ISTERI CEO YANG TERLUPAKAN

ISTERI CEO YANG TERLUPAKAN
Andi Masuk Kerja


__ADS_3

Ance lebih tepatnya Andi malu-malu kucing disekak Alvan. Gaya feminim Andi muncul tanpa dia sadari. Kedua tangan Andi bertautan di depan perut bergerak malu mirip anak perawan siap dilamar.


Alvan mendehem menyadarkan Andi sikapnya masih terbawa gaya mirip cewek. Dari tadi Alvan beri pengarahan agar Andi harus tampil layak seorang cowok. Ucapan Alvan bagai angin lalu. Belum semenit berlalu Andi mulai lagi bergaya aneh.


"Maaf pak! Saya janji akan berubah." Andi menyadari kesalahan karena sinar mata Alvan tajam siap membelah Andi jadi berkeping-keping.


"Ingat Andi! Kalau kau tak mau berubah, tak seorangpun bisa bantu kamu. Kamu sendiri yang harus berubah ke arah benar. Akui kodrat sebagai cowok. Lihat Azzam! Sekecil ini telah tunjukkan dia lelaki sejati. Sekarang pulang dengan Untung. Dia ada di luar." Alvan menasehati Andi tak ubah seorang bapak nasehati anak kecil.


Andi mengangguk-angguk sok paham. Dalam hati hanya bisa berjanji akan berusaha jadi lelaki tulen. Gaya feminim harus disingkirkan bila masih menginginkan pekerjaan di kantor Alvan. Manusia bertulang lunak macam Andi kerap dipandang sebelah mata oleh masyarakat. Acap diejek dijadikan bahan tawaan. Pendek kata lelaki bergaya feminim tak ubah limbah masyarakat. Tempatnya tersisih tak punya harga.


Padahal kalau boleh memilih mereka juga tak mau terlahir dengan kepribadian ganda. Maunya terlahir normal sesuai kodrat masing-masing. Tapi Tuhan berkata lain menguji iman Andi apa sanggup melawan ketimpangan jalan hidupnya.


"Saya permisi pak! Azzam...kak Andi pulang dulu. Besok kakak datang lagi bawa es buah kesukaan Azzam."


Azzam menurunkan mata dari hp meneliti wajah Andi surprise mulut cepat merubah panggilan. Biasa Andi tak suka dipanggil Andi, senangnya dipanggil Ance yang notabene mirip nama cewek.


"Kak...cepat banget naik kelas. Baru mendaftar sudah lulus. Koko salut deh!" ucap Azzam mengulum senyum. Alvan keluarkan senjata jitu menodong Andi hingga tak berkutik. Patuh atau binasa. Andi cuma punya dua pilihan.


"Hei belut beracun! Mulut dijaga! Mau diajak sekolah juga?" Andi cemberut digoda lajang kecil yang selalu cari kesalahan Andi.


"Koko kan sudah sekolah. Masih lama tamatnya. Kakakku yang hebat...daftar langsung lulus! Besok pagian datang. Tak usah bawa es buah. Bawa goreng ubi nenek saja! Bilang nenek banyakin gulanya. Azzam suka manis. Jangan yang kecut kayak kak Andi!"


Andi acung jempol Azzam tidak pelesetkan namanya dengan panggilan tabu. Alvan mendengar obrolan kedua laki beda usia itu dengan seksama. Alvan berharap Andi bisa balik badan kembali ke kodratnya. Hanya dia sendiri bisa mengubah dibarengi kemauan kuat.


"Kak Andi pergi ya! Bilangin mami Kakak sudah pulang. Pak Alvan..permisi!" Andi meringsut sopan ke arah pintu. Perlahan laki bertulang lunak ini mendorong pintu ke kiri disusul pindahkan tubuh keluar.


Keheningan menyeruak. Azzam kembali tekuni ponsel sementara Alvan bingung tak tahu harus lakukan apa. Ajak Azzam ngobrol bukan solusi tepat. Malam-malam gini ngobrol pasti yang ada adu mulut. Azzam suka menyudutkan Alvan pakai kalimat pedas di kuping.


Andai Azzam semanis Afifa langkah Alvan akan mulus masuk ke lingkungan Citra. Punya anak satu kayak madu menyegarkan tubuh, dua lagi bagai racun mematikan. Dua lawan satu, kesempatan Avan kecil sekali melenggang ke arah Citra.


Alvan harus semangat, pantang mundur. Makin sulit didapat barang itu makin berharga.


"Azzam...main sebentar lagi lalu tidur ya! Ini sudah malam. Tak baik main hp sampai larut. Rusak mata." Alvan ingatkan Azzam ingat waktu. Janji main dua jam tapi ini sudah lewat batas waktu.


"Iya om! Koko bukan main game tapi lihat YouTube pelajaran bahasa Korea. Azzam ingin bisa bahasa Korea. Sekarang barang banyak produk Korea banjiri pasaran. Kita harus ngerti sedikit biar tidak ketinggalan jaman." Azzam perlihatkan layar ponsel di mana di situ memberi cara belajar bahasa Korea.


Alvan makin bersyukur punya penerus bertalenta. Punya kemauan belajar sangat tinggi. Berikan ponsel pada Azzam tidak rugi. Ponsel pintar itu tidak digunakan hal negatif. Justru Azzam gunakan cari ilmu untuk kemajuan.


"Oh gitu ya! Azzam mau les bahasa Korea? Biar papi yang bayarin! Papi akan minta om Untung antar jemput Azzam. Atau pingin les bahasa lain." Alvan coba ambil hati lajang kecil agar berpihak padanya. Sedikit saja boleh. Itu sangat berarti bagi Alvan.


"Tidak usah! Belajar gini saja juga bisa. Yang penting niat kita Om. Segala yang diawali niat baik akan berakhir baik pula. Kita tak perlu memaksa diri bila tak mampu. Hasilnya kosong."


Kenapa Alvan merasa Azzam sedang menyindirnya. Topik belajar bahasa asing jatuhnya sindir kesalahan fatal Alvan pada Citra. Betul-betul anak berbahaya. Dikasih umpan apa oleh Citra sampai punya anak berotak mafia.


"Kok ke papi?" gumam Alvan linglung diserang Azzam telak ke jantung.


"Emang Koko bilang untuk om? Merasa ya!"

__ADS_1


Mulut cabe rawit. Tidak benar cuma cabe rawit. Pantasnya disebut mulut cabe Carolina Reaper cabe setan dari Amerika Selatan. Disentuh sedikit pedasnya berhari.


"Azzam tidur saja. Sudah malam. Afifa dan mami sudah tidur. Cuci muka dulu sebelum tidur." Alvan alihkan pembicaraan sebelum dikuliti Azzam lebih dalam. Sakit hati Alvan dihakimi anak sendiri.


Apa sakit di hati Citra lebih parah dari ini? Dulu Alvan suka ngatain Citra sebagai perempuan matre incar uang keluarganya. Tak pandang sebelah mata kendatipun Citra berusaha menjadi isteri yang baik. Alvan dan Karin anggap Citra gadis kampung yang bodoh tak punya masa depan. Citra berhasil buktikan tak selamanya orang miskin tak bisa bangkit berdiri di antara orang kaya. Citra tumbuh jadi orang kuat dan sukses.


Alvan meremas tangan sendiri kuat-kuat menyesal terlalu agungkan cinta konyol penuh kebohongan. Makan tuh cinta. Kenyang kagak yang ada busung lapar.


Azzam menyimpan ponselnya ke tas dengan hati-hati menghargai barang mahal itu. Dari gerakan Azzam tampak jelas anak itu bukan anak tak tahu untung. Anak itu hargai pemberian orang lain. Alvan melihat Azzam mengelus ponsel itu beberapa kali seolah sedang mengatakan selamat malam.


Si lajang masuk kamar mandi setelah yakin ponsel aman dari gangguan. Andai Citra sita hp Azzam dapat dibayangkan betapa kecewa anak itu. Azzam tak manfaatkan ponsel ke permainan melulu. Anak itu mencari ilmu via dunia Maya.


Alvan rebahkan diri di kasur cadangan dari rumah sakit khusus untuk Azzam. Alvan ingin sekali Azzam menerimanya dengan tangan terbuka. Mengakui dia sebagai bapak kandung tanpa syarat. Kapan tiba waktu itu?


Satu kata untuk Alvan. Sabar. Yakin hari itu akan tiba.


Goncangan kecil di samping Alvan membuat Alvan buka mata. Azzam bersiap tidur di samping Alvan tanpa buat puisi menyengat kuping. Lajang itu ikut merebahkan diri dengan tenang. Tak ada sepatah katapun keluar dari bibir Azzam selain ******* gundah.


Azzam belum terbiasa cium bau maskulin Alvan. Tubuh Avan besar mengeluarkan bau wangi. Tidak seperti bau tubuh Andi gunakan minyak wangi cap duyung. Pedih di hidung.


Keheningan membungkus seluruh ruang rawat Afifa. Penghuni kamar super VIP perlahan berlayar ke alam tidur. Menggalang mimpi sesuai keinginan hati. Alvan bahagia bisa tidur bersama anak sulungnya. Azzam terpaksa tidur dengan Alvan karena takut laki itu ganggu maminya. Azzam bukan anak bodoh tak bisa baca keadaan. Alvan punya wanita lain namun mengharap Citra balik ke pelukan. Hanya lelaki tak punya akhlak bangun hasrat gila itu. Azzam takkan biarkan Alvan ganggu hidup Citra lagi.


Di tengah suasana adem ayem tiba-tiba suara ponsel Avan berbunyi. Alvan tersentak segera menolak panggilan masuk. Alvan takut deringan suara ponsel ganggu tidur yang lain. Alvan bangkit perlahan dari sisi Azzam menuju keluar ruang. Citra juga pulas, nafasnya turun naik teratur bak sudah disetting oleh komputer. Wajah itu damai dan cantik. Sekarang Karin bukan tandingan Citra. Citra wanita muda sedang Karin mendekati empat puluh. Citra berada di atas angin menekan Karin jejak ke bumi. Karin makin tenggelam ke dasar laut. Karam sekalian.


Alvan tak bisa berlama-lama menilai wanita yang pernah jadi isterinya. Masih ada panggilan masuk harus dia jawab.


"Halo ada apa?"


"Ini lho pak! Nona Karin di kantor polisi jadi saksi pesta narkoba. Dia minta jaminan untuk pulang."


"Dia ikut pesta narkoba?" dingin suara Alvan. Karin sudah tak ada harapan. Sedang hamil berani ikutan pesta narkoba. Setan mana merasuki otak wanita ini.


"Nona Karin negatif narkoba. Masalahnya pesta dia yang selenggarakan. Pihak berwajib tetap tuntut tanggung jawab nona Karin. Apa yang harus kulakukan?"


"Lantas apa tanggapan pihak berwajib? Karin harus masuk sel atau boleh pulang."


"Kalau ada jaminan nona boleh pulang. Tunggu pemeriksaan selanjutnya. Nona harus datang sebagai saksi."


Alvan sedikit lega Karin tak ikutan konsumsi barang haram perusak akal sehat. Untung Karin masih punya sisa sedikit pikiran waras tidak terlibat barang haram tersebut.


"Kau urus dia pulang." Alvan meminta Untung bereskan masalah Karin. Alvan tak ingin datangi kantor polisi untuk wanita tak punya moral macam Karin.


Alvan pengusaha ternama. Nama Alvan Lingga cukup top di kalangan pebisnis dari dalam dan luar negeri. Apa kata orang bila tahu isteri Alvan ditahan karena pesta gilaan. Arang hitam siap coreng wajah Alvan. Dari dalam sudah tercoreng perselingkuhan Karin dan papanya. Apa harus ditambah biar wajah Alvan makin tak karuan.


"Maaf pak! Pihak berwajib minta bapak datang sebagai suami. Bapak yang bertanggung jawab atas nona Karin."


Alvan ingin sekali membanting hp saking geram harus tetap jejakkan kaki ke kantor polisi untuk seorang penzina. Alvan merasa malu harus tebus bini sinting dari jeratan hukum. Mengapa Karin suka beri kepahitan pada Alvan. Apa salah Alvan harus terima nasib apes.

__ADS_1


"Kau di mana?" bentak Alvan gusar tingkat dewa.


"Di depan rumah sakit. Kita harus segera ke kantor polisi pak! Kondisi nona Karin prihatin. Dia pucat sekali."


Senakal apapun Karin tetaplah wanita yang dicintai Alvan. Dengar Karin drop hati Alvan goyah tak tega.


"Kau tunggu situ! Aku pamitan dulu sama Citra. Jangan ungkit soal Citra pada Karin! Kita tak tahu apa isi otak Karin. Aku takut dia sakiti anak-anak. Kau ingat itu! Jauhkan Karin dari anak-anak dan Citra!" Alvan beri ultimatum pada Untung agar Karin tak tahu soal anak-anak.


"Ngerti pak! Memang seharusnya gitu! Nona Citra orangnya baik. Nadine banyak cerita penderitaan nona Citra. Untuk sementara kita jaga bersama. Maunya bapak jangan terlalu sering jumpa anak-anak agar nona tidak curiga." Untung beri masukan sangat masuk logika. Makin sering Alvan bersama anak-anak makin luas kesempatan Karin melacak kehadiran anak-anak dalam hidup Alvan. Otomatis bahaya mengintai kehidupan bocil-bocil cantik tersebut.


Kata-kata Untung mengandung kebenaran. Alvan gelap mata melupakan peran Karin dalam kehidupan Citra kemudian hari. Dari dulu Karin tak suka pada Citra. Kini dia sedang terpuruk,. berbagai rencana busuk bisa saja mengambang di benak wanita mengerikan itu.


"Kau benar Tung! Syukur kau ingatkan aku! Kau tunggu di luar. Aku pamitan sama Citra dulu."


"Siap."


Alvan bergegas masuk ke ruang rawat Afifa. Mengendap Alvan hampiri Citra yang terbaring di atas sofa. Sebenarnya Alvan tak tega bangunkan Citra. Andaikata wanita cantik itu sedang bermimpi indah. Alvan lah pengacau mimpi Citra.


Namun Avan tak punya banyak waktu berandai-andai. Malam berjalan terus mengejar fajar. Di kantor polisi masih ada seorang selebgram penuh noda menanti uluran tangan Alvan untuk pulang ke rumah.


"Citra..." panggil Alvan lembut di kuping Citra. Alvan sengaja dekat-dekat cari kesempatan merasakan hawa segar dari tubuh Citra. Kesempatan dalam kesempitan.


"Eemm.." sahut Citra sadar tidak sadar. Mata wanita itu berat diajak melihat siapa berada dekat dengannya.


"Citra...bangun sebentar!" ulang Alvan seraya menghirup dalam-dalam pancaran bau tubuh Citra. Harum lembut menenangkan jiwa.


"Bapak...jangan macam ya!" Citra mendorong kepala Alvan menjauhi pipinya. Wajah Alvan nyaris menyentuh pipinya saking dekat.


"Ssssttt... anak-anak sudah tidur! Jangan berisik!" Alvan beri kode menempelkan telunjuk di bibir tanda diam.


Kini Citra duduk menjauhi Alvan. Citra belum terbiasa dekat dengan Alvan. Alvan tak ubah seperti penderita penyakit lepra. Menjijikkan.


"Kenapa dekat-dekat?" ujar Citra tak berani keras tak ganggu tidur para buah hati.


"Bukan mau dekat tapi harus dekat. Beda lho!" goda Alvan bikin Citra belalakan mata. Mata indah sedikit sayu itu makin merusak netra Alvan. Alvan gemas pingin mengecup sepasang jendela hati milik wanita berprofesi dokter.


"To the point! Mau apa? Curi kesempatan?" todong Citra.


"Kalau diijinkan ya mau! Jangan galak-galak sama suami lho! Kualat nanti!"


"Mau divaksin rabies?"


"Emang anjing pakai vaksin? Aku harus pulang sebentar. Jaga anak-anak ya! Terutama Afifa. Pantau panasnya."


"Pulang malam gini? Apa Karin kurang sehat?"


"Hehehe... kau kuatir aku kan?"

__ADS_1


"Ge er banget! Sudah pergi sono. Jangan balik sini lagi! Hiduplah tenang bersama rubah cantik mu!"


__ADS_2