ISTERI CEO YANG TERLUPAKAN

ISTERI CEO YANG TERLUPAKAN
Pesta Karin


__ADS_3

"Ngomong gitu karena para kurcaci dalam perut aku kan?"


"Sumpah hidup nggak gitu! Aku omong dari hati terdalam. Aku takkan jatuh ke lubang yang sama untuk kedua kali. Lihat anak-anak mulai beranjak remaja aku merasa sangat tua. Aku juga Tan sabar dipanggil opa oleh cucu kita. Aku tak mau kalah pamor sama om kamu. Masa dapat kehormatan jadi opa dalam usia muda. Enak banget dia!" sungut Alvan bikin Citra tertawa di seberang sana.


"Iya aku percaya. Mas cepat pulang ya! Ada yang tunggu di rumah."


"Yap... setelah semua beres mas segera pulang."


"Aku tunggu. Assalamualaikum mas..."


"Waalaikumsalam sayang."


Alvan menyimpan ponsel dengan hati lega. Karin telah menemukan jawaban hidup dan dia telah mendapat jatah paling berharga dari Citra. Betapa sempurna hidup ini.


Hari ditentukan Heru dan Alvan bergerak berangkat ke Jawa Tengah untuk hadirin pesta Karin. Berbekal keterangan Citra rasa kuatir agak reda dari rasa takut akan tertular penyakit HIV. Semoga saja analisa Citra tidak ngawur jerumuskan dua pebisnis kaya ke jurang kehancuran.


Pesawat pribadi Heru kali ini mengudara di langit. Pesawat Alvan sudah sering keluar dari hanggar maka kali ini Heru yang berbaik hati gunakan pesawat keluarga Perkasa.


Pondok pesantren tempat Karin bernaung untuk sementara lumayan besar. Di bangun di atas tanah dua hektar di bawah pimpinan ustad Syahdan yang mendapat hidayah setelah terpuruk gara tertular virus mematikan.


Alvan dan Heru disambut langsung oleh Ustad Syahdan. Baru kali ini Alvan tatap muka dengan suami mantan isterinya. Orangnya sederhana agak kurus. Matanya sayu dan lembut menatap orang. Cocoklah jadi seorang pemuka agama.


Hari bersejarah ustad itu berlangsung sederhana. Hanya dihadiri oleh santri dan santriwati serta beberapa orang kampung yang tidak termakan isu bahaya penyakit HIV.


Sederhana namun meriah. Meriah oleh penghuni pondok pesantren yang memang tak ada jalan keluar selain menetap di sana. Sekilas mereka seperti orang sehat tak ada yang patut dicurigai. Mereka berseri menyambut pernikahan pemimpin mereka.


Heru dan Alvan diajak ke satu aula yang sudah diatur cukup bagus. Tak ada dekorasi berlebihan namun sekali lihat sudah tahu bakal ada acara nikahan.


"Ayok silahkan duduk!" Ustad Syahdan mempersilahkan kedua tamu agung duduk di kursi tamu yang sudah tersedia.


"Terima kasih ustad! Kapan acara dimulai?" tanya Alvan heran tak melihat tuan penghulu.


"Akan segera datang! Karin tak mau direpotkan pengurusan surat maka kami menikah atas nama agama saja." ujar Ustad menjawab keheranan Alvan.


Alvan tergugu. Apa selamanya Karin hanya jadi isteri siri dari lelaki. Mengapa dia tak mau dinikahi secara hukum. Apa tujuan wanita itu? Alvan hanya bisa bertanya di dalam hati. Jawabannya ada pada diri karena nanti. Namun begitu Alvan tidak berhak intervensi perasaan Karin terhadap satu pernikahan. Biarlah menjadi rahasia yang tersimpan di dalam hati Karin.


Heru hanya diam perhatikan kesibukan para penghuni pondok pesantren. Mereka ke sana kemari menyiapkan segala sesuatu yang dibutuhkan untuk acara nanti.


"Pak Alvan tunggu sebentar ya! Penghulu telah datang. Aku harus menyambutnya." ustad Syahdan mengundurkan diri untuk keluar menyambut Pak penghulu yang akan menikahkan mereka.


"Silahkan!" Alvan tentu saja tak bisa menahan ustad menyiapkan acara penting ini.


Tinggal Heru dan Alvan menunggu kehadiran orang penting dalam satu pernikahan. Alvan jadi teringat bagaimana dia menikahi Citra. Hanya ada penghulu dan keluarga dari sebelah Alvan. Citra tak punya keluarga hanya diwakili oleh wali hakim. Andai tahu Citra masih ada keluarga pasti opa dan Heru jadi wali Citra. Kasihan juga Citra waktu itu. Di usia masih muda harus menikah dengan lelaki dewasa yang punya black note. Menikah dengan Citra namun Alvan habiskan malam pengantin dengan Karin.


Berapa bejat Alvan waktu itu? Waktu itu Alvan masih muda terbawa arus pesona Karin yang berani dan genit. Citra terlalu lemah tak mau melawan. Semua berakhir dengan duka di hati Citra.


Alvan wajib bayar duka Citra dengan berlipat ganda. Alvan akan beri Citra surga dunia. Semampu bahu Alvan memikul semua derita yang pernah dirasa Citra.


Heru mencolek Alvan yang sedang terbawa arus lamunan. Alvan tersentak kena tangan kasar Heru.


"Ssttt...mantan tercantik kamu sudah datang! Masih menarik kok! Semoga kamu tak menyesal lepaskan Karin." bisik Heru pelan takut terdengar orang lain.


"Jangan gila! Itu bini orang!"

__ADS_1


"Ya pasti bini orang. Yang bilang bini monyet siapa?"


"Jaga mulut! Atau aku cabut statusmu sebagai opa anak-anak."


"Aku tak mau jadi opa anak-anak tapi Daddy dari empat bayi kembar. Tak usah jadi opa juga tak apa. Ok?" Heru perdengarkan niatnya yang makin gila. Sebelumnya minta rawat dua bayi. Sekarang berubah pikiran minta empat bayi.


Kalau bukan ini hari baik ustad Syahdan dan Karin ingin rasanya Alvan cekik leher Heru supaya tak bisa banyak bicara ngawur. Jangankan empat, dua saja Alvan keberatan. Laki itu hanya memikirkan kesedihan isterinya divonis tak bisa punya anak. Apa dia tak pikir betapa derita Citra mengandung anaknya?


"Mimpi nggak usah terlalu tinggi. Sekali jatuh terbanting ke bawah sakit sekali, mungkin bisa tewas." geram Alvan pelan tak mau bikin heboh.


"Lihat saja nanti bagaimana anak-anak panggil aku Daddy. Sudah diam! Jangan banyak bicara! Mantan lhu mau ijab kabul."


Semua persiapan telah beres. Ustad dan Karin sudah disandingkan di meja berkaki pendek. Beberapa orang tua duduk mengelilingi Syahdan dan Karin.


Pak penghulu membaca doa sebelum menjabat tangan Ustad untuk ucapkan kalimat ijab.


Alvan yang tegang mendengar dengan lantang ustad Syahdan mengulang kata-kata yang diucapkan penghulu.


"Saya terima nikahnya dan kawinnya Karin binti Amir dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan emas seberat dua puluh gram." ucap ustad Syahdan dengan lantang.


Pak penghulu melirik semua yang hadir untuk jadi saksi sah atau tidaknya ucapan ustad Syahdan.


"Sah..."


"Sah..."


Karin menundukkan kepala menyalami ustad Syahdan dan mencium tangan lelaki yang telah menjadi lelaki halal baginya. Ustad Syahdan membalas beri kecupan di ubun kepala Karin sambil lantunkan doa semoga Karin jadi isteri Soleha.


Alvan terharu menyaksikan Karin menyongsong hidup baru dengan lelaki lain. Kini Karin telah menutup aurat dengan busana tertutup. Dari atas hingga ujung kaki telah tertutup rapat. Hanya ustad yang berhak melihat isi dalam wanita itu.


Selanjutnya acara makan-makan. Beberapa hidangan dikeluarkan oleh panitia pesta kecilan Karin. Alvan dan Heru sedikit ragu santap tapi melihat pak penghulu dan beberapa warga kampung tidak peduli soal virus HIV mau tak mau kedua laki paranoid ini ikut makan.


Karin ini ikut membantu menyediakan hidangan tanpa malu-malu. Kalau dulu wanita ini mana mau kotori kuku dengan pekerjaan dapur. Sekali masuk salon habis uang berjuta-juta.


Karin tersenyum bahagia telah kembali menyandang gelar nyonya. Kali ini jadi nyonya utama. Tidak jadi wanita simpanan lagi.


Ambar juga ikut sibuk dengan perut besar. Melihat Ambar di mata Alvan terbayang Citra. Perut Ambar tidak segede perut Citra. Perut Citra berisi empat janin sedang perut Ambar berisi satu janin saja. Itu saja lumayan besar.


"Pak Alvan...datang juga! Apa kabar Bu Dokter?" kata Ambar senang lihat orang yang dia fitnah datang juga.


"Di sedang hamil maka tak datang." kata Alvan masih ilfil pada Ambar yang tega karang cerita bohong untuk pisahkan dia dan Citra.


"Oh...semoga Bu dokter sehat selalu! Aku juga akan segera lahiran. Setelah lahiran aku akan balik ke kota cari kerja. Apa pak Alvan ada lowongan untukku?"


"Aku kurang tahu. Masih harus tanya bagian HRD dulu." tolak Alvan halus. Lelaki ini mana berani ajak wanita ini bekerja di kantor. Ambar telah beri pelajaran berharga pada Alvan betapa banyak wanita nakal di dunia ini.


"Oh gitu ya pak! Tunggu aku lahiran aku akan datangi bapak. Jadi apa saja boleh asal halal. Aku akan berubah."


"Kau fokus saja pada kesehatan diri! Jangan pikir kerja dulu!"


Ambar tertawa senang Alvan ramah padanya. Ambar bersyukur Alvan tidak marah padanya atas peristiwa tempo hari. Ambar bertekad jadi orang lebih baik supaya dapat berkah seperti Citra. Siapa tahu dia jumpa lelaki lebih baik bisa terima masa lalunya. Berharap tidak salah asal di barengi itikad baik.


"Iya pak!" Ambar tidak nyinyir ganggu acara makan Alvan. Wanita ini pergi melaksanakan tugas lain.

__ADS_1


Heru menatap kepergian Ambar dengan perasaan tak suka juga. Heru takut penyakit nakal Ambar kumat ganggu kehidupan Alvan yang berimbas pada kebahagiaan Citra. Gimanapun Heru tak mau kebahagiaan Citra terkoyak oleh oknum tak punya rasa malu.


"Kau yakin mau rekrut dia?" tanya Heru setelah yakin Ambar telah pergi jauh.


"Siapa bilang mau rekrut dia? Aku tak mungkin langsung tolak. Apa kau tak lihat gunung di depan perutnya? Lihat dia sama saja lihat Citra kita! Empati dikit!"


Heru puji jiwa sosial Alvan. Alvan tidak gegabah menolak Ambar secara langsung. Alvan takut merusak mood ibu hamil. Isterinya juga sedang hamil. Menjaga perasaan ibu hamil lain sama saja menjaga perasaan Citra.


"Bravo...lelaki sejati! Yang ini aku setuju tapi Kuingatkan jauhkan Ambar dari keluarga kamu. Dia terlalu berani menantang nasib dengan cara kotor. Aku tak suka dia dekatin Citra. Kau tahu sifat Citra yang terlalu lemah. Maling saja baik di matanya."


Alvan mengangguk setuju omongan Heru. Kapan Citra marah pada orang? Alvan yang telah ukir luka menganga di hati Citra mendapat maaf tanpa syarat. Apa lagi kalau Ambar merengek pada Citra, jamin Citra akan paksa Alvan terima dia.


"Aku tahu...kita jaga bersama!"


"Iya...demi anak dan cucu aku!"


"Anak mana? Gibran?"


"Anak kembar empat."


"Sinting.."


Alvan malas berdebat bikin mood jelek saja. Alvan tak sabar ingin segera tinggalkan pesta untuk kembali berkumpul dengan di perut buncit. Makin hari Alvan makin ingin selalu dekat Citra untuk lindungi wanita itu. Setiap Citra bergerak Alvan ingin sekali bantu Citra angkat beban tapi hal itu tak mungkin. Hanya ada rasa iba di hati laki itu.


Pesta sederhana berlangsung untuk kalangan penghuni pesantren dan beberapa warga desa. Semua berpesta riang gembira walau tidak mewah. Makan dan minum cukup sudah jadi kebahagiaan buat yang punya hajatan.


Sebelum pulang Alvan dan Heru beri amplop cukup tebal pada ustad untuk bantu warga yang memang dikucilkan. Kebutuhan mereka hanya mengandalkan donatur dan sedikit saham Ustad di perusahaannya dulu. Selain itu tak ada yang bantu mereka.


Pak ustad bersyukur dapat Rahmat sangat besar dikunjungi dua pengusaha yang sedang naik daun. Siapa tak kenal dua singa bisnis yang telah bergabung bentuk kerajaan makin kokoh.


Karin menyempatkan diri minta doa restu Alvan sebelum laki itu pulang ke kotanya. Karin sengaja ajak Alvan bicara empat mata sebelum mereka terpisah oleh jarak. Setelah ini ntah kapan mereka akan jumpa lagi. Tak ada alasan bagi Alvan untuk kunjungi Karin yang notabene isteri orang.


Keduanya duduk sedikit berjarak untuk jaga gunjingan orang. Alvan perhatikan Karin banyak berubah. Wajahnya tidak dipoles make up tebal lagi walau sedang jadi pengantin. Hanya riasan sederhana untuk nyatanya dia adalah pengantin.


"Van...aku minta maaf ya telah buat masa lalumu kelabu! Doakan aku hidup sehat tanpa gangguan sampai ajal menjemput." kata Karin sendu mengetok ulu hati Alvan. Alvan tak bisa pungkiri pernah bahagia bersama Karin. Wanita ini pernah ada dalam bingkai hidupnya.


"Pasti Kudoakan cuma aku heran mengapa kau tidak menikah secara hukum agar status kamu tidak kelabu."


Karin tersenyum kecil. Alvan makin heran Karin bukan menjawab malah tersenyum.


"Aku bukan orang bodoh Van! Ustad punya anak dan isteri walau telah berpisah. Kelak kalau kami meninggal anaknya bisa tuntut harta bersama. Aku punya rumah dan mobil yang telah kuberi pada Azzam. Kalau ada surat nikah mereka bisa tuntut harta itu. Aku tak rela semua yang kumiliki jadi milik orang. Aku hanya ingin berikan pada anak-anak kamu Van. Itu hak mereka."


Alvan terhenyak tak pikir sampai di situ. Karin berkorban untuk Azzam. Karin sedang menunjukkan kemuliaan hati berbalik bela anaknya.


"Lalu anak yang kau adopsi? Bukankah dia juga harus punya pegangan masa depan?"


"Aku punya sedikit tabungan untuk biaya hidup anak itu kelak. Kamu tak usah kuatir. Aku sudah perhitungkan masak-masak semua yang kulakukan. Aku takkan terlantarkan masa depan anak itu."


"Kau salah Karin. Seharusnya rumah kau berikan pada anak itu. Gini saja! Aku akan urus rumah itu sampai anakmu dewasa kelak. Setelah dia dewasa aku akan kembalikan padanya. Aku akan bantu pantau masa depan anak itu bila ada umur panjang. Azzam pasti tidak akan keberatan beri rumah itu pada adiknya."


"Terima kasih mau anggap anak itu bagian dari keluargamu. Aku sangat terharu."


"Kau anggap anak-anak aku anak kamu maka aku juga akan begitu. Mereka malaikat tanpa dosa. Yang berdosa itu kita yang tak tahu diri."

__ADS_1


__ADS_2