
Citra ikut senang telah mengulurkan tangan pada orang yang membutuhkan. Rumahnya juga masih kosong karena Bu Hajjah dan Alvan belum menemukan kesepakatan tentang barter rumah. Biarlah Jasmine tinggal di situ untuk sementara sampai dia menemukan tempat untuk berteduh.
Citra segera hubungi Alvan menceritakan persoalan Jasmine. Suami Citra tidak banyak komentar tahu sifat Citra tak bisa lihat orang lain sengsara. Kalaupun Alvan melarang Citra pasti akan cari cara lain bantu Jasmine. Dari pada ribet mending turuti saja keinginan Citra.
Alvan utus Andi dan Tokcer untuk tangani kasus Jasmine. Andi harus terlibat karena dialah pemegang kunci rumah Citra di kampung. Menyenangkan Citra sangat sederhana. Cukup ikuti kemauan wanita itu selama kemauan itu positif.
Tokcer dan Andi meluncur ke rumah sakit menjemput Jasmine atas perintah Alvan. Alvan juga hanya ikuti permintaan isteri tersayang.
Citra ijinkan Jasmine pulang cepat untuk selesaikan kemelut yang melanda hidupnya. Apa yang harus dia pertahankan lagi di rumah yang tak ubah seperti neraka. Banting tulang untuk biayai hidup manusia tak tahu diuntung. Orang sudah baik ditekan sampai gepeng.
Kita lihat perjalanan Tokcer dan Andi mengurus perpindahan Jasmine dari cengkeraman ibu dan kakak tirinya. Apa kedua jagoan neon itu bisa tuntaskan tugas yang diberi oleh Alvan.
Jasmine baru kali ini naik mobil mewah tampak gugup dan malu-malu kucing berhadapan dengan dua jagoan neon kondang di kampung. Gini-gini sekarang mereka jadi idola para gadis di kampung. Mereka yang jual mahal tidak tertarik pada gadis yang dulu melecehkan harga diri mereka. Terutama Tokcer yang punya tunggangan mobil mewah.
Andi lebih bijak tidak langsung ke rumah Jasmine melainkan ke rumah RT untuk jelaskan tujuan mereka mengajak Jasmine tinggalkan rumah penyiksaan.
Jasmine membawa kedua jagoan neon ke rumah ketua RT untuk bicara tentang kepergian Jasmine dari lingkungan RT setempat. Semoga RT lingkungan Jasmine tidak koplak kayak RT kampung mereka.
Rumah RT sederhana saja. Cuma ada motor terparkir di depan rumah. Dua buah kursi plastik terparkir di teras belum dipasang tegel. Masih berlantai semen.
Jasmine dahului kedua jagoan neon masuk ke teras rumah RT. Jasmine sudah kenal baik RT lingkungan mereka karena sudah terlalu sering munculnya keributan di rumah mereka. Suara ibu tirinya menggelegar mengalahkan suara Guntur membelah langit.
"Assalamualaikum..." sapa Jasmine mengetok pintu rumah RT mereka.
"Waalaikumsalam..." terdengar sahutan suara perempuan dari dalam.
Pintu berderit tanda engsel sudah uzur di makan usia. Andi dan Tokcer saling berpandangan. Masih lumayan rumah RT di kampung mereka. Meski jomblo akut RT mereka punya tempat berteduh lebih baik dari RT sini.
"Nak Jasmine...ayo masuk!" perempuan itu tampak ramah pada Jasmine.
"Maaf Mengganggu Bu! Oya ini majikan aku!" Jasmine perkenalkan Andi dan Tokcer sebagai bos dia. Cuping hidung Andi dan Tokcer kontan mencuat keluar panjang satu senti. Baru kali ini ada orang anggap mereka bos. Betapa lugu Jasmine.
"Oh...ayok masuk dalam! Kita bicara di dalam!" perempuan itu mempersilahkan Andi dan Tokcer ikut masuk. Perempuan ini belum mengetahui apa yang terjadi tapi sebagai seorang pemimpin dia wajib mendengarkan semua keluhan warga.
Ketiga anak muda itu duduk di sofa kulit dengan kondisi terkupas sana sini. Dari sini kedua jagoan neon menilai penghuni rumah bukan orang berada.
"Bu...Jasmine ingin pindah rumah!" Jasmine langsung utarakan niat begitu mereka telah duduk rapi di sofa.
"Kenapa? Ibumu bikin ulah lagi?" tanya perempuan itu pengertian.
"Ibu datang ke rumah sakit minta gaji. Padahal kan belum gajian. Gaji bulan lalu sudah Jasmine berikan. Jasmine tak punya uang lagi. Ibu tuduh Jasmine sembunyikan gaji. Dia larang Jasmine pulang kalau tak bawa uang. Pihak rumah sakit bersedia beri tumpangan pada Jasmine untuk sementara. Maka itu Jasmine ibu RT kawani ambil pakaian Jasmine."
Perempuan itu ternyata rt-nya. bu RT itu mengangguk-ngangguk memaklumi keadaan Jasmine. Bukan sekali dua kali Jasmine mendapat masalah dari ibu tirinya. Zatu kampung sudah mengetahui akal ibu tiri Jasmine yang gila harta. Anaknya sendiri makan tidur di rumah sedangkan Jasmine disuruh banting tulang cari uang.
__ADS_1
"Jadi kamu akan pindah dari kampung ini?"
"Hanya untuk sementara menghindari amarah ibu. Ibu mengancam mengusirku bila tidak membawa uang. Jasmine belum gajian dari mana mendapat uang. Jalau Ibu masih ribut terus maka pihak rumah sakit akan memecah Jasmine."
"Jadi kalau sudah gajian kamu akan kembali ke sini memberi uang pada ibumu! Nanti dia habis uang lagi cari ribut kamu pindah lagi! Ibu sarankan lebih bagus kamu cari kost dekat Rumah Sakit tempat kamu kerja. Kamu tinggal di sana sampai ibumu sadar bahwa kamulah yang membiayai hidup mereka."
"Tapi dari mana mereka dapat biaya hidup bila Jasmine tidak beri uang pada mereka."
"Ya Allah Jasmine...! Kamu asik memikirkan mereka. Apakah mereka memikirkan nasib kamu? Si Anyelir kan bisa kerja dia itu pernah kuliah. Kamu yang bikin mereka jadi malas. Kamu dijadikan sapi perah. Buat mereka sadar bahwa hidup ini tidak gratis. Untuk sementara kamu jangan kembali ke sini sampai mereka sadar bahwa betapa pentingnya kamu bagi mereka."
Andi dan Tokcer memuji kebijakan ibu RT menangani masalah Jasmine. manusia model ibu tiri Jasmine memang harus dibeli pelajaran. Sudah menjadi benalu dalam hidup Jasmine masih juga ingin mengisap darah gadis itu.
"Aku setuju dengan ibu RT. Kamu bisa tinggal di rumah ibu Citra sampai kapanpun. Tak ada yang akan mengusir kamu." Andi mengeluarkan pendapat untuk menguatkan kebijakan ibu RT.
"Nah Jasmine... kamu sudah mendapat dukungan dari majikan kamu! Kamu tidak perlu takut lagi menghadapi ibu tirimu yang jahat itu. Ayo kita ke rumah ibu tirimu untuk mengambil barangmu!" Bu RT bangkit dari sofa masuk ke dalam kamar.
Andi dan Tokcer salut pada ke ketegasan Bu RT tangani kasus Jasmine. Mungkin Bu RT sudah muak dengar semua tingkah ibu dan kakak tiri Jasmine. Andi dan Tokcer yang baru kenal saja geram pada kelakuan memalukan ibu tiri Jasmine. Jaman now masih ada kisah Upik abu dianiaya ibu tiri.
Bu RT susah ganti pakaian dan kenakan jilbab instan untuk tutupi kepala. Bu RT kelihatan lebih rapi tunjukkan sosok pemimpin warga.
"Ayok kita pergi! Jangan mau mengalah ya kamu Jasmine! Saat kasih pelajaran pada orang sombong itu." ujar Bu RT berapi-api bangkitkan semangat juang Jasmine. Sekarang gadis ini sudah pendukung maka saatnya bertarung dengan kezoliman.
Mereka berempat jalan kaki ke rumah Jasmine karena sangat dekat. Cuma beda empat pintu dari rumah Bu RT. Pantesan Bu RT ngerti sekali ajal bulus ibu tiri Jasmine. Bu RT dan Jasmine jalan di depan sedangkan Andi dan Tokcer kawal dari belakang. Tokcer masih cocok dijadikan pengawal sedang Andi seribu mil jauh dari kata bodyguard. Dia yang harus dikawal.
Pintu terkuak muncul seorang ibu dengan wajah ditempeli masker. Andi dan Tokcer tertawa geli lihat ada nek lampir di siang bolong. Nek lampir baru turun gunung mencari mangsa.
"Kau...mau minta maaf? Ada bawa uang baru boleh masuk." kata ibu itu nyerocos tak peduli apa tujuan kedatangan Jasmine. Beginilah orang kepedean. Gaya selangit.
"Maaf ibunya Anyelir! Aku datang untuk bantu Jasmine ambil barang dan pakaian. Aku harus pastikan semua warga aku dapat lindungan." ujar ibu RT tanpa sungkan. Orang yang punya rumah tak sungkan gimana tamu mau sungkan. Bar-bar mesti dilawan bar-bar pula.
"Hebat ..sudah dapat backing ya! Kusumpahi hidupmu belangsak! Kamu pikir bisa hidup di luar sana? Ambil semua baju loakan kamu! Ingat jangan sekali-kali balik sini! Rumah ini jadi milik aku! Kasihkan sertifikat rumah ini!" Ibu bermasker itu berkacak pinggang menantang Bu RT.
"Astaghfirullahaladzim.. untuk apa surat rumah Bu?"
"Mau aku jual biar dapat uang kontan ratusan juta. Kamu sembunyikan di mana surat rumah? Sudah kucari tapi tak ketemu." ibu itu masih garang berdiri di depan pintu belum beri akses Jasmine masuk rumah.
"Bu itu peninggalan ayah! Kalau ibu jual kalian mau tinggal di mana?" tanya Jasmine panik dengar rencana ibunya hendak jual rumah warisan ayahnya.
"Kami cari kontrakan. Ayo masuk ambil surat rumah!" Ibu itu menarik Jasmine secara kasar agar dia masuk ambil apa yang dia minta.
Andi bergerak maju menahan tangan ibu jelmaan nek lampir itu. Makin dilihat makin mirip nek lampir dalam sinetron. Andi tidak tega lihat Jasmine diperlakukan semena-mena oleh ibu tirinya.
Ibu itu tertegun lihat Andi menepis tangannya dari lengan Jasmine.
__ADS_1
"Kau siapa? Beraninya larang aku ajar anakku!"
"Aku..." Andi bingung pula jawab. Apa hubungannya dengan Jasmine. Kenal juga baru beberapa jam.
"Dia ini bos kami. Calon tunangan Jasmine!" Tokcer yang beri jawaban ekstrim bikin nafas Andi hampir putus. Oksigen di alam jagat raya seolah sirna tak beri kesempatan pada Andi bernafas lega.
"Oh ini toh orang yang beli anak tolol ini! Ok...beri aku uang dua ratus juta! Aku akan berikan Jasmine tanpa tuntutan. Ambil sampah ini!" Ibu itu ulurkan telapak tangan gerakan jari keluar masuk minta jatah preman keluarga.
Andi melongo diminta uang dua ratus juta. Jangan dua ratus juta, seratus saja dia tak punya. Apa dia harus merampok Alvan untuk penuhi tuntutan ibu Jasmine.
"Bu...jangan dua ratus juta! Satu milyar juga kecil buat bos kami tapi anda tak berhak mendapatkan uang itu. Kusarankan ibu beri jalan pada Jasmine untuk ambil barangnya sebelum pengacara bos kami datang! Jangan bikin masalah jadi ruwet!" Tokcer maju ke depan tegakkan tubuh di hadapan Ibu tiri Jasmine.
Wanita itu mundur selangkah kena mob mental dari Tokcer. Orang tak punya akal sehat tak perlu diberi panggung. Dia guna cara tak logis maka Tokcer pakai cara lebih frontal. Berbohong demi kebaikan.
"Kau siapa pula?"
"Aku pengawal bos kami! Silahkan minggir! Ayok bu RT dan Jasmine silahkan kumpulkan pakaian kamu!" ujar Tokcer gagah.
Ibu tiri meringsut minggir kena mob Tokcer. Bu RT paham situasi segera tarik tangan Jasmine kumpulkan barang sebelum ibunya koar-koar lagi. Tokcer memeluk tangan di dada perlihatkan gaya macho pengawal profesional. Andi ingin ngakak berguling di lantai lihat gaya Tokcer lindungi Jasmine. Sedikit intimidasi tanpa kekerasan.
Andi dan Tokcer berjaga di depan rumah tungguin ibu tiri Jasmine. Keduanya takut ibu itu lakukan hal di luar konteks. Ini akan bawa akibat buruk buat semuanya.
Tak sampai setengah jam Bu RT dan Jasmine keluar bawa tas besar. Andi menduga itu hanya berisi pakaian. Selain pakaian apa yang bisa diisi dalam tas kain. Bu RT bantu Jasmine angkat tas keluar sampai ke teras. Tampaknya isinya lumayan berat.
"Kau ada curi barang berharga?"
"Astaghfirullah...apa yang mau kucuri di rumah sendiri? Aku tak punya apa-apa lagi Bu! Kuharap ibu dan kakak hidup hemat."
"Hemat? Masker ibu ini saja harganya lima puluh ribu. Belum lagi alat kecantikan lain, kosmetika kakakmu lagi. Makanya serahkan sertifikat rumah biar ibu hidup senang. Anak durhaka... sudah ada yang tampung lupa diri!"
"Sertifikat rumah ini ada pada aku! Kalau ibu Anyelir perlu silahkan ambil! Ibu tak bisa jual tanpa tanda tangan Jasmine sebagai pewaris. Anda hanya ibu tiri. Sadar diri!" semprot Bu RT gedek lihat gaya ibu tiri lupa dia berdiri di mana. Setelah Jasmine pergi lihat mereka makan apa? Paling suruh Anyelir jual diri biar cepat dapat uang.
"Hei...apa urusanmu tahan surat tanah warisan suami aku! Bawa sini atau aku lapor polisi!" bentak ibu tiri Jasmine kena pancingan Bu RT.
"Bagus...lapor polisi biar ibu masuk penjara! Aku sudah lihat rumah ini atas nama Jasmine. Kau jual artinya gali lubang kuburan. Ayok pergi Jasmine! Ibu masih banyak kerja. Capek layani orang kurang akal." Bu RT menggamit lengan Jasmine berlalu dari rumahnya. Mereka sudah mendapat apa yang mereka mau. Untuk apa buang energi layani orang tak punya akal sehat.
Andi dan Tokcer segera sambut tas Jasmine tak biarkan gadis itu angkat tas berat sendirian. Mereka meninggalkan rumah Jasmine tanpa menoleh ke arah ibu tiri Jasmine.
"Awas kau Jasmine! Jangan balik sini!" seru ibu tiri Jasmine kencang terdengar tetangga. Tak ada yang ingin menyahuti seruan orang stress. Keempat orang itu terus melangkah sampai ke parkiran mobil.
Andi meminta Tokcer masukkan barang Jasmine ke bagasi mobil. Dilihat dari mobil Andi Bu RT mulai percaya Andi orang kaya. Jasmine beruntung bila dapat orang kaya. Nasibnya agar berubah seratus delapan puluh derajat.
"Bu...terima kasih. Aku akan sering datang sini jenguk ibu." kata Jasmine setelah berada di samping mobil Andi.
__ADS_1
"Iya...semoga kamu bahagia nak! Kerja yang baik ya! Tak usah pikir ibumu. Biar dia cari rezeki sendiri."