ISTERI CEO YANG TERLUPAKAN

ISTERI CEO YANG TERLUPAKAN
Natasha Pulang


__ADS_3

Emak pulang membawa tas kresek berisi belanjaan. Emak tua Tokcer surprise ada gadis cantik di rumahnya. Natasha sungguh beda dengan gadis sekitaran kampung Tokcer. Yang satu ini benar-benar bening bikin suka orang yang lihat.


Tokcer segera bangun dari bangku rotan menyambut emak dengan wajah berseri-seri. Orang boleh bilang emaknya tua dan jelek tapi bagi Tokcer emak adalah bidadari tercantik di bumi.


"Mak...baru pacaran sama Wak Sugeng?" goda Tokcer sambil menyambut belanjaan emak.


Natasha tercekat lihat cara Tokcer layani emaknya. Sopan penuh penghormatan walau mulut bercanda.


"Huusss nih anak! Nona ini..." Emak menatap Natasha.


"Hai emak...aku Natasha teman dekat Kak Tokcer!" Natasha tak mau kalah terpaksa ikut bangun untuk perkenalkan diri pada emak Tokcer.


Mata emak Tokcer berbinar disalami Natasha. Natasha menyalami emak Tokcer berdasarkan pengalaman lihat Azzam Salami Citra dan Alvan. Di sini Natasha memetik satu pelajaran tambahan bagaimana bersikap pada orang tua. Kadang untuk menjadi lebih baik tak perlu belajar teori satu gunung cukup lihat praktek secara riil untuk petik hikmah baik.


Natasha jumpa Tokcer dan menimba banyak pelajaran berharga untuk menjadi manusia lebih berguna. Tidak sia-sia Natasha diungsikan ke tempat Citra. Gadis bule telah menuai hasil dari pengalaman orang kelas bawah tapi berakhlak.


"Ayok masuk! Rumah emak jelek lho!" ajak emak seraya masuk kunci ke pintu agar menyambut tamu agung Tokcer.


"Besar kecil kan rumah Mak!" kata Natasha mulai belajar adab.


"Iya ..iya ..enak masak dulu! Kalian makan di sini ya!" Emak masuk diikuti Tokcer dan Natasha.


Seisi rumah sederhana. Tak ada barang mewah selain tv dan loudspeaker di atas bufet. Kursi juga terbuat dari rotan cuma tidak butut kayak yang di luar. Ini masih lumayan bagus.


"Ayo duduk nak! Emak di dapur ya!"


"Iya mak!" Natasha masih takjub lihat kondisi rumah Tokcer. Sangat beda dengan rumahnya. Bagai langit dan bumi. Di rumahnya serba canggih. Bertaburan barang mewah. Tapi Natasha tidak keberatan berada di tempat Tokcer. Beda dengan rumah Tokcer yang serba manual. Ini satu tantangan bagi Natasha.


Mata Natasha semakin terbuka bahwa harta bukanlah segalanya. Ternyata masih ada yang lebih berharga daripada setumpuk emas permata yakni rasa aman dan nyaman membalut kenyamanan hati. Dari sini Natasha bisa memetik banyak pelajaran bahwa hidup itu bukan hanya berpatok pada kemewahan. Semoga ke depan Natasha akan menjadi lebih baik dan belajar dari Azzam dan Tokcer yang sangat menghargai orang tua.


Kakaknya Natasha yang bernama Niken akhirnya tiba di Indonesia bersama dua orang teman yang merupakan warga Amerika. Teman Niken merupakan sepasang kekasih yang ingin ikut berlibur di Indonesia. Mereka datang menjemput Natasha sekaligus ingin melihat keindahan panorama alam Indonesia.


Daniel langsung pergi menyambut kakak Natasha. Kakaknya berbeda dengan Natasha. Niken tampak elegan jauh lebih dewasa dari Natasha. Sekilas mata memandang sudah diketahui Niken bukan sembarangan orang bisa dipermainkan. Jangankan untuk digombalin, diajak omong saja Daniel segan.


Daniel mengajak Niken dan kedua temannya singgah di cafenya sebelum bertolak ke hotel di mana Niken dan kedua temannya bakal nginap. Daniel ingin pamer kalau Natasha tidak disiakan selama tinggal bersama Daniel di cafe.


Niken dan kedua temannya mengagumi dekorasi cafe Daniel. Mereka disuguhi oleh nuansa alam yang menyejukkan mata. Tidak ada suara hingar-bingar musik khas yang kadang merusak keromantisan pasangan muda. Ada sebagian anak muda menyenangi musik house yang terdengar panas tetapi sebagian ada juga yang menyukai suara musik lembut. Daniel memilih menyuguhkan musik-musik lembut agar tidak mengganggu para pasangan saling curhat di tempat romantis ini.


Daniel menyuguhkan es kelapa saat udara sedang panas membakar bumi. Hampir seluruh tanah air sedang dilanda cuaca terik. Bukan cuma di Indonesia dilanda hawa panas menyengat kulit. Di luar negeri juga terdapat gelombang udara panas. Bahkan ada yang terbakar hutannya memaksa warga mengungsi. Ini akibat perubahan iklim global.


Daniel menemani ketiga warga Amerika di cafenya. Daniel tunjukkan keramahan warga +62 yang terkenal ramah dan santun.


"Ayok diminum air kelapanya!" kata Daniel pada Niken.


Niken tersenyum perlihatkan barisan gigi bebas nikotin. Putih bersih cocok diajak jadi model iklan pasta gigi. Niken cantik dengan paduan timur dan barat. Rambut agak coklat berombak dibiarkan terurai. Niken tampak dewasa dan matang. Citra yang sudah punya tiga buntut kalah total dibanding Niken.


"Terima kasih mas Daniel! Aku suka cafemu! Nata pasti sangat merepotkan kamu ya!" kata Niken dengan gaya elegan. Matanya yang agak coklat muda berpendar bercahaya.


"Ya gitulah! Sekarang dia tinggal di rumah temanku. Nanti malam kita akan ke sana."

__ADS_1


Daniel melihat kedua bule tulen sibuk menikmati suguhan tumbuhan khas daerah tropis. Air kelapa muda yang kaya akan serat dan beberapa zat yang bermanfaat bagi kesehatan. Salah satunya antioksidan yang dibutuhkan wanita.


"Aku benar tak enak hati Nata telah mengacaukan hatimu. Anak itu memang kelewatan." Niken berkata sambil menyeruput air kelapa yang terhidang bersama batok.


Daniel tertawa kecil ingat rencana konyol ingin nikahi anak itu. Untung Citra tanggap kalau Natasha hanya cari pegangan untuk hindari pulang ke Amerika. Daniel nyaris terjebak dalam bencana besar. Apa kata keluarga di Amerika kalau Daniel menikahi Natasha. Daniel pasti disalahkan seumur hidup.


"Sudahlah! Yang penting dia pulang ke Amerika untuk selesaikan kuliah. Setelah itu baru kalian pikirkan mau tempatkan dia di mana."


"Ok...kami cuma sehari di sini karena kami berencana ke Bali. Dari Bali langsung balik ke Amerika. Aku akan bawa Nata bersamaku."


"Kok cepat sekali?"


"Aku cuti cuma berapa hari. Nanti kalau ada cuti panjang aku akan balik sini untuk nikmati keindahan alam Indonesia."


Daniel mengangguk-angguk maklum. Niken bekerja untuk stasiun televisi yang mempunyai acara tiap hari. Mana mungkin bisa seenak perut tinggalkan acara yang sedang dia pandu. Bisa-bisa Niken digantikan orang lain.


"Aku ngerti..."


"Tolong teleponi Natasha kalau dia harus bersiap dijemput untuk gabung nginap di hotel. Nanti kami langsung ke Bandara dari hotel. Jadi tidak perlu bolak balik jemput dia."


Daniel termenung. Cara kerja Niken gesit memikirkan sebab akibat. Dia hanya pikir yang paling mudah dan lancar. Daniel merasa kehidupan demikian tak cocok dengan pola hidup mereka yang agak santai.


"Baiklah! Aku akan teleponi Citra! Kalian mau makan sesuatu?"


"Oh tidak...di pesawat sudah! Perjalanan kami cukup jauh dan melelahkan. Rasanya ingin segera istirahat."


Airnya lebih manis dan berbau pandan. Minuman segar untuk kesehatan dan pelepas dahaga. Memang hasil silangan dari negeri Siam namun di tanah air berkembang dengan baik.


"Mereka ngerti bahasa Indonesia dengan baik. Silahkan bicara saja!" Niken tertawa karena Daniel mengira kedua temannya tidak paham bahasa Indonesia.


"Oya? Hebat..." seru Daniel surprise orang bule Amerika fasih berbahasa nasional.


"Aku kerja di kedutaan Indonesia sebagai translator. Dan ini pacar aku! Aku Laura dan pacar aku Bryan. Bryan pernah tinggal di Bali makanya kami datang untuk nostalgia." kata Laura dengan bahasa Indonesia cukup bagus tapi tetap tertinggal aksen bule.


"Welcome...senang kalian teringat negara kami! Maunya tinggal lebih lama agar bisa keliling negeri kami yang indah." Daniel promosi keindahan alam tanah air. Kesempatan bagus promosi gratis agar kelak si bule bawa lebih banyak turis dari Amerika.


"Kami tahu... Indonesia sangat indah. Penduduknya juga ramah. Kami akan balik bila ada cuti panjang. Aku lama tinggal di Bali." kata Bryan masih terkesan pada kenangan berapa tahun lalu di mana dia tinggal di Bali untuk kelola hotel milik teman.


"Aku pegang janji kalian! Gimana kalau kuantar kalian keliling kota baru balik ke hotel. Dari situ kita ke rumah teman aku."


"Great..setuju! Ayok habiskan minumnya biar kita segera keliling kota." ujar Niken bangkit semangat juang. Tadi Niken sudah membayangkan betapa bosan berada di hotel tunggu esok hari.


Niken mana berani merepotkan Daniel lagi. Adiknya saja sudah cukup merepotkan Daniel berapa waktu ini. Ditambah kehadiran mereka membuat Daniel makin repot. Berhubung Daniel yang menawarkan diri maka dengan senang hati Niken terima semua kebaikan Daniel.


Sebelumnya Daniel hubungi Natasha agar bersiap dijemput untuk gabung dengan Niken malam nanti. Daniel akan pandu Niken dan konconya ke rumah Alvan. Natasha sangat keberatan harus segera tinggalkan Tokcer yang telah mencuri setengah dari jiwanya. Tapi Natasha teringat semua nasehat Tokcer agar jadi anak baik. Tokcer siap menunggunya sampai berhasil selesaikan kuliah.


Di rumah Citra seperti biasa selalu terlihat adem menenangkan hati. Tak ada keributan karena masing-masing sibuk pada urusan sendiri. Azzam dan Afifa curahkan perhatian full pada buku pelajaran karena tak mau gagal dalam ujian naik kelas. Citra dan Alvan punya tugas masing-masing yang harus dikerjakan.


Di luar teras Natasha si bule asyik ngobrol dengan Tokcer agar ada kenangan indah untuk dijadikan renungan di tempat masing-masing. Tentu saja tak ketinggalan berfoto bersama untuk jadi pelipur rasa rindu. Tokcer tak berharap banyak karena sadar orang yang dia kenal ini bukanlah gadis kampung. Pulang ke Amerika mungkin nama Tokcer akan segera kena delete dari kontak batin Natasha.

__ADS_1


Biar perasaan hangat tahi ayam ini berkobar sesaat. Kapan padamnya biarlah waktu yang tentukan. Hanya waktu yang bisa jawab.


Natasha dan Tokcer duduk berdampingan di pembatas teras berupa tembok rendah dilapisi keramik warna biru langit. Tempat duduk keras tapi dingin di pantat. Natasha merapatkan badan ke tubuh Tokcer walau tanpa melakukan hal senonoh. Mereka hanya duduk berdamping agak merapat.


"Kak...apa Kakak akan melupakan Nata?" tanya Natasha lirih penuh nada basah.


"Bagaimana mungkin aku melupakan kamu. Kita kan teman baik. Aku tetap di sini nunggu kamu datang. Mau setahun dua tahun aku tetap di sini." janji Tokcer yakin mampu bertahan pada janji diri sendiri.


"Kakak tidak akan ingkar janji?"


Tokcer meraih tangan Natasha yang putih mulus ke genggaman tangannya yang agak coklat. Mirip kue lapis Surabaya. Satu putih dan selapis lagi warna coklat. Perbedaan yang kontras, itu bagi Natasha di situlah saya tarik Tokcer. Warna kulit Tokcer eksotis.


"Kakak takkan bohong! Asal kamu rajin dan cepat selesaikan kuliah maka kita akan cepat bertemu lagi."


"Iya kak! Nata akan usahakan cepat selesaikan kuliah. Kakak harus rajin kirim kabar ya!"


"Sekarang tak ada jarak di dunia ini. Kita bisa video call dan telepon kalau rindu. Satu lagi kakak minta darimu?"


"Apa itu? Nata akan penuhi asal tidak melawan kata hati."


"Patuh pada orang tua ya! Mereka adalah orang yang memberi kita kehidupan jadi katakanlah mereka adalah pemilik kita."


"Iya kak Nata janji!"


"Ini baru adik kakak. Malam ini kau akan ikut kakakmu nginap di hotel?"


"Iya. Katanya kami akan ke Bali lalu dari sana balik ke Amerika. Kakak mau ikut?"


Kalau diijinkan Alvan mau sekali Tokcer liburan dengan Natasha. Tokcer tentu saja ingin habiskan sisa waktu bersama gadis yang tanpa sengaja menyenggol hatinya. Tapi Tokcer juga tak bisa tinggalkan tugas kawal Azzam dan Afifa. Apalagi kedua anak itu akan bertempur melawan soal-soal ujian.


"Kakak harus kerja. Kumpul duit untuk kunjungi kamu kelak. Kamu baik-baik saja di sana!"


"Iya kak!" sahut Natasha sedih.


Tokcer menepuk punggung tangan Natasha kasih semangat pada gadis ini. Sebelum Tokcer mengeluarkan suara terdengar bunyi klakson mobil di luar pintu gerbang. Perut Tokcer mengeras terasa mules karena tahu itu suara mobil Daniel.


Detik-detik perpisahan makin dekat. Kali ini Natasha pergi ntah kapan balik lagi. Natasha pergi membawa separuh jiwa Tokcer yang terjebak cinta pada pandangan pertama.


Tokcer melihat satpam berlari kecil membuka pintu gerbang besar untuk beri akses pada mobil Daniel masuk ke halaman rumah Citra.


Tokcer tahu diri segera bergeser dari kedekatan Natasha. Tokcer tak ingin tinggalkan kesan buruk pada keluarga Natasha seolah dia pria nakal goda gadis remaja.


Benar saja dugaan Tokcer. Mobil Daniel meluncur masuk berhenti di belakang mobil Tokcer. Tokcer segera berdiri sopan menyambut tamu agung Natasha. Beberapa orang keluar dari mobil membuat jantung Tokcer berpacu kencang. Padahal dia tidak melakukan kesalahan tapi perasaan itu mengalir sendiri.


Natasha berseru gembira jumpa kakaknya. Gadis itu berlari memeluk sang kakak penuh kerinduan. Acara cipika cipiki berlangsung cukup lama berhubung Natasha juga rindu pada kakaknya.


"Dasar anak bandel...bikin orang susah! Ayok kita pulang!" ujar Niken menarik Natasha untuk naik ke mobil.


"Itu bukan cara orang beradat Niken... pamitan dulu sama yang punya rumah. Masa sudah numpang berapa hari main kabur." ucap Natasha bikin Daniel dan Niken terpana. Sejak kapan Natasha kenal dengan kata adat. Bukankah dia itu model selonongan. Siapa guru jitu didik Natasha berubah dalam waktu singkat.

__ADS_1


__ADS_2