ISTERI CEO YANG TERLUPAKAN

ISTERI CEO YANG TERLUPAKAN
Alvan Yang Malang


__ADS_3

Alvan harus meminta pembantu di rumah orang tuanya bersiap sambut kehadiran kedua orang tua itu. Sebenarnya sangat tidak adil bagi Bu Dewi dan pak Jono tinggal berdua menyambut hari tua. Sedang Bu Sobirin dan pak Sobirin hidup bahagia dengan anak cucu bahkan segudang cicit.


Tapi apa mau dikata Bu Dewi telanjur ukir image buruk di mata mantu dan cucu. Mereka pasti tak mau tinggal serumah dengan orang berhati sempit macam Bu Dewi.


Alvan bagai disuruh makan buah simalakama. Makan mati nggak makan juga mati. Dia juga harus tetap beri perhatian pada kedua orang tua walau telah terjadi kisah tak manis.


Alvan segera meneleponi art rumah Bu Dewi agar bersiap sambut kehadiran tuan rumah yang bakal pulang dari luar negeri. Berapa lama Alvan tak pernah injak rumah orang tuanya. Rumah itu sepenuhnya dikuasai oleh sepasang suami isteri yang telah bekerja puluhan tahun. Alvan percaya mereka merawat rumah dengan baik.


Alvan perintahkan Untung pergi melihat keadaan rumah orang tuanya. Pesan melalui mulut tanpa kehadiran orang belum tentu terlaksana sempurna. Paling tepat adalah saksikan dengan mata kepala sendiri.


Alvan segera hubungi Amang untuk kasih kabar kakaknya akan segera pulang tanah air. Gimanapun Bu Dewi adalah saudara dari keluarga di Kalimantan. Baik buruk Bu Dewi harus dilaporkan pada adiknya di seberang lautan.


Benda tipis ajaib yang membuat dunia tanpa jarak segera diaktifkan untuk beri kabar pada Amang.


"Halo.. assalamualaikum mang."


"Waalaikumsalam Van.. gimana? Apa kabar?"


"Alhamdulillah sehat... Anak-anak sehat begitu juga Citra. Amang di sana tentu sehat semua kan?"


"Sehat...kapan kau main sini? Amang sudah rindu padamu! Bawa juga anak-anak kamu biar tahu di sini ada keluarga mereka."


"Insyaallah...Tunggu Citra lahiran dulu! Aku agak kuatir lihat Citra makin susah bergerak! Perutnya seperti mau meledak saja."


"Huusss...tak baik omong gitu! Kamu juga yang salah cetak begitu banyak. Yang wajar saja."


Alvan tertawa kecil tak sangkal keampuhan bibitnya. Sekali tanam tumbuh subur. Mungkin lahannya kelewat subur makin setiap benih terbentuk baik.


"Memang aku yang atur! Tuhan sudah gariskan anakku banyak mau gimana lagi. Doakan yang terbaik saja mang!"


"Tentu...Amang betul penasaran dengan anak-anak kamu. Mereka mirip siapa?"


"Hampir mirip aku kecuali yang bungsu agak mirip keluarga Perkasa. Yang kecil mirip boneka. Semua gemas lihat dia!"


"Pasti cantik dan ganteng."


"Pasti dong! Anak siapa dulu? Oya..hampir lupa! Mama dan papa akan pulang dalam waktu dekat ini. Mereka pulang untuk hindari musim dingin yang menggila. Papa dan mama tak tahan dingin."


"Oh gitu! Amang akan usaha datang jenguk mama kamu. Kalau belum sembuh kita bisa coba pengobatan tradisional orang Banjar. Mana tahu cocok dengan mama kamu."


"Kita lihat nanti saja! Biar mereka pulang dulu. Salam untuk keluarga di Banjar."


"Baiklah! Kalau mamamu sudah tiba kabari Amang ya!"


"Siap mang! Alvan bersiap mau makan dengan klien. Doakan kami semua ya!"


"Pasti...satu lagi Van! Apa kau sudah pikir tentang Kayla? Kalau kau keberatan bebaskan Kayla, ibunya saja boleh. Keluar masuk rumah sakit sampai pihak kepolisian kewalahan. Dia itu sudah sangat lemah."


Hati Alvan sedih juga dengar kabar ini. Cuma Alvan tak bisa ambil keputusan sendiri karena ini menyangkut Citra. Citra masih ada keluarga yang punya hak ikut bicara. Alvan akan bicara dengan pak Sobirin dan Heru soal ini. Alvan tak mau keluarga Perkasa mengira Alvan sok pandai ambil keputusan sendiri.


"Maaf mang! Aku harus bicara dengan orang tua Citra. Mereka bukan juga bukan keluarga sembarangan. Kuku mereka cukup runcing untuk tambah hukuman dua kali lipat. Lebih baik aku tanya mereka dulu. Tapi percayalah mereka orang baik!"

__ADS_1


"Amang percaya padamu! Amang akan sabar tunggu setiap kabarmu."


"Ya mang. Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam..."


Alvan tak sempat memikirkan hal lain karena ada pertemuan dengan klien. Berhubung Untung sedang jalankan misi lain, Alvan ajak Andi gantiin Untung menjamu klien. Makan siang sambil meraup untung di bisnis. Sepiring nasi ditukar dengan segembok uang. Begini cara berbisnis masa kini.


Mengisi perut sambil berbisnis jadi trend kekinian. Sudah tak heran lagi terjadi saat ini. Bahkan ada bumbu paha mulus sebagai hidangan terakhir bagi mereka yang doyan daging lunak.


Andi baru pertama kali gantiin Untung merasa tersanjung. Bermimpi berdiri setara dengan calon Abang ipar makin berkibar di hati Andi. Siapa tahu Untung berbaik hati mengalah pada adik ipar jadi tangan kanan Alvan. Bermimpi sah saja apalagi terwujud di alam nyata. Berkah.


Perut kenyang bisnis lancar. Itulah oleh-oleh hari itu. Andi memulai debut sebagai tangan kanan berjalan sukses. Andi lebih gesit dari si gendut Untung. Dari segi manapun Andi lebih maju cuma sayang Andi kalah di gelar sarjana. Untung punya embel di belakang nama sementara Andi nihil.


Alvan semakin yakin Andi akan menjadi pembantu handal di masa akan datang. Cuma rekam jejak pendidikan harus di update. Alvan akan cari waktu agar Andi bisa lanjut belajar ekonomi maupun akutansi untuk menunjang kemajuan teknologi kekinian.


Keduanya kembali ke kantor dengan puas. Kepala Alvan sedikit lapang karena bisnis berjalan lancar. Citra dan anak-anak juga baik. Kepala Alvan hanya dipusingkan dengan kepulangan orang tuanya. Apa yang akan terjadi bila Bu Dewi pulang. Apa akan terus cari masalah dengan Citra atau menyerah pada keadaan.


Untung datang tak lama Alvan dan Andi pulang. Ada seberkas kilatan marah di wajah laki berbadan subur itu. Alvan tak tahu apa penyebab Untung kurang senang. Dilangkahi Andi atau ada kabar tak sedap dari rumah mamanya.


Alvan menanti laporan Untung tanpa mendesak laki itu harus segera buka mulut. Mesti ada toleransi dari bos walau Alvan berhak menuntut Untung segera bercerita.


"Pak...ada kendala besar di rumah pak Jono!"


"Kendala apa? Bukankah semua baik saja? Kau selalu ngasih uang bulanan pada penjaga rumah kan?"


"Itu benar. Rumah itu ditempati keluarga dari penjaga rumah. Mereka merasa berhak atas rumah itu karena orang tua pak Alvan tak pernah pulang. Sepertinya keponakan pak Kurdi seorang preman. Dia gertak aku akan bunuh aku bila berani datang lagi."


"Pak Kurdi sendiri takut pada keponakannya. Laki itu bawa anak isteri tinggal di sana. Uang bulanan dari kita dia kuasai. Dia hidup makan tidur dengan uang belanja dari kita."


"Gila ..lapor dulu sama RT lalu lapor polisi! Ada orang stress jilid dua. Selesaikan hari ini juga. Selidiki bagaimana orang itu bisa tinggal di rumah orang tuaku! Apa ijin pak Kurdi atau ijin siapa."


"Siap pak! Orangnya persis preman kampung. Jorok dan bau. Rumah jadi kotor tak terawat. Sana sini penuh botol minuman keras."


"Pusing aku! Urus secepatnya dan bersihkan sebelum orang tuaku datang."


"Siap pak!" Untung balik badan suburnya melaksanakan perintah Alvan.


Alvan mendesah. Baru saja hatinya lega muncul lagi pengacau baru. Itu bukan masalah besar tapi cukup mengganggu. Satu jam saja bisa usir orang songong itu. Mana ada orang mau kuasai harta bukan milik dia. Pikir tak ada hukum lagi di negara kita?


Alvan sakit kepala pikir hal ini. Alvan pilih pulang berkumpul dengan anak isteri yang akan segera melahirkan. Tempat terindah adalah di sisi orang tepat. Tempat Alvan adalah di sisi Citra yang telah terangi seluruh dunia Alvan.


Alvan turun ke lantai bawah menuju ke parkiran di mana mobil mewah Alvan terparkir di sana. Alvan berusaha bayangkan wajah Citra dan anak-anak untuk halau semua kegundahan. Gimanapun Bu Dewi adalah orang telah hadirkan dia di dunia ini. Terlepas dari semua kesalahannya Bu Dewi tetap ibu Alvan.


Rumah saja seakan tak terima kehadiran Bu Dewi dan Pak Jono. Mau pulang ke tanah air telah ada orang gila kuasai rumah mereka. Bukankah ini pertanda tidak bagus. Alvan tak tahu berapa besar kesalahan Bu Dewi sampai Tuhan belum bebaskan beliau dari cobaan.


Sepanjang jalan Alvan memikirkan nasib papa dan mamanya. Ntah bagaimana pula reaksi Azzam tahu Oma kandungnya akan segera pulang ke tanah air. Alvan tidak takut penolakan dari Citra dan Afifa. Kedua wanitanya berhati emas. Si lajang ini yang susah diatur. Segala yang menyangkut Citra dan adiknya akan menjadi titik fokus anak itu. Alvan yakin Azzam belum terima Bu Dewi walau Omanya sakit.


Tak terasa Alvan tiba juga di rumah. Satpam yang melihat kehadiran mobil Alvan segera buka pintu gerbang untuk menyambut kehadiran tuan rumah.


Pintu gerbang otomatis terbuka sehingga mobil Alvan melaju dengan mulus sampai ke parkiran. Satpam segera tutup kembali pintu gebang sesuai amanah tuan rumah harus makin waspada pada penyusup.

__ADS_1


Satu keluarga kuatir pada kondisi Citra yang tinggal menunggu waktu untuk diangkat bayinya. Melahirkan secara normal sangat jauh dari kemungkinan. Sangat beresiko pada keselamatan para bayi dalam rahim Citra.


Alvan masuk ke dalam rumah langsung menuju ke ruang keluarga. Di situ jadi tempat favourite Citra sejak tak bisa bergerak bebas. Segala keperluan telah ada yang layani. Wanita ini hanya bisa duduk diam menghitung waktu bayi mereka lahir.


Tepat dugaan Alvan, isteri tercinta duduk santai nonton tv sambil ngemil keripik singkong. Satu gelas jus jeruk temani wanita ini di kala santai.


"Assalamualaikum..." sapa Alvan langsung beri hadiah kecupan di ubun kepala sang isteri.


"Waalaikumsalam..." sahut Citra bermaksud bangkit menyambut sang suami. Citra benaran mirip gajah kecil kesengat tawon. Bengkak bagia depan.


"Duduk saja. Mau ke mana?" Alvan meletakkan tas kerja di atas meja lalu duduk di samping wanitanya. Tangan Alvan kembali mengelus perut Citra untuk rasakan gerakan nakal dari dalam.


"Mas...aku ini seperti kuda Nil atau gajah?" Citra merentang tangan minta Alvan perhatikan bentuk tubuhnya yang tak karuan.


"Kau bukan mereka tapi kau adalah Citra isteri Alvan. Aku pernah tersesat melupakan kamu. Kini kau adalah kompas hidupku. Tanpa kamu aku akan tersesat lagi." gombal Alvan untuk menyenangkan Citra.


Citra tertawa kecil mendengar gombalan Alvan. Kalimat sederhana namun cukup manis di kuping ibu hamil ini. Citra tetap bahagia mendapat kembali cinta yang pernah hilang.


"Aku mau jadi kompas mas selamanya. Aku kompas sedang anak-anak adalah kenderaan buat mas mencapai tujuan hidup."


Alvan acung jempol setuju pada kata Citra. Anak-anak memang salah satu alasan bagi Alvan bergerak lebih maju capai titik harapan.


"Kalian adalah matahari aku! Aku sayang pada kalian termasuk kurcaci dalam perut kamu. Dengar sayang papi! Papi sayang pada kalian. Jangan nakal bikin susah mami ya!" Alvan dekatkan kepala ke perut Citra untuk bicara dengan para kurcaci yang akan segera hadir di dunia ini.


"Iya..." Citra meniru suara anak kecil jawab nasehat dari papi.


Alvan ketawa lucu. Tepat dugaan Alvan berada di sisi Citra adalah tempat paling nyaman di kolong dunia ini. Tempat tiada dua di bumi ini.


Alvan sedang nikmati moments bersama Citra ponsel berdering. Semula Alvan malas mengangkat karena ingin habiskan waktu bersama Citra tanpa ada gangguan pihak ketiga.


Justru Citra mencolek Alvan agar mengangkat panggilan masuk. Siapa tahu ada hal penting. Alvan melirik layar ponsel tertera nama Untung.


Sudah pasti persoalan rumah orang tua Alvan. Alvan juga mau tahu sampai di mana kasus orang serobot rumah orang tuanya.


"Ya?"


"Maaf ganggu pak! Semua sudah beres. Orangnya sudah kusuruh pulang ke kampungnya di Lampung. Kukasih ongkos untuk pulang. Ternyata bukan cuma isteri dan anaknya di situ tapi juga ada beberapa pemabuk numpang hidup di rumah pak Jono. Mungkin butuh waktu untuk perbaiki semua perabotan. Kasur ibu dan bapak harus kita ganti. Sudah jorok dan bau minuman keras."


"Kau tangani secepatnya sebelum mereka balik. Cari orang perbaiki semuanya. Apa kau sudah tanya pak Kurdi mengapa keponakan bisa numpang hidup di situ?"


"Menurut cerita pak Kurdi keponakan datang mau merantau cari kerja. Pak Kurdi ini kan dia numpang satu malam. Nggak tahunya dia balik lagi bawa isteri dan anak serta para pemabuk. Mereka ancam akan bakar rumah kalau pak Kurdi tak ijinkan mereka tinggal situ. Orang tua itu ya ketakutan karena rumah itu amanah orang tua bapak. Begitu ceritanya."


"Ya sudah...kau urus secepatnya! Ganti saja semua yang rusak dan kotor! Cat kembali rumah agar bersih. Pesan pak Kurdi agar hati-hati sama keponakan. Jangan ijinkan dia masuk walau apapun terjadi. Cari satpam yang dulu!"


"Iya pak!"


Alvan memutuskan sambungan ponsel. Benda pilih itu kembali masuk ke saku celana Alvan. Citra yang nyimak dari tadi belum menangkap point obrolan Untung dan Alvan. Penjahat mana lagi usik ketenteraman mereka. Mengapa orang jahat tak mau jauh dari mereka.


"Siapa lagi mas?"


"Cuma masalah sepele. Oya mas mau kasih tahu kamu kalah papa dan mama akan pulang ke tanah air. Nadine sedang urus tiket mereka pulang."

__ADS_1


"Baguslah! Mereka bisa saksikan kelahiran cucu mereka."


__ADS_2