Alvan gampang dirayu. Azzam masih akan interogasi Iyem yang beri info menyesatkan pada Dara. Tunggu satu persatu masalah selesai baru Azzam akan cuci otak Iyem. Jika perlu pakai soda api.
Pihak polisi berpakaian preman ikut masuk ke restoran untuk pantau kegiatan Dara dan tamu misteriusnya. Polisi itu harus cari bukti orang itu terlibat dalam kecelakaan Citra.
Dara dan teman misterius memesan makanan. Wanita itu lumayan cantik cuma agak kurus dan pucat. Matanya agak cekung seperti menderita. Sementara itu Dara kegirangan ditraktir makan enak.
Polisi yang nyamar cari tempat aman dekat Dara agar bisa merekam pembicaraan kedua orang itu. Ceritanya obrolan kedua orang itu disadap untuk cari bukti kejahatan kedua orang itu.
"Eh...apa Citra sudah parah?" tanya wanita itu semangat.
"Kayaknya parah. Sampai sekarang belum ada kabar. Mungkin sebentar lagi mati. Aku akan jadi isteri tuan besar. Aku akan pamer di kampung punya rumah gedongan, suami ganteng dan banyak mobil." ujar Dara dengan mata berbinar.
"Iya...kamu akan jadi orang hebat! Aku punya satu tugas lagi untukmu. Calon suami kamu punya anak. Kamu harus bisa singkirkan mereka juga agar anak kelak jadi pewaris." kata orang itu sinis.
"Anak? Yang mana anak Alvan? Di rumah ada tiga anak. Aku tak tahu yang mana anaknya."
__ADS_1
Orang itu bimbang setelah dengar penjelasan Dara. Dara baru datang belum kenal sekali yang mana anak Alvan. Gibran, Azzam atau Afifa. Dara kurang suka pada Azzam yang sok menurut Dara. Anak ini yang harus disingkirkan duluan.
"Gini saja! Kau selidiki yang mana anak Alvan lalu kau beri obat ini pada makanan atau minuman anak itu. Ini tak ada rasa maupun bau. Tak ada bukti kamu yang habisin anak itu. Kau berani?" wanita menyodorkan satu bungkusan warna putih.
Dara ragu untuk menerima karena secara tak langsung dia jadi pembunuh. Kalau hanya untuk celakai bukan termasuk membunuh. Ini masukkan racun artinya langsung bunuh orang.
"Aku takut nona! Ini bunuh orang lho! Kita berdosa bunuh orang." tolak Dara sedikit ngeri kalau harus langsung habisi nyawa orang.
Beginilah otak orang kurang waras. Celakai orang tidak berdosa, membunuh baru dosa. Apa Dara tak tahu celakai Citra sama saja bunuh anak dalam kandungan wanita itu. Tujuan sama dengan cara berbeda.
"Apa kau tak mau jadi nyonya besar dan anakmu dengan Alvan jadi pewaris bergunung emas? Pikir itu! Ini obat tak ubah seperti obat tidur. Sudah minum dia akan tidur panjang. Selamanya tidak bangun lagi." rayu wanita itu menepis keraguan Dara.
Dara tampak bimbang untuk lancarkan kejahatan selanjutnya. Dara sungguh tolol mau saja diperalat orang jahat. Siapa wanita keji ini. Mengapa dia tega hancurkan hidup Alvan hingga berantakan. Apa tujuannya. Nanti hukum yang akan jawab semuanya.
"Aku takut nona. Sudah cukup Citra tersingkir. Aku tak peduli yang lain. Aku cuma mau Alvan. Alvan sangat ganteng dan menarik. Betapa senang tidur dipeluk cowok ganteng macam Alvan. Kau tak suka pada Alvan?"
"Untuk kamu saja! Dia lebih cocok jadian sama kamu. Ambil ini obat! Nanti malam kamu buat susu untuk anak dia. Selanjutnya kamu akan hidup senang."
Obrolan terputus karena pelayan mengantar orderan wanita itu. Bau harum masakan lezat menggoda hidung Dara. Makanan yang jarang dia makan di kampung. Kampungnya memang kampung nelayan namun hidangan seafood mewah hanya diperuntukkan bagi mereka yang kaya. Mereka hanya makan ikan kecil sisa hasil jualan.
"Kau lihat makanan ini! Kalau kau sukses singkirkan saingan maka seumur hidup kamu cuma makan ini. Kau mau kan?" bujuk wanita itu tidak menyerah.
"Nanti kupikirkan! Sekarang makan dulu. Ayok dimakan! Nanti dingin tak enak lagi."
"Polisi? Emang aku maling? Nggak toh! Aku tidak mencuri ngapain dibawa ke kantor polisi." Dara tak peduli pada ancaman wanita itu. Makanan di meja lebih menarik perhatian. Peduli amat dengan polisi. Yang penting isi perut dengan kenyang dulu. Urusan lain bisa dibicarakan nanti.
Wanita segera sadar tak guna main ancam. Orang di depannya sedikit hang. Ngobrol kurang nyambung.
"Begini Dara...kau mau nggak segera menikah dengan Alvan?"
"Mau dong! Itu yang kuharap! Apa lagi aku sudah lama tidak gituan dengan laki! Aku sudah pingin gituan." ujar Dara tanpa malu.
"Bagus ..kalau kau selesaikan tugas terakhir aku akan bantu kamu segera menikah. Tak ada lagi saingan kamu merebut Alvan. Hanya ada kau dan Alvan."
"Benarkah?" mata Dara berbinar diberi janji menggiurkan.
"Kujamin benar. Ambil ini dan simpan. Jangan lupa buat susu atau teh untuk anak Alvan ya! Besok semua akan beres. Kamu tak boleh cerita kalau aku yang beri obat ini. Usahakan tak ada yang curiga padamu!"
"Beres...ayok makan!" Dara mengangguk tetap fokus pada kepiting dan udang besar penyumbang kolesterol tinggi. Orang stress macam Dara mana ngerti naik kolesterol. Mau meledak juga nggak masalah.
Polisi preman sudah mendapatkan bukti jelas keterlibatan wanita dalam kecelakaan di rumah Citra. Saatnya mereka bergerak ciduk Dara dan wanita itu. Kalau dibiarkan terlalu lama takut mereka akan segera bubar. Wanita itu akan cuci tangan biarkan Dara kena sanksi hukum sendirian.
Polisi di dalam segera kirim chat pada dua temannya untuk segera bergerak menangkap Dara dan wanita kurus itu.
Dua laki berbadan tegap berpakaian preman masuk langsung hampiri Dara dan wanita itu. Dara dan wanita itu tidak terlalu perhatikan kedua lelaki itu. Dalam pemikiran mereka kedua orang itu termasuk tamu restoran. Acara makan tetap berlanjut.
__ADS_1
"Maaf...anda berdua kami tangkap!" seru salah satu di antara dua lelaki berbaju warna hitam.
Pengunjung lain agak kaget mendadak ada penangkapan di restoran. Tak urung suasana jadi tegang akibat seruan dari lelaki bertubuh tegap itu.
Dara dan wanita itu lebih kaget dari yang lain. Wanita itu sampai berdiri tak percaya ada aparat di antara mereka.
"Siapa kalian main tangkap? Apa salah kami? Makan di restoran termasuk melanggar hukum?" tantang wanita itu dengan muka garang.
"Kami adalah polisi yang sudah ikuti kalian dari rumah pak Heru. Apapun pembelaan kalian nanti di kantor polisi. Silahkan ikut agar jangan ada keributan!" sahut salah satu polisi.
"Jelaskan dulu salah kami! Main tangkap itu juga salah. Aku mau lihat surat penangkapan dari kantor polisi. Ngaku polisi nanti malah penculik." teriak wanita itu berusaha mencari perhatian pengunjung. Wanita ini tak punya cara lain menghindar selain gertak balik.
"Nona...kami ini polisi dan punya bukti kejahatan anda dan nona ini. Kalian berdua yang menyebabkan isteri pak Alvan masuk rumah sakit. Jadi lebih baik bekerja sama sebelum terjadi kekerasan."
Dara ketakutan bersembunyi di balik badan wanita itu. Dara heran mengapa ada orang lain tahu dia yang celakai Citra padahal dia lakukan tanpa ada orang lain.
"Pak polisi aku disuruh nona ini celakai Citra. Katanya kalau Citra tak ada aku jadi isteri dari Alvan yang ganteng. Ya aku mau dong!" kata Dara ngeri sedap.
"Baik nona...nanti kamu jelaskan di kantor polisi! Kami hanya amankan kalian. Tidak ditangkap kok! Jangan takut ya!" polisi itu segera sadar kalau Dara ada kurang satu ons.
Dara menarik nafas lega bisa tersenyum lagi. Ternyata hanya diamankan bukan ditangkap. Dara sudah berani keluar dari balik tubuh wanita kurus itu. Dengan tenang Dara duduk lagi di kursi melanjutkan makan yang belum tuntas.
Wanita itu mendesah marah pada Dara. Dalam keadaan begini masih teringat sisa makanan. Tak ada rasa kuatir sedikitpun di raut wajah Dara. Para polisi menyadari kalau Dara itu tak bisa dijadikan patokan kejahatan ini. Dalang utama adalah wanita yang didik Dara jadi penjahat.
"Ok...sekarang kita berangkat dulu nona! Makannya kita sudahi ya! Nanti kami traktir yang lebih enak!" bujuk sang polisi ajak Dara untuk berlaku dari restoran.
Wanita itu berdiri dengan wajah kaku tidak berniat ikut para polisi ke kantor. Masih ada jalan tikus lolos dari jeratan hukum.
"Bapak lihat orang ini! Dia itu orang stress. Bagaimana mungkin keterangan orang kurang waras kalian jadikan patokan? Kalian ini polisi atau orang tolol tak tahu ini orang gila."
"Gila atau tidak nanti kita cari keterangan lebih lengkap. Kami tak mau ada kekerasan maka kami harap nona kerja sama. Salah atau tidak kan masih ada penyelidikan. Nona boleh hubungi pengacara untuk minta bantuan hukum."
Wanita itu tak punya peluang menghindar lagi. Senjata paling ampuh adalah gunakan Dara sebagai perisai. Keterangan orang stress tak bisa dijadikan pegangan. Wanita ini merasa masih ada peluang lolos dari jeratan hukum.
Polisi membayar semua harga makanan Dara dan wanita itu. Sebagai penegak keadilan pihak polisi tak boleh merugikan masyarakat. Jangan gara mereka bertugas amankan orang pihak restoran alami kerugian. Polisi wajib lindungi seluruh lapisan masyarakat dari atas hingga ke bawah. Di mata hukum tak ada tingkatan kelas. Yang bersalah tetap berakhir di hotel gratis.
Heru dan Azzam melihat dua wanita jahat itu diiringi masuk ke mobil polisi yang terparkir di pinggir jalan. Tiga polisi kawal kedua wanita itu menuju ke kantor untuk beri keterangan lebih lanjut.
Heru segera menjalankan mobil nyusul ke kantor polisi untuk saksikan apa tujuan kedua orang itu celakai Citra. Heru gemas sekali pada Dara yang bodoh binti tolol. Mau saja diperalat orang jahat untuk capai tujuan. Dara itu sudah genit bodoh pula. Semua yang buruk telah diborong oleh wanita sintal itu.
Mobil polisi duluan masuk lapangan kantor polisi. Di belakang menyusul mobil Heru dan Azzam. Azzam tak sabar ingin robek mulut orang jahat itu.
Dua wanita itu dibawa masuk ke dalam kantor. Polisi yang duduk di meja penyidik tercengang lihat siapa yang ditangkap lagi.
"Wenda???"
__ADS_1