ISTERI CEO YANG TERLUPAKAN

ISTERI CEO YANG TERLUPAKAN
Kabar Bahagia


__ADS_3

Azzam tersenyum misterius seakan ragu pada kesetiaan Bonar pada Iyem. Jujur Azzam hilang kepercayaan pada lelaki walau dirinya juga laki. Azzam menanamkan janji setia dalam diri sendiri sejak dini. Berbahagialah cewek yang menjadi pasangan Azzam.


"Jangan berjanji dengan mulut! Pernah dengar kalimat lidah tak bertulang? Tapi janjilah pada diri sendiri jauh di dasar lubuk hati! Tak usah diumbar cukup praktek gunakan hati kecil. Ok?"


Andi dan Tokcer terkesima ada anak kecil bicara seperti ahli falsafah. Anak seumuran Azzam seharusnya sedang nikmati game di ponsel ataupun main ke mal cari hiburan. Yang satu ini malah sibuk jadi konsultan rumah tangga konconya.


"Aku tak paham apa maksudmu ko! Tujuan aku cuma satu. Buat Iyem bahagia selamanya." janji Bonar tak pandai bersilat lidah macam Azzam.


Azzam tepuk tangan puji tekat Bonar. Itu yang mau dia dengar. Azzam mau semua orang dia kenal hidup bahagia tanpa perlu ada kisah duka lagi.


"Semoga bukan selama belum jumpa nona cantik lain."


"Isshhh Koko ini! Asyik tuduh kak Bonar laki hidung belang. Nggak toh! Eh...kalian nginap ya!"


"Kami boleh tidur denganmu dan Iyem?" olok Andi buat Bonar gusar. Sejak kapan ada tamu ikut rasakan malam pengantin barengan.


"Cuci otak lhu pakai soda api. Bersih dan terbakar..." rutuk Bonar buat semua tertawa. Aura bahagia menyelimuti Keempat sahabat kental itu.


Setelah Bonar ntah siapa menyusul. Andi atau Tokcer? Andi dengan Jasmine sedang Tokcer dengan dua pilihan. Santapan lokal atau menu ala Barat. Kalau Azzam mungkin masih perlu jangka cukup lama. Mungkin puluhan tahun mendatang. Siapapun pasangan Azzam hidupnya pasti terjamin. Azzam punya segalanya. Kaya, tampan dan satu lagi yang paling utama yakni tekat setia. Modal Azzam untuk wujudkan niat bangun keluarga sakinah lengkap sudah. Tinggal menunggu hari itu tiba.


Pesta Bonar dan Iyem berjalan sukses. Keluarga Perkasa dan Lingga harus balik ke rumah sebelum hari menjelang senja. Punya pesawat pribadi seakan tak ada jarak antara setiap kota. Minum di kota J dan buang air kecilnya di kota B. Begitulah cara hidup kaum Borjuis.


Lewat magrib kedua keluarga baru tiba di rumah. Citra sedikit lelah karena beban di perut. Kesehatan Citra tidak seperti dulu. Kalau dulu dia masih sanggup lakukan aktifitas belajar tapi sekarang jalan saja menghabiskan seluruh energi.


Melihat kondisi Citra suaminya ambil keputusan Citra tak boleh bekerja di rumah sakit lagi. Istirahat total di rumah sampai waktu melahirkan. Untuk sementara Alvan bekukan masalah Kayla mengingat keadaan Citra belum tentu mampu terima berita mengguncang pikiran. Biarlah Citra tenang sampai hari lahiran.


Pagi mendung mengawali pagi. Seluruh anggota dua keluarga lakukan aktifitas seperti biasa. Yang pergi sekolah angkat tas menuju ke tempat menuntut ilmu sedang yang ke kantor ya ke kantor mengais rezeki.


Alvan nyetir sendiri ke kantor tanpa melibatkan Untung lagi. Sejak adanya Citra dan anak-anak Alvan sudah jarang gunakan jasa Untung melayani dirinya. Untung hanya bertugas mengurus perusahaan bersama Andi. Andi juga makin hari makin mengerti seluk beluk berbisnis. Alvan lega mendapat dua pembantu handal dan setia. Untung dan Andi jadi satu paket bantu Alvan di kantor.


Begitu tiba di kantor Alvan disambut Untung untuk rapat perusahaan. Kondisi perusahaan juga makin kondusif dan stabil. Hari-hari tenang Alvan telah terwujud. Alvan makin sadar dekat dengan orang tepat akan bawa berkah. Hidup teratur dengan keluarga samawa.


Seusai rapat Alvan kembali berkutat dengan huruf dan angka. Hidup begini monoton tapi damai. Alvan tak perlu kuatir ini itu lagi. Semua teratur pada tempatnya.


Menjelang tengah hari ponsel Alvan berbunyi. Seperti biasa Alvan melirik layar lihat siapa yang telepon.


Seorang dari masa lalu kembali hubungi Alvan. Jujur Alvan agak grogi bila harus angkat telepon dari Karin. Alvan selalu takut Karin berubah pikiran ingin kembali pada hidup Alvan. Itu hal paling mustahil dalam hidup Alvan. Tak ada rasa apapun pada Karin selain rasa iba.


Sambil mengucap bismillah Alvan angkat telepon dari Karin.


"Assalamualaikum..."


"Waalaikumsalam...apa kabar Van? Apa semua lancar?"


"Alhamdulillah lancar! Iyem sudah menikah dengan salah satu karyawan aku."


"Wow...berita bagus! Kau tak tanya kabar aku?"


"Dari suara kamu aku sudah tahu kamu sedang bahagia. Ada kabar bagus?"


"Aku akan segera menikah. Mungkin Minggu depan. Aku telepon mau undang kalian. Kalian mau datang kan?"


"Aku pasti datang tapi Citra mungkin tak bisa. Kandungannya sangat besar dan berat. Dokter melarang dia pergi jauh. Kau maklum kan?"

__ADS_1


"Aku sangat berharap kalian semua datang. Anak-anak juga datang. Tapi mau gimana kalau kondisi Citra tak ijinkan dia bergerak. Aku minta doa dia saja. Dan lagi bulan depan anak Ambar akan lahir. Anak itu kami adopsi. Kami akan merawatnya dengan baik."


"Anak Ambar? Maksudmu?"


"Ingat Ambar wanita yang kalian kirim ke kami. Dia merelakan anaknya diadopsi kami karena dia akan melanjutkan hidup di luar. Tak mungkin bawa bayi."


Alvan ingin protes bagaimana Karin rawat bayi dengan penyakit mematikan di badan. Tapi Alvan tak berani menyinggung perasaan orang yang sedang bahagia. Alvan harus tanya pada pakarnya bagaimana nasib anak itu kelak. Apa tak bahaya bayi sehat diasuh oleh ibu dengan riwayat HIV.


"Semoga semua berjalan lancar ya! Kirim waktu kapan kalian pesta."


"Tak ada pesta Van! Hanya ijab kabul dan acara doa bersama. Kami pesta pun siapa yang mau datang." ujar Karin dengan nada pesimis.


"Tak usah pikirin! Yang penting kamu dan pak ustad bahagia. Kalau terlalu pikir orang lain kapan giliran kita hidup bahagia."


"Apa kamu bahagia sekarang?"


"Sangat bahagia. Citra dan anak-anak adalah cahayaku. Aku tak mau berbohong. Aku mendapat hidayah setelah kembali pada jalan benar. Citra banyak bimbing aku jadi manusia lebih sempurna. Di tambah cambuk dari Azzam. Mereka yang luruskan jalanku! Aku merasa telah mendapat apa yang jadi tujuan hidup. Yang lain tak ada arti lagi."


Alvan mendengar helaan nafas Karin. Alvan tak tahu apa yang sedang dipikirkan wanita itu. Secara tak langsung dia telah bawa Alvan ke jurang kehancuran. Untunglah kakek Wira bisa baca kondisi membawa Citra pulang tanah air. Kakek telah prediksi sifat buruk Karin tak bawa bahagia bagi Alvan maka dia haruskan Citra berbakti di rumah sakit dengan tujuan Alvan jumpa Citra. Rencana Kakek Wira berjalan sukses.


"Semoga kau bahagia Van! Aku tak bisa mengubah masa lalu. Tapi aku bisa doakan masa depan yang bahagia untukmu. Citra memang yang terbaik untukmu. Aku memang jahat. Dulu aku sempat berpikir fitnah Citra katakan bahwa anak-anak bukanlah anak-anak kamu. Rencana orang jahat tak pernah berhasil. Ya begini akhir ceritaku! Tapi aku tak kecil hati, aku telah menemukan jalan terang seperti kamu. Mungkin ustad Syahdan adalah pelabuhan terakhir aku."


"Aku minta maaf tak bisa beri kebahagiaan padamu Karin! Aku harap antara kita tak ada dendam."


"Harusnya aku yang minta maaf telah banyak bersalah padamu! Berselingkuh, foya-foya dengan uangmu bahkan menipumu dengan anak orang lain."


"Sudahlah...tak ada guna ungkit masa lalu! Kita sambut hari baru. Aku akan katakan pada Citra rencana pernikahan kamu. Dia pasti senang."


"Dia pasti senang tak ada orang bakal usik keluarganya."


Karin tertawa kecil mendengar ada wanita bela musuh dalam selimut. Baru kali ini Karin tahu ada wanita seperti itu.


"Aku percaya. Ok lah! Antara kita tak ada sisa rasa tak enak. Kita lupakan yang sudah-sudah. Salam untuk Citra dan anak-anak. Pak ustad akan langsung undang kalian."


"Kau perlu sesuatu? Jangan ragu katakan! Aku selalu siap bantu kamu sebagai sahabat."


"Terima kasih niatmu! Untuk sementara belum ada. Kalau ada akan kukatakan."


"Kutunggu kabar darimu."


"Iya Van... assalamualaikum."


"Waalaikumsalam..."


Keheningan membungkus seluruh ruangan kerja Alvan. Alvan sangat lega Karin telah menemukan kebahagiaan yang dia dambakan. Kebahagiaan tanpa hingar-bingar dunia gemerlap. Yang ada hanya kejujuran dan hati tulus.


Benar kata orang tua. Siapa menanam dia yang akan panen. Buah apa yang mau kita tanam tergantung sanubari kita. Buah kebajikan atau buah kejahatan. Hasilnya sesuai dengan bibit yang kita semai.


Alvan bersyukur bisa putar badan mencari dermaga tanpa ombak untuk sandarkan biduk nya. Alvan tak ingin berlayar lagi. Susah cukup dia terombang ambing dalam ketidak pastian.


Sudah begini Alvan tiba-tiba rindu pada Citra. Terdengar lebay rindu pada wanita yang baru dia tinggalkan setengah hari. Karin telah bangkitkan rasa kangen pada Citra.


Alvan aktifkan ponsel mengarah pada Videocall untuk lihat langsung wanita yang memberinya tujuh anak. Wanita mungil yang luar biasa.

__ADS_1


Citra dengan senang hati menerima telepon dari suami tercinta. Dalam sekejap wajah Citra yang tampak chubby terpapang di layar ponsel Alvan. Coba Citra berkaca lama sedikit pasti akan sadar dia makin subur. Semua berubah jadi the big.


Di mata Alvan yang bucin, Citra justru makin menarik. Tidak kurus kering pertahankan ideologi wanita harus semampai.


"Assalamualaikum sayang.. lagi ngapain?" sapa Alvan meletakkan ponsel bersandar pada rak kecil untuk menyelipkan pulpen. Alvan lebih bebas bergerak daripada harus pegang ponsel.


"Waalaikumsalam... lagi rebahan! Anak-anak makin aktif menendang. Perutku jadi kurang nyaman."


"Apa sakit?" tanya Alvan kuatir dengan pengakuan Citra. Penendang dalam perut bukan satu bayi tapi empat dengan total kaki delapan buah. Gimanalah rasanya kena tendangan empat pasang kaki.


"Oh tidak...cuma kurang nyaman saja! Mas tidak kerja?"


"Kerja dong! Kangen sama isteri kan boleh?"


"Boleh...tapi jangan banyak! Nanti melimpah cepat habis! Kangen dikit saja biar banyak tersisa."


"Selamanya takkan habis! Aku makin kangen bila ingat perutmu yang buncit! Kau tidak keberatan bawa anak-anak tiap hari?"


"Berat gimana? Nggak berat gimana? Emang mas bisa bantu aku bawa mereka? Taunya suruh mas yang hamil." canda Citra undang tawa lebar Alvan.


"Dengan senang hati bila bisa bantu kamu. Mas rasa anak kita cukup tujuh. Mas suka kasihan lihat kamu kesusahan bawa bayi di perut!"


"Itu kodrat wanita! Maka itu kalau ada laki suka jahatin wanita artinya mereka sedang menumpuk dosa. Berselingkuh, main pukul bahkan ada yang usir isteri demi wanita lain."


"Kamu bukan sedang sindir mas?"


"Merasa ya? Nggak kok..ini perumpamaan global. Syukur juga kalau mas merasa!"


"Tuh kan targetnya mas! Mas takkan bodoh jatuh dua kali. Sekali saja sakitnya minta ampun. Gimana mau dua kali. Oya...tadi Karin ada telepon!"


"Cie..cie.. diteleponi mantan! Bahas kisah lama nggak?"


Alvan mendelik diolok Citra. Padahal Alvan hanya ingin sampaikan rencana indah Karin membangun rumah tangga dengan Ustad Syahdan. Citra kontan bawa ke opini lain.


"Kami sudah tutup buku. Bukunya sudah dilempar ke laut. Karin telepon kabari Minggu depan dia dan ustad akan ijab kabul."


"Alhamdulillah... akhirnya kak Karin menemukan jalannya. Semoga mereka membangun keluarga sakinah. Amin."


"Amin.. mas langsung bilang kau tak mungkin ke sana lagi. Biarlah mas dan om Heru yang ke sana! Anak-anak tak usah ikut karena di sana rawan penyakit. Warga di sana semua kena HIV."


"Itu mas salah. HIV tidak gampang menular. Kalau sekedar pegang tangan, ngobrol dalam jarak dekat takkan menular. HIV menular lewat hubungan *** dan dari darah."


"Nah ada yang ingin kutanyakan! Karin mau adopsi anak bayi. Apa tidak bahaya bagi si bayi dirawat ibu ada penyakit kotor itu?"


"Ngomongnya kok tidak enak? Tidak semua penderita HIV itu kotor. Ada dari jarum suntik, ya seperti pengguna obat terlarang, lalu jarum pembuat tatto."


"Transfusi darah?"


"Itu jarang terjadi karena setiap darah yang didonorkan oleh pendonor telah lewat pemeriksaan. Darah bermasalah tak mungkin digunakan. Hanya sebaik orang percaya ada HIV tertular lewat transfusi darah di rumah sakit. Pada dasarnya tidak begitu. Mengenai anak yang diadopsi oleh Karin Kujamin aman. Karin tak mungkin jahat celakai anak itu. Anak itu akan tumbuh sehat."


Alvan menggeleng belum yakin apa yang disampaikan Citra itu akurat. Bagaimana kalau suatu saat Karin lalai sampai terluka dan kena anak itu. Bukankah hidup anak itu terancam.


"Mas masih ragu. Pokoknya mas tak ijinkan anak-anak ke sana. Cukup dan Om ke sana. Jujur mas takut makan makanan mereka. Takut tertular. Bukankah yang masak penderita semuanya."

__ADS_1


"Susah ya omong sama orang terlanjur parno! Nggak gitu mas! Sekedar masak tak mungkin tertular. Toh semua makanan telah lalui proses masak. Virus kuman sudah pada mati. Kujamin tak ada masalah. Harusnya aku takut mas tertular karena mas adalah papi dari anak-anak tapi tidak gitu! Faktanya tidak semudah itu HIV menyebar tanpa kontak lebih intim. Kalau mas berhubungan intim dengan Karin baru jadi perkara. Bukan mas yang takut tapi aku. aku pasti akan hindari mas."


"Ngawur ..Mas kan sudah tobat! Kamu satu-satunya nyonya Alvan Lingga."


__ADS_2