ISTERI CEO YANG TERLUPAKAN

ISTERI CEO YANG TERLUPAKAN
Pertemuan


__ADS_3

Heru belum pernah mendengar kisah utuh tentang Citra dan Alvan. Apa yang terjadi antara keponakannya dengan Alvan. Heru teringat Alvan punya seorang isteri selebgram terkenal. Wanita itu tenggelam gitu saja tanpa ada yang tahu ke mana dia pergi. Tragedi apa melanda rumah tangga Citra?


Heru tidak rela Citra dipermainkan Alvan. Heru juga mencintai Citra dalam tanda kutip namun dia sadar cintanya telah layu sebelum berkembang. Dia harus lapang dada terima kenyataan bahwa Citra adalah keponakan. Masih satu darah dengannya.


"Ada apa dengan Alvan?" tanya Heru hilang kegembiraan. Hati ikut sedih dengar masa lalu Citra tidak semanis di alam nyata.


"Cerita mereka panjang. Lebih baik kau langsung tanya Alvan dan minta dia tanggung jawab pada keluarga. Aku tak punya kapasitas membuka masa lalu Alvan. Kau sebagai Om Citra berhak tahu semuanya." Daniel menepuk pundak Heru tak ingin buka noda hitam Alvan. Daniel memang mencintai Citra tapi bukan berarti dia harus jatuhkan Alvan.


"Terima kasih bro! Oya.. terimalah ini untuk jerih payah kamu malam ini!" Heru mengeluarkan selembar kertas kecil berlogo salah satu bank.


Daniel tidak malu menerima bayaran dari Heru. Dia telah keluarkan sedikit biaya wajar dapat imbalan. Daniel kan harus gaji para pegawai pula.


Nominal di kertas buat Daniel tersenyum. Bayaran Heru sudah melebihi angka seharusnya.


"Bro...waktu nulis angka tangan lhu gemetaran ya?" Daniel goyangkan kertas di depan hidung Heru.


"Jangan geledek Bray! Aku pernah nikah. Masa sama anak gadis aku ketakutan."


"Ini buktinya nol kelebihan."


Heru tertawa oleh ejekan Daniel. Heru sengaja beri uang lebih untuk kemurahan hati Daniel membantu wujudkan acara romantis. Tidak ada kejutan namun cukup berkesan. Seharusnya acara dibuat romantis kalau bukan terkendala komunikasi. Tak ada kata-kata gombalan dari Heru selain komunikasi lewat mata. Mereka bercinta dalam kebisuan.


"Simpan saja! Anggap bonus di hari bahagia aku! Aku doakan semoga kau cepat mendapat pengganti Citra. Tak baik memendam kekecewaan terlalu lama. Ntar jadi penyakit kronis."


"Kuterima doamu! Kapan rencana halal kan gadismu!"


"Itu yang belum ada daftar pembicaraan. Dia masih harus ikut kejuaraan senam akhir tahun ini. Dia belum bisa pindah warganegara sampai tahun depan. Biarlah dia selesaikan tugas terakhir ini karena setelah ini dia pensiun. Umurnya sudah mentok."


"Iyalah! Semoga dia dapat memberi kontribusi besar pada negara menjelang waktu pensiun."


"Amin..."


Kedua lelaki dewasa ini menatap jauh ke depan melihat keceriaan tamu-tamu Daniel. Di sudut sana tampak sepasang suami isteri sedang suap-menyuap dengan mesra. Heru dan Daniel menarik nafas gundah. Terlahir sebagai manusia normal keduanya dikaruniai rasa iri dan cemburu. Kalau boleh jujur keduanya iri pada Alvan. Mengapa lelaki itu mendapat yang terbaik di antara yang baik.


Keduanya sama-sama tersenyum pahit. Bunyi hati tak jauh beda. Cemburu dan iri pada Alvan.


"Well...kita gabung yok!" ajak Heru tak enak tinggalkan pacar yang baru dia resmikan.


Daniel angkat pantat dari bangku bambu yang jadi penghias cafe Daniel. Daniel singkirkan semua yang berbau moderen agar cafenya tampak unik. Orang yang datang pasti tidak akan lupakan keindahan cafenya. Tempat romantis bagi pasangan muda.


Malam ini semua ceria kecuali hati Daniel yang merasa makin jauh dari Citra. Sulit move on dari Citra. Sedikit apapun Daniel harus giat singkirkan rasa dalam hati. Dia tak boleh merusak mesjid Alvan. Citra sudah bahagia bersama Alvan. Itu sudah merupakan berita terindah dalam hidup Daniel.


Menjelang jam sebelas acara bubar. Afifa dan Azzam sudah tak dapat tahan rasa ngantuk. Kedua anak mami itu mana pernah tidur malam. Mereka terlatih tidur tepat waktu.


Afifa bahkan tertidur dalam gendongan sang papi. Tokcer dan Andi langsung pulang ke rumah sedangkan tamu dari negara tirai bambu jadi tanggung jawab Heru. Sedangkan Alvan mengawal keluarga kecilnya pulang ke rumah.

__ADS_1


Tinggal Daniel dan anggotanya bereskan sisa pesta Heru. Sederhana namun berkesan. Semua kumpul dengan hati dibalut kebahagiaan. Tak ada kata duka dalam dada.


Pagi subuh Citra bangun lebih awal untuk sediakan sarapan. Kali ini Citra ingin membuat sarapan lezat bagi Azzam dan Afifa. Roti tawar dibakar lalu dibalut dengan telor dadar. Pagi ini Citra tidak sediakan susu full cream melainkan susu kedelai kesukaan kedua anak itu. Citra sajikan hangat agar perut keduanya nyaman.


Adzan berkumandang memanggil umat berlomba bangun untuk tunaikan sholat perdana di pagi ini. Citra tak mau kalah membangunkan suami dan anak-anak. Biasa kedua anaknya bisa bangun sendiri tapi pagi ini tak bisa bangun karena telat tidur. Itu bukan alasan untuk bermalasan tinggalkan sholat.


Jadi juga keluarga Alvan sholat setelah seluruh anggota lengkap. Gibran juga ikut sholat berkat kegigihan Afifa bangunkan om lucunya. Gibran paling tak bisa menolak apapun dikatakan keponakan mungilnya. Gibran menyayangi Afifa dari lubuk hati sebagai saudara tapi ntah mengapa perasaan itu tidak muncul bila bersama Afisa.


Citra membantu Azzam menyiapkan tas berisi ponsel dan air minum untuk bekal bepergian dengan konconya. Waktu yang sudah dinanti Azzam cukup lama. Citra mana mungkin mengecewakan Azzam. Citra harus bijaksana membaca isi hati sang anak. Bukan hanya memaksa kehendak orang tua, sekali-kali keinginan anak harus diperhatikan.


"Koko harus patuh pada kak Andi. Tidak boleh lari sembarangan ya nak! Jangan menyusahkan kak Andi dan Kak Tokcer." nasehat Citra sebelum Tokcer dan Andi datang menjemput.


Azzam memeluk tangan menatap maminya lekat-lekat. Dari sinar mata Azzam Citra mengetahui anaknya ingin mengatakan sesuatu. Ganjalan apa lagi tertanam di hati lajang kecil itu.


"Koko mau omong apa?"


Azzam bangkit dari kursi mendekati maminya lalu memeluk Citra erat-erat. Citra merasa Azzam menyimpan beban di dalam dada namun segan untuk mengungkapkan beban itu. Azzam anak bijak pasti tidak akan mengecewakan Citra. Anak itu selalu hati-hati bertindak.


Citra mengelus punggung anaknya memberi rasa aman. Kegalauan di dada akan sirna bila mendapat tempat mengadu.


"Apakah mami akan sakit hati bila Koko pergi jumpa dia?"


Citra tertegun tak paham maksud Azzam tentang dia. Siapa yang dimaksud anak ini?


"Siapa dia?"


Citra kembali tertegun. Ternyata Azzam lebih menjaga perasaan maminya daripada patuh pada Alvan. Azzam tak ingin menyakiti hati wanita yang paling dia sayangi seumur hidup ini.


"Ko...dia sudah sekarat. Kita dendam padanya juga tak ada guna. Sekarang dia mau tobat, kita harus mendukungnya. Dia sudah minta maaf pada mami dan mengembalikan papi pada kita. Dia ingin jumpa kalian agar jalannya ke depan makin lapang. Kalau orang sudah mengaku salah kita tak boleh menekannya lagi."


"Tapi Koko tidak suka padanya." lirih Azzam pelan sekali.


"Mami tidak memaksa Koko pergi melihatnya pergi. Semua perlu keikhlasan Koko! Tapi mami mau katakan berbuat dosa itu memang sifat manusia, memaafkan adalah hal terpuji. Dia menderita penyakit kronis. Mungkin juga ini terakhir kita jumpa dia. Kita tak tahu kapan ajal datang menjemput. Kalau Koko tak mau jumpa tak apa. Maafkan dia dalam hati saja!" Citra tak mau Azzam tertekan gara-gara Karin. Besok dia akan ujian, butuh pikiran tenang.


Azzam tak menjawab. Citra hanya mendengar ******* nafas berat anak itu. Perang batin sedang berkecamuk dalam diri anak ini. Antara pergi jumpa Karin atau menyimpan rasa sesal bila Karin benar pendek umur. Mereka belum saling memaafkan.


"Koko pergi! Dari situ kami langsung pergi main."


Citra menjauhkan badan Azzam dari tubuhnya agar bisa melihat tampang anaknya yang telah tumbuh dewasa. Punya rasa empati luar biasa.


"Terima kasih ko! Kamu memang anak mami. Nanti kasih bunga buat dia ya! Panggil dia bunda. Karena penyakitnya dia tak boleh punya anak seumur hidup. Kalianlah anaknya."


Azzam mengangguk setuju. Menyenangkan orang yang cahaya hidupnya mulai redup merupakan pahala tak terhitung berapa besarnya. Azzam bukan ingin mendapat pahala itu namun untuk meredakan amarah diri sendiri. Azzam harus menang melawan Angkara murka agar di hati tak tersimpan rasa dendam.


Tak lama berselang Tokcer dan Andi datang. Kali ini sudah ada Bonar. Bonar tampak segar dan lebih putih. Badannya telah berisi tidak seperti orang kurang makan. Semua pangling lihat Bonar.

__ADS_1


Tamu dari Tiongkok menjadi tanggung jawab Heru. Hari Minggu Heru pasti punya banyak waktu temani pada gadis jalan-jalan. Heru akan bawa mereka mencari hiburan sebelum bertolak balik ke Tiongkok.


Alvan sekeluarga dan kelompok Andi berangkat bersama ke tempat Karin. Alvan menyimpan harapan besar Azzam dan Karin bisa ngobrol dengan baik. Sebelum ke tempat Karin, Citra meminta Alvan cari toko bunga untuk hadiahkan pada Karin. Tidak ada yang bisa mereka berikan selain bunga lambang kasih sayang. Untuk sementara Karin tak butuh kemewahan lagi. Masih diberi kesempatan hirup udara bebas sudah harus bersyukur.


Citra dipenuhi rasa kuatir Azzam jumpa Karin. Citra takut Azzam keceplosan mengeluarkan kalimat menyakiti perasaan Karin. Citra bukannya tak kenal ketajaman mulut anaknya. Persis ujung mata trisula. Tajam berkepala tiga.


Dua mobil berhenti di depan pintu pagar kokoh di cat warna emas. Jantung Citra berdegup makin kencang lihat rumah segede istana itu. Betapa sayangnya Alvan pada Karin sampai buat rumah semewah ini untuk Karin. Citra tidak pernah datang ke rumah ini karena Alvan tidak pernah ungkit tentang rumah Karin.


Sungguh kontras dengan hidupnya yang dipenuhi derai air mata. Setiap sen harus dia kais untuk hidupi ketiga anak.


Lama Citra menatap rumah Karin lalu tertawa hambar. Dikasih rumah mewah berlagak orang kaya tapi sayang miskin iman. Dulu Karin tertawa sinis padanya hanya jadi kacung Alvan. Kini berbalik arah. Karin terdepak dari lingkaran Alvan. Roda itu berputar, tidak selamanya di atas dan juga tidak selamanya di bawah.


Azzam paling paham kesedihan Citra melihat perbedaan yang signifikan antara dua isteri Alvan. Satu hidup ala kadar dan satu ala ratu sejagat.


"Mami...kalau mami tak sanggup kita pergi." Azzam meraih tangan Citra.


Citra berusaha menetralkan perasaan agar Azzam tidak ikutan boikot Karin. Ini moments penting bagi Karin supaya lapang hati tinggalkan rumah. Karin pergi diiringi doa dan restu. Wanita itu pasti lega dapat pengampunan Citra dan anak-anak. Kalaupun pendek umurnya tak ada lagi tinggalkan beban.


Alvan bukan tak tahu keraguan Citra masuk rumah Karin. Karin ini momok terbesar dalam hidup Citra. Hebatnya Citra berbesar hati memaafkan Karin. Alvan ikut bertanggung jawab penderitaan Citra.


"Ayok kita masuk! Mungkin Karin sudah tunggu kita!" ajak Alvan memecahkan keraguan Citra. Berapa jam lagi mereka harus berdiri di luar biang waktu. Jemputan untuk Karin bisa saja datang setiap saat.


Alvan duluan melangkah mengetok pintu. Padahal dia punya kunci rumah ini. Alvan ingin tunjukkan pada keluarga barunya bahwa dia memang telah bentang jarak dengan Karin.


Ketokan pintu dijawab. Pintu terbuka muncul seorang wanita kurus kering berwajah agak pucat. Mata agak cekung itu memutar mata menatap tamu satu persatu. Lantas wanita itu tersenyum melihat dua bocah cantik. Karin menduga itulah anak Alvan. Seratus persen mirip Alvan terutama Azzam.


"Ayok masuk!" Karin memindahkan tubuh ke samping beri jalan buat tamunya.


Hanya keluarga Alvan masuk ke dalam. Gibran dan ketiga jagoan neon memilih bertahan di teras. Mereka masuk hanya menambah suasana canggung. Ini kan pertemuan keluarga Alvan. Mereka tak berhak ikut campur.


Afifa duluan menyodorkan seikat bunga mawar pink sambil tersenyum manis. Karin menerima bunga Afifa gemas pada gadis kecil itu.


"Siapa namamu sayang?" Karin merendahkan tubuh agar sejajar dengan Afifa.


"Afifa bunda...bunda tampak kurang sehat ya? Ayok duduk biar tidak capek!" Afifa menarik Karin agar duduk di sofa. Citra dan Alvan sudah duluan duduk.


Azzam masih mematung segan akrab seperti Afifa. Apa yang dikatakan Citra adalah fakta. Wanita di depannya memang jelas kurang sehat. Tak ada cahaya terang terpancar dari tubuh wanita itu. Pamor Karin telah tenggelam sisakan kesuraman.


"Ko..." panggil Citra menyadarkan Azzam untuk serahkan bunga juga.


"Iya mi.." Azzam bergerak hampiri Karin dengan gagah. Sikap seorang kesatria berhasil melawan rasa benci. "Aku Azzam... anak sulung papi"


Karin menerima bunga Azzam dengan mata berembun. Ada cairan bening bergantung di mata itu. Karin berusaha keras agar tidak menjatuhkan air mata agar tak dibilang cari muka.


"Anak baik...maafkan bunda ya telah merampas hari indah kalian. Sekarang bunda serahkan kembali papi kalian! Kalian harus hidup damai hingga akhir hayat. Bunda akan berangkat ke Jawa untuk lebih mendekatkan diri pada Yang Maha Esa. Doain bunda berhasil ya.!" kata Karin terbata-bata pada Azzam.

__ADS_1


Kharisma Azzam sangat kuat. Sekali lihat Karin tahu anak itu bukan anak kecil yang hanya tahu mainan. Sikap cool Azzam menghanyutkan bikin Karin makin ingin mendapat kata maaf dari bocah itu.


"Bunda...kata sesal itu memang selalu datang terlambat. Tapi bukan berarti kita harus terpaku tetap terlambat sesali yang telah berlalu. Bunda harus kejar mencari ketinggalan. Tetaplah melangkah di jalan terang agar tak tersesat lagi."


__ADS_2