
Alvan menatap Heru lekat-lekat cari keraguan di mata om Citra itu. Heru menggoyangkan tangan di depan mata Alvan kacaukan keraguan Alvan. Heru tidak ragu pada Citra, Alvan sendiri terlalu banyak pikir. Heru bukan orang bodoh gampang terjebak oleh Viona. Trik basi Viona sudah lama dikenal Heru. Tujuan wanita itu hanya hidup mewah. Mana ada cinta tulus di hatinya.
"Pikir apa? Aku tak ragukan Citra. Dia bukan type orang gila harta. Dan lagi bukan dia minta pengakuan dari Perkasa tapi kami yang mau akui dia. Anggap ini hiburan menegangkan di hari ulang tahun cucu aku!"
Alvan menghargai sikap kesatria Heru. Berani bersikap lawan kebohongan Viona. Alvan yakin wanita itu punya strategi matang maka dia berani ajak Hanna test DNA. Mereka harus hati-hati hadapi kelicikan Viona. Setiap langkah harus diperhitungkan.
Heru mengajak keluarganya segera pulang menutup acara meriah ini. Cuma sayang diakhir acara terjadi insiden orang gila. Heru dan Alvan wanti pada Afisa dan Gibran tidak kasih tahu Citra masalah ini. Biarlah mereka selesaikan secara orang dewasa!
Malam itu semua lelah memilih tidur. Citra dan kedua anaknya telah duluan booking kapal berlayar ke benua indah di alam bawah sadar. Di sana cuma ada peri baik hati dan semua yang indah. Tak ada kata duka. Suka cita melulu.
Pagi-pagi Afisa sudah nongol di kamar Azzam. Gadis ini ingin diskusi masalah Viona dengan Azzam. Azzam pasti punya sejuta akal halangi kejahatan Viona. Azzam sudah tidak asing pada Viona kontan marah maminya dilecehkan.
Afisa merebahkan badan di tempat tidur Azzam minta solusi pada Azzam. Azzam berjalan sana sini memikirkan jalan keluar soal test darah. Azzam berpikir langkah apa akan ditempuh Viona untuk buktikan dia dari trah Perkasa. Menurut Azzam bisa jadi orang itu memang keluarga Perkasa dan analisa lain dia akan curi darah Heru maupun Gibran.
"Menurut Koko dia pasti akan curi darah om Gi maupun opa. Koko lebih berat ke darah opa. Koko rasa dia akan bayar perawat yang ambil sampel darah Opa lebih banyak lalu pura-pura itu darah orang nakal itu. Gini saja! Koko ada akal. Besok kita ke rumah sakit secara diam-diam. Kita ajak kak Andi dan kak Tokcer ikut kerja sama."
"Apa rencana Koko?"
"Ada deh! Pokoknya kak Fitri dan kak Jasmine harus ikut ke rumah sakit."
"Lha ini hari Minggu. Mereka kan tidak praktek."
"Kita ajak saja untuk perlancar rencana Koko. Mami sudah tahu?"
Afisa menggeleng, "Papi dan opa tak ijinkan kami kasih tahu mami. Kasihan mami banyak pikiran nanti!"
"Bagus...Koko akan kupas kulit mereka hingga melepuh. Azzam dilawan." Azzam menepuk dada yakin akan permalukan Viona bila curang.
"Koko tidak melawan hukum kan?" Afisa kuatir Azzam akan berbuat ektrim karena tahu Azzam paling pantang dengar Citra dibully.
"Ya nggaklah! Amei tak usah ikut. Nanti malah merepotkan. Biar dia di rumah dengan mami. Kita bilang saja mau main sama kak Andi. Ajak om Gi juga!"
"Cece kok jadi ngeri. Apa rencana Koko sih?"
"Nanti tunggu kak Andi hadir dulu! Kita berembuk bersama. Sebentar lagi subuh. Ayo bersiap sholat!"
"Cece ngantuk. Semalam pulang telat. Mikirin mami pula." Afisa meluruskan badan di ranjang Azzam malas bangun. Kini mata Afisa baru terasa berat pingin tidur.
Azzam menarik Afisa untuk segera bangun. Ngantuk harus dilawan hindari godaan syaitan jerumuskan orang dalam dosa. Tinggalkan sholat adalah dosa besar dalam agama.
"Sholat dulu baru tidur lagi! Mami kecewa lho kamu jadi muslimah pemalas!"
Afisa melempar bantal di tangan ke wajah abangnya dengan hati jengkel. Mau merem sebentar saja sudah banyak protes. Apa Azzam tak tahu Afisa gelisah memikirkan rencana jahat Viona. Afisa tidak kenal Viona, baru kali ini jumpa. Lain Azzam sudah berapa kali jumpa wanita nakal itu. Azzam sudah bisa taksir ada berapa ekor cacing di perut Viona. Semua cacing jahat pengisap darah.
__ADS_1
Seusai sarapan Azzam minta ijin pergi main dengan Afisa dan Andi. Kali ini tanpa Afifa karena akan telat pulang. Heru tentu kuatir anak-anak itu pergi di saat angin badai kecil sedang bertiup. Badai ini kecil namun tetap mengganggu. Heru harus enyahkan badai yang satu ini agar tidak menganggu di hari depan. Heru harus singkirkan bibit kuman yang gerogoti kulit bikin gatel.
"Kalian boleh pergi tapi harus dikawal. Tak boleh pergi sendiri gitu saja!" ujar Heru masih waspada.
"Boleh...kami akan pergi dengan kak Tokcer dan kak Andi. Mereka pasti jaga kami dengan baik." ucap Afisa yakin pada Tokcer yang punya tampang keras.
"Ke manapun pergi harus dikawal. Papi tak mau kalian lengah." ucap Alvan.
"Iya Pi...kami cuma pergi main doang sebelum Cece balik ke Beijing!" Afisa menyahut sopan.
"Amei tak boleh ikut?" tanya Afifa tidak begitu antusias. Afifa cepat lelah kalau diajak jalan jauh. Afifa tak sekuat kedua saudaranya.
"Amei temani mami saja! Biar Koko dan Cece saja pergi. Nanti kita pergi belanja dengan nek Ani." Citra buyarkan harapan Afifa bergabung dengan saudaranya.
"Ok...ikut mami lebih enak. Kalian tahunya jalan doang!" Afifa mengalah pilih ikut Citra. Biarlah saudaranya main sepuas hati sebelum balik ke tempat sangat jauh di seberang lautan.
Azzam dan Afisa segera bersiap menjalankan misi menuju ke rumah sakit tempat Viona bawa temannya jalani test darah. Gibran yang belum ngerti apa rencana Azzam hanya bisa ikuti permainan Azzam. Gibran percaya anak itu punya cara jitu hadang niat jahat Viona terhadap Citra.
Andi dan Tokcer datang bawa dua perawat kesayangan Citra. Sebelum ke rumah sakit Azzam minta Andi beli satu ekor ayam untuk dibawa ke rumah sakit. Ayamnya harus masih hidup untuk jalankan misi Azzam.
Andi tahu Azzam tidak sembarangan main perintah bila tidak yakin pada misi kali ini. Andi cs yang tak ngerti apa-apa hanya bisa patuh sebelum Azzam bersedia buka rencana.
Akhirnya mereka berenam pergi ke rumah sakit menanti kehadiran Viona cs. Dalam perjalanan ke rumah sakit Azzam baru membuka apa yang dia inginkan.
"Begini...Koko sudah dengar dari Cece kalau nenek lampir test DNA. Kita pantau nenek itu ada main curang tidak. Kalau dia murni gunakan darah sendiri maka kita dukung. Tapi kalau main belakang kita hajar. Kita ganti darahnya dengan darah ayam biar nyaho." Azzam terangkan rencananya.
"Siapa nenek lampir ko? Kok kak Andi belum terima signal yang jelas. Masih samar-samar."
"Cerita gini kak Andi tercantik! Setelah orang ini pulang ada Tante-tante datang ngaku anaknya opa Hamka. Ujungnya ya test DNA...rencana hari ini dia mau test darah!" Afisa jelaskan dengan sabar.
"Oh gitu toh! Siapa orangnya?"
"Itu lho Viona yang pernah bikin ribut di rumah! Kak Fitri dan kak Jasmine pantau perawat yang ambil darah. Kalau mereka ambil darah opa banyak artinya mereka akan curang. Darah opa akan dijadikan darah wanita itu juga. Seribu persen positif. Tapi kalau dia pakai darah sendiri biarkan dia lakukan test. Kalau dia curang kita ganti darah wanita itu dengan darah ayam. Kak Andi potong ayamnya dan ambil darahnya."
"Ogah...kak Tokcer saja! Kak Andi tidak tega sembelih ayam. Kasihan..."
"Makan ayam mau kan?"
"Ya mau...tapi untuk sembelih ya jangan dah! Ntar hilang gantengnya dipatok ayam."
"Serahkan pada kami saja! Kami tunggu di belakang lab. Di sana sepi. Kami kan perawat rumah sakit tak ada yang curiga pada kami." Fitri menawarkan diri ketimbang berdebat hanya soal potong ayam. Ayam dipotong toh bukan buat makan tapi buat jalankan misi doang.
"Gitu dong! Kan beres! Lalu siapa akan pantau pengambilan darah. Kami kan tak bisa masuk ke tempat ambil sampel darah."
__ADS_1
"Gini saja! Aku dan kak Tokcer berjaga di belakang lab sedangkan Jasmine intip petugas pengambil sampel darah." usul Fitri.
Azzam dan Afisa diam saja tunggu yang tua berdebat bagi tugas. Keduanya sangat tidak setuju cara lamban orang ini. Mereka harus gercep agar tak didahului kelompok Viona. Azzam berjanji akan berantas perawat yang bantu Viona. Orang kayak gitu membahayakan pasien. Jual beli nyawa orang.
"Sudah ributnya?" tegur Azzam dengan nada suara berat. Berapa ton beratnya hanya dia yang tahu. Pokoknya mirip kakek tua sedang tegur anak kecil.
"Kok ribut? Diskusi bro!" sanggah Andi kurang senang dianggap tukang ribut. Bukankah mereka sedang diskusi tentu harus ada diskusi jalan terbaik.
"Kalau ikuti rencana kalian orang sudah duluan bergerak. Kita harus duluan sediakan darah ayam. Masukkan dalam tabung vacutainer agar tidak beku. Begitu kita lihat perawat bawa tabung kita harus cari jalan tukar darahnya. Ingat satu lagi! Hindari CCTV." Azzam beri jalan lebih efisien.
Jasmine tepuk tangan salut pada rencana Azzam yang jauh lebih keren dan pasti. Menunggu orang duluan bergerak akan buat waktu terbuang serta kecil kemungkinan tukar tabung vacutainer.
"Azzam benar...kita cari dulu vacutainer tutup putih karena itu untuk test DNA. Aku akan siapkan dan kalian laksanakan misi sembelih ayam. Ok? Kusarankan Azzam dan Afisa jangan sampai nampak di sekitar rumah sakit. Takutnya kelak mereka pula tuntut rumah sakit manipulasi." Jasmine beri saran lain. Semua setuju dengan saran Jasmine. Mereka harus bergerak hati-hati agar tidak ketahuan. Jasmine dan Fitri tak mungkin dicurigai karena mereka memang perawat situ.
Sesuai rencana Fitri dan Tokcer sembelih ayam di belakang lab sementara Jasmine bertugas pantau kehadiran Viona dan Heru. Jasmine terpaksa pakai baju seragam untuk hindari kecurigaan. Padahal hari ini dia tidak piket.
Jam sembilan pas Viona dan dua orang wanita datang. Azzam yang melihat kehadiran Viona segera hubungi Jasmine pantau gerak gerik Viona. Jasmine segera siaga satu mengintip dengan siapa Viona berbincang.
Mereka duduk di bangku stainless dekat ruang IGD menanti seseorang. Jasmine pura-pura sibuk dengan obat-obatan di ruang IGD agar tidak diperhatikan.
Tak lama kemudian datang seorang perawat senior berbincang dengan Viona. Sayang Jasmine tak bisa mendengar apa yang dibicarakan orang itu karena terhalang jarak. Kalau Jasmine terlalu mendekat takut pula jadi masalah. Jasmine tinggal tunggu langkah selanjutnya.
Beberapa waktu berselang Heru datang bersama Alvan. Keduanya langsung menemui Viona yang telah menanti. Tampak mereka berbincang sebentar lalu bergerak ke tempat pengambilan sampel darah.
Jasmine terpaksa ambil masker tutupi wajah untuk kelabui Heru dan Alvan. Kedua bos besar itu pasti mengenalnya. Jasmine meneleponi Fitri agar segera bawa darah ayam untuk ganti darah Hanna bila terbukti curang.
Misi siap dilaksanakan. Jasmine segera bergabung dengan perawat yang bertugas ambil sampel darah. Dari jauh Fitri ambil video agar rekam semua kegiatan pengambilan darah.
Pertama ambil darah Hanna dulu. Selanjutnya baru ambil darah Heru. Cocok seperti analisa Azzam. Perawat itu mengambil darah Heru lebih dari semestinya. Permainan sudah dimulai.
Perawat itu menyimpan darah Heru di dua tabung vacutainer. Jasmine lihat dengan mata kepala sendiri darah Hanna dimasukkan ke kantong celana. Yang tinggal dua tabung darah Heru. Betapa licik permainan orang ini. Perawat itu tak sadar Jasmine mencatat jejak nakal perawat itu dengan jelas.
Kini tugas Jasmine menukar salah satu tabung itu dengan darah ayam. Jasmine harus alihkan perhatian perawat senior itu agar ada kesempatan menukar dengan kecepatan maksimum.
"Kak...biar kubantu tulis nama pasien!" Jasmine menawarkan diri membantu perawat itu.
"Oh iya...kakak bersihkan sisa kotoran! Kau tulis nama Pak Heru dan Bu Hanna!"
"Yang mana pak Heru dan mana Bu Hanna?" Jasmine pura-pura nggak tahu permainan perawat ini.
Perawat tersentak tak sadar terjebak permainan sendiri. Kedua tabung sama tanpa nama mana mungkin bisa dipisahkan pemilik asli. Berhubung kedua tabung darahnya sama maka dia lengah. Kalau dia tulis yang mana saja boleh.
"Oh iya...hampir lupa. Yang agak banyak darah Pak Heru dan yang lebih dikit darah Bu Hanna. Cepat tulis biar segera kuantar ke lab. Nanti limbahnya langsung kau buang."
__ADS_1
"Iya kak!" Jasmine gercep keluarkan tabung berisi darah ayam ganti salah tabung. Tabung yang darahnya agak dikit Jasmine simpan di balik saku celana. Selanjutnya menulis nama pasien sesuai amanah.
Dengan wajah tanpa dosa Jasmine kumpulkan limbah rumah sakit bawa ke tempat pembuangan. Bekas tabung injeksi serta kain kasa dan sarung tangan bekas di bawa keluar. Dua tabung darah telah siap diantar ke ruang lab sesuai keinginan Viona test DNA. Orang berniat setan jumpa raja monster. Makin klop permainan ini. Azzam mau dilawan. Tak dapat dibayangkan bagaimana reaksi orang lab sewaktu uji sampel darah Hanna. Hanna ini manusia atau hewan. Pertanyaan itu akan jadi momok bagi petugas lab.