ISTERI CEO YANG TERLUPAKAN

ISTERI CEO YANG TERLUPAKAN
Rencana Pesta


__ADS_3

Citra ingin sekali bersorak akhirnya lampu hijau menyala. Citra tahu Alvan pasti tidak tega bikin Citra merasa bersalah pada pasien. Makin hari Citra makin menemukan sisi baik Alvan. Cintanya pada Alvan yang terpupuk puluhan tahun tidak sia-sia. Alvan telah membalas dengan lipat ganda.


"Terima kasih mas! Kalau sudah selesai cepat pulang!"


"Cepat pulang ada hadiah? Paling tidak dapat menu buka puasa panjang."


"Idihhh...mesum! Belum boleh tuh!"


"Aku sudah sehat. Tak ada keluhan lain. Jamin sudah aman! Aku pulang sekarang ya!"


"Huusss...kerja dulu! Dasar otak cabul. Sudah ach...aku tutup dulu. Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam..." jawab Alvan sambil tersenyum.


Ingin hati segera pulang menuntut jatah malam yang sudah lama terlewatkan. Entah kenapa malam ini Alvan sangat menginginkan Citra. Cuma sayang pekerjaan masih satu bakul.


Lewat tengah malam Alvan baru pulang. Andi langsung balik ke rumahnya sedang Alvan pulang berkumpul dengan anak isteri.


Alvan menemukan Citra sudah pulas dalam mimpi. Tidak tega membangunkan isteri hanya untuk menuntaskan panggilan alam. Alvan mesti banyak belajar sabar untuk raih hasil terbaik.


Alvan segera menyusul Citra menyerahkan diri pada si raja malam. Besok hari akan terbit mentari lebih ceria menggores kisah baru.


Satu kecupan lembut mendarat di pipi Alvan sebagai alarm alami dari isteri. Alvan merasakan bau lembut Citra yang telah akrab di hidung.


"Selamat pagi sayang.." sapa Alvan sambil beri senyum.


"Pagi...ayo bangun! Sebentar lagi subuh!"


"Sudah bangun kok!" Alvan tersenyum nakal meraih tangan Citra ke satu tempat rahasia di bawah selimut.


Citra terpekik malu menyentuh sesuatu sangat keras di bawah selimut. Tak urung Citra tersipu malu dapat godaan di pagi subuh.


"Isshhh...apaan?" Citra segera menarik tangan hindari kenakalan Alvan.


Alvan gunakan gerakan macan menerkam mangsa paksa Citra jatuh ke atas tubuhnya. Sekali tarik Citra sudah berada dalam rengkuhan Alvan.


Laki ini berusaha mencium Citra namun dengan cepat ditolak Citra. Waktu adzan subuh susah dekat. Kalau sempat Alvan melepaskan hajat maka sholat kali ini akan terlewati. Citra tak boleh beri contoh buruk pada anak-anak.


"Mas...waktunya sholat! Ayok bangun cuci muka! Ditunggu anak-anak lho!" Citra terpaksa gunakan anak-anak sebagai perisai hindari kenakalan Alvan. Laki itu pasti mengalah bila ingat anaknya.


"Iya deh!" Alvan mengalah segera ke kamar mandi untuk redakan gairah yang sudah capai ubun kepala. Memaksa kehendak bukan gaya Alvan.


Betul dugaan Citra, anaknya sudah komplit menunggu di ruang sholat. Tinggal tunggu kehadiran imam pimpin sholat subuh. Untung Alvan tidak ngotot mau menang sendiri. Betapa kecewa anak-anak bila Citra dan Alvan tidak hadir Bersholat.


Seusai sholat masing-masing masuk kamar sendiri. Hari masih gelap belum ada tanda kehidupan di luar. Anak-anak ingin melanjutkan tidur atau sekedar main ponsel. Alvan beri kode pada Citra untuk ikut masuk kamar.


Alvan berbuat seakan ada yang penting ingin dibincangkan dengan Citra. Ntah iya mau bahas sesuatu atau mau minta jatah yang belum turun.


Begitu sampai di kamar Alvan langsung menyergap Citra dari belakang. Citra mana bisa berkutik berada dalam rengkuhan cowok berbadan gede itu. Sadar tak guna melawan karena hanya buang tenaga. Lebih baik ikuti arus saja.


"Aku kangen..." bisik Alvan lembut di sisi telinga Citra.


"Tiap hari jumpa masih kangen? Ntar cepat bosan lho!"

__ADS_1


"Seumur aku takkan bosan padamu. Pikiranku penuh oleh kamu. Tak percaya aku kangen? Mari kutunjukkan gimana kangen aku!" Alvan dengan gampang membopong Citra ke tempat tidur. Ringan seperti angkat boneka berudu.


Citra menyembunyikan wajah di balik dada Alvan. Malu dirayu pagi hari. Frekuensi berhubungan mereka cukup jarang. Alvan bukan orang suka umbar nafsu bila mood tidak pas. Harus ada moments pas barulah dia akan merayu Citra.


Hasrat Alvan tidak terbendung pagi ini. Rindu redam yang terkumpul diledakkan pada pagi ini. Alvan membawa Citra berkeliling di awang-awang kenikmatan. Desah manja Citra membuat nafsu Alvan makin menggila. Ditambah puasa cukup lama maka gairah Alvan makin mencapai puncak.


Hampir satu jam bergelut di tempat tidur barulah Alvan melepaskan Citra. Alvan telah mendapatkan haknya sebagai suami dan Citra mendapatkan kebutuhan batin. Terpuasi keduanya. Begitulah kalau kudu cinta. Bunyi kentut terdengar merdu di kuping.


Alvan mengajak Citra mandi bersama untuk akhiri ritual pagi ini. Keduanya sama-sama puas setelah lalui detik-detik kebersamaan yang indah.


Citra mengeringkan rambut pakai hairdryer agar anak-anak tidak bertanya mengapa sang mami pagi-pagi sudah keramas. Anak-anak mana ngerti arti mandi junub alias mandi wajib.


Alvan duluan muncul di meja makan menanti kehadiran kurcaci. Heru juga sudah berada di meja makan untuk sarapan bersama. Sudah lama mereka tidak kumpul sejak Heru berangkat ke Beijing.


Wajah lelaki bertampang dewa Yunani itu makin berminyak sejak menikahi Aisyah alias Afung. Lelaki itu harus sabar menanti Afung selesaikan kontrak dengan pemerintah sampai akhir tahun. Mereka akan bertanding untuk musim dingin nanti.


"Selamat pagi om.." sapa Alvan sambil menarik kursi seberangan dengan Heru.


Heru tersenyum menyambut suami keponakannya. Suasana pagi ini tak ceria karena semua dalam kondisi stabil.


"Pagi...hari ini mulai ngantor?"


"Sudah dari kemarin. Lembur."


"Hebat keponakan aku! Harta sudah segunung masih giat cari uang. Tidak rugi anakku kawin dengan kamu. Cuma Kuingatkan jangan sekali-kali coba main api! Kujamin kau akan terpanggang sampai gosong."


Alvan mendehem pura-pura tak dengar omongan Heru. Tak usah diingatkan Alvan akan ingat jelas. Alvan bukan takut ancaman Heru melainkan takut pada ketiga kurcacinya bawa kabur induk mereka.


"Halo...good morning every body!" seru Afifa dari atas tangga. Bak kelinci baru lepas dari sangkar si bungsu loncat-loncat dari satu anak tangga ke anak lain.


"Pagi cucu cantikku! Senang liburan?" Heru menggamit pinggang gendut Afifa agar dekat.


"Senang banget! Kenapa opa tak ikut? Kan seru ada opa."


"Opa kan harus jaga rumah. Semua pergi siapa jaga rumah? Ntar rumahnya kabur gimana?"


Afifa tertawa lucu. Gigi depan Afifa mulai tanggal akan diganti gigi dewasa. Walau ompong tak mengurangi kelucuan anak boneka itu.


"Opa ini aneh...rumah tak punya kaki gimana mau kabur!"


"Rumah sekarang pintar. Mana yang lain? Kok belum turun sarapan?" tanya Heru belum melihat anak-anak lain.


"Mungkin tidur lagi. Biar Amei panggil." Afifa menarik badan dari pegangan Heru. Anak ini bermaksud bangunkan saudaranya yang mungkin ketiduran.


"Kami di sini..." seru Gibran dari atas. Lajang ini berdiri di balkon menurunkan leher memandang ke bawah. Afifa melambai minta omnya turun.


Dari belakang menyusul Azzam dan Afisa. Lengkap sudah putra putri dua keluarga. Tinggal Citra yang belum hadir. Masing-masing ambil tempat untuk menikmati sarapan pagi bersama.


"Amei...panggil mami dek!" pinta Azzam heran mengapa Citra telat. Maminya tak pernah telat dalam hal apapun. Mengapa hari ini juru kunci.


"Ya ko.." Afifa segera turun dari kursi berjalan ke arah kamar Citra.


Alvan tertawa dalam hati gara keisengan dia membuat Citra telat beraktifitas hari ini. Alvan juga tak salah bila bermesraan dengan isteri halal. Wajar banget suami menuntut hak dia.

__ADS_1


Afifa sukses boyong Citra ke ruang makan. Citra sudah sangat rapi siap balik ke rumah sakit atas ijin Alvan. Wajah Citra segar berseri-seri bak bunga baru dipetik dari taman bunga.


Alvan akui bahwa Citra sangat menarik pagi ini. Berkat rayuan gombal Alvan aura Citra meningkat ke level lebih tinggi.


"Wah..mami cantik banget pagi ini! Senang liburan ya!" tanya Afifa lugu.


Semua setuju dengan kata Afifa. Citra memang lain dari hati biasa. Pagi ini dia sangat cantik.


"Semangat sudah kembali melihat semua berkumpul. Tinggal tunggu opa Oma serta Uyut kalian. Kita sempurna jadi keluarga besar." Citra berkilah malu akui kalau dia sedang bahagia mendapat cinta dari Alvan.


"Keluarga sakinah dengan selusin anak. Mungkin tak lama lagi di rumah ini bakal tambah suara tangis bayi." gurau Heru bisa baca keadaan. Heru bukan anak kecil yang tak ngerti keadaan. Setiap pasangan wajar kalau bercinta. Itu pasti akan membawa aura warna warni bagi pasangan itu.


"Afung ie akan segera punya anak?" tanya Afisa salah pengertian. Gadis kecil ini mengira Heru sedang omong untuk diri sendiri.


"Afung ie kamu mana boleh punya bayi sampai dia selesai tanding. Opa rasa kamu bakal jadi kakak. Mami kamu akan segera punya bayi lagi. Ya kan Van?" Heru mengarah pada Alvan yang hanya tersenyum tipis.


"Yang benar opa? Amei mau dedek cewek biar ada kawan main boneka." seru Afifa seolah punya anak bisa diorder sesuka hati.


"Huusss... karangan opa didengar! Cepat sarapan! Mami harus ke rumah sakit pagi ini. Siang nanti mami sudah di rumah. Kalian bisa main sendiri kan?"


"Apa kami boleh pergi main sama kak Tokcer? Aku ingin ajak Cece jalan-jalan." Azzam minta ijin ingin menyenangkan Afisa sebelum balik ke Beijing.


"Tentu saja boleh tapi harus ada pengawalan. Kalian tak boleh pergi gitu saja tanpa pengawalan." ujar Alvan kuatir terjadi hal di luar dugaan. Sekarang banyak yang kenal anak-anak ini sebagai penerus dua dinasti kaya. Siapa tahu ada yang berniat buruk pada anak-anak.


"Papi kalian betul...nanti opa suruh beberapa pengawal ikut kalian! Kalian main saja sepuasnya. Gi harus ikut jaga keponakanmu!" timpal Heru sejalan dengan Alvan.


Inilah yang tak disukai Citra. Dari dulu Citra tak mau pamer agar kebebasan anak-anak tidak terkekang. Apa yang ditakuti Citra akhirinya terwujud. Anak-anak mulai dikenal sebagai anak keluarga kaya. Orang yang berniat jahat pasti sedang susun rencana buruk. Tapi Citra tak bisa mengubah apa yang telah terjadi. Cepat atau lambat hal ini akan terjadi.


"Terima kasih opa..papi! Kami akan patuh?" jawab Azzam sopan.


Bik Ani mulai hidangkan sarapan pagi untuk ganjal perut. Bau harum mie pangsit rebus menggoda perut yang memang sudah kerontang. Anak-anak Menyantap tanpa malu-malu. Gimanapun makan di rumah lebih jaman. Gimana lezat makanan di luar tetap lebih nikmat santap bersama di tempat nyaman.


"Acara ulang tahun kalian sudah diatur sedemikian dahsyat. Opa undang badut dan cosplay untuk hibur teman kalian. Acaranya Sabtu depan." cerita Heru bangga telah berhasil merancang pesta besar untuk cucunya.


"Apa tidak berlebihan om? Maunya yang sederhana hanya keluarga. Lebih hikmat cuma kita-kita. Undang orang ramai malah merepotkan." kata Citra agak gelisah dengar ada pesta mewah.


"Mana boleh gitu? Ini adalah ulang tahun pertama sejak kita jumpa. Om rayakan ulang tahun sekaligus merayakan kembalinya si anak hilang. Om mau semua rekan bisnis tahu kalau Perkasa punya pewaris baru yang handal." kata Heru sambil melirik Azzam. Heru menaruh harapan besar pada Azzam untuk bantu Gibran kelak. Otak Azzam jauh lebih cas dari Gibran.


"Om kamu benar sayang! Ini ulang tahun pertama sejak kita bersama. Aku juga rayakan semewah mungkin. Kita undang seluruh relasi dan sanak saudara. Apa artinya semua harta kalau bukan digunakan untuk menyenangkan anak-anak." Alvan mendukung Heru buat pesta besar.


Azzam dan kedua adiknya diam seribu bahasa tak berani ikut campur urusan orang dewasa. Tiap tahun ulang tahun mereka hanya ada satu kue tart dan balon. Tak ada yang istimewa. Yang hadir cuma keluarga orang tua angkat Afisa. Tak ada pesta apapun.


Gibran menahan nafas sedikit iri pada keponakannya. Tapi Gibran sadar kalau ketiga anak itu tak pernah rasakan segala kemewahan maka dia harus besar hati terima pesta spektakuler untuk ketiga bocah kembar itu.


"Aku takut nanti ruang gerak anak-anak jadi sempit. Di mana mereka pergi diintip orang. Maunya mereka tak perlu kau diekspos."


"Tenanglah! Aku akan sediakan bodyguard kawal mereka ke manapun pergi. Buang jauh pikiran buruk! Tak ada yang berniat jahat. Ayo cepat sarapan biar kita berangkat kerja. Om Gi jaga baik-baik keponakan kamu ya! Jangan berpisah ke manapun kalian pergi!" Pesan Alvan pada Gibran yang lebih tua. Gibran pasti lebih ngerti bahaya ketimbang ketiga bocah lugu ini.


"Siap laksanakan! Minta duit ya! Kali aja anak-anak minta jajan!" ujar Gibran sok tua. Santai saja dia anggap Azzam dan adiknya anak kecil. Padahal dia sendiri termasuk anak-anak.


"Iya ..papa yang akan ngasih! Jangan lengah jaga keponakan!" kata Heru


"Siap bos!"

__ADS_1


Selanjutnya hanya terdengar dentingan suara sendok dan garpu. Azzam dan kedua saudaranya gunakan sumpit untuk makan mie karena mereka sudah terlatih gunakan dua batang kayu kecil. Mereka sangat ahli gunakan benda itu. Di Beijing Sono makan nasi saja gunakan sumpit. Apalagi makan mie, lebih gampang lagi.


__ADS_2