ISTERI CEO YANG TERLUPAKAN

ISTERI CEO YANG TERLUPAKAN
Pindah Ke Rumah Baru


__ADS_3

Tampaknya Alvan harus menelan rasa malu dikalahkan oleh keluarga baru Citra. Citra telah menerima bantuan Bu Sobirin berarti Citra beratkan tubuh ke sebelah keluarga ayahnya.


Alvan tak dapat berbuat apapun untuk melarang Citra terima bantuan Perkasa. Dia memang gagal memberi rasa aman pada Citra ditambah tingkah Bu Dewi yang kelewatan. Menuduh Citra tanpa bukti. Alvan makin merasa tidak berguna menjadi seorang suami. Dia melihat dengan mata kepala sendiri Citra terbang lepas dari genggamannya. Citra tidak dapat disalahkan bila mencari sarang yang lebih hangat. Yang terbebas dari segala ancaman.


"Sayang oma... Oma bahagia kamu menerima uluran tangan dari keluarga kita. Mulai minggu depan kita akan hidup berdampingan sampai selamanya."


Heru dan Pak Sobirin tidak kalah bahagia Citra telah menerima bantuan mereka. Mulai saat ini Citra akan menjadi tanggung jawab keluarga Perkasa. Tinggal satu masalah lagi yaitu membawa pulang Afisa dari Beijing. Andai gadis kecil itu bersedia pulang berarti sempurnalah keluarga Perkasa.


Malam ini merupakan malam yang sangat berbahagia bagi keluarga Perkasa tetapi tidak bagi Alvan yang termenung tak berdaya. Seorang pengusaha kaya raya harus numpang hidup pada keluarga istri. Ini merupakan berita paling menggelikan di jagat raya.


"Begini pak Heru...Citra dan anak-anak adalah tanggung jawabku! Biarlah kuganti harga rumah itu bila memang Citra bersedia tinggal di situ." akhirnya Alvan dapat solusi untuk tingkatkan gengsi yang mulai retak. Harus beli lem setan segera lem agar tidak pecah hancur.


"Tidak perlu nak Alvan...Citra itu cucu kami! Punya kami juga punya Citra. Semua yang kami miliki juga kepunyaan Citra dan anak-anak. Nak Alvan tidak perlu sungkan terhadap kami kita adalah satu keluarga. Kita bangun keluarga kita bersama-sama agar makin harmonis." pak Sobirin kontan tolak niat Alvan hendak bayar rumah yang dibeli untuk Citra.


"Papa aku itu betul Van! Citra itu adalah anak dari keluarga kami wajar kalau dia menerima haknya dari kami. Kamu tak perlu merasa sungkan untuk tinggal bersama-sama. Jangan ada perbedaan di antara kita dalam membesarkan anak-anak! Biarlah semua mengalir apa adanya!" ujar Heru mengetahui isi hati Alvan. Alvan tentu merasa dilangkahi oleh keluarga Perkasa. Kekayaan keluarga Lingga tidak kalah dari keluarga Perkasa. Untuk membeli satu rumah bukanlah hal sulit jangankan satu 10 rumah pun Alvan tidak akan keberatan.


"Tapi Citra dan anak-anak adalah tanggung jawab aku." tukas Alvan tak enak hati kewajibannya telah direbut oleh Heru.


"Bukan hanya tanggung jawabmu Van! Citra ada anak-anak tanggung jawab kita bersama. Sekarang kita satu keluarga jadi sudahi masalah tanggung jawab. Kita jalani sama-sama merawat anak-anak hingga dewasa." Heru berkata dengan bijak mengecilkan rasa minder di hati Alvan. Alvan masih punya banyak tempat memberi ruang pada Citra untuk merasakan ketulusan Alvan.


Alvan tak dapat berkata apapun lagi setelah mendengar penjelasan Heru. Heru telah berbuat semampu mungkin untuk melindungi keponakan satu-satunya dari mendiang abangnya.


"Baiklah! saya ucapkan terima kasih atas perhatian kalian semua terhadap Citra dan anak-anak saya. Semoga di kemudian hari tidak ada terjadi hal-hal yang tidak kita inginkan lagi."


Heru mengangguk bersyukur Alvan bersedia menerima pemberian dari keluarga Perkasa untuk Citra. Dengan demikian mereka tidak merasa bersalah pada Hamka yang telah duluan mendahului mereka. Menjaga dan melindungi Citra merupakan tugas dari Heru sekeluarga karena Hamka telah tiada.


Waktu bergulir tak terasa dua minggu telah berlalu setelah kejadian penculikan Citra. Setelahnya Citra dan sekeluarga aman-aman tanpa gangguan. Hari-hari Citra menjadi tenang tanpa riak gelombang menghantam kehidupannya lagi. Bu Dewi juga telah bungkam tidak pernah memasalahkan Citra lagi. Cuma hubungan Citra dan mertuanya belumlah semulus jalan tol.


Citra belum mau membawa anak-anaknya menjumpai Bu Dewi yang tidak menyukainya. Sebenarnya bukan Citra tak mau menjumpai Bu Dewi tetapi untuk menjaga perasaan Alvan kalau-kalau Bu Dewi mengatakan sesuatu yang tidak enak.


Waktu yang telah dijanjikan untuk pindah ke rumah baru yang dibeli oleh Heru telah tiba. Citra dan anak-anak akan segera pindah ke tempat Bu Sobirin untuk memulai hidup baru. Sesungguhnya Citra sangat keberatan meninggalkan rumah yang telah dia tempati beberapa bulan terakhir ini. Hubungan Citra dengan tetangga juga baik-baik saja membuat Citra merasa nyaman berada di daerah itu. Namun sayang Citra tetap harus pindah untuk menjaga keselamatan anak-anaknya. Bukan tidak mungkin suatu saat orang-orang yang berhati jahat itu kembali menyiapkan niat busuk pada keluarganya.


Tidak banyak barang yang dibawa Citra dari rumah lamanya ke rumah baru karena semuanya telah disediakan di sana. Hanya pakaian dan beberapa peralatan penting Azzam Afifa dan Citra sendiri.


Untuk Azzam dan Afifa tentu saja peralatan sekolah. Sedangkan Citra membawa alat-alat medis serta buku-buku penting yang masih harus dia pelajari untuk sambut jenjang S3.


Andi dan Tokcer sangat bersedih harus kehilangan Azzam dan Afifa. Kedua jagoan neon itu berusaha menahan air mata mengantar Azzam dan Afifa ke rumah baru mereka. Mereka ikut sampai di rumah baru Azzam yang tak kalah mewah dari rumah Heru. Dilihat sekilas nyaris sama kecuali cat rumah yang dominan putih. Kesan rumahnya bersih menyejukkan mata. Dua mobil mewah telah terparkir di garasi khusus antar jemput Azzam dan Afifa.


Pendek kata semuanya telah diatur sempurna oleh keluarga Perkasa. Citra dan anak-anak disambut bak ratu dan pangeran dan tuan Puteri agung di rumah itu. Alvan malu bukan main harus numpang pada keluarga Perkasa. Kalau dia mau sanggup beli seratus pintu model gitu. Apa daya Citra memilih menyerah pada keluarga ayahnya yang jauh lebih ramah dari keluarga Lingga.


Alvan tak bisa salahkan Citra memilih tinggal bersama keluarga Heru. Ini gara-gara Bu Dewi yang egonya setinggi gunung Himalaya. Suudzon pada Citra.

__ADS_1


Azzam dan Afifa senang bukan main dapat kamar sangat indah sesuai dengan isi hati mereka. Pokoknya kedua anak Alvan bahagia bukan main tinggal di rumah baru jauh lebih luas dari rumah mereka dulu. Di situ ada kolam renang bergaya minimalis dengan taman mini.


Azzam mendapatkan surga yang hilang. Kamar Azzam berhadapan dengan kolam renang. Azzam membayangkan kalau malam tiba cahaya lampu remang-remang akan ciptakan suasana syahdu diiringi jeritan serangga malam. Suara itu akan jadi musik alam pengantar tidur.


Bu Sobirin mengantar Citra keliling rumah agar cucunya tahu lingkungan rumah. Alvan menemani Azzam dan Afifa pantau seisi kamar mereka mencari kalau ada yang kurang.


Afifa agak murung seusai keliling rumah. Ntah apa penyebab gadis kecil Alvan mendadak sedih padahal waktu masuk tadi dia masih riang gembira.


Alvan segera menggendong Afifa cari sebab musabab Afifa kehilangan keceriaan. Azzam ikut heran mengapa adiknya bersedih. Seharusnya mereka senang tinggal di tempat lebih layak.


Afifa menyandarkan kepala di bahu Alvan menetes air mata. Alvan dapat rasakan kaosnya basah oleh air bening dari mata putrinya.


"Ada apa sayang?"


"Kenapa tak ada yang sayang Cece? Kita semua dapat kamar. Mengapa Cece tak dapat?"


Lagi-lagi semua melupakan Afisa. Alasan Afifa bersedih karena tak ada yang perhatikan anak kedua Alvan. Anak itu seakan tersingkir dari ingatan semua orang. Hanya Afifa yang selalu ingat kakaknya itu. Jelas sekali Afifa sangat mencintai Afisa.


"Bukan tak ada kamar. Pasti ada cuma karena Cece belum balik jadi kamarnya belum diatur. Kita harus tahu selera Cece kamu dulu."


Afisa menyusut air mata pakai kaos Alvan. Penjelasan Alvan menenangkan Afifa sedikit. Afifa pikir di hati Citra dan Alvan tak ada Afisa. Mereka bersenang-senang sementara Afisa belajar dan berlatih mati-matian untuk jadi yang pertama.


"Betul gitu papi?" tanya Afifa lugu.


"Benarkah Pi? Amei mau yang kamarnya ada kolam ikan. Kamarnya gede kayak kamar Puteri Cinderella." Afifa melebarkan tangan seluas mungkin untuk ekspresi seluas gimana kamarnya kelak.


"Papi janji...nanti kita buat juga kamar Cece yang ada ruang latihan senam! Azzam pingin kamar model apa?" Alvan menatap Azzam yang tenang tidak perlihatkan reaksi berlebihan.


"Apa saja asal nyaman!" sahut Azzam. Kalau boleh jujur Azzam mengharapkan Alvan yang beli rumah untuk mereka. Alvan adalah papi mereka. Alvan lah yang harus berdiri tinggi menunjukkan sikap seorang suami.


"Baik...untuk sementara kita tinggal di sini untuk hargai Oma dan opa. Setelah rumah kita selesai kita akan pindah. Kita ajak nek Menik tinggal bersama kita! Ok?"


Azzam puas dengar janji Alvan. Harga diri Alvan tidak terhempas bila berhasil bangun rumah untuk mereka dan Citra. Azzam ingin Alvan tunjuk diri seorang papi dan suami bertanggung jawab.


Puas keliling Rumah Alvan ajak Azzam dan Afifa duduk santai di tepi kolam renang untuk istirahat. Mulai malam ini mereka akan tidur di rumah baru hadiah dari opa buyut mereka. Rumah lama tinggal kenangan.


"Papi..kak Andi dan kak Tokcer apa tinggal bareng kita?"


"Kak Tokcer mungkin tidur di sini tapi kak Andi tidak. Tapi kita tanya juga pada mami gimana keputusan mami! Apa pun kata mami kita ikuti ya!"


"Koko ingin keduanya di sini!" desis Azzam belum rela berpisah dengan kedua jagoan neon. Satu sudah dikunci di gudang masa yang dua lagi harus berpisah jauh.

__ADS_1


"Baiklah! Papi akan bicara dengan mami. Kalau kelak kita punya rumah sendiri kita ajak kak Andi tinggal bareng. Sabar ya! Papi akan cari rumah sekitar sini biar opa dan Oma buyut tidak kehilangan kalian."


"Terima kasih Pi!" Azzam bangkit dari kursi malas hampiri Alvan beri pelukan hangat. Alvan membalas pelukan Azzam penuh suka cita. Akhirnya hati Azzam meleleh akui Alvan sebagai papi.


"Sama-sama...siap ujian kita ke Beijing jenguk Afisa. Kapan Afisa liburan biar bisa ikut pulang sini."


"Papi takkan paksa Cece tinggal di sini kan?"


"Terserah Afisa. Di mana dia nyaman di situlah dia!"


"Terima kasih Pi! Cece lebih baik di Beijing karena prestasinya sedang cemerlang. Di sana dia lebih berharga karena prestasinya luar biasa. Di sini anak pintar kurang dapat apresiasi dari pemerintah. Di sana anak jenius selalu dapat yang terbaik. Kalau bukan ingin jaga Amei dan mami, Koko juga ingin di sana." Azzam keluarkan suara hati yang lama terpendam.


Alvan kaget dengar kejujuran Azzam. Laki ini tak sangka Azzam menyimpan harapan bergabung dengan Afisa jauh dari mata. Alvan makin kehilangan anak bila Azzam memilih bergabung dengan Afisa.


"Zam...kau anak laki papi satu-satunya! Bagaimana boleh merantau jauh? Siapa yang akan kelola perusahaan bila kau pergi jauh?"


"Koko hanya menuntut ilmu. Kelak sudah sukses pasti kembali. Atau papi beri kami adik-adik kembar lagi. Cowok semua."


Alvan tersipu digombalin Azzam. Kalau tidak berobat sama Citra tidak mungkin Alvan akan punya keturunan lagi. Ide Azzam boleh juga. Alvan harus coba selagi masih mampu. Citra juga masih muda. Azzam lain bisa saja hadir warnai kehidupan Alvan.


"Ok...papi setuju! Sekarang papi harus pergi sebentar. Kalian main dengan Tokcer maupun Andi. Papi ada sedikit urusan."


"Papi mau ke mana?" Afifa menarik kaki Alvan tak ijinkan Alvan tinggalkan mereka. Afifa masih asing dengan lingkungan rumah. Rasa segan dan takut terselip di hati.


"Papi keluar sebentar saja! Sebelum malam papi sudah pulang. Kalian berdua harus patuh sama mami ya! Kasihan mami kalau kalian tidak patuh." Alvan membelai rambut Afifa dengan segenap kasih sayang.


"Papi pasti balik kan?" tanya Afifa dengan polosnya.


"Balik dong! Anak papi di sini bagaimana tidak balik? Rugi dong papi tidak bersama anak sendiri."


"Ok...janji tidak lama ya!"


"Janji buah hati papi! Ayok kita cari kak Andi biar kawani kalian!" Alvan menggendong Afifa tinggalkan kolam renang. Alvan tidak mungkin tinggalkan kedua anaknya tanpa pengawasan orang dewasa. Kedua anaknya belum tentu bisa berenang. Alvan tak tahu sejarah kedua anaknya terhadap air dalam jumlah besar.


Andi dan Tokcer duduk di teras yang nyaman sambil minum kopi suguhan orang kerja situ. Kedua konco Azzam mirip tamu agung dapat pelayanan sangat baik. Biasa mereka yang layani orang tapi kini mereka dilayani layak bos. Cuping hidung bangir dua senti.


"Andi...aku mau keluar sebentar! Kalian jaga adik-adik kalian dulu!"


"Siap pak! Apa perlu kuantar?"


"Tidak usah...cukup temani adik-adik kalian! Jauhi tempat rawan bahaya! Jangan dekati kolam ya!" Alvan menurunkan Afifa ke lantai teras berwarna putih dipadu pinggiran hitam.

__ADS_1


"Papi ini...Amei dan Koko jago renang lho! Koko pernah dapat medali emas sewaktu tanding antar sekolah." Afifa keberatan dianggap tak kenal gaya di kolam renang.


"Oh maaf...papi tidak tahu! Papi berjaga kan demi hindari bahaya. Wah... anak-anak papi multi talenta! Papi bangga!" Alvan acung jempol banggakan anaknya.


__ADS_2