ISTERI CEO YANG TERLUPAKAN

ISTERI CEO YANG TERLUPAKAN
Ke Bali


__ADS_3

Citra tertawa pahit. Dari awal jumpa tak pernah sekalipun Alvan tanyakan kapan anak mereka lahir. Laki itu sibuk dengan hal yang lain. Selalu bilang sayang anak namun yang paling vital tak terlintas di pikiran.


"Terserah mas saja! Aku cuma mau kasih kenangan indah buat Afisa sebelum dia kembali ke Beijing."


"Baik..kita undang semua relasi dan teman sekolah Azzam. Sekalian sama kepala sekolah dan guru-guru. Ya ampun kenapa baru cerita hari ini kalau ulang tahun si kembar sudah dekat." Alvan menyesali sifat kaku Citra tak mau terbuka.


"Kenapa aku harus memaksa bila mas tak tanya. Nanti mas pikir aku memaksa mas akui anak-anak ini."


"Omong apa kamu? Sedikitpun aku tak ragu mereka darah daging aku. Maafkan aku bila teledor! Aku akan minta Heru atur pesta semewah mungkin. Kita liburan biar om Heru yang repot. Dia kan sudah merampas kebahagiaan kita. Saatnya dia bayar." Alvan merangkul pundak Citra sebagai tanda maaf. Citra hanya angguk tipis. Sudah malam begini tak ada guna berdebat.


Yang ada hanya keluar bad mood merusak kegembiraan anak-anak. Mereka sudah siap nikmati liburan bersama orang tua. Citra tak tega rampas kebahagiaan yang sudah dirancang bersama. Kali ini biarlah Citra mengalah tak cari kesalahan Alvan. Mengalah untuk menang.


Heru mengantar keluarganya liburan ke Bali. Kini Heru pula bertugas mengawal dua perusahaan gantian dengan Alvan. Dua perusahaan raksasa kolaborasi menjadi kekuatan menakjubkan. Pundi-pundi emas makin tersusun di dua raksasa bisnis ini.


Citra tidak terpengaruh oleh tumpukkan gunung emas dua keluarga. Dia memilih didik anak tetap sederhana mengerti arti sulitnya cari uang. Kalaupun Azzam maupun kedua adiknya minta uang jajan sehari satu juta mungkin Alvan tidak keberatan. Namun itu bukan cara didik anak yang bagus. Tahu arti hidup susah baru tahu cara hemat uang.


Alvan menyewa satu villa khusus untuk mereka sekeluarga di daerah Kuta. Perjalanan dari Bandara Soetta ke Ngurah Rai di daerah Tuban menempuh waktu hampir 2 jam kurang dikit. Di Bandara sudah ada orang bertugas menyambut kehadiran keluarga terpandang ini.


Alvan sengaja cari penginapan dekat pantai agar anak-anak bisa main di pantai sepuasnya. Anaknya jarang liburan maka Alvan ingin membayar waktu terbuang dengan fasilitas terbaik untuk anak-anak. Kalau mereka tinggal di hotel tentu harus pisah kamar. Paling sewa tiga kamar. Alvan dengan Citra, Afifa dengan Afisa sedang Azzam dengan Gibran. Namun Alvan tak mau anak-anak terpisah maka cari penginapan bernuansa rumah. Mereka tetap berada satu lingkungan tanpa campur aduk dengan tamu lain.


Tempat tinggal mereka berupa villa ada empat kamar. Villa itu dekat dengan laut dengan fasilitas lengkap. Ada kolam renang di belakang villa. Anak-anak pasti akan senang bisa bersenang tanpa ada gangguan. Merogoh kocek lebih dalam tak jadi masalah bagi Alvan. Ini merupakan kualitas time dengan anak-anak. Harus dipergunakan dengan baik.


Sementara di J Heru mulai sibuk mengurus persiapan ulang tahun si kembar tiga. Tidak tanggung Heru menyewa hotel mahal untuk merayakan ulang tahun cucunya. Perpaduan dua keluarga kaya harus jadi trending topik bagi dunia bisnis. Saatnya perkenalkan ke dunia pewaris sah dari kedua kerajaan. Azzam adalah pewaris dari Perkasa sekaligus pewaris dari Lingga. Azzam punya hak atas Perkasa karena dia anak Citra. Heru tidak tamak kuasai seluruh aset untuk Gibran. Hak Citra dan anak-anak tetap tercantum dalam saham Perkasa.


Relasi dari kedua pihak diundang jadi saksi kolaborasi dua keluarga. Acara ini diatur Heru tak ubah acara pernikahan yang berkesan glamor. Heru mana ingat biaya lagi. Lelaki ingin beri yang terbaik pada keturunan mendiang abangnya. Sama halnya dengan Alvan. Heru juga ingin membayar semua derita yang telah dialami anak cucu abangnya. Harta takkan dibawa mati maka itu harus dibagi pada yang berhak.


Sibuk Heru urus pesta sibuk pula keluarga Alvan menikmati keindahan alam pulau Dewata. Bali dijuluki pulau sejuta pura. Hampir seluruh pulau Bali bertebaran pura tempat pujaan umat beragama Hindu.


Hari pertama berada di pulau Bali anak-anak langsung minta main ke pantai. Mereka berbaur dengan turis lain dari manca negara juga dari turis lokal. Pengunjung tidak seramai sebelum adanya wabah virus Covid 19. Bahkan ada satu masa pulau Bali sepi dari pada turis. Pemilik hotel dan resort nyaris gulung tikar. Untunglah wabah agak mereda sehingga atur wisatawan mulai lancar.


Alvan dan Citra memantau anak-anak dari jauh sambil merekam moments indah bersama anak-anak. Setelah ini tahun depan baru ada kesempatan lagi.


Tiupan angin sore menanti sunset terbilang romantis bagi setiap pasangan. Hal ini juga dirasakan Alvan dan Citra. Ini liburan pertama mereka selama satu dekade.


Alvan kenakan celana buntung dengan kaos ngepas badan. Tubuhnya yang dulu kekar tanpa lemak kini mulai terlihat bergelambir terutama di bagian perut. Tapi semua tak kurangi ketampanan CEO kaya itu. Tidak memalukan ditampilkan.


Citra lebih sederhana hanya pakai celana ketat dipadu kemeja menutupi bagian bawah agar tidak menarik perhatian para cowok. Wajah cantik pasti mengundang kerlingan para pejantan.


"Inilah surga dunia!" gumam Alvan tak jelas omong pada siapa. Laki ini hanya ingin keluarkan isi hati sedang bahagia.


Samar-samar Citra menangkap gumaman Alvan. Surga yang datang terlambat.


"Surga neraka kita yang pilih sendiri."

__ADS_1


Alvan segera menoleh ke arah Citra berharap wanita ini tak lanjutkan omongan. Buntutnya dia yang kena imbas. Kaset lama akan berputar lagi. Kapan kaset itu akan rusak tak keluarkan bunyi lagi. Alvan berharap waktu itu cepat tiba.


"Besok kita ke mana sayang?" Alvan alihkan pembicaraan ke arah lain.


"Aku kurang tahu tempat wisata sini. Mas kan tahu hidupku bagaimana? Dari mana biaya tour? Mas saja yang atur." kata Citra sambil memandang jauh ke anak-anak sedang berlari di pantai. Tawa ceria anak-anak terdengar sampai ke kuping Citra.


"Di sini banyak tempat indah. Setiap tempat terpisah. Sebaiknya kita gunakan jasa tour guide membawa kita ke tempat menarik. Kita pergi sendiri juga bakalan tersesat."


"Kurasa itu yang terbaik. Dari pada terbuang waktu putaran cari tempat mending serahkan pada yang ahli." kata Citra melawan angin. Angin mulai bertiup kencang menyibak mereka yang memakai gaun. Di ufuk Barat cahaya mentari mulai memerah jingga tanpa mentari akan pulang ke peraduan.


Alvan ikut menyimak keindahan alam ciptaan Tuhan. Anak-anak berlarian dekati Alvan dan Citra ingin tenang nikmati sisa mentari bersinar.


Afifa duduk di samping Alvan sedang ketiga anak lain pilih tempat sendiri. Mereka memandang takjub pada bola dunia yang akan segera padam.


"What's a beautiful sunset..." gumam Afisa.


Suara Afisa terdengar oleh keluarga bule di samping mereka. Bule itu tersenyum karena ada orang lokal fasih gunakan bahasa mereka. Aksennya juga pas tidak berbau aksen Asia.


"God loves us gave us a miracle view.(Tuhan mencintai kita memberi kita pemandangan ajaib)" seorang anak tanggung menyahuti omongan Afisa.


Afisa menoleh ke arah anak bule lalu tersenyum sopan. Bule itu membalas senyum Afisa sambil dekati Afisa beri tangan untuk salaman.


"Hy..I'm Thomas..."


Afisa menerima uluran tangan bule muda bernama Thomas itu. Gibran buang muka tak suka si bule genitan dengan Afisa. Anak remaja ini ingin sekali ajak Afisa tinggalkan pantai tapi tak mungkin. Mereka kan sedang nikmati matahari tenggelam.


"I know you...you are a gymnast from China? I have seen your profile when you competing in Singapore. Is that you? (Aku mengenalmu. Bukankah kamu pesenam dari China. Aku melihat profilmu sewaktu bertanding di Singapura. Apakah itu kamu?)" seru anak itu kegirangan jumpa idola remaja sekarang.


\=Author susah banget harus translate dari bahasa Inggris ke bahasa kita. Maka author langsung tulis bahasa Indonesia anggap mereka memang omong bahasa Inggris. Ok? Makasih pengertian pembaca setia. Love u all.\=


Afisa tersipu malu ternyata ada orang mengenalnya di tempat liburan ini. Alvan sebagai bapak bangga dong anaknya terkenal sampai ke manca negara. Satu kali lihat anak itu langsung kenal sosok Afisa.


"Bolehkah aku berfoto denganmu?" tanya anak itu sopan. Kedua orang tua anak itu ikut bangkit hargai anak berprestasi.


"Tentu saja boleh! Oya kenalkan dulu ini kedua orang tuaku dan saudaraku serta om aku yang ganteng. Kami sedang liburan musim panas. Habis liburan aku akan segera balik ke Beijing." Afisa tidak menonjolkan diri saja. Dia juga ingin keluarganya terkenal. Terkenal menopang namanya.


"Hy.." sapa Thomas seraya membungkuk setengah badan ke arah Alvan sekeluarga.


Afifa melambaikan tangan gempalnya terima salam Thomas. Orang tua Thomas lebih galant salami Alvan dan Citra sesama orang tua. Dapat kenalan baru dari luar negeri.


Alvan tidak keberatan dapat kenalan asal jangan ganggu kebahagiaan mereka. Kadang tambah anggota hanya tambah beban merepotkan.


"Kalian dari China?" tanya bapak Thomas.

__ADS_1


"Tidak...kami asli orang Indonesia. Hanya Cece kami sekolah di China. Dia pesenam di sana." Afifa wakili keluarga jadi jubir. Bahasa Inggris Afifa tidak kalah dari Afisa. Mereka belajar dengan baik di sekolah.


"Wow...Afisa pisah dari keluarga. Apa tidak rindu keluarga?" tanya Thomas mulai akrab. Sambutan keluarga Alvan yang ramah buat Thomas tidak risih.


"Pendidikan sangat penting. Kelak semua akan berkumpul bila telah usai sekolah. Bersakit dahulu bersenang kemudian." kata Azzam datar Thomas provokasi perasaan Afisa.


Gibran senang banget Azzam patahkan kata Thomas. Dalam hati lajang ini puji kesigapan Azzam meluruskan pentingnya pendidikan dibanding bermanja.


"Betul-betul...kami berasal dari Inggris! Kami sedang liburan musim panas juga. Kami sudah seminggu di sini. Rencana Minggu depan akan balik ke Inggris. Semoga nanti kita bisa saling kontak. Kami senang pada anak berbakat." ujar ibunya Thomas kalem. Tampak sekali wanita itu orang berkelas. Dari gaya bicara dan bertutur kata menunjukkan dari kalangan terhormat.


"Oh tentu..." sahut Citra imbangi keramahan Keluarga Thomas.


"Bagaimana malam ini kami jamu kalian sekeluarga makan bersama? Tak jauh dari sini ada restoran western sangat lezat." tawar bapak Thomas. Ntah basa basi atau memang tulus ingin menjamu kenalan baru.


"Oh tidak terima kasih! Kami berencana makan sea food di sekitar sini. Anak-anak ingin nikmati Kuta di malam hari." tolak Alvan tak ingin keutuhan mereka dicemari orang luar.


"Ok...kita gabung! Aku akan urus semua makanan kita. Aku sudah kenal sini karena telah menetap beberapa hari di sini." sahut bapak Thomas tak menyerah ditolak Alvan.


Alvan ingin menolak lagi dengan cepat Citra mencubit pinggang Alvan agar biarkan kenalan baru mereka jadi tuan rumah malam ini. Tak enak tolak terus niat baik orang.


"Terima kasih tuan! Nanti kita bayar masing-masing. Tak enak membuat kalian keluarkan uang banyak." sahut Citra lebih bijak.


Bapak Thomas tertawa renyah anggap Citra berguyon. Dia telah berniat jalin persahabatan mengapa diukur dengan uang.


"Jangan! Kami yang traktir maka sepenuhnya tanggung jawab kami. Sekarang kita nikmati moments sunset dulu. Berpuluh kali dilihat tetap indah. Aku suka Bali maka tiap tahun wajib ke sini. Dari Thomas belum lahir sampai dewasa masih kami kunjungi." cerita bapak Thomas ceria tak anggap traktir Alvan sekeluarga jadi beban.


Thomas ajak Afisa berfoto dengan latar belakang matahari tenggelam. Azzam bertugas jadi juru kamera untuk menyenangkan teman baru.


Afisa dan Thomas berdiri di bibir pantai saling berhadapan buat siluet remang-remang. Foto kedua saling memunggungi dan terakhir berdiri bersama. Semua sangat indah bikin Gibran cemburu. Seharusnya Afisa berfoto dengannya bukan dengan bule sok keren.


"Aku juga mau foto dengan Afisa dan Afifa. Kamu tolong dong Zam!" Gibran minta gantian foto sebelum matahari betulan hilang dari ufuk barat.


"Ok...dengan siapa dulu? Amei atau Cece?"


"Dengan Cece dulu! Buat pose romantis ya! Ini kan pantai romantis." usul Gibran ada maunya.


"Siipp...ayo ce! Saling pegangan tangan berhadapan!" Azzam beri pengarahan gaya.


Gibran dan Afisa saling berhadapan seperti dengan Thomas. Thomas tidak saling pegangan tangan Afisa sedangkan Gibran dapat prioritas lebih mumpuni. Bisa peluk Afisa dari belakang persis anak remaja sedang memadu cinta di tepi pantai. Padahal masih bau kencur.


Giliran Thomas pasang muka masam lihat Gibran lebih banyak akses berfoto dengan Afisa. Gayanya lebih mesra.


Selanjutnya baru Afifa beraksi dengan Gibran. Gaya Afifa lebih seru. Persis fotomodel profesional. Afifa duduk di atas paha Gibran yang berjongkok di hamparan pasir bertumpu pada sebelah kaki. Afifa bersandar di dada Gibran dengan pose malu-malu kucing serta saling memunggungi berpelukan tangan.

__ADS_1


Azzam menemukan bakat Afifa di bidang modeling. Adiknya itu luwes diarahkan gaya apapun. Alami tidak kaku. Citra juga sependapat dengan Azzam baru tahu Afifa punya bakat tersendiri. Bakat yang belum tergali.


Mereka tak tahu ada seorang fotografer ikut curi foto pasangan muda ini beraksi. Fotografer itu juga tertarik pada bakat alami Afifa.


__ADS_2