
Citra mengangguk termakan omongan Alvan. Sejak kapan CEO ganteng ini mulai bijak. Apakah waktu mengajar cowok ini makin paham arti hidup sebagai umat beragama?
Apapun dia Citra bahagia berada dalam rengkuhan Alvan yang hangat. Semoga kehangatan ini tidak akan berubah menjadi dingin. Hangat terus tidak mengenal musim.
"Sayang...gimana kalau anak-anak berangkat nanti kau cek up penyakit aku?"
"Penyakit yang mana? Doyan cewek atau ada yang terselubung lagi?" tanya Citra sengaja permainkan Alvan.
Alvan mencubit hidung Citra dengan gemas. Hidung bangir Citra menjadi merah kena jepitan jari segede tang. Untung hidung Citra asli ciptaan Tuhan, gimana kalau hasil oplas dokter kecantikan. Entah bengkok ke arah mana.
"Kamu ini..Mau bikin suami kena jantung biar jadi janda muda?"
"Tergantung bagaimana suami bersikap! Kalau seorang suami suka mengumbar cinta bukan hanya kena serangan jantung tetapi keropos tulang satu badan. Mungkin Mas mau mencoba penyakit baru ini?"
"Tidak...terima kasih! Mas sudah tua tidak cocok obral Cinta lagi. Apa kau tak melihat Mas dikawal oleh 3 Intel yang sangat mengerikan? Kalau hukuman penjara mungkin masih bisa ditoleransi tetapi hukuman mental tak dapat Mas pikul. Terlalu berat di pikiran. Mas pilih yang aman saja. Gimana? Kapan kau operasi mas? Kali aja Afifa bisa dapat adik kecil. Mas order kembar empat biar makin ramai."
Citra mencibir mendengar permintaan Alvan di luar akal sehat. Menjaga 3 anak kembar aja Citra sudah menghabiskan hampir seluruh dan pikiran. Ini minta kembar empat pula. Tamatlah karir Citra di dunia medis. Seluruh waktu akan tersita oleh anak-anak.
"Kenapa mas tak coba lahiran sendiri? Bawa empat bayi dalam perut lalu lahiran merawat empat kurcaci baru. Mungkin mas akan merasakan kenikmatan luar binasa."
"Emang aku bisa? Aku mau saja melahirkan anak satu lusin lagi kalau bisa. Cuma sayang aku tak bisa. Dengan segala kehormatan mas serahkan tugas kepada isteri tercinta."
"Ogah...mas pikir gimana rawat anak kecil? Kalau kita melahirkan lalu percayakan pada orang lain lebih baik tak usah sama sekali. Kalau kita berniat hadirkan mereka ke dunia maka kita harus penuhi janji sebagai orang tua. Memberi kasih sayang full. Dan lagi setelah operasi mas belum tentu bisa normal kayak dulu. Bukan setelah operasi mas langsung pulih. Masih butuh proses panjang untuk mendapatkan kesuburan mas. Tapi semua berpulang pada kemurahan Yang di Atas. Kita boleh berharap dan penentu bukan kita."
Alvan mengelus kepala Citra bangga punya istri berakal sehat. Tak ada apa lagi harus dikejar Alvan. Dia telah memiliki semuanya. Mata pencaharian tetap dan keluarga sempurna. Kalau Alvan masih berniat main mata itu sama saja menggali lubang kuburan sendiri. Tinggal tanam saja.
"Ok kita berusaha ya! Mas mau saja mencoba walah akhirnya nihil. Sekarang kita tidur dan mencari burung bangau berbaik hati antar kurcaci baru!"
"Iya mas!"
"Cuma segini?" tanya Alvan gregetan Citra tak paham maksudnya. Alvan bukan cuma ingin tidur memeluk guling. Definisi tidurnya luas sekali. Citra pura-pura tidak ngerti biar tidurnya tidak terganggu oleh keusilan Alvan.
"Mau mas?"
"Tak baik burung cucak Rowo dibiarkan nelangsa kedinginan. Bagusnya masuk sangkar." bisik Alvan mesum di telinga Citra.
Citra mencubit pinggang Alvan gemas oleh kalimat Alvan yang menjurus ke arah hubungan suami isteri. Adegan 21+. Anak-anak di larang keras ikut nguping.
Alvan tidak sia-siakan kesempatan emas di saat Citra lengah. Tak butuh debat panjang Alvan berhasil menjadi raja atas Citra. Alvan menjadi pemilik pribadi Citra mengantar wanita itu merasakan keindahan punya suami.
Adegan selanjutnya hanya mereka yang tahu. Itu rahasia pasangan suami isteri sah. Pasangan yang diridhoi Allah SWT.
Pagi-pagi Citra sudah bangun untuk menyiapkan sarapan. Bu Sobirin sudah tak ada maka tugas dapur menjadi tanggung jawab Citra. Rencana siang nanti akan jemput Bik Ani dan Iyem untuk tinggal bersama mereka untuk meringankan pekerjaan Citra. Pembantu Bu Sobirin memang acap membantu Citra. Namun mereka juga punya pekerjaan sendiri. Rumah Bu Sobirin sangat luas butuh penangan secara total.
Pagi ini Citra hanya menyiapkan sarapan ala kadar karena belum sempat pergi belanja. Apa yang ada di kulkas dijadikan bahan meracik makan pagi. Heru dan Gibran pasti ikut numpang makan di situ.
Sedang santai Citra siapkan sarapan ada sepasang tangan kekar memeluk pinggang kecil Citra. Citra tak perlu menoleh tahu siapa orang iseng itu.
Bau harum sabun mandi dapat tercium oleh hidung Citra. Bau yang menjadi teman tidurnya beberapa waktu terakhir ini.
"Aku kehilangan permata hati maka aku segera mencarinya. Nyatanya di sini!" bisik Alvan merayu sebagai penyemangat kerja Citra.
"Gombalan pagi subuh fresh banget! Diterima..." sahut Citra tanpa tinggalkan pekerjaan. Alvan masih lengket bak perangko nempel pada amplop.
__ADS_1
"Hari ini aku akan makin rajin kerja untuk nafkahi isteriku! Aku ingin beri yang terbaik untuk isteri aku."
"Isteri yang mana. Maklumlah ada orang isterinya banyak! Belum lagi isteri bawah tangan." sindir Citra membuyarkan kegembiraan Alvan.
Tuhlah wanita! Mulut bilang bisa terima kesalahan suami tapi begitu ada kesempatan semua rekaman kaset usang dibongkar kembali.
"Isshhh...putar lagu lagu lama! Sekarang kan banyak lagu baru, kenapa asyik dengarkan lagu usang."
"Lagu lama lebih sedap di kuping apa lagi yang mendayu. Kenapa? Tertarik pada kaset lama juga?"
"Oh tidak...aku suka lagu baru sekarang! Lebih fresh dan merdu di kuping." tukas Alvan cepat sebelum Citra keluarkan sindiran lebih ganas.
"Aku panggil anak-anak ya! Sebentar lagi sudah adzan subuh."
"Iya...Gibran sekalian! Anak itu paling susah diajak bangun pagi."
"Siap nyonya bos!" Alvan ngacir sebelum kena skak mat mematikan. Setiap kata Citra mematikan langkah Alvan. Tak ada sela membela diri. Pasrah dijadikan bulanan dalam kancah permainan kata.
Kabur adalah langkah paling aman. Bebas dari sakit kepala juga bebas dari pedih gendang telinga.
Alvan membangunkan Azzam dulu baru ke Gibran. Terakhir jatuh pada tuan Puteri tercinta. Tidak sulit membangunkan bocah-bocah yang sudah terlatih bangun subuh. Kehidupan rutin berkat didikan tangan besi Citra. Citra mendidik mereka dengan disiplin ketat sedang Alvan memanjakan mereka. Tak boleh keduanya keras juga tak boleh keduanya memanjakan. Harus ada keseimbangan biar anak tidak bosan.
Pas adzan semua sholat di imami Alvan. Afung dan Heru tidak tampak batang hidung. Ntah jam berapa mereka pulang. Itu urusan orang dewasa. Yang penting mereka tidak keluar dari rel seharusnya.
Azzam dan Afifa masih harus ke sekolah sebelum dapat hasil ujian sedangkan Gibran tidak sekolah lagi. Selesai ujian mereka langsung dapat liburan. Lajang itu ikut mengantar Afifa dan Azzam ke sekolah biar tidak bosan main sendirian di rumah.
Alvan berangkat ke kantor setelah antar Citra ke rumah sakit. Citra rencana cepat pulang karena tak ada yang urus anak-anak. Rencana Alvan akan meminta Untung menjemput kedua pembantunya datang ke rumah. Kedua orang itu sudah test darah atas permintaan Alvan. Alvan ingin orang berada di lingkungan mereka steril dari segala jenis virus. Ini untuk kebaikan semua orang.
Alvan takut kedua pembantu terjangkit virus yang diderita Karin. Kedua pembantu itu melayani Karin selama dia sakit maka itu Alvan menjaga dari segala kemungkinan buruk. Alhamdulillah apa yang ditakutkan Alvan tidak terjadi. Kedua pembantu itu bebas dari virus mematikan itu.
"Ada rapat penting hari ini?" tanya Alvan sambil melangkah ke arah lift untuk menuju ke lantai atas.
"Rapat tidak ada. Cuma ada pertemuan dengan klien. Sekalian makan siang. Aku sudah pesan tempat di restoran bapak. Nanti kalau sudah waktu aku akan ingatkan bapak."
Alvan beri anggukan kecil. Pertemuan dengan klien tak dapat dihindari karena memang untuk memajukan perusahaan butuh investasi dari luar. Satu perusahaan tak mungkin berdiri sendiri tanpa campur tangan pihak ketiga.
Alvan memulai kegiatan dengan mengucap puji syukur pada Yang Maha Kuasa masih diberi kesempatan melakukan kegiatan sampai detik ini. Alvan tenggelam dalam rutinitas kantor sampai ponselnya menjerit kencang minta perhatian. Alvan mengambil ponsel warna hitam di atas meja.
Nama Karin tertera di layar. Tanpa buang waktu Alvan klik tanda terima panggilan.
"Assalamualaikum Van.. apa kabar?"
"Baik...kamu gimana di sana? Kedengarannya sangat segar!" Alvan mendengar nada suara Karin lebih nyaring bersemangat. Apa wanita ini benaran mendapatkan hidayah.
Kuping Alvan menangkap tawa lepas Karin. Tawa yang dulu selalu hadir di telinganya. Cukup lama Alvan tak dengar tawa bebas Karin. Kini tawa itu mulai terdengar lagi. Alvan tak luput dari rasa senang Karin menemukan kegembiraan di pondok pesantren.
"Alhamdulillah aku jauh lebih baik di sini! Aku seperti pulang ke rumah sendiri berada di sini."
Alvan mengernyit alis heran mengapa Karin begitu bahagia berada di pesantren.
"Syukurlah kau senang di sana! Kapan ada rencana pulang sini?"
"Inilah yang mau kubicarakan denganmu Van! Aku sangat betah di sini karena warga sini semua bernasib sama dengan aku. Mereka hidup normal dan penuh semangat walau nyawa di ujung tanduk. Maukah kamu jadi salah satu donatur sini?"
__ADS_1
"Tentu...asal kamu tenang aku lega! Katakan berapa yang kau butuhkan!"
"Kami sini butuh biaya beli obat HIV yang lumayan mahal. Terserah kamu mau sumbang berapa! Seikhlas kamu..."
"Baiklah! Nanti aku akan konsul dengan Ustad Syahdan. Kau perlu kiriman uang?"
"Tidak...uangku masih ada! Aku belum perlu uang dan ada satu lagi permintaanku!"
"Katakan! Aku akan berusaha mewujudkan semua permintaan kamu sebagai pernyataan maaf dariku."
"Kau tak bersalah untuk apa minta maaf! Aku yang banyak dosa padamu dan Citra. Aku tak punya apa-apa untuk bayar dosa aku selain ingin mundur dari pernikahan kita. Aku ingin kita bercerai."
Alvan terdiam mendengar permintaan Karin. Karin sudah menyerah pada nasib memilih mundur beri kesempatan pada Alvan menata hidup baru.
"Kau yakin?"
"Sangat yakin...kau tak perlu kuatir aku akan hidup kesepian. Ustad Syahdan dan aku akan menikah untuk habiskan sisa umur kami. Kami sama-sama mengidap penyakit sama jadi kami lebih cocok. Kami tak perlu menyembunyikan keburukan masing-masing. Ini ada Abi Syahdan. Dia akan jadi saksi talak darimu."
"Karin...ini bukan sekedar permainan! Ucap talak itu harus berhadapan. Tak mungkin kita remehkan."
"Kau keberatan bercerai?"
"Bukan itu! Aku ingin yakin Ustad Syahdan serius padamu agar hidupmu tidak terbuang."
"Isteri Abi Syahdan duluan meninggal karena penyakit sama. Waktu itu Abi tak tahu penyebab isterinya meninggal. Ternyata ini semua salah Abi Syahdan terlalu bebas bergaul. Kami berdua hasil dari perbuatan sendiri. Kini kami sadar bahwa kamu dan Citra harus melanjutkan hidup secara baik-baik. Maka itu aku ingin bercerai biar kamu dan Citra hidup damai. Aku juga akan menemukan kedamaian di sini."
Pernyataan Karin membuat Alvan termenung. Semua bermula dari nafsu angkara merusak kehidupan sendiri. Semua terlanjur berantakan barulah muncul kesadaran bahwa itu salah. Semoga tak ada kata terlambat.
"Lalu aku harus bagaimana?"
"Kita hanya menikah siri jadi kamu cukup ucap talak padaku maka jatuhlah hubungan pernikahan kita!"
"Melalui ponsel gini?"
"Bisa apalagi ada saksi. Ini ada Abi Syahdan dan beberapa kawan jadi saksi. Aku tidak ingin mempersulit kamu sampai harus hadir di sini."
Alvan menghela nafas. Seharusnya Alvan lega terbebas dari Karin. Karin telah mendapat jodoh setimpal yang bisa memahami dia. Tapi tidak segampang itu. Karin pernah dampingi dia bertahun-tahun, masa dicerai hanya melalui ponsel. Itu bukan perbuatan lelaki sejati. Alvan tak mau dianggap pengecut.
"Aku akan datang besok! Aku harus yakin apa yang kau katakan itu bukan karangan. Kita memang tak mungkin bersama lagi tapi aku punya tanggung jawab padamu."
"Van...ini ada Abi Syahdan! Bicaralah dengannya! Kita semua berhak bahagia bukan?"
"Tentu ..hidupkan loudspeaker biar kita bicara bareng."
"Ini sudah hidup dari tadi. Aku tak mau simpan rahasia apapun dari Abi karena tak mau kejadian dulu terulang lagi. Dulu aku sering bohongi kamu jadi sekarang aku tak mau jadi pembohong lagi. Silahkan!"
"Assalamualaikum...pak Alvan! Aku Syahdan..."
"Waalaikumsalam..." Alvan menyahuti salam orang yang belum jumpa rupa.
"Aku dari tadi dampingi dek Karin! Semua yang dia katakan itu benar. Setelah kalian bercerai aku akan secara resmi melamarnya. Ya tunggu masa Iddahnya selesai! Dia bertahan di samping mu hanya bawa duka bagi semua. Aku akan merawatnya dengan baik. Aku takkan siakan Karin di sisa hidup kami."
"Pak ustad yakin mau menikahi Karin?"
__ADS_1
"Yakin...di hari-hari kami yang tak ada kepastian ini mungkin dengan memberi kedamaian bagi semua akan ringankan kesalahan kami. Kami akan saling menjaga."
Hati Alvan sedikit tenang dengar janji sang ustad. Alvan lega Karin sudah ada yang jaga. Kalau begini Alvan tidak keberatan talak Karin.