
Ibu Heru belum kenal siapa orang tua Alvan maka tidak terlalu menanggapi cerita Alvan. Seluruh perhatian Ibu Heru tertuju pada Citra dan anak-anak Citra. Tak disangka dia telah menjadi nenek buyut dari anak-anak cantik. Ibu Heru sudah bisa pamer punya cucu dan cicit luar biasa.
Dalam hati Heru masih berharap Citra itu bukan keponakannya. Walaupun Alvan klaim Citra isterinya namun Heru dapat melihat ada gap antara mereka. Heru bukan tak tahu isteri Alvan yang terekspos bernama Karin. Posisi Citra di mana di hati Alvan. Mengapa Citra masih memanggil Alvan dengan sebutan pak. Satu panggilan resmi antara majikan dan anak buah.
"Sekarang kita bersiap ke rumah sakit! Opanya Azzam sudah ada di rumah sakit. Tokcer ikut ke rumah sakit. Andi dan Bonar jaga rumah ya!" Alvan membagi tugas pada anak buahnya agar kejadian pagi ini cepat clear.
"Siap pak!" sahut Tokcer segera keluar dari dapur menuju ke luar untuk persiapkan mobil. Tokcer hati-hati melewati orang-orang berada dalam ruangan agar tidak tampak kurang ajar nyelonong tidak sopan.
"Aku Alvan Lingga minta maaf bila telah kasar! Kumohon pengertian kalian mengapa aku marah! Kalian datang menyerang istri dan anakku. Ngatain anakku anak haram segala! Sebagai orang tua anak-anak aku tidak terima. Mereka terlahir dari ikatan pernikahan sah. Jadi kutuntut pernyataan maaf kalian!" Alvan berkata sambil menatap Viona. Alvan menduga wanita sok elite itu yang bully Citra dan anak-anaknya. Viona tidak gentar malah tersenyum manis seolah ingin Alvan rasakan betapa manis senyumnya. Gigi putih cemerlang bak bintang iklan pasta gigi.
"Aku tak tahu Citra punya suami! Gayanya genit goda Heru, dan lagi gimana tamparan di pipi aku? Aku bisa menuntut Citra melakukan tindakan kekerasan." jawab Viona Santuy sambil menyilang kaki dengan anggun perlihatkan paha mulus tanpa penutup layak.
"Baik.. persoalan ini kita selesaikan di kantor polisi! Anda datang menyerang ke rumah orang dan menyebar fitnah. Citra menamparmu memang salah tapi dia melindungi harga diri anak-anak yang lahir dari rahimnya. Wanita manapun akan melindungi anaknya kecuali orang wanita itu tak punya hati. Silahkan kamu lapor duluan!" ujar Alvan dingin tidak gentar digertak Viona pakai lagu lama. Sok dizholimi minta keadilan.
Jelas-jelas dia salah mengusik Citra duluan sekarang sok jadi korban. Sungguh politik hebat. Sayang Alvan bukan orang gampang terperdaya oleh pesona wanita sok glamor. Alvan sudah lelah berhadapan dengan wanita-wanita munafik. Jangankan cari yang baru, yang lama saja belum dia selesaikan contohnya si Karin.
Viona terkejut tak sangka Alvan memintanya melanjutkan laporan. Semula Viona mengira Alvan akan membujuknya membatalkan tuntutan agar damai. Celakanya Alvan tidak goyah walau Viona pakai trik kuno cari perhatian.
"Van...jangan diteruskan! Yang ada hanya jadi santapan media." Heru mencoba menengahi agar persoalan tidak melebar ke mana-mana.
"Bukankah dari pihak keluargamu ingin memperpanjang masalah ini? Bicara sembarangan tidak pakai otak! Apa kalian pikir semua orang kayak kalian suka mencari sensasi? Citra dan anak-anak ingin hidup tenang makanya tidak mau menunjukkan jati diri di masyarakat." Alvan berkata sampai menatap Citra yang dari tadi diam seribu bahasa.
Alvan tahu Citra sedang dilanda dilema tiba-tiba munculnya orang-orang baru dalam hidupnya. Otak Citra saat ini mungkin sedang kacau memikirkan langkah selanjutnya.
"Viona akan minta maaf Van! untuk selanjutnya kita mencari kebenaran masa lalu Citra. apakah Citra Ini benar-benar anak Abang aku atau bukan sama sekali. Tapi aku yakin Citra itu anak bang Hamka karena semua bukti mengarah pada fakta. Ayo Viona kamu minta maaf pada citra! kJamu memang salah telah datang ke rumah orang dan berkata yang bukan-bukan! Kamu harus tahu bahwa Citra tidak pernah sekalipun merayu aku. Citra wanita mulia tidak memurahkan diri untuk mencapai tujuan dengan niat kotor." baru berkata sambil mengarah mata ke arah Viona.
Harapan Heru semoga Viona menyadari semua kesalahannya. Tidak selalu menganggap diri lebih hebat daripada orang lain. Gunakan kekuasaan untuk menekan orang lain. Padahal tanpa sokongan Heru Viona itu bukan apa-apa.
"Kenapa harus aku yang minta maaf padahal dia yang menampar aku!" Viona masih bersih keras tidak mau tunduk pada Citra. Viona menganggap Citra anak kemarin yang gampang ditekan. Viona harus unjuk gigi menekan Citra agar di kemudian hari lebih gampang menguasai Heru maupun Alvan.
__ADS_1
Tujuan Viona tidak mendapat Heru juga tidak apa karena ada cadangan lain yakni Alvan yang tak kalah kaya daripada Heru. Viona harus gunakan kesempatan ini agar bisa berdekatan dengan Alvan. Viona berharap dengan ini Alvan akan sering menemuinya.
"Citra memang menampar kamu tetapi kamu harus bertanya pada diri sendiri mengapa Citra menampar kamu? Kalau bukan berkat mulutmu yang tidak sopan maka Citra tidak akan turun tangan. Kalau kau tidak mau minta maaf maka aku akan berdiri di sebelah Citra menuntut kamu ke pihak yang berwajib. Ingat kau Viona! Citra itu adalah anak bang Hamka yang berarti anak aku juga." ancam Heru tidak ditanggung tanggung pada Viona.
Viona makin terpojok tidak mampu berkata apapun. Wanita ini tak menyangka semua berpihak pada citra saat ini. Harganya sebagai wanita elit langsung terjun bebas tidak bernilai lagi. Dua sosok lelaki yang dipuja-puja para wanita membelah Citra.
Ibu Heru dan ibu Viona mulai cemas melihat keadaan tidak menguntungkan pihak Viona. Kalau Viona masih keras kepala tidak mustahil Viona yang akan berhadapan dengan hukum. Otak Viona tidak berkembang seutuhnya karena dibalut oleh silau kemewahan duniawi.
"Viona...mami sarankan kamu minta maaf! Kita memang berada di pihak salah datang ke wilayah orang. Ayolah nak! Citra kan akan menjadi keluarga kita juga jadi satu keluarga untuk apa ribut-ribut?" ibu Viona mengendurkan urat syaraf merasa takkan menang melawan dua pesohor yang bela Citra.
"Tapi mi...di mana harus taruh muka aku minta maaf pada wanita murahan ini!" Viona menggeleng tak bersedia laksanakan permintaan maminya.
"Sudah kubilang Citra itu tidak murahan. Kamu makin arogan nona Viona! Tidak perlu minta maaf! Sekarang kau tunjukkan di mana harga murahan Citra? Siapa yang telah dia rebut darimu? Kalau kau tak bisa tunjukkan bukti kujamin hidupmu akan berakhir di penjara." Alvan tidak main-main mengeluarkan ancaman karena keangkuhan Viona makin menjadi.
Heru makin kuatir nasib Viona. Alvan bukan lawan yang gampang dihadapi. Tanpa perlu gunakan kekuasaan Viona telah kalah. Yang duluan menyerang Viona, tak pelak itu sudah melanggar hukum utama. Dasar wanita berantena pendek, tak tahu dalamnya samudera. Tidak paham sedang menantang bahaya melawan kekuatan maha besar. Heru sendiri tak mampu menolong bila dibawa ke meja hukum.
"Viona.. otakmu penuh sampah ya! Citra dan Alvan sudah berbaik hati hanya tuntut minta maaf kau bawa ke mana-mana. Aku lepas tangan ya! Jangan kau pikir dengan kekuasaan papimu yang tak seberapa kau mau sok hebat! Kujamin kau akan berakhir di penjara."
Heru menghela nafas tak paham mengapa di dunia ini ada orang bebal macam Viona.
Besar makan apa ini wanita? Ayam makan dedak saja mengerti kalau dipanggil. Ini sudah dengar cerita Citra dan Heru masih saja tidak paham.
"Kayaknya otakmu harus dikeluarkan untuk dibersihkan! Apakah kau tak dengar dari tadi kalau kami sedang menelusuri masa lalu Citra. Citra itu anak Abang aku. Anak bang Hamka. Sekali lagi ku kasih tahu kalau Citra selama ini tidak pernah sekalipun merayu aku. Aku yang suka padanya. Ingat itu! Capek berdebat dengan orang tak punya otak! Kita bersiap ke rumah sakit! Mama ikut aku saja biar Viona pulang dengan ibunya! Tunggu panggilan dari pihak berwajib saja!" Heru benar-benar merasa geram pada Viona. 100 kali diterangkan wanita itu tetap tidak mengerti. Ngomong sampai mulut berbusa pun dia tidak akan paham apa yang telah terjadi. Mendingan simpan energi untuk mencari tahu hubungan Citra dengan abangnya.
"Heru mana boleh begitu? Viona datang ke sini kan untuk membela nama baikmu. masak kamu tega biarkan Viona berhadapan dengan hukum?" seru Ibu Viona mulai ketakutan.
"Kalau gitu Tante suruh anak Tante minta maaf pada citra sekeluarga. Persoalannya gampang selama kita mau mengakui kesalahan. Cuma anak tante nggak punya otak."
Ibunya Viona segera mengikut Fiona agar memenuhi permintaan Heru. Bagi Fiona itu memalukan tetapi tetap harus dilakukan agar tidak merembet lebih panjang. Viona menekuk wajah dengan hati kesal. Seorang Viona yang cantik jelita harus tunduk pada seorang dokter yang sederhana. Hukum apa itu?
__ADS_1
"Iya iya aku minta maaf... maafkan aku!" kata Viona tidak ikhlas. Mulut minta maaf tapi mata mengarah ke atas.
Citra tahu itu permintaan maaf yang tidak tulus. Tapi Citra malas memperpanjangkan masalah. Manusia model Viona 100 kali diterangkan tetap tak akan paham arti dari kehidupan sesungguhnya. Citra memilih tidak menyahut malah Citra mengundurkan diri menuju ke kamar anak-anak untuk mempersiapkan anak-anak menuju ke rumah sakit. Di sana ada opah mereka sedang terbaring tak berdaya.
Alvan dan Heru memahami perasaan Citra maka tidak mengeluhkan sepatah kata pun. Tingkah Viona juga tidak menunjukkan sikap tulus seorang yang mengakui kesalahan. Kini Heru dan Alvan kompak melindungi Citra dari orang-orang model Viona. Dikaruniakan akal sehat tapi tidak mampu digunakan secara bijak.
"Sekarang kau dan ibumu pulang saja! Kami masih ada pekerjaan lain. Kau takkan paham walaupun ikut." usir Heru secara halus. Viona ikut ke rumah sakit takutnya memperburuk suasana. Soalnya Viona berpikir bukan pakai otak namun pakai dengkul.
"Aku ingin bersama kalian!" seru Viona memaksa. Gayanya persis perempuan gila hilang akal sehat. Heru benaran tak tahu bagaimana menerangkan pada Viona agar mengerti mereka sedang berusaha mengorek jati diri Citra. Apa benar Citra anak abangnya.
Ini bukan perkara kecil karena menyangkut silsilah keturunan keluarga. Kalau benar Citra anak abangnya maka Citra berhak sebagian saham keluarga jatah Hamka.
"Ma...sudah lihat wanita yang mau mama jadikan pendamping hidup aku? Mama mau desak Heru masuk jurang atau lompat ke lautan api? Anak Citra yang jauh lebih kecil paham harus berbuat apa bila orang tua sedang bicara. Orang setua gini tak ngerti apa artinya urusan keluarga? Maunya dicampakkan ke kandang buaya." ucap Heru penuh emosi. Rasa kesal Heru mencapai puncak tertinggi. Heran bagaimana dia bisa sabar terhadap wanita tak punya akal waras. Bilang ODGJ ngerti uang dan kartu kredit. Tahu mana tas mahal, baju bermerek.
Ibu Heru malu pada Alvan dan yang lain. Viona memang memalukan orang. Sok selangit tak tahu tata Krama. Pikir dia ratu dunia yang harus dipatuhi semua orang. Betapa malang nasib Heru bila mendapat wanita seperti Viona.
"Jeng ..bawa Viona pulang dulu! Nanti kita bicara! Kami harus ke rumah sakit." kata ibu Heru tanpa daya. Ibunya Viona masih termasuk kerabat jauh dari pihaknya. Maka itu ibu Heru berniat jodohkan Heru dengan Viona agar hubungan persaudaraan makin dekat. Siapa sangka Viona justru perlihatkan belang amburadul. Egois mau menang sendiri.
Citra adalah keponakan Heru otomatis mereka tak bisa menjalin hubungan asmara. Mengapa Viona belum paham masih menuduh Citra wanita murahan. Ditambah kehadiran Alvan perkuat posisi Citra sebagai wanita bersuami.
"Aku menunggumu jeng! Ayok Vi.. kita pulang!" ajak ibu Viona tak berdaya disekak Heru. Viona memang kelewatan memojokkan Citra. Sekarang Citra punya backing kuat. Siapa cari pasal dengan Citra sama saja cari mati.
Viona tidak rela meninggalkan dua cowok yang punya masa depan menjanjikan. Kini isteri Alvan yang tersohor telah terkapar di rumah sakit. Viona mendapat kabar ini dari Selvia yang merupakan saudara Heru. Selvia mengincar Alvan setelah Karin jatuh dari tahta sebagai ratu. Viona tak menyangka Alvan jauh lebih menjanjikan dari Heru. Menyesal dia tidak mendekati Alvan.
Citra bukanlah lawan berat dalam hal merebut Alvan. Citra hanya wanita tak punya kuku tidak seperti dirinya. Viona harus pikir cara masuk dalam daftar wanita Alvan. Tak peduli status istri Alvan.
Viona harus pulang menyusun rencana mengalahkan Selvia. Ancaman datang bukan dari Citra tapi Selvia. Selvia jauh lebih licik dari Citra dan Karin. Viona harus lebih pintar dari Selvia dalam bergerilya.
"Baiklah aku pulang! Aku akan datang lagi minta tanggung jawab Alvan sebagai suami Citra! Suami harus bertanggung jawab atas kesalahan isteri. Lihat wajahku jadi berbekas merah ditampar bini Alvan! Besok aku akan ke kantormu Alvan!" ujar Viona mengerling penuh arti pada Alvan. Alvan bukannya senang diperhatikan Viona justru jijik pada wanita bunglon itu.
__ADS_1
Sebelumnya matian cari perhatian Heru. Mengumpat Citra pakai bahasa mengerikan. Begitu Heru beri keputusan menohok wanita ini berubah arah. Angin mengarah ke sasaran lain.