
Untung tidak segera jawab. Laki ini mengeluarkan satu map lalu serahkan pada Alvan hasil kerjanya. Alvan mementingkan hasil akhir bukan hanya sekedar laporan kosong. Untung tak pernah mengecewakan Alvan kalau dalam keadaan dinas. Semua kontrak ditangani dengan baik.
Alvan mengangguk puas hasil kerja Untung. Berkat namanya Untung maka keberuntungan selalu hampiri Untung. Tidak rugi orang tua Untung kenduri syukuran kasih nama itu buat anaknya.
"Sekarang kalian kerjakan tugas masing-masing. Kau Andi jangan lengah! Periksa yang akurat!"
"Siap pak!" Andi naikkan tangan ke jidat beri hormat pada atasan dalam posisi siap di tempat. Hormat ala militer ditunjukkan Andi biar dianggap macho oleh Alvan. Tak gampang bangun image macho di sela sifat feminim Andi. Butuh latihan bertahun untuk tampil cool layak laki normal.
Andi dan Untung segera angkat kaki menuju ke meja kerja masing-masing. Andi turun ke lantai bawah gabung dengan Wenda. Sejujurnya Andi iba pada Wenda dijadikan kambing hitam oleh orang tak bertanggung jawab. Syukurlah Wenda cepat sadar sebelum tenggelam karam ke dasar Palung samudera masalah.
Sebelum fokus kerja Andi sempatkan diri hubungi temannya di preman tanggung. Andi tak sabar menawarkan kerja buat temannya. Teman Andi tidak banyak karena orang sekampung memandang rendah pada banci kalengan model Andi. Mungkin ada satu dua di antaranya Tokcer anak janda miskin yang juga dikucilkan warga karena dianggap preman. Andi ingin tunjukkan pada warga kampungnya bahwa dia bukan manusia malfungsi. Dia bisa juga berkarya hasilkan uang bantu orang tua.
Andi keluarkan hp yang sering dipakai Azzam main game. Sejak Azzam punya hp sendiri hp Andi boleh lega karena tidak dipakai dua orang secara gantian.
"Halo.." Andi berseru senang panggilannya disambut oleh temannya. Masih syukur Tokcer tidak gadai hp jadul buat beli beras. Kalau tak ada duit hp keluaran jaman ibunya masih remaja sering digadai pada teman yang punya duit untuk beli sekilo beras. Sudah ada duit Tokcer akan tebus hpnya. Beginilah nasib orang kelas teri.
"Ada apa An? Kudengar kau sudah tajir ya! Tiap hari dijemput mobil berlapis emas."
"Ember...hoki gue lagi cemerlang. Ingat kata dukun seberang desa nggak? Katanya nggak lama lagi gue bakal dapat kerja. Terbukti toh!"
"Terbukti endasmu! Bukankah dia juga bilang gue bakal jadi orang kaya tiap hari naik mobil mewah? Jangankan naik mobil! Sepeda aja tak punya. Apa gue rampok bank pakai ketapel karet?"
Andi berhasil hihi merasa lucu dengar nada putus asa Tokcer. Namanya Tokcer tapi nggak pernah tokcer. Apes melulu.
"Dukun itu nggak bohong kok! Lhu mau nggak gue ajak jadi tajir?"
"Mau dong! Kita rampok bank atau piara tuyul?"
"Dasar otak somplak! Mau masuk penjara? Ini gue serius. Bos gue butuh supir antar jemput anaknya. Gue tawarin lhu! Bos gue setuju. Tapi ingat! Yang jujur, kita boleh miskin tapi tak boleh panjang tangan."
"Mau...mau...asal halal semua kulakukan! Lhu tenang aja! Aku si Tokcer pantang makan uang haram. Apa lhu pernah dengar gue nipu orang? Paling lepas satu dua tendangan bila berantem."
"Bos kita tak suka orang kasar. Kerja lhu gampang tidak peras otak. Cukup antar bos, Azzam dan Afifa!"
"Lha...kok Koko dan Amei? Emang apa hubungan dengan bos lhu?"
"Amei dan Koko anak bos kita! Ceritanya panjang banget! Tujuh hari tujuh malam nggak bakalan tamat diceritain! Sekarang lhu pergi ke rumah gue pinjam baju kemeja sama nyak gue! Naik angkot datang ke alamat yang akan gue kirim. Teleponi gue kalau udah di depan gedung! Gue sambut elu!"
"Yang serius Ance!"
"Pelajaran pertama buat lhu! Jangan panggil gue Ance lagi! Ance sudah innalilahi. Sekarang cuma ada Andi! Bos bisa sate gue kalau lebay! Ya sudah kutunggu lima detik dari sekarang."
"An...serius lhu?"
"Ya Allah...sejuta rius! Yang sopan ya! Jawab kalau ditanya! Jangan tanya soal gaji ya! Kita pendatang baru terima saja berapa dibayar. Biar ibu lhu bangga punya anak berbakti! Kutunggu. Cepetan ya!"
"An...terima kasih. Tunggu gue! Jangan ke mana-mana!"
__ADS_1
"Eh dodol...lhu yang jangan ke mana-mana! Udah ach cepetan!"
Andi tak dapat bayangkan betapa Tokcer bersyukur dapat kerjaan di kantor keren walau hanya sebagai supir. Andi ingat beberapa bulan lalu dia, Tokcer dan Bonar iseng ke dukun desa sebelah. Ntah dukun itu asal tebak atau memang dukun sakti meramal ketiga pemuda itu bakal hidup layak tak lama lagi. Andi sudah terbukti hidup lebih layak cuma Tokcer dan Bonar belum jelas nasibnya. Tokcer mengarah pada ramalan jitu. Alvan belum jumpa Tokcer belum bisa dikatakan Tokcer berhasil.
Tinggal tunggu bagaimana kemujuran Tokcer jumpa Alvan nanti. Andi hanya berdoa semoga Alvan suka pada Tokcer.
Satu jam lebih Tokcer baru teleponi Andi beri kabar pada Andi dia sudah menunggu dekat kantor besar Alvan. Andi segera turun ke lantai dasar setelah ijin pada Wenda. Wenda adalah senior Andi maka setiap langkah Andi harus ada etika.
Andi melihat Tokcer tak bisa masuk halaman kantor tanpa ijin satpam penjaga pintu gerbang besar. Anak itu berpakaian cukup rapi walau celana sedikit lusuh. Andi memaklumi kondisi keuangan Tokcer tak mungkin beli pakaian necis. Sudah bisa muncul dalam tampilan begini termasuk lumayan.
"Hai...yok masuk!" Andi menarik Tokcer yang terkagum pada gedung tempat Andi kerja. Siapa sangka lelaki gemulai macam Andi menemukan jati diri di kantor super besar.
"Ini tempat kerjamu?" tanya Tokcer masih terkagum-kagum mengedarkan mata ke sekeliling lapangan parkir penuh aneka model mobil dan motor.
"Semoga ini juga tempat kerjamu. Ingat! Pak Alvan tak suka orang cerewet. Bicara yang sopan. Gaya preman kampungan jangan dibawa ke sini!" Andi wanti-wanti pada Tokcer ingat semua nasehatnya.
"Iya...apa lhu pikir otak gue habis dimakan virus? Gue ngerti."
"Good...kita langsung ke ruang bos ya! Bos kita itu papi Koko dan Amei! Kak Citra itu bininya! Kayaknya mereka ada konflik maka terpisah. Itu bukan urusan kita! Kita cuma perlu jaga kedua anak bos. Katakan kau sering main sama Koko dan Amei. Sudah anggap kedua anak itu sebagai adik sendiri." Andi terusan beri masukkan agar Tokcer lolos dari interview tanpa proposal.
Andi membawa Tokcer langsung naik ke lantai atas. Kini Tokcer percaya Andi mang sudah bekerja di kantoran. Banyak yang belum percaya Andi di terima kerja di kantor besar. Soalnya di kampung Andi selalu jadi bahan ejekan. Andi menampar ejekan dengan karya bukan tamparan tangan.
Mimpi seribu kali Tokcer tak sangka bakal masuk di gedung kantoran sebesar gini. Kantor tinggi menjulang ke langit. Setiap lantai bersih tanpa kotoran. Seluruh ruangan Harum tidak bau apek seperti di terminal angkot. Pegawainya berpakaian rapi dan bersih. Pokoknya Tokcer suka berada di tempat ini. Semoga Andi tidak berbual bohongi dia ajak kerja di kantor.
Andi dan Tokcer tiba di depan ruang Alvan. Andi merapikan pakaian dan pantau kesiapan Tokcer maju diwawancarai bos secara langsung.
Andi mengetok pintu. Tokcer merasa jantungnya berdegup kencang. Selama ini Tokcer tak kenal kata takut. Kenapa hari ini dia gugup merasa kaki tak bertenaga. Apa kena gejala stroke ringan saking takut jumpa big bos?
"Masuk!"
"Pak ini sudah kubawa teman aku!"
"Masuk!" ujar Alvan tanpa pindah mata dari layar desktop komputer.
Andi menyeret Tokcer masuk setelah dapat ijin Alvan. Andi sudah biasa berada di ruang kantor Alvan tidak kaget lihat dekorasi super mewah ruang Alvan. Tokcer yang masih udik terbelalak kagum tak sangka kantor saja semewah ini. Bagaimana rumah pemilik gedung ini? Berapa puluh kali lipat kemewahan rumah Alvan?
Andi dan Tokcer berdiri di depan Alvan tanpa berani bersuara sebelum bos duluan menyapa. Bawahan hanya boleh menjawab bila ditanya. Di suruh tunggu seharian juga tak boleh bantah. Bos boleh sesuka hati, sedangkan anak buah seduka hati.
"Siapa namamu?" akhirnya Alvan sadar ada dua makhluk sedang menunggunya.
"Tokcer pak!" sahut Tokcer sopan.
Mata Alvan liar meneliti calon supir untuk anak-anaknya. Wajah cukup lumayan walau tidak terlalu ganteng. Wajah sangar ciri khas lelaki tulen. Beda jauh dengan Andi si tulang lunak. Pakaian cukup bersih walau belum capai tuntutan Alvan. Alvan maklumi karena Andi sudah jujur jalan hidup Tokcer yang keras.
"Kenal Azzam dan Afifa?"
"Kenal pak! Mereka berdua bagai adik kecil bagiku. Saya sering main dengan mereka kalau kak Citra piket malam. Mereka berdua anak baik." sahut Tokcer spontan cerita fakta. Apa yang dia katakan adalah realita. Bukan sekedar cari muka agar diterima kerja.
__ADS_1
"Kau sanggup siaga dua puluh empat jam?"
"Sanggup pak! Apapun perintah bapak akan saya lakukan asal tidak melawan hukum!"
Alvan suka jawaban Tokcer. Anak itu lebih sopan dari Andi karena membiasakan diri gunakan kata saya untuk hormati Alvan sebagai bos.
"Bagus...aku akan beri kamu training tiga bulan! Kalau kamu lulus selama masa percobaan kau akan jadi pegawai tetap. Kau bertugas antar jemput kedua anak saya dan mami mereka. Kawal mereka dari segala bahaya. Selama masa percobaan kau digaji lima juta sebulan. Lewat masa percobaan gajimu akan dinaikkan lebih dari itu. Gimana terima?" Alvan memberi penawaran pertama untuk Tokcer.
"Lima juta pak?" seru Tokcer kaget dengar nilai gajinya. Digaji sejuta juga diterima Tokcer. Ini melebihi bayangan anak itu.
"Kenapa? Merasa kurang?"
"Bukan pak! Tapi itu terlalu banyak hanya bawa mobil saja. Apa nanti bapak tidak rugi gaji saya terlalu banyak?" tanya Tokcer merasa seluruh tubuh bergetar dengar gaji pertamanya.
"Itu sesuai dengan harga kerjamu. Jadi kerja yang baik dan rawat mobil dengan baik! Jaga mobil dan jaga Azzam sama beratnya! Aku tak mau kamu ngebut bahayakan nyawa anak-anak aku! Jauhkan mereka dari segala bahaya! Bisa?"
"Insyaallah pak! Saya akan lakukan yang terbaik."
"Kupegang janjimu! Nanti kau dan Andi pergi beli pakaian layak untuk kerja. Pakaian layak untuk orang kantor. Ingat kalian bukan kerja di jalanan! Ini kantor resmi."
"Siap pak! Apa kami boleh kasbon buat beli pakaian?" Andi yang buka mulut karena Tokcer belum berani bertanya soal uang. Kerja belum tapi sok-sokan tanya dana.
"Tak usah kasbon! Kalian ambil uang sama Untung. Anggap ini sebagai hadiah jaga Azzam dan Afifa selama ini. Kalau gajian utamakan orang tua kalian. Dan kau Tokcer! Jauhi kekerasan. Jangan pertontonkan kekerasan pada Azzam dan Afifa!"
"Iya pak! Kami yang selalu dikerjai Azzam. Anak itu terlalu cerdas untuk ukuran umurnya. Dia pinter sekali main komputer. Dia bisa buka akun orang lain walau tak tahu pasword. Pernah dia pulihkan rekening mobile teman yang lupa pasword." Tokcer cerita seakan ngerti sekali sifat Azzam.
Alvan tertegun dengar cerita Tokcer tentang Azzam. Apa benar otak Azzam demikian licin bisa buka rahasia orang tanpa perlu tahu email dan password seseorang? Dari mana anaknya belajar bobol akun orang.
"Apa Azzam sepintar itu?" gumam Alvan tak urung bangga punya keturunan lihay. Orang tua mana tak bangga punya penerus berotak encer. Tidak rugi Azzam terlahir pakai marga Lingga. Anak itu pantas menjadi anak Alvan.
"Kalau itu sih sudah biasa pak! Kadang kami isengi FB teman buat lucu-lucuan. Azzam pakarnya kok!" timpal Andi tak aneh cerita Tokcer. Azzam acap diminta bantu buka akun yang terkunci. Tak butuh lama untuk buka asal ada dasar lama..
"Kalian lebih tua dari Azzam kok ngajar yang bukan-bukan. Lain kali tak boleh gitu lagi. Kalian harusnya beri contoh baik untuk Azzam dan Afifa. Sekarang kalian balik kerja. Tokcer cari Untung minta diberi tahu mobil mana untuk dipakai antar jemput Azzam. Kau Andi antar Tokcer."
"Siap pak! Kami permisi dulu."
"Terima kasih kepercayaan bapak. Saya janji akan bekerja sebaik mungkin."
"Iya...pergi sana! Andi...kasih tahu Tokcer bagaimana kerja di sini!"
"Siap pak!" lagi-lagi Andi pamer gaya militernya. Andi maki. akrab bergaya maskulin. Andi punya kemauan besar tinggalkan gaya lebay yang merusak reputasi.
Andi dan Tokcer pergi ke ruang Untung tak jauh dari ruang Alvan. Ruang kantor Untung lumayan besar walau tak sebagus ruang bos. Untung tangan kanan bos tak heran dapat fasilitas lumayan bagus. Ditambah masa bakti Untung capai puluhan tahun. Untuk geser posisi Untung tak semudah geser sendok dari piring nasi.
Untung sudah tertimbun dalam hidup Alvan. Selama Alvan membutuhkan Untung maka Untung tak tergantikan walau ada sepuluh Untung kw dua masuk kantor. Yang kualitas satu tetap jadi tumpuan harapan.
"Papi Azzam keren ya!" bisik Tokcer setelah jauh dari ruang Alvan.
__ADS_1
"Iya dong! Apa kau tak lihat Azzam? Profil Pak Alvan waktu kecil. Eh...lhu jangan kecewain gue ya! Jangan udah dapat kerja lhu maluin gue!"
"Yaelah... gue tahu diri An! Lhu udah bantu gue masa gue lupa daratan. Di mana mau cari gaji lima juta sebulan dalam masa magang?"