
"Ya sudah...papa istirahat! Citra akan tambah sedikit obat agar papa enak tidur. Citra harus selesaikan sedikit pekerjaan. Ada kecelakaan anak remaja tabrakan. Harus segera dioperasi. Oya mas! Tolong awasi anak-anak bila aku telat pulang!"
"Kalau gitu kau pergilah sibuk! Alvan juga pulang jaga cucu aku! Papa akan kuat seperti kata Citra."
Citra manggut karena dia harus segera masuk kamar operasi. Citra tak tahu jam berapa dia akan selesai bertugas. Kalau anak-anak dia tidak kuatir karena ada Bu Sobirin siap rawat kedua cicitnya. Citra lebih kuatir pada Alvan yang mungkin akan tumbang bila didera masalah lanjutan.
Sejujurnya Citra kasihan pada Alvan. Orang mengira hidup lelaki ini gampang karena banyak duit. Justru sebaliknya Alvan selalu dirundung oleh berbagai masalah gara-gara hidupnya terlalu sempurna. Kekayaannya menjadi sorotan para wanita penghamba harta. Ditambah pesona Alvan yang cukup luar biasa menjadi magnet bagi para wanita.
Alvan tidak segera pulang. Lelaki ini memberi perintah pada Andi untuk pulang ke rumah Citra untuk temani kedua anaknya. Alvan takut Azzam dan Afifa belum terbiasa dengan keluarga barunya. Andi adalah sosok paling tepat memberi rasa nyaman pada Azzam dan Afifa.
Alvan memilih temani pak Jono sambil tunggu Citra selesai operasi pasien. Di dalam kamar rawat Pak Jono, Alvan coba pejamkan mata istirahatkan mata. Pak Jono telah tidur karena Citra beri obat penenang dosis rendah agar laki tua itu asyik berpikir penyakit istrinya.
Jam delapan malam Citra tunaikan seluruh tanggung jawab sebagai dokter. Kelelahan terukir jelas di wajah imut itu. Walau lelah tak ada sepatah kata keluhan keluar dari mulut Citra. Kesemua adalah janji setia seorang dokter.
Citra telah diambil sumpah sewaktu dikukuhkan sebagai seorang pelayan masyarakat bagian orang sakit. Selangkah pun Citra tak boleh mundur dari sumpah setia.
Citra meneleponi Alvan begitu selesai operasi. Citra tak tahu kalau suaminya masih setia menanti di ruang papanya. Citra hanya ingin kabarkan kalau dia telah siap bertugas.
"Halo... assalamualaikum mas!"
"Waalaikumsalam...gimana? Operasinya sukses?"
"Untuk sementara aman. Mas sudah pulang?"
"Masih nungguin papa! Kau di mana biar kujemput. Kita pulang barengan."
"Aku cek mama dulu! Mas tunggu di depan pintu. Ngak lama kok!"
"Ya.." Alvan bersyukur dapat istri penuh perhatian. Di tengah kelelahan masih teringat keadaan Bu Dewi. Kalau Bu Dewi sehat belum tentu akan berlaku baik pada Citra.
Alvan beri pesan pada perawat untuk jaga papanya. Mereka harus siaga dua puluh empat kawal papanya yang kondisinya sedang tidak bagus.
Alvan menanti Citra di depan pintu masuk sesuai janji pada Citra. Wanita itu sudah cukup lelah. Alvan tak ingin bikin wanitanya makin pusing. Makanya Alvan ikuti saja kemauan Citra.
Setengah jam kemudian Citra baru datang. Wanita Alvan itu berjalan dengan sedikit lemas akibat terlalu banyak pasien. Menolak pasien sama saja melanggar janji setia pada jabatan.
Alvan maju menyambut Citra. Tanpa malu Alvan merangkul Citra beri sandaran agar tidak makin lelah. Sebenarnya Citra malu dirangkul Alvan di depan orang ramai tapi daya energi Citra telah soak. Harus cas ulang isi energi baru.
"Kau tampak pucat sayang. Kita pulang ya!" Alvan mengusap pipi Citra.
"Aku lapar mas!"
"Ya ampun nyonya Alvan. Jam segini belum makan. Jangan mentang-mentang dokter abaikan kesehatan sendiri."
Citra tertawa dengar sindiran Alvan. Alvan omong gitu belum tentu dia sendiri sudah makan malam. Perhatian pada orang lain tapi lupa pada diri sendiri.
"Emang mas sudah makan?"
Alvan meraba perutnya rasakan apa di situ ada orkes keroncongan? Tidak ada bunyi cuma ada rasa perih. Alvan lupa kalau dia juga belum makan.
"Mas lupa kalau belum makan. Nggak rasa lapar sih!"
"Gimana? Pulang atau makan dulu?"
"Makan dulu. Kasihan cacing di perut sudah kelaparan. Ntar demo besaran baru kapok."
"Ok...kita makan di kantin saja! Kalau makan di luar sana harus tunggu lama."
"Terserah kamu sayang. Mas ikut saja apa maumu!" Alvan angkat tangan menyerah.
Citra hanya memberi Alvan seulas senyum hambar. Citra bukan hambar pada Alvan melainkan sangat lelah. Kalau bisa pulang langsung tidur tanpa perlu mandi lagi.
__ADS_1
Pasangan suami isteri ini bergerak menuju ke kantin rumah sakit cari makanan sederhana saja. Kalau ada roti susu sudah cukup buat Citra. Citra tak rewel soal makan untuk perut sendiri. Tapi protektif terhadap makanan anak-anak.
Kantin tidak begitu ramai karena waktu makan telah lewat. Satu jam lalu mungkin sarat dengan pengunjung isi perut. Hanya ada satu dua perawat serta pengunjung lain makan makanan ringan.
Alvan tawarkan diri untuk ambil makanan buat Citra dan dirinya. Alvan tidak tega siksa Citra harus cari menu makanan. Istrinya sudah cukup lelah terpahat dari kerutan di wajah.
Citra tidak protes. Alvan urus makanan, Citra ambil ponsel untuk hubungi Azzam cari tahu keadaan anaknya. Mereka pasti kuatir bila Citra tak segera kasih kabar. Azzam lah orang paling susah hati bila Citra telat pulang. Anak itu paling ngerti bagaimana pekerjaan Citra.
Lama ponsel baru terhubung. Tak biasa Azzam abaikan telepon Citra. Sedang apa tuh anak?
Akhirnya Azzam angkat juga telepon Citra. Dari seberang tak ada suara berisik sedikitpun tanda Azzam berada di dalam kamar.
"Assalamualaikum ko..."
"Waalaikumsalam mami..kok telat?"
"Mami baru saja operasi orang tabrakan. Amei mana?"
"Di kamarnya sama Uyut. Kak Andi dan kak Tokcer baru saja pulang. Koko lagi ulang pelajaran."
"Good boy...Cece tidak kasih kabar sudah sampai?"
"Ada...dia langsung latihan! Kasihan..masih capek dipaksa latihan."
"Kalau mau maju ya harus rajin! Koko gitu juga! Mami dan papi makan dulu baru pulang. Mami sudah sangat lapar."
"Mami ini maunya telepon kalau pulang telat. Kasihan Oma Uyut tungguin mami pulang makan. Tuh Uyut sudah siapkan makan malam mami." Protes Azzam menuntut keadilan buat Uyut yang sudah susah payah siapkan makan malam.
"Sori ..mami lupa. Mami janji tak ada kedua kali. Koko lanjut belajar. Mami makan dulu biar cepat pulang. Selesai belajar langsung tidur."
"Iya mi... hati-hati ya! Assalamualaikum.."
"Waalaikumsalam..."
"Duh...lamuni siapa? Adakah pangeran kayak tertinggal di satu tempat?" Alvan datang membawa dua gelas minuman. Alvan tahu Citra adalah pencinta teh maka dia pesan teh susu untuk kembalikan mood Citra.
Asap mengepul dari d cangkir menyebar harum teh melati khas Indonesia. Di Tiongkok jarang yang minum teh melati karena harumnya sedikit menyengat. Mereka di sana lebih suka teh murni dengan aroma berbeda. Teh yang dihasilkan setiap daerah berbeda rasa dan baunya. Hanya pakar teh ngerti dari mana asal dengan hanya satu teguk.
"Terima kasih mas! Mana makanannya?" Citra heran Alvan datang hanya bawa teh. Apakah makan malam mereka cukup secangkir teh? Alvan yang kaya raya traktir isteri minum teh sebagai makan malam.
"Lapar atau lapar banget?"
"Banget...banget..."
Alvan tertawa lihat cara Citra menjawab. Ekspresi orang kelaparan.
"Nanti diantar. Aku minta yang hangat. Perutmu kosong tak baik makan makanan dingin. Masa dokter tidak tahu itu!" Alvan menarik kursi duduk berhadapan dengan Citra agar lebih leluasa menatap wajah cantik Citra. Rasanya tak bosan meneliti setiap sudut raut wajah Citra. Tetap terasa manis.
"Kalau sudah lapar apa saja dimakan. Tadi kutelepon Azzam. Dia sedang belajar."
"Azzam anak bijak. Aku yang banyak dosa ini beruntung punya anak-anak dengan nilai plus."
"Makanya sadar diri. Belajar dari pengalaman mas! Segala yang tampak baik di luar belum tentu isinya baik. Begitu juga sebaliknya."
"Ngerti nyonyaku! Diminum dulu tehnya agar perutmu hangat."
Citra angkat cangkir dekat hidung hirup bau khas teh melati. Masih pantas untuk mengisi kekosongan perut.
"Aku tak tahu seleramu. Mana lagi cuma ada teh ini. Kau suka?"
"Aku suka semua berbau teh. Afisa juga suka teh! Dia terbawa kebudayaan sana punya jadwal minum teh! Kita harus maklum karena dia tumbuh di negeri budayakan minum teh. Kadang aku takut Afisa melupakan budaya negeri sendiri. Dia tujuh puluh lima persen sudah mirip orang Tiongkok. Sisa dua puluh lima untuk kita."
__ADS_1
"Apa kau ikhlas Afisa jadi milik orang? Mengapa tak bujuk dia pulang tanah air? Seorang anak harusnya berada di sisi orang tua."
"Afisa tergila pada senam. Di sana dia dapat pelatih baik dan fasilitas bagus. Pulang sini belum tentu maju. Biarkan dia di sana sampai dia punya keputusan sendiri. Kita sumbang doa saja!"
Alvan tak bisa membantah. Apa yang dikatakan Citra ada benarnya. Atlet tanah air kebanyakan hidupnya sengsara bila telah pensiun. Tercampakkan walau pernah sumbang medali emas. Di sana lain. Atlet dapat uang pensiun bila tak jadi atlet lagi. Tidak banyak namun cukup untuk biayai sisa hidup.
"Kita harus sering jenguk dia agar tidak lupa pada orang tua sendiri. Liburan nanti kita ke sana ya!"
Pembicaraan terputus karena pelayan mengantar makanan pesanan Alvan. Tersedia beberapa hidangan terdiri dari sayuran tumit dan ikan. Alvan lihat Citra bukan pencinta daging merah maka tidak pesan makanan berlemak.
"Mulai ngerti aku toh!" Citra meneliti pesanan Alvan. Cocok dengan selera Citra. Tidak berlemak.
"Harus belajar pahami kamu. Kau saja cepat pahami aku!"
"Aku cerdas tak perlu lama belajar. Hanya orang berantena pendek lama pelajari keinginan pasangan." sindir Citra tidak dapat balasan dari Alvan.
Alvan lebih fokus pada hidangan makanan. Lihat tumpukkan lauk pauk perut Alvan jadi manja berontak minta disulang.
"Makan...biar kita cepat pulang! Anak-anak sedang menunggu kita."
"Ya mas..."
"Makan yang banyak!"
"Iya...kok jadi cerewet?"
"Kamu kurus sih! Punya suami berbadan besar kamu ya harus gemuk dikit." Alvan menyendok ikan ke piring Citra. Ikan asam manis pasti segar di mulut.
"Kenapa ngak Kawini sapi betina? Pasti gemuk..." sungut Citra tak suka dibilang kurus. Wanita di seluruh penjuru dunia tak ada yang mau menimbun lemak di tubuh. Bahkan ada yang diet matian untuk capai tubuh idaman. Citra beruntung tak menyisakan lemak di tubuh. Diet alami tidak banyak konsumsi makanan mengandung lemak tak jenuh.
"Sadis amat nih bini! Suami seganteng gini disuruh Kawini sapi! Emang mas mu ini ada kelainan jiwa? Mas sudah puas kok punya kamu! Kecil tapi tahan banting. Sudah teruji kok!" Alvan tersenyum menggoda mengarah ke arah negatif.
"Makan jangan cerewet!"
"Duh pipinya memerah! Malu ya teringat ******* kucing imut!"
"Kucing tak mendesah tapi meong! Pernah dengar kucing garong rebutan laki?"
"Stop soal kucing! Melebar kiri kanan. Ntar malah jadi molor. Makan terus!" Alvan tahu kalau perdebatan diperpanjang yang rugi tetap dia. Segala belatung dan virus masa lalu akan diungkit jadikan Alvan pendosa terbesar abad ini.
Citra mendecak jengkel Alvan cepat paham akan dibawa kemana debatan mereka. Citra memang pemaaf tapi tetap seorang wanita yang punya rasa marah dan kesal. Kesalahan Alvan telah dimaafkan bukan berarti Citra melupakan kejadian itu dengan mudah. Acap kali muncul kenangan buruk. Citra sebisanya halau kenangan itu namun tidak semudah minum air putih. Glek langsung mengalir ke lambung.
Keduanya makan tanpa bersuara. Hanya Alvan sekali-kali melirik ke arah Citra. Ntah karena suka lihat wajah Citra atau mencari emosi apa tersimpan dalam raut cantik itu.
Dalam waktu singkat hidangan menyusut. Citra makan dengan lahap berhubung lambung kosong total. Alvan suka lihat pemandangan Citra mau makan banyak biar tumbuh gede.
"Kau pasti akan tambah tinggi nanti!" kata Alvan serius.
"Kok bisa? Umurku sudah dua tujuh apa masih bisa tumbuh?" tanya Citra polos belum menyadari sedang diolok Alvan.
"Wah tak kusangka isteri aku umurnya baru dua tujuh! Masih muda toh. Makan banyak biar cepat besar!" Alvan menyendok kan sisa ikan ke piring Citra.
Citra mencubit tangan yang berada di depan piringnya. Citra baru sadar sedang diolok Alvan. Seumur gini mana bisa tumbuh lagi. Masa puber sudah lewat.
"Isshhh...kurang kerjaan! Habisin tuh nasi! Biar sanggup kawin tiga lagi!"
"Apa boleh?"
"Boleh...nanti kubantu jadi wasit pertandingan kalian di ranjang. Lihat pihak mana lebih unggul! Tapi untuk kelancaran usaha bapak maka akan kubantu operasi cangkul bapak! Kugerenda tipis dan pendek supaya lebih lincah."
"Gila ..habis dong pusaka aku! Batal deh ambil bini baru! Cukup Bu dokter yang kejam."
__ADS_1
Citra mengangguk-angguk setuju penyerahan Alvan. Alvan belum tentu mampu memikirkan wanita lain. Wanita yang ada sekarang saja bikin otak puyeng. Dari Afisa, Selvia, Karin, Bu Dewi, Kayla hingga ke Citra. Semua wanita ini telah menyita perhatian Alvan. Satu persatu harus di kembalikan ke posisi tepat agar tidak jadi duri dalam daging.