
Citra menemukan keseriusan Alvan dalam mengungkap isi hatinya. Alvan menginginkan anak dari rahim Citra lagi. Semoga kelak anak yang terlahir sepintar Azzam tetapi ikuti sifat Afifa yang lemah lembut. Model Azam sangat mengerikan.
"Insyaallah...kalau Allah berkenan kita akan memiliki anak lagi." Citra tak berani langsung beri janji pasti. Berhasil atau tidak operasi Alvan masih tergantung kuasa yang di atas. Citra akan. berusaha semampunya.
"Aku tunggu hari itu. Mas langsung ke kantor ya! Banyak sekali yang harus mas tangani langsung. Selvia dan Hakim sudah terlalu jauh melangkah. Mas harus benahi." ujar Alvan tatkala mobil masuk ke halaman rumah sakit. Kegiatan di rumah sakit belum begitu ramai. Pasien yang datang berobat belum datang.
"Iya mas... hati-hati ya!" Citra menciumi pipi Alvan lantas menyalami laki itu dengan takzim. Sikap isteri Solehah.
Alvan tersenyum puas. Seharusnya dari dulu dia jalani hidup damai ini. Punya istri soleha dan anak-anak tapi takdir berkata dia harus lalui hari-hari penuh rintangan dulu baru capai keluarga sakinah.
Bayangan Citra hilang di telan pintu besar rumah sakit. Alvan menarik nafas lega setelah yakin orang yang dia cintai telah aman berada di tempat dia mengabdi. Laki ini melajukan mobil berbaur dengan ratusan mobil yang mulai merayap menembus kemacetan. Beginilah kalau terlambat keluar dari rumah. Kemacetan akan mencekik leher.
Alvan tidak ikutan gila bunyikan klakson memaksa mobil depan maju. Suara klakson mobil bunyi bersahutan bak orkestra kolosal klakson. Ada yang nyaring dan ada berirama musik. Pagi yang ramai.
Alvan mengeluarkan ponsel lalu pasang headset agar tidak terganggu oleh orkestra klakson. Alvan memilih hubungi Daniel tanya kabar seniman gagal itu. Bagaimana perkembangan hubungan dengan Natasha.
Lama sambungan telepon tidak diangkat. Pemilik ponsel seberang sana mungkin belum bangun. Cafe di buka agak siang tak haruskan Daniel bangun pagi. Betapa nyaman hidup seniman gagal itu.
Panggilan ketiga baru ada sambutan dari sana.
"Halo...apa siang nanti mau kiamat?"
"Ini sudah siang. Bangun bro..."
"Gue barusan tidur."
"Kerja bakti cangkul sawah Natasha?"
"Woi...gue masih ada dikit moral! Belum ijab kabul ya belum kuresmikan pabrik produk boneka gue! Gue bukan elu main celup."
"Ngomong pakai saringan lhu! Kapan gue suka main celup?"
"Lha itu si Karin? Barang rongsokan lhu pakai dengan bangga! Padahal barang expired. Dikasih gratis gue mah emoh!"
"Woi... pagi-pagi mencela orang! Jauh jodoh lhu!"
"Hei...mulut ember! Sembarangan... jodoh gue sudah ada di kantong! Jangan lhu bolongi kantong gue hingga jodoh gue tercecer! Sumpah.. lhu doain gue! Gue janji rebut Citra dari elu! Jika perlu gue pakai dukun pelet."
"Pelet gue jatuh cinta sama lhu ya?" olok Alvan senang Daniel mulai tunjukkan rasa pada Natasha.
"Najis...emang lhu pikir gue ini doyan terong sontoloyo punya lhu? Jeruk kok makan jeruk?"
Kali ini Alvan meniru suara tawa ngakak Daniel. Kebosanan terjebak macet tersingkir sejenak. Anggap saja Daniel pelipur lara.
"Tawa itu punya gue. Hak paten ada di tangan gue. Lhu imitasi."
Tawa Alvan makin derai. Suara bantal Daniel ditambah teriakan sewot menambah keceriaan di hati Alvan.
"Kapan lhu akan daftarkan ke KPK?"
"Edan...kok ke KPK? Emang gue koruptor? Semalam lhu makan apa sih? Tak dikasih jatah sama Citra?"
"Jatah? Lima ronde...full set."
"Sombong amat! Satu set nggak tuntas. Bilangin Citra kalau cari laki perkasa datang ke gue!"
"Perkasa? Tanyain Citra gimana rasanya berada di bawah Alvan? Terbang ke langit."
"Dasar songong... lu pikir gua nggak berani bertanya pada Citra?"
"Tanya aja... biar disemprot pakai pestisida! Lhu kan hama wereng yang harus dibasmi!"
__ADS_1
"Bro.. pagi-pagi telepon ngajak berantem ya? Orang ganteng se Asia lhu katakan hama. Minta Citra operasi mata lhu! Kali aja tertular virus HIV Karin"
"Citra akan operasi gue biar tambah anggota keluarga. Tiga masih dikit. Maunya selusin biar rame."
"What? Lhu mau anak lagi? Nggak trauma punya anak model Azzam? Mulut kayak laser cutting siap sikat kita. Gue betulan ngeri pada Azzam."
"Baru ini adiknya Afisa ada pulang dua hari. Yang satu ini lebih sadis. Gue dan mama gue disikat sampai jadi debu. Untung ada Azzam jadi penengah, Afisa mulai jinak."
"Wah...ntah dari gen mana? Dari Perkasa atau dari Lingga. Oya...gimana Tante Dewi?" Daniel berubah serius begitu sebut nama Bu Dewi. Sekonyol apa Daniel tetap ada tata Krama hormati orang tua.
"Sudah sadar tapi cacat. Citra sedang usaha bawa mama dan papa ke Tiongkok. Kata Citra di sana ada profesor handal. Pak Sobirin dan isterinya akan antar kedua orang tuaku." cerita Alvan di tengah kemacetan yang belum terurai.
"Lhu ngapain bro? Masa orang lain yang antar kedua orang tuamu? Harusnya lhu yang antar mereka ke sana!"
"Lhu kondisi perusahaan sedang kurang bagus. kalau aku tinggalkan mungkin akan makin berantakan. Hakim dan Selvia telah berbuat terlalu jauh mengacaukan seluruh pergerakan perusahaan. Aku harus benahi dari awal. Citra juga tidak dapat berangkat karena kedua anak aku akan menghadapi ujian. Makanya kedua orang tua Heru menawarkan diri untuk mengantar mereka. Aku sangat bersyukur mendapat keluarga yang sangat baik."
"Di tengah prahara ada juga setitik embun sejuk. Gue doain semua berjalan lancar! Oya.. gue harus segera nikahi Natasha karena takut dosa. Anak itu aktif goda iman gue. Lhu mau dampingi gue ijab kabul?"
"Lha...orang tuanya gimana?"
"Nah itu masalahnya bro! Natasha itu Kristen...gue harus Islam kan dia dulu! Gue bingung harus mulai dari mana?"
"Ok...kita cari waktu tepat bicara ini! Aku akan bawa Citra bicara dengan Natasha tanya kesediaan dia masuk Islam. Apa tanggapan orang tuanya? Bukan grasa grusu Islam kan anak orang. Itu salah bro!"
"Lalu?"
"Gini...lhu minta Natasha teleponnya kedua orang tuanya mengatakan apa adanya. Kalau memang orang tuanya menyetujui makanya aku bawa Citra untuk bicara dengan Natasha agar tahu isi hati gadis itu. Kalau memang Natasha ikhlas masuk Islam. Aku akan bawa pak ustad untuk Islamkan gadismu itu. Ok?"
"Gitu ya! Ok...ntar Aku akan minta Natasha telepon ke Amerika untuk minta izin masuk Islam! Selanjutnya kuserahkan kepada lhu bro!"
"Sudah beres itu! apa lhu tak mau pesta? Kolega kamu kan cukup luas. Masak menikah diam-diam. Calon kamu itu tidak malu ditampilkan."
"Baiklah kalau itu mau! Hubungi aku bila sudah ada keputusan keluarga Natasha."
"Trim's bro! semoga semuanya lancar ya bro! Gue udah bosan menjomblo. Butuh penyegaran. Syukur-syukur dapat pula yang fresh."
"Itu rezeki anak soleh! Ya udah. bro! Tutup dulu ya ntar kalau sudah ada kabar segera hubungi aku!"
"Yoi... hati-hati bro! Selusin anak masih menunggu lhu!"
"Beres..."
Alvan mematikan ponsel lalu copot headset agar bisa mendengar orkestra klakson yang makin menjauh. Suara tidak sebising tadi. Hanya ada satu dua masih bunyikan klakson untuk meminta mobil depan maju.
Mobil Alvan ikut merayap sampai ke kantor. Andai Alvan hanya pegawai biasa sudah jamin kena teguran. Bos boleh terlambat tapi anak buah pantang lakukan hal terlarang itu. Bos adalah segalanya. Salah pun tetap benar.
Seperti hari-hari biasa Untung sudah menunggu Alvan di depan pintu kantor. Untung asisten setia tak bosan layani Alvan walau dibarengi suka duka. Menjadi asisten siaga dua puluh empat jam bukanlah hal gampang. Untung harus siap kapan saja dibutuhkan.
"Selamat pagi pak!" sapa Untung sopan.
Alvan angguk kecil langsung menuju ke lift. Beberapa pegawai yang lihat bos ikutan menyapa sebagai basa-basi hormati atasan. Alvan tak mudah digoda macam bos lain suka daun muda. Tak ada yang ingin bernasib seperti Wenda yang sekarang nginap di hotel prodeo.
Untung dan Alvan berjalan beriringan menuju ke lantai atas tempat Alvan bekerja. Alvan sudah tak sabar ingin tahu laporan soal perkembangan masalah Selvia dan rencana tempat tahanan di Kayla.
Untung dampingi Alvan sampai masuk ke dalam ruangan. Laki ini memberi map berisi dokumen kerja dan hasil revisi keuangan perusahaan. Andi telah bekerja semaksimal mungkin membongkar semua kesalahan Selvia. Dari gudang maupun pengeluaran tak ada masalah. Yang jadi masalah adalah uang masuk yang dirubah nominalnya.
"Gimana Selvia?" tanya Alvan setelah duduk di kursi. Alvan berubah jadi cool gaya seorang pemimpin sejati. Cuma bila berhadapan dengan kedua anaknya Alvan mati kutu. Alvan tak berdaya bila diungkit kesalahan masa lalu.
"Selvia positif HIV...kondisinya agak drop karena virusnya menyebar cepat. Sekarang dia di rawat di rumah sakit pihak kepolisian. Soal Kayla memang ada kemungkinan di hukum di tempat dia tapi harus ada permohonan dari sana. Tetap harus ikuti prosedur hukum."
"Yakin Selvia sakit?"
__ADS_1
"Yakin...demam tinggi dan mulutnya mulai terluka. Diare dan sakit tenggorokan. Kata dokter itu gejala HIV. Apa bapak ada rencana lain terhadap perempuan ini?"
"Rencana apa? Tuhan sudah hukum dia sepantasnya. Belum lagi hukuman penjara menantinya. Kita tak perlu kotori tangan kita."
Untung salut pada kebesaran jiwa Alvan. Alvan tak mau mencari kesempatan dalam kesempitan. Andai kata orang lain sudah mendendam segala upaya dilakukan untuk menambah hukuman bagi orang itu. Alvan justru serahkan semua hukuman pada yang lebih berhak.
"Iya pak..."
"Tolong kamu kirim alamat dan no pesantren di Demak pada Karin. Dia mau belajar ilmu agama."
"Siap pak! Ada pesan lain?"
"Apa Andi sudah SIM?"
"Sudah...bahkan mereka sudah buka rekening bank. Bonar pesan tiap bulan gajinya ditransfer ke rekening bank saja."
"Lha...uang jajan sehari-hari gimana?"
"Katanya kadang dapat uang rokok dari mobil yang antar barang. Aku hargai kejujuran dia!"
"Ya terserah dia asal jangan main tilep! Kau pantau juga anak itu."
"Iya pak! Dia katakan sebagian uangnya akan disumbang pada Tokcer untuk biayai umroh emak Tokcer. Aku rasa orang yang punya niat baik gitu sangat tidak mungkin berbuat curang."
"Lebih berjaga. Oya coba kau hubungi orang untuk visa lima orang ke Tiongkok!"
"Untuk siapa bos?"
"Kedua orang tuaku, pak Sobirin dan isterinya dan Nadine."
"Nadine ke Tiongkok?" seru Untung dengan suara kencang.
Alvan menyipitkan mata lihat reaksi Untung jauh dari kata wajar. Anak itu sangat kaget dengar wanita pujaan hatinya akan berangkat jauh.
"Kenapa kalau Nadine berangkat ke Tiongkok? Kau tidak rela kah?"
"Bukan itu Pak... Tiongkok itu sangat jauh. Bagaimana kalau mau jumpa Nadine?" secara tak langsung Untung mengungkap perasaannya pada Nadine.
"Kau suka pada Nadine?"
Untung mengangguk malu-malu tak berani menatap wajah Alvan. Alvan memahami perasaan Untung akan kehilangan Nadine dalam waktu cukup lama. Bisa seminggu bahkan bisa berbulan-bulan. Kapan Bu Dewi akan sembuh hanya Allah yang bisa menentukan.
"Dia pergi kan tidak selamanya. Begitu mamaku sembuh dia akan segera balik ke sini. Setelah dia pulang ke sini kamu pilih waktu bagus melamar. Dia tak baik pacaran terlalu lama. Apakah dia juga suka kepada kamu?"
"Memang Nadine tidak pernah terangkan menyatakan suka kepada aku tetapi dia bersedia ku ajak jalan dan main ke rumahnya."
"Ya sudah...kalau gitu! Kau bawa orang tuamu jumpai keluarga Nadine dan bertunangan dulu. Supaya kamu tidak was-was ditinggal Nadine."
"Gitu ya pak? Aku akan hubungi Nadine tanya soal ini. Aku harus ijin Nadine dulu." ujar Untung bak ketiban durian runtuh. Jalan menuju ke Nadine telah dibangun aspal beton. Bebas hambatan. Alvan sudah restui segala akan jadi gampang.
"Ya...pergilah bertugas! Bagusnya kau bicara dengan Andi juga. Andi itu adik kandung Nadine. Dia berhak ambil keputusan."
"Andi itu gampang diatur. Aku permisi pak!" ujar Untung dengan hati berbunga-bunga. Seluruh bibit yang di semai telah berbunga indah. Tumbuh subur membuahkan bunga-bunga indah. Seindah kembang di hati Untung.
Alvan ikut senang lihat asistennya menemukan jodoh tepat. Alvan lihat Nadine gadis berbudi luhur. Lihat dia menjaga kedua orang tuanya juga menemani Citra dalam suka duka mendapat tempat di hati Alvan. Alvan sudah lihat bagaimana baiknya Nadine. Untung tidak salah melabuhkan hati pada wanita tepat.
Waktu berputar cepat berlari maju tanpa menunggu mereka yang berleha-leha. Pagi telah tua berganti senja menjelang. Senja berlalu akan segera disambut di raja malam. Masih butuh dua jam sebelum langit berubah lembaran kelam.
Alvan bergegas jemput istri tercinta di rumah sakit. Citra pasti sudah lama menunggunya. Citra tak diijinkan naik motor ke rumah sakit sejak kejadian penculikan terjadi. Alvan tak mau kecolongan dua kali.
Biar orang bilang dia bucin atau over protective. Alvan takkan peduli semua ocehan orang. Yang penting dia harus lindungi anak dan istrinya.
__ADS_1