
Citra duduk manis menanti Alvan mengeluarkan semua makanan. Sebelum lihat hidangan perut Citra masih bisa diajak bersahabat tapi begitu lihat makanan perut tak tahu diri berontak minta diisi dengan lauk lezat. Sekarang Citra baru terasa lapar. Ulu hati mencicit nyeri datangkan rasa tak nyaman. Citra baru sadar lambungnya lagi bergejolak karena kosong. Citra lupa kalau dia lupa makan siang saking stress jumpa Alvan ditambah Afifa sakit. Sungguh hari panjang penuh duka.
"Mau makan apa?" suara Avan buyarkan lamunan Citra.
Citra menatap makanan di meja tanpa gairah. Perut lapar namun selera tak terbit. Citra harus makan agar punya energi rawat Afifa. Dia tak boleh ikutan drop karena Afifa masih butuh dia.
"Nasi goreng saja!" Citra memilih yang gampang tak perlu repot makan aneka lauk lain. Makan nasi putih otomatis harus dipadu dengan lauk pauk yang memang tersedia. Semua itu tak menggugah selera makan Citra. Tujuannya hanya meredakan rasa perih di ulu hati.
Alvan menyodorkan nasi goreng plus sendok. Sikap Alvan telaten layani isteri tak ubah suami siaga. Andai dari dulu sikap Alvan begini mungkin kisah mereka tak seburuk ini. Citra bisa saja menerima Karin sebagai madu asal Alvan bersikap adil antara mereka. Namun Alvan hanya anggap Karin sebagai isteri satu-satunya melukai hati Citra. Ditambah perlakuan tak adil dari Alvan. Karin bak ratu sedang dia tak ubah kacung suruhan raja dan ratu.
"Pedas ya?" Alvan ngeh lihat wajah Citra memerah setelah makan nasi goreng pada suapan pertama. Bibir tanpa lipstik itu tak mau ketinggalan berubah merah.
Alvan buka air mineral berikan pada Citra untuk meredakan rasa pedas. Citra menerima tanpa ucapan terima kasih. Mulut Citra kaku untuk banyak bicara dengan Alvan.
"Jangan makan lagi! Makan nasi putih saja! Perutmu kosong tak baik makan pedas." tangan Alvan mengambil kotak nasi dari Citra tanpa ijin. Sikap bos tirani keluar lagi dari tubuh Alvan. Laki ini sudah biasa memerintah serta dipatuhi. Laki ini tak harap Citra melawan perintahnya.
"Tak usah pak! Sudah dimakan sayang dibuang."
"Kamu makan yang lain. Ini untukku saja. Tidak dibuang." Alvan tanpa rasa jijik makan bekas nasi goreng Citra. Hebatnya pakai sendok bekas bibir Citra. Citra melongo tak yakin matanya lihat pemandangan langka ini. Alvan tidak keberatan berbagi makanan dengan Citra.
"Pak...itu bekas aku!" seru Citra gugup.
"Bekas mu kenapa? Emang aku belum pernah rasakan bibirmu?" Alvan tak open rasa heran Citra. Laki itu makan dengan lahap seolah nasi itu sangat lezat.
Citra menunduk malu. Percintaan mereka sembilan tahun lalu cukup hot walau dibawah pengaruh obat perangsang. Alvan begitu buas merambah seluruh tubuh Citra tanpa sisa. Kejadiannya berulang dua kali. Citra malu ingat kenangan tak manis itu.
Tanpa keluarkan suara Citra mengambil nasi putih dengan sedikit lauk. Keduanya makan tanpa bicara. Hanya terdengar decak mulut Alvan makan nasi goreng. Kayaknya nasi itu lezat sekali sampai laki besar itu mengunyah penuh semangat.
Pintu diketok dari luar ganggu acara makan pasangan yang statusnya belum jelas itu.
Alvan duluan bangkit dahului Citra buka pintu. Pintu bergeser munculkan lajang kecil serta manusia AC/DC ditambah laki bertubuh gempal. Alvan senang jumpa darah dagingnya yang terlampau cerdas itu. Alvan boleh kesal pada mulut cabe rawit Azzam tapi Alvan bangga sifat Azzam persis sifatnya. Tegas tak mau ditindas.
"Assalamualaikum mami..." Azzam langsung dekati maminya yang sedang makan. Azzam cium tangan Citra layak anak sholeh lain.
"Waalaikumsalam...Koko sudah makan?" mata Citra berbinar anaknya lajangnya datang.
"Sudah...dua kali! Makan sama nenek dan dikasih kebab sama om ganteng ini!" Azzam menunjuk Untung yang kepalanya tumbuh besar dua kali. Baru kali ini ada orang ngaku dia ganteng. Anak kecil biasa tak bohong. Artinya hanya Azzam tahu betapa ganteng dia. Yang lain syirik tak ngerti ganteng sesungguhnya.
Untung senyum bangga hidung sampai kempas kempis isi udara banyak. Jari tangan gempal itu menyisir rambut untuk menambah rasa pede. Ance mencibir mengejek Untung. Untung belum tahu betapa beracunnya Azzam. Puji Untung tentu ada maksud tertentu. Semoga Azzam cepat perlihatkan racun mematikan di depan Untung.
"Lain kali tak boleh gembul. Apa Koko tak takut gendut?"
"Lagi pingin! Amei gimana?"
"Sudah turun panas. Itu lagi ditransfusikan darah. Koko harus rajin sholat doain Amei cepat sembuh."
Azzam hampiri Afifa sambil memandang kantong infus berisi darah Alvan. Laki kecil ini bergidik membayangkan gimana kalau darahnya yang keluar mengalir ke tubuh adiknya. Apa sakit disedot segitu banyak darah. Bagaimana cerdasnya Azzam dia tetap anak kecil ada rasa takut.
Azzam alihkan mata dari kantong darah ke wajah Afifa yang tidur tenang. Lajang ini mengecup pipi Afifa sekilas untuk katakan rindu. Alvan terharu saksikan betapa sayang Azzam pada adik. Dia ketinggalan banyak moments indah di keluarga Citra. Bukan keluarganya yang berkalang noda.
"Dari tadi belum bangun?" bisik Azzam pelan takut ganggu Afifa.
"Sudah makan baru tidur. Koko tak boleh lama di sini! Sudah lihat Amei langsung balik. Nanti Tante Nadine ikut pulang. Patuh sama Tante dan kak Ance ya!"
__ADS_1
"Mami ini...baru saja sampai! Kaki Koko belum panas di lantai disuruh pulang. Koko mau video call sama Cece. Koko mau kasih tahu Cece kalau Amei sakit."
"Jangan! Cece sedang ikut lomba! Nanti perhatiannya kacau. Tunggu dia selesai lomba. Koko mau Cece bawa pulang medali emas kan?"
Azzam angguk lesu. Harapan video call dengan Afisa tertunda. Biasanya tiap malam mereka video call lewat aplikasi WeChat. Di Tiongkok tak ada yang pakai aplikasi wa. Ntah kenapa di Tiongkok tak gunakan aplikasi google produk negara barat. Mereka gunakan aplikasi produk negara mereka sendiri.
"Azzam video call tanpa beritahu Amei sakit. Boleh mi? Nanti Cece bingung mengapa malam ini tak vc. Dia malah pikiran."
Citra berpikir sejenak lalu manggut. Apa yang dikatakan Azzam ada benarnya. Mereka bersaudara tiap malam vc. Satu malam tidak vc Afisa akan curiga ada yang tak beres.
Citra mengeluarkan hp beri pada Azzam untuk hubungi adik jauh di seberang lautan. Niat Azzam sangat baik tak mau bikin Afisa berpikiran. Ini malah akan ganggu konsentrasi Afisa di kejuaraan senam irama.
"Xie-xie (terima kasih) mami!" Azzam menerima hp maminya suka cita. Azzam selalu riang bila ngobrol dengan adik-adiknya. Azzam selalu merasa dia Abang yang harus lindungi keluarganya dari ancaman luar.
Azzam dengan mahir buka hp Citra mencari kontak WeChat Afisa. Senyum lebar Azzam terhias di bibir. Lajang itu tak ragu klik kontak Afisa.
Alvan menanti sambungan dengan hati kebat-kebit. Gimana tampang anaknya yang satu lagi? Secantik Afifa atau semanis Azzam.
"Assalamualaikum...Cece.." seru Azzam riang gembira begitu hubungan tersambung.
"Waalaikumsalam...Amei cai na li ( Amei di mana?)" Seraut wajah cantik putih terpapang di layar. Afisa mirip Afifa cuma Afisa tampak lebih dewasa dan wajahnya keras macam Azzam. Sosok teguh juga.
"Amei sudah tidur! Dia capek main! Bagaimana lomba Cece?"
"Sudah semi final. Kalian mau datang lihat Cece kalau masuk final?"
Alvan penasaran pingin lihat tampang anak keduanya itu maka secara diam-diam curi pandang layar ponsel Azzam. Gadis cantik berwajah manis. Afisa perpaduan Afifa dan Azzam. Ada dekik juga di kedua belah pipi warisan dari Alvan. Alvan tak ragu itu termasuk hasil sumbangan bibitnya. Hati Alvan makin lega setelah lihat Afisa. Seratus persen keturunan Lingga.
"Tidak..asal kalian doa saja! Mami mana?"
"Ada...lagi makan! Kami lagi di luar."
"Kalian keluar tinggalkan Amei di rumah?" seru Afisa berang.
"Amei capek main. Kami lagi hadiri acara di hotel teman mami. Amei tidur di kamar lain sama Tante Nadine. Amei ada kok!" Azzam cepat putar otak berbohong untuk kebaikan. Semoga saja dosa Azzam tak dicatat Tuhan.
"Oh gitu...Cece mau omong sama mami. Eh tunggu...di belakang koko itu siapa? Kok mirip koko." mata jeli Afisa menangkap bayangan tinggi di belakang Azzam.
Azzam menoleh ke belakang melihat Alvan yang masih takjub lihat Afisa. Azzam menghela nafas sok dewasa tak harap Afisa tanya lebih lanjut siapa orang yang ikut numpang vc.
"Menurut Cece?" Azzam sengaja tanya balik biar Afisa tak usil cari info yang bagi Azzam tak penting.
"Jangan bilang orang itu punya hubungan dengan kita!"
"Koko tak mau jawab. Pakai otakmu pikir sendiri! Ini mami! Ayok omong!" Azzam arahkan hp ke wajah Citra yang masih berkutat dengan nasi. Rasa lapar di perut paksa Citra makan lebih walau tak berselera.
"Mami...apa mami baik saja?" tanya Afisa dengan sorot mata tajam mencari kekurangan di wajah imut maminya.
"Mami sedang makan. Kamu tidak latihan?"
"Sudah..lusa masuk semi final. Mami mau berdoa untuk Cece?"
"Anak bodoh...kapan mami tak doa untukmu? Pelajaran sekolah jangan tinggal ya! Cece pertahankan rangking satu! Mami selalu bangga pada kalian. Tetap jadi anak baik ya! Patuh pada mama dan papa!"
__ADS_1
"Iya Mi...kapan datang?"
"Secepatnya! Kata mama mu Cece di rekomendasikan ke sekolah negeri untuk dapat beasiswa. Cece mau?"
"Ngak..Cece senang sekolah sekarang. Cece akan rajin kejar beasiswa sini. Kata papa Cece akan pindah kewarganegaraan. Apa boleh mi?"
"Afisa mau?" tanya Citra melirik Alvan yang ikut nguping. Bagaimanapun Alvan itu ayah kandung Afisa punya hak tentukan masa depan Afisa.
Alvan palang kedua tangan di dada melarang Citra ijinkan anaknya jadi warga Tiongkok. Afisa punya orang tua utuh mengapa harus jadi warga orang luar. Alvan tak ijinkan anaknya pindah kewarganegaraan.
"Cece tergantung mami. Cece akan belajar lebih rajin lagi. Cece janji akan persembahkan medali emas pada mami, Koko dan Amei. Oya...siapa orang yang mirip Koko itu? Apa papi kami yang kabur?"
Hati Alvan bagai tersiram minyak panas. Perih dihina anak sendiri sebagai buronan. Ternyata mulut Afisa sebelas dua belas dengan Azzam. Runcing ke atas.
"Cece tak boleh tak sopan. Mami mau lanjut makan. Masih mau ngobrol sama Koko?" Citra mengelak untuk jawab. Tingkat kecerdasan Azzam dan Afisa di atas rata-rata anak. Termasuk anak super jenius. Saking pintarnya Afisa beberapa sekolah bersedia beri beasiswa agar Afisa pindah ke sekolah mereka. Afisa langganan ikut lomba cerdas cermat versi Tiongkok. Semua disapu Afisa berkat bimbingan profesor yang disebut papa oleh Afisa.
"Mami suka ngelak dari topik. Jangan paksa Cece pulang selidiki orang itu?"
"Huusss...anak kecil sok pintar! Belajar yang baik! Ini omong sama Koko."
"Ok..."
Azzam arahkan hp balik ke wajahnya sambil lempar tatapan horor kepada Alvan. Bulu kuduk Alvan merinding menanti kelanjutan aksi Azzam yang pasti merugikan posisinya sebagai papi.
"Cece...tak usah pikir aneh-aneh! Kita tetap hidup aman berempat. Eh maksud Koko berenam dengan papa dan mama lagi. Tahun depan kami balik ke Beijing untuk kumpul denganmu. Koko akan berlomba denganmu rebut beasiswa. Bersiaplah lawan Koko!"
"Siapa takut? Cece sudah belajar pelajaran kelas enam! Kau sampai di mana?"
"Wah kamu kalah!!! Kak Ance ajar pelajaran SMP. Cuma kak Ance sering ketiduran kalau ngajar. Ngoroknya bisa usir nyamuk! Cicak saja kalau malu sampai tak bersuara." olok Azzam hidupkan suasana ceria.
"Hahahaha... lucu! Koko enak ada kak Ance yang lucu. Cece sini sepi. Rasanya pingin cepat datangnya tahun depan."
"Sabar nona cantik! Tahun depan itu tak lama. Ok sekarang waktunya tidur buat nona kecil. Besok malam kita vc lagi sekalian sama Amei. Selamat bobok ya!"
"Selamat bobok! Salam untuk Amei. Bilang Cece sayang padanya. Daaaa.."
Suasana hening sesaat. Azzam masih senang telah kunjungi adiknya yang jauh walau cuma lewat vc. Bisa ngobrol sudah bisa obati rasa kangen. Tiap malam vc juga takkan bosan.
"Koko...sekarang pulang ya! Adikmu baik saja kok!"
"Iya Mi...jaga Amei dengan baik! Besok pulang sekolah Koko langsung ke sini. Boleh kan?"
"Tidak...pulang rumah mandi dulu. Kak Ance akan antar kamu ke sekolah. Mami akan nyusul ke sana nanti. Cium mami dulu!"
Azzam merapatkan tubuh ke tubuh Citra beri kecupan dan pelukan hangat. Azzam terlalu pintar sebagai anak kecil. Segala tingkahnya mirip anak remaja dewasa. Sangat pengertian memaklumi kesulitan sang mami.
Dari Citra anak lajang itu dekati Afifa beri kecupan di pipi adiknya sebelum pulang. Azzam akan selalu rindu pada adik sekaligus teman mainnya.
"Ko...tunggu Tante Nadine...dia ikut pulang." Citra ingatkan Azzam akan Nadine yang sedang urus ganti shift kerja.
"Mbak..kak Nadine kan bawa motor! Dia bisa pulang sendiri. Kami pulang duluan saja!" timpal Ance tiba-tiba.
Citra tertawa lupa kalau Nadine bawa transportasi sendiri. Dia dan Nadine pulang pergi kerja pakai motor untuk hemat waktu. Naik bis atau angkot sangat tidak efisien. Suka bikin telat. Angkot harus tunggu penumpang penuh baru berangkat sedang bis berhenti sepanjang jalan buang waktu. Transportasi paling efisien ya motor.
__ADS_1