ISTERI CEO YANG TERLUPAKAN

ISTERI CEO YANG TERLUPAKAN
Pesta Penyambutan


__ADS_3

Fitri dan Jasmine agak kaku walau telah diijinkan tuan rumah mulai santap hidangan. Heru dan Gibran. sudah duluan pilih makanan yang sesuai selera mereka. Selama ini makan di luar negeri kurang cocok dengan selera mereka.


Citra menyibukkan diri dengan mengurus ketiga anaknya. Sudah lama Citra tidak melayani ketiga anaknya. Ada sesuatu yang hilang walaupun cuma untuk sesaat. Kini ketiga buah hati berada dalam rengkuhan. Moments paling bahagia buat seorang ibu.


Daniel muncul juga bersama Laura dengan tangan masih diperban. Akhirnya Daniel bersedia rawat gadis itu sampai bisa lepas dari pengawasan dokter. Ini sebagai tanggung jawab moral. Laura memang tak menuntut Daniel mesti menjaganya tapi Daniel berinisiatif sendiri merawat Laura serta beri dukungan agar gadis itu tidak jatuh mental.


Alvan menyambut Daniel dengan tawa lebar. Dalam hati Alvan ingin segera bersujud pada Yang Maha Kuasa berterima kasih telah hadirkan seorang gadis di samping Daniel. Daniel pasti tak sempat memikirkan isteri orang lain lagi.


Laura agak surprise lihat kehidupan Citra yang sesungguhnya. Di sini Citra menunjukkan kelas isteri orang kaya sedang di rumah sakit wanita itu tampil ala kadar seperti dokter lain. Sungguh dokter down on earth. Kalau orang tak kenal Citra mungkin akan pikir wanita ini dari kalangan menengah. Siapa sangka Citra berada di antara dua gunung emas. Kapan saja bisa digali.


Citra menyambut Laura untuk dikenalkan dengan ketiga anaknya. Ketiga anak yang sedang makan bersama konco mereka sedikit terganggu tatkala diminta salaman dengan Laura. Daniel juga takjub lihat Afisa. Tidak seimut Afifa namun menyimpan sesuatu yang sanggup bikin orang takluk padanya.


"Ayo sayang mami... kenalkan ini Tante Laura! Calon om Daniel!" Citra perkenalkan Laura bikin Daniel meringis malu.


"Halo Tante...aku Afifa! Dan ini Koko Azzam dan Cece Afisa. Aku paling cantik di antara kami." Afifa unjuk diri jadi jubir di antara tiga saudara kembar.


Laura merasa gemas pada pipi bakpau Afifa. Berona merah segar seperti anak dari negara punya iklim dingin.


"Wah...Bu dokter sungguh luar biasa! Semuda ini anak sudah gede! Setahun satu ya!"


"Kami kembar tiga Tante." timpal Afisa menepis anggapan Citra itu mesin anak.


"Waduh...kok nggak mirip seperti anak kembar lain. Tapi semua cantik kok! Lebih banyak mirip bokap."


"Mirip siapa nggak masalah Tante. Yang penting kami anak dari orang tua kami." ujar Azzam kalem.


Daniel segera menarik tangan Laura jauhi ketiga anak Alvan. Laura belum terbiasa dengan mulut beracun Azzam pasti akan sakit hati kena semburan hawa bisa.


Alvan tertawa melihat Daniel lindungi Laura dari semburan Azzam. Asal Laura tidak salah omong saja. Azzam pasti akan cukur Laura hingga botak.


Laura kurang senang diseret Daniel secara paksa untuk tinggalkan anak-anak cantik Citra. Laura belum puas ngobrol dengan anak-anak yang tampak cerdas.


"Kenapa mas?" protes Laura.


"Aku lapar...kita makan dulu." Daniel pura-pura kelaparan padahal hanya mau Laura hindari bibit penyakit.


"Mas makan saja! Aku masih penasaran dengan anak Bu Dokter. Kok bisa ya kembar tiga?"


"Ya bisa...besok kamu belajar dari Bu dokter agar punya anak kembar tiga juga. Tapi temani aku makan dulu. Aku sangat lapar!"


"Ok..." Laura tidak berpikir panjang mengapa Daniel tidak ijinkan dia dekatin ketiga bocah cantik itu.


Azzam asyik lirik Jasmine sedang mengira-ngira siapa sebenarnya sosok ini. Mengapa sangat dekat dengan kak Andi yang dia sayangi. Perasaan Azzam ada sesuatu antara Jasmine dan Andi. Tapi Azzam tak berani ambil kesimpulan karena dia hanya anak kecil yang tak berhak ikut campur soal perasaan orang dewasa.


Pesta sederhana berlangsung meriah. Yang hadir cuma orang dalam namun memberi kesan cukup mendalam. Semua bercanda riang ekspresikan rasa suka cita.


Citra berpangku tangan memandangi setiap wajah ceria tamunya. Hidupnya nyaris sempurna. Beban derita yang tersandang di bahu selama ini pupus sudah. Citra telah menang melawan Angkara murka di hati Alvan. Semua telah sirna.


"Mami..." panggilan lembut bergema di kuping Citra.


Afisa tersenyum manis menyusup ke pelukan Citra. Tadi hanya sekedar pelukan umum tanpa dibarengi rasa rindu mendalam. Afisa ingin melepaskan rindu secara pribadi tanpa gangguan orang lain.


"Ada apa sayang? Senang pulang sini?" Citra mengelus kepala anak keduanya dengan kelembutan seorang ibu.


"Senang...nyatanya sini ramai juga. Orangnya juga lucu dan ramah. Cece betah kok!"

__ADS_1


"Cece mau betapa di sini bersama papi mami?"


Afisa seperti bimbang untuk jawab. Dalam benak gadis kecil ini keluarga di tanah air hanyalah sekumpulan orang egois. Memaksa dan menyakiti orang. Setelah bergaul dengan tim jagoan neon tertawa lebih banyak suka dari pada duka.


"Cece tak tahu...apa acara ini untuk sambut ulang tahun kami?"


Citra membawa Afisa duduk di ruang makan memisahkan diri dari tamu-tamu agar bisa bicara lebih leluasa. Citra mau tahu apa isi hati anak yang merantau seorang diri di luar negeri.


Citra dan Afisa duduk berdampingan di kursi ruang makan. Di sini agak tenang tanpa terdengar seruan mereka yang sedang gembira.


"Ini pesta rancangan kak Andi. Ulang tahun kalian kan dua Minggu lagi. Apa Cece mau dirayain besaran? Mami akan minta papi siapkan pesta untuk kalian."


"Tak usah mi...jangan buang uang! Cari duit itu tidak gampang!" ujar Afisa bijak.


"Untuk kalian mami rasa papi siap korbankan apapun. Papi telah berusaha jadi papi baik. Papi sesuai keinginan kalian."


"Koko ada cerita kalau papi dan perempuan itu telah berpisah. Pernahkah mami berpikir bagaimana kalau kelak papi tergoda lagi dengan wanita itu?"


Citra terharu pada ketulusan hati Afisa pada dirinya. Tak disangka anaknya berpikir jauh takut Karin balik kembali kehidupan Alvan. Bayangan Karin merupakan momok bagi Citra sekeluarga.


"Tidak akan lagi sayang! Bunda Karin akan segera menikah dengan ustad tempat dia belajar ilmu agama. Sekarang papi itu milik kalian sepenuhnya. Tak ada yang perlu kalian takutkan! Lusa kita berangkat ke Bali. Papi sudah atur semuanya untuk kita."


"Betulkah yang mami bilang? Papi tidak hubungan dengan perempuan itu lagi?"


"Insyaallah...doakan saja!"


"Amin...Cece tidak minta apapun dari papi selain sayang mami. Cece akan tenang belajar kalau mami bahagia." ujar Afisa layak orang dewasa memahami kondisi seseorang.


Citra mengangguk lalu memeluk anaknya dengan bangga. Tidak sia-sia semua pengorbanan membesarkan ketiga anaknya. Mereka anak berbakti tahu kesulitan Citra.


Di sudut teras ketiga jagoan neon dan Azzam berkumpul seperti dulu. Kali ini Azzam melarang ketiga jagoan libatkan para wanita. Ini obrolan tingkat tinggi pria matang. Obrolan sesama lelaki sejati.


"Bonar malu kalah gemuk dari Iyem maka dia gasak semua makanan biar serasi dengan Iyem." kata Tokcer mengejek selera Bonar terlalu besar.


Azzam tertawa geli Bonar dihubungkan dengan Iyem. Tampaknya tombol hijau telah menyala antara dua insan itu.


"Kak Boneng suka sama mbak Iyem? Nggak takut digampar langsung copot gigi?" olok Azzam tertawai hubungan baru Bonar dan Iyem..


"Kalau aku sih takut Bonar gepeng digencet Iyem." timpal Andi ikut ejek Bonar.


"Sirik tanda tak mampu. Kalian iri pada Iyem kan? Lihat pacar kalian kurus kayak gagang sapu. Dipegang tulang semua." sahut Bonar santai tidak terpengaruh ejekan temannya. Tangannya sibuk memasukkan makanan ke mulut.


Azzam besarkan mata dengar Andi dan Tokcer juga punya pacar. Sejak kapan temannya mulai menjalin hubungan asmara dengan lawan jenis. Azzam ketinggalan cerita jauh banget.


"Kak Andi dan kak Tokcer sudah ada pacar? Wah.. sudah ada emak-emak muda jagoan neon. Kak Andi sama kak Jasmine ya? Kak Tokcer sama kak Fitri... Eiittt..kak Natasha gimana? Masa ditinggal pacaran?"


Kata-kata Azzam mengingatkan Tokcer pada gadis bule yang sekarang masih menimba ilmu berkat support Tokcer. Apa Tokcer akan berkhianat pacaran dengan cewek lain.


"Nah lho! Koko benar...gimana Natasha? Bukankah dia masih sering ngasih kabar?" Andi ikutan nimbrung soal Natasha.


Tokcer menghela nafas. LDR tanpa kepastian pasti akan membuat Tokcer ragu. Fitri cukup menarik walau tak secantik Natasha. Masing punya kelebihan dan kekurangan sendiri. Tokcer harus tegas pilih salah satu antara dua supaya tidak ada yang tersakiti.


"Dia tiap hari ngasih kabar. Selalu bilang rindu tapi sering kulihat di IG dia akrab dengan banyak cowok. Aku jadi ragu pada pergaulan di negara barat. Salahkah bila cari yang pasti? Umur kita dari hari ke hari berjalan terus." kata Tokcer dengan pandangan kosong.


"Kau harus yakin mana yang terbaik. Ini menyangkut hati. Kami tak bisa ngasih saran." Bonar meletakkan piring di pinggiran beton teras menatap Tokcer yang dilanda kebingungan.

__ADS_1


"Kak...Koko sarankan kakak jangan sekali-kali katakan cinta pada cewek dulu. Kenalan dari hati ke hati. Bukan kenal wajah doang! Sifat, karakter dan klik mana yang sesuai dengan jiwa kak Tokcer. Kita berhak memilih agar tak timbul penyesalan di kemudian hari." ujar di mulut bijak Azzam. Anak kecil tapi ngomongnya sumur tak punya dasar.


"Koko benar...anak kecil aja ngerti cara bersikap. Masak lhu yang sudah uzur masih ngantuk. Jangan tembak Fitri dulu!" kata Andi cocok dengan nasehat Azzam.


"Gue emang belum omong apapun sama Fitri. Cuma sekarang sering jumpa. Ada rasa manis lihat Fitri"


"Pertahankan! Sekarang kak Andi...gimana sama kak Jasmine? Sudah siapkan senjata kaliber besar tembak kak Jasmine?"


"Kak Andi ada rencana pinjam rudal balistik mirip Rusia! Sekali tembak langsung ke pelaminan." gurau Andi membuat tawa lebar bergaung di teras.


"Kak Andi serius mau nikahi kak Jasmine?"


"Mau sih! Tapi tunggu kak Nadine nikah dulu. Kayaknya Untung akan segera lamar kan Nadine. Kak Andi harus punya bini untuk rawat nek Menik kamu."


Azzam setuju rencana mulia Andi. Kalau Nadine dibawa Untung otomatis Bu Menik sendirian di rumah. Andi tentu butuh seseorang temani ibunya di rumah. Pilihan jatuh pada Jasmine.


"Kalau lhu nikah gue juga nikah. Lhu mau nggak ikut Tok?" ucap Bonar ikutan gila.


"Aku belum yakin perasaan gimana nikah? Kalau nggak lhu pinjami Iyem jadi pengantin aku?" gurau Tokcer bikin si Batak layangkan tinju ke pundak Tokcer. Tokcer cepat pengelak karena tinju Bonar lumayan sakit. Tenaga bekas kuli bangunan dilawan.


"Hahaha ..nikah berjemaah! Koko setuju kalian cepat menikah biar Koko jadi om! Pokoknya Koko doain kalian bahagia dan jangan khianati pasangan. Cukup satu wanita dalam hidup kita. Tak ada keluarga sakinah bila ada dua juru masak. Semua akan banggakan masakan sendiri sehingga hilang rasa aslinya. Kalau Koko dewasa kelak cukup satu wanita. Hanya maut bisa pisahkan kami. Koko akan terima semua baik buruknya."


Ketiga jagoan neon bergidik dengar ada anak seumur Azzam telah buat perjanjian pada diri sendiri tentang pernikahan kelak. Mereka tak tahu itu wajar atau tidak. Anak sekecil Azzam bertekad tak ulangi kesalahan sama yang dilakukan Alvan. Itu menyakiti perasaan Citra sampai bertahun-tahun.


"Kami akan usaha ko! Tapi berpulang pada takdir. Kita mau begitu belum tentu itu yang terjadi." Andi tak berani umbar janji seperti Azzam. Andi sadar dia hanya manusia biasa tak luput dari kesilapan.


"Kita usaha saja. Yok kita gabung dengan para cewek lagi. Ntar dipikir kita kabur tak open mereka." ajak Andi melirik ke dalam lihat calon pacar ngapain di dalam.


"Kak Andi paling kak Jasmine cari yang lain...di luar masih banyak stok kok!"


Andi mencolek kepala Azzam dengan gemas. Ngasih doa bukan yang bagus.


"Dasar anak kecil...Bunga di hati kak baru mau mekar lhu tebas sampai layu! Apa kamu tak kejam?"


"Dasar bucin..yok masuk! Semoga happy ending deh!"


"Amin..."


Pesta bubar begitu malam datang. Satu persatu tamu pulang ke tempat masing-masing. Anak-anak juga cepat istirahat setelah lakukan perjalanan panjang ditambah pesta penyambutan cukup meriah.


Citra dan Alvan juga cepat masuk kamar karena lelah berpesta. Kesehatan Alvan pulih seratus persen namun Citra belum ijinkan Alvan lakukan hubungan ritual suami isteri agar luka pulih dengan sempurna.


Alvan hanya bisa menahan diri tidak berbuat lebih dari sekedar ciuman sayang. Waktu mereka masih cukup panjang untuk cetak adik-adik Azzam. Itu kalau diijinkan Allah SWT.


Alvan mengecup kening Citra sebelum memejamkan mata menghalau malam berganti sinar terang mentari.


"Mas..."


"Hmmm...ada apa sayang?"


"Mas ngantuk ya?" tanya Citra


"Nggak ngantuk cuma harus tidur biar tidak pingin main kuda-kudaan."


"Idihhh...ke situ melulu. Sehat dulu...Aku mau tanya apa boleh ulang tahun anak-anak dirayakan sebelum Afisa balik ke Beijing?"

__ADS_1


Alvan tersentak kaget dengar permintaan Citra. Mengapa Citra tak pernah ungkit soal tanggal kelahiran anak. Alvan jujur tak tahu kapan anaknya lahir. Diapun lupa tanya. Apa ada papi tak tahu hari jadi anak-anak?


"Kenapa tanya itu? Kita harus rayakan dengan pesta besar. Aku akan booking hotel untuk rayakan hari kelahiran anak-anak Lingga."


__ADS_2