
Kebahagiaan terpahat di wajah Citra melihat kedua bocah celoteh dengan riang suarakan kerinduan pada Citra. Afifa meminta Citra segera pulang sedang Azzam memberi semangat pada Citra untuk bertahan menyumbang tenaga bagi korban bencana.
Alvan ikut bahagia melihat Citra melupakan insiden yang barusan terjadi. Citra larut dalam rekaman anak-anak yang jauh di mata. Untunglah kini tak ada jarak berkat kehebatan teknologi yang maju pesat. Andai signal aktif mungkin Citra bisa video call dengan bocil-bocil di rumah. Berhubungan sambungan telekomunikasi belum memadai paling hanya nonton rekaman yang dibawa Alvan.
Citra mengembalikan ponsel Alvan tanpa membuka aplikasi lain. Citra tak punya hak memeriksa isi hp Alvan karena dia hanya mantan isteri. Kalaupun Citra isteri Alvan belum tentu Citra akan membuka ranah pribadi Alvan. Citra harus hormati privasi setiap orang.
"Aku boleh rekam kamu?" Alvan menerima ponselnya dari tangan Citra. Alvan makin salut pada Citra tidak kepo isi ponselnya. Citra cuek bebek tak tertarik mengacak isi ponsel orang lain.
"Besok saja waktu aku sedang dinas biar anak-anak bisa lihat apa kerja maminya. By the way pak! Terima kasih untuk semuanya." Citra beri senyum damai. Senyum yang diharapkan Alvan senantiasa melekat di jantung. Maunya senyum itu hanya milik dia pribadi. Tidak dibagi buat orang lain.
"Baiklah! Gimana tanganmu? Apa masih sakit?" Alvan melirik lengan tangan Citra yang sudah tertutup kain baju. Kalau bukan ingat sopan santun Alvan sudah memeriksa sendiri.
Di dalam mesjid mulai berdatangan para relawan untuk istirahat. Semua tampak lelah setelah seharian berkutat dengan bidang masing-masing. Tak ada sepatah kata keluhan terbit dari mulut para relawan. Mereka bekerja dengan tenaga dan hati. Mengabdi setulus hati pada korban bencana.
"Bapak tidak pulang?"
"Tidak...aku sudah minta ijin pada Azzam. Kau tak perlu kuatir tentang anak-anak. Nadine dan Andi akan rawat mereka. Sekarang tambah Tokcer. Untung juga di sana sampai anak-anak tidur."
"Bapak bisa tidur hanya beralas karpet? Biasa tidur di ranjang empuk ditemani bau harum kak Karin. Sekarang cium bau aneka rasa bau. Bau rujak gitu!" ejek Citra.
"Aku bisa tidur di samping kamu!" balas Alvan membuat mata Citra membesar. Alvan bukan takut malah terkekeh senang bisa balas Citra.
"Aku bisa sunat orang mesum. Pakai gunting pagar tanaman. Sekali gunting aman seumur hidup. Tidak perlu sibuk pikir sunatan lagi."
"Huusss...orang cukup sunat sekali! Disunat berkali-kali burungnya tak bisa berkicau lagi. Jangankan berkicau, mencicit saja sudah tak bersuara! Dukun sunat apa kau ini?"
"Dukun sunat orang mesum! Spesialis sunat orang mesum. Mau coba?"
"Ogah...burung aku masih pingin masuk sarang hangat! Lagi incar sarang nyaman!" Alvan mengerling genit bikin Citra tersipu. Gimanapun Citra wanita muda yang belum ngerti sekali soal hubungan mesra. Dia cuma pernah sekali rasakan pelukan lelaki. Itupun dalam situasi tidak menyenangkan.
"Ingat bini yang sedang sakit! Genit dipiara! Diumpan terusan jadi penyakit."
"Lha...kan masih ada bini sehat!"
"Mantan bini bukan bini!" Citra tak bosan ingatkan Alvan statusnya hanya mantan bini. Citra tak ingin Geer menganggap dirinya masih isteri Alvan. Mereka cuma berstatus suami isteri dalam kertas.
"Pulang ini kita ke penghulu ya! Biar lebih afdol berada di sekelilingmu. Aku tidak seperti maling di rumah sendiri lagi. Ini untuk anak-anak juga. Mereka pasti berpikir mengapa kedua orang tua mereka tinggal pisah. Sangat tidak bagus untuk perkembangan mental mereka."
Citra tidak menampik omongan Alvan mengandung kebenaran cuma Citra belum terbersit membangun rumah tangga dengan siapapun. Trauma punya suami membuat Citra ragu melangkah lebih jauh kembali hidup bersama Alvan.
__ADS_1
Citra terlanjur nyaman hidup sebagai single parents. Tanpa cemburu dan waspada suami selingkuh. Betapa damai hidup bersama anak-anak tanpa buang pikiran pada orang lain.
"Maaf pak! Aku belum bisa jawab. Beri aku waktu." Citra menolak secara halus agar Alvan tidak sakit hati. Citra masih hormati Alvan sebagai papi dari Azzam dan Afifa. Tapi untuk ijinkan Alvan bergabung sepenuhnya masih harus ada pertimbangan jangka panjang.
Alvan mengangguk tanpa memaksa. Alvan bukannya tidak paham Citra masih dibayangi kenangan masa lalu. Mulut boleh berkata sudah move on tapi pada kenyataan wanita itu mengurung diri dalam cangkang tak terlihat. Citra protek diri sendiri dari luka lama.
"Aku menunggumu! Tapi berjanjilah tidak beri kesempatan pada Heru merayumu. Kau masih berstatus isteri Alvan."
Citra malas berdebat untuk hal tak penting. Kalau Alvan mau anggap itu penting terserah dia. Kesimpulan Citra kehadiran Heru dan Alvan bukan membantunya, justru bikin dia berada di posisi sulit.
Senja telah turun. Waktu pergantian siang ke malam segera tiba. Raja kelam akan berkuasa perlihatkan jubah hitam menutupi seluruh persada tanah air.
Di luar sana para pemuda sudah bersiap menyalakan obor pengganti cahaya lampu yang sampai detik ini belum menyala. Akses jalan baru terbuka sehingga para pekerja listrik belum sempat singgah. Perbaiki jaringan listrik terputus tidak semudah minum air putih. Memperbaiki tiang listrik roboh belum lagi kabel terputus sepanjang jalan.
Semua warga hanya bisa berdoa semoga perbaikan menjangkau desa mereka. Perlahan kehidupan akan kembali normal.
Citra dan Alvan masih berada dalam mesjid menunggu dapur umum menyiapkan makan malam. Citra mulai terbiasa hidup sederhana di pengungsian tidak masalahkan menu apa tersedia. Yang penting bisa mengenyangkan perut.
"Citra...kau tak lapar?" tiba-tiba Alvan bersuara setelah terdiam sesaat. Lelaki ini menyentuh perutnya yang berbunyi kriuk-kriuk tanda cacing mulai berontak.
Citra hanya bisa meringis tak mau cerita kalau di sini makan tak bisa seenak perut. Mulut yang minta jatah bukan satu dua orang. Beratus-ratus mulut menanti hasil olahan dapur umum. Makan dijatah mengingat masa tanggap masih panjang.
"Lapar juga! Sabar sedikit ya! Kita ini lagi dalam kondisi prihatin. Kita utamakan lansia dan anak kecil. Mereka lebih butuh."
Citra menekuk lutut memeluknya gunakan kedua tangan. Dagunya Citra terduduk di lipatan dua lutut gambarkan orang putus asa. Citra pernah rasakan bagaimana hidup dalam kesederhanaan. Asal ada makan untuk anak-anaknya dia cukup bahagia. Dia sendiri cukup makan sisa dari jatah anak-anak.
"Aku terbiasa. Ikat pinggang sekencang mungkin demi anak-anak. Untung ada keluarga baik membantu aku di Beijing maka aku rela ijinkan Afisa dirawat mereka. Mereka tak punya anak. Mereka anggap anak-anak aku anak mereka. Mereka sayang sekali pada Afifa tapi Afifa tidak mandiri maka mereka pilih Afisa. Aku tidak tega merenggut kebahagiaan mereka saat ini. Biarlah Afisa temani mereka sampai Afisa punya pilihan mau tinggal di mana!" Citra mengungkap kenapa Afisa bisa berada di Tiongkok. Alvan terdiam merasa bodoh menelantarkan anak isteri hanya untuk satu perasaan cinta. Alvan sendiri tak tahu ke mana cintanya pada Karin. Semua itu sirna setelah jumpa Citra.
"Aku buta tak lihat sosok mulia berdiri di belakang aku. Aku malah tergila pada foto indah yang bisa luntur kapan saja. Aku memang lelaki paling tolol di dunia ini. Lalui hari-hari bersamamu dan anak-anak semua kekayaan rasanya tidak berguna. Kalian lebih kaya dari aku! Kalian kaya kasih sayang dan kaya akhlak mulia. Aku ini tak ada apa-apa dibanding kebesaran jiwamu. Aku petik pelajaran berharga darimu! Kau masih muda tapi semua tindak tandukmu menggurui aku."
"Bapak akan bijak tentukan masa depan sendiri! Satu proyek rumit mampu bapak tuntaskan. Semua ini tak serumit yang bapak bayangkan asal bapak bijak gunakan hati melakukan sesuatu. Bukan hanya dari mata dan telinga."
"Iya..aku ngerti! Maksudmu tentu Karin. Di antara kita masih ada jalan belum ketemu ujung. Sedikit demi sedikit aku mulai memahami kamu. Semua dugaanku tentang kamu salah total."
"Emang bapak pikir aku ini apa? Alien dari planet Mars? Atau monster cilik dari hutan Amazon?"
Alvan menatap lurus ke wajah Citra dari samping. Wajah itu begitu lesu tak berseri walau tak kurangi kecantikannya. Alvan tahu Citra lelah jalani tugas di samping memendam rasa rindu pada kurcacinya.
Saat ini mereka bicara dari hati ke hati ungkap ganjalan bak benang kusut di antara mereka. Untuk meluruskan benang kusut butuh kesabaran luar biasa. Ntah bisa terbentang lurus atau makin kusut.
__ADS_1
"Dulu aku mengira kau tergiur harta keluarga aku! Setelah kau pergi menghilang aku baru merasa kehilangan. Aku mencarimu sampai putus asa. Kau hilang bagai ditelan bumi. Aku menyesal tapi tak ada celah buatku menemukanmu. Apalagi setelah balik ke rumah setelah kakek meninggal. Kau makin jauh sampai kita jumpa di rumah sakit. Kuharap kau memaafkan semua kebodohan aku!"
"Itu masa lalu! Kita bolak balik juga takkan kembali. Aku ikhlas pergi berharap bapak bahagia dengan Karin. Satu Citra tak ada artinya bila dibanding dua hati saling mencintai. Tak kusangka keputusanku pergi tidak bawa dampak positif. Bapak dan kak Karin berantakan."
"Itu salah Karin anggap aku ini ATM bersama bisa digesek setiap dia perlu. Yang salah takkan luput dari karma buruk. Aku takkan ulangi kesalahan sama. Kau beri aku kesempatan bertobat!"
"Bertobat kok sama aku? Sama yang di atas. Yok kita cari makan. Aku juga sudah lapar."
"Tidak sholat dulu! Kayaknya mau masuk waktu magrib."
"Aku sedang tidak sholat!" ketus Citra tidak terangan akui dia sedang pms. Alvan memang suami namun hubungan mereka tidak seakrab pasangan suami istri lain. Di antara mereka masih ada gap belum selesai.
"Oh...gitu ya! Kalau gitu kau siapkan makan malam! Aku sholat dulu. Aku akan menyusul kamu." Alvan bangkit memberi tangan pada Citra agar mau dibantu bangkit.
Citra tidak menampik niat baik Alvan. Perhatian kecil Alvan hanya sekedar perhatian umum antara dua sahabat. Setiap cowok juga akan berbuat gitu pada teman bila jumpa kondisi begini.
Citra berjalan keluar mesjid sedang Alvan pergi ambil air wudhu untuk dirikan sholat. Berkat bimbingan Citra Alvan lebih tahu agama. Bukan Islam dalam KTP lagi. Real umat Islam sejati.
Di luar Citra jumpa kelompok orang baru. Sepertinya para pegawai dari Pemda kabupaten datang meninjau lokasi pengungsian. Mereka datang setelah jalan bisa dilalui kenderaan. Citra bersyukur adanya perhatian pemerintah pada rakyat korban bencana.
Di antara orang itu terdapat Heru dan Daniel. Mereka beramai-ramai duduk di tenda beralas plastik. Hidangan paling top saat ini hanya teh dan kopi arang ala Daniel.
Begitu Citra keluar Heru melambai pada Citra agar bergabung dengan mereka. Semua mata tertuju pada Citra yang melangkah pasti ke tempat Heru. Citra merasa tak ada masalah maka melenggang dengan santai ikut bergabung. Sekaligus cari tahu apa rencana Pemda terhadap desa ini.
"Ini dokter Citra! Salah satu dokter terbaik di sini!" Pak Hasan selaku kades perkenalkan Citra saat telah sampai di kelompok sedang diskusi.
"Assalamualaikum..." Citra merapatkan kedua tangan di dada memberi salam sebagai umat beragama.
"Waalaikumsalam...silahkan duduk Bu Dokter! Kami ini dari kabupaten meninjau lokasi ini. Kami minta maaf baru hari ini bisa jangkau sini. Ini pasti menyulitkan kalian sebagai relawan." salah satu bapak berpakaian rapi membalas salam Citra sekalian klarifikasi mengapa mereka baru bisa datang.
"Maklum kok pak! Kita di sini saling membahu meringankan derita penduduk. Kita beruntung dapat donatur baik macam Pak Alvan dan Pak Heru. Mereka berkenan membagi rezeki pada sesama." ujar Citra dengan nada lembut.
"Iya...nama besar pak Heru dan pak Alvan sudah tersebar di mana-mana! Kami berterima kasih pada anda semua bersedia membantu dengan tulus. Oya perkenalkan aku ini Kadis dinas sosial dan ini dokter Indah dan dokter Tina. Dan kedua bapak ini dari kesatuan TNI dampingi kami meninjau di sini."
"Selamat datang!" Citra tetap ramah menyambut orang berniat baik.
"Oya nona dokter...mulai besok kami akan ambil alih tugas kalian! Kalian telah dibebas tugaskan karena kami sudah bisa menjangkau desa. Jadi segala masalah kesehatan warga jadi tanggung jawab kami! Kami siap bekerja sama dengan Pak Alvan dan Pak Heru. Selanjutnya kalian akan kembali ke tempat kalian dinas" salah satu dokter itu langsung koordinasi dengan Citra tentang berakhirnya masa tugas Citra dkk.
Citra cukup kaget diminta pulang secara mendadak. Tak ada pemberitahuan awal disuruh pulang.
__ADS_1
"Tapi..." Citra menatap Pak Hasan minta kejelasan. Kades itu tak berdaya melawan perintah dari kabupaten. Pak Hasan hanya seorang kades tak punya wewenang menahan Citra dkk karena sudah perintah dari pusat.
"Kami petugas resmi yang bertanggung jawab. Kalian hanya dokter relawan. Kami akan bekerja sebaik mungkin. Apalagi kami didampingi donatur baik macam Pak Heru dan Pak Alvan. Ya kan Pak Heru?" Dokter itu kembali menyerang Citra yang tampak bingung hadapi situasi tak bersahabat.