ISTERI CEO YANG TERLUPAKAN

ISTERI CEO YANG TERLUPAKAN
Damai


__ADS_3

Pak Jono menduga telah terjadi sesuatu pada istrinya. Namun Pak Jono tak berani bertanya melihat kondisi Alfan jauh dari kata oke. Masalah yang menimpa Alvan sudah cukup banyak. Rasa iba di hati Pak Jono membuncah. Pak tua ini makin merasa bersalah pada Alfan. Dia salah satu penyumbang masalah bagi Alvan.


Pak Jono menghabiskan sarapan yang disediakan perawat tanpa banyak tingkah. Ini Pak Jono harus memperhitungkan setiap langkah yang harus dia lakukan agar tidak membebani Alfan lagi.


Alvan keluar dari kamar mandi dengan wajah lebih segar. Tetapi ada awan mendung bergelantung di wajah Alvan. Untuk sementara Pak Jono memilih pura-pura tidak melihat kesedihan di wajah anaknya itu. Dia harus cari tahu sendiri apa yang telah terjadi pada keluarganya.


"Pa... Apakah Papa bisa ditinggal?" tanya Alvan sambil duduk di samping Pak Jono.


"Memangnya kamu mau ke mana?"


"Aku bisa ke mana dengan kondisi begini? Rencana Alvan ingin membawa Afisa jalan-jalan karena besok dia sudah harus balik ke Singapura."


Pak Jono manggut kecil setuju pada rencana Alvan menyenangkan Afisa. Kali ini Afisa datang ntah kapan lagi dia dapat liburan pulang ke tanah air. Waktu yang singkat ini harus digunakan dengan sebaik mungkin.


"Pergilah bawa Afisa dan Azzam main-main! Papa baik-baik saja di sini! sampaikan salam Opa pada anak-anak kalau Opa tidak dapat menemani mereka."


"Baiklah pa! Alvan akan sampaikan! Kalau papa perlu sesuatu panggil saja perawat ya! Mereka akan datang melayani papa."


Pak Jono goyangkan tangan tanda tak perlu kuatir. Sebagai seorang opa Pak Jono juga berharap Afisa mendapat kenangan manis untuk dibawa ke luar negeri.


"Pergilah! Papa akan tunggu kalian di sini!"


"Terima kasih pa!" Alvan lega pak Jono tidak cerewet tanya tentang mamanya. Kalau ditanya terusan bukan tidak mungkin Pak Jono akan tahu istrinya sedang sekarat.


Alvan meninggalkan ruang rawat Pak Jono mencari Citra. Alvan mau melihat apa Citra sudah bangun belum. Hari ini Alvan tidak akan mengijinkan Citra buka praktek. Istrinya itu cukup lelah menghadapi operasi yang cukup menegangkan. Biasa seorang dokter tidak akan bisa tenang mengoperasi keluarga sendiri. Citra telah berbuat semaksimal mungkin melakukan yang terbaik buat Bu Dewi. Alvan sudah melihat niat baik Citra terhadap keluarganya. Citra bukanya mendendam tetapi berusaha menyelamatkan nyawa orang yang selama ini menghujatnya.


Alvsn cukup kaget melihat di depan ruang praktek Citra telah berkumpul beberapa pasien. Ini menandakan Citra telah membuka prakteknya. Sungguh wanita yang luar biasa. Belum cukup istirahat mamaksa diri melayani orang sakit.


Alvan hampiri perawat yang biasa mencatat para pasien Citra. Waktu itu hanya ada seorang pasien sedang mendaftar. Alvan menunggu pasien itu selesai mendaftar baru mengeluarkan suara bertanya pada perawat itu.


"Maaf sus! Bu dokter sudah bangun?" tanya Alvan.


Perawat itu terbangun mengangguk sopan. Alvan pemilik rumah sakit sekaligus suami dokter andalan rumah sakit. Wajib beri hormat mendalam.


"Apakah Bu Dokter bisa ditemui?"


"Ada pasien di dalam pak!"


"Oh...ya sudah! Aku telepon saja! Jaga kesehatan Bu Dokter! Semalam dia kurang tidur."


"Iya pak! Pasien yang kami terima adalah pasien yang telah pernah berobat sama bu dokter. Pasien baru kami alihkan ke dokter lain."


"Bagus..." Selesai omong gitu Alvan segera meninggalkan tempat praktek Citra. Alvan harus pulang melihat kondisi ketiga anaknya. Terutama janji pada Afisa. Alvan harus bayar janji agar Afisa tidak ilfil padanya.


Dalam perjalanan ke rumah baru Citra, Alvan mengeluarkan ponsel hubungi Citra beri kabar kalau dia sedang menuju ke rumah Citra.


Cukup lama baru tersambung. Mungkin Citra sedang periksa pasien. Alvan harus belajar maklumi keadaan Citra sebagai dokter. Dokter itu milik umum. Bukan milik Alvan pribadi.


Berhubung ponsel Citra belum diangkat Alvan menghubungi Untung agar menghandle masalah di perusahaan. Hari ini Alvan total tidak dapat berangkat ke kantor. Alvan harus temani Afisa seharian sebelum bertolak balik ke Singapura.


Selesai menelepon untung Alvan balik meneleponi Citra. Bagaimanapun Alvan ingin mengabari Citra agar istrinya itu tidak kuatir kemana perginya Alvan. Mamanya sedang dirawat di rumah sakit sedangkan Alvan ngelayap tidak jelas. Ini pasti akan memancing amarah Citra. Lebih baik melapor daripada kena semprot.


"Halo.. assalamualaikum.."

__ADS_1


"Waalaikumsalam...mas di mana?"


"Tadi mas mau masuk ke ruang praktek kamu tapi kata perawat ada pasien di dalam. Makanya mas pergi untuk melihat keadaan anak-anak. Bagaimana perkembangan kondisi mama?"


"Belum sadar tapi seluruh fungsi organ tubuh baik. Semuanya stabil. Semoga beliau cepat sadar biar kita tahu di mana kekurangan dari operasi ini."


"Mas serahkan mama kepadamu! Hari ini mas akan ajak anak-anak main ke mal atau ke mana mereka mau."


"Sebenarnya nggak perlu begitu Mas. Anak-anak akan mengerti kesulitan yang sedang kita hadapi. Mereka bukan anak manja."


"Jangan gitu! Mas harus tepat janji pada anak-anak. Besok Afisa sudah harus balik ke Singapura. Mas ingin memberi kesan baik pada Afisa."


"Terserah mas! Tapi kumohon jangan terlalu memanjakan mereka! Mereka sudah terbiasa hidup apa adanya. Mereka tak butuh segala yang berbau materi yang mereka butuhkan adalah limpahan kasih sayang kita."


"Mas ngerti..kamu pantau terus kondisi mama dan papa. Kalau ada apa-apa kamu segera kabarin aku!"


"Itu tak perlu mas ingatkan! Aku akan berusaha semaksimal mungkin mengurangi tekanan pada kedua orang tua itu.


"Terima kasih. Mas kedua orang tua mas kepada kamu. Mas percaya kamu pasti akan merawat mereka dengan baik. Mas tutup dulu teleponnya. Ini lagi Mas lagi nyetir. Assalamualaikum.."


"Waalaikumsalam..."


Hubungan telepon terputus. Alvan kembali fokus pada jalan raya yang penuh dengan kendaraan lain. Jalanan lumayan macet dikarenakan semua orang memulai aktivitas. Suara dengung klakson terdengar sana-sini meminta mobil di depan agar maju. Semua ingin jadi yang pertama tanpa melihat bagaimana situasi di depan.


Alvan sama saja dengan yang lain ingin cepat-cepat tiba di tempat anak-anak. Alban sudah tidak sabar ingin melihat bagaimana keadaan anak-anaknya ditinggal oleh Citra semalaman.


Sebenarnya rasa khawatir Alvan itu terlalu berlebihan. Anak-anak sudah sering ditinggal oleh Citra kalau praktek malam. Paling mereka dijaga oleh Andi sekeluarga. Toh semua berjalan biasa-biasa tanpa ada keluhan dari mulut anak-anak. Mereka memahami pekerjaan Citra Citra bekerja juga untuk mereka.


Dengan perjuangan cukup lama akhirnya Alvan tiba di rumah baru Citra di samping rumah Bu Sobirin. Sewaktu Alvan tiba di sana sudah ada Tokcer dengan setia menjaga ketiga buah hati Alvan. Azzam dan Afifa sengaja minta libur agar bisa habiskan waktu seharian bersama Afisa.


Alvan segera menemui ketiga anaknya di rumah yang lumayan besar. Alvan menemukan ketiga anaknya sedang main game di ruang tamu ditemani Oma Uyut mereka.


Bu Sobirin duduk baca kitab sambil mengawasi cicitnya bermain di atas hamparan karpet berudu. Bu Sobirin sangat pandai mengambil hati cicit-cicitnya. Kalaupun ketiga anak Alvan lebih suka berada di tempat Bu Sobirin itu tak dapat disalahkan.


"Assalamualaikum..." Sapa Alvan berusaha tampil ceria agar anak-anak tidak tahu dia sedang galau.


Afifa langsung berlari ke arah Alvan begitu dengar suara Alvan. Di kecil menerkam Alvan minta digendong. Dengan senang hati Alvan menggendong buah hatinya.


Sambil menggendong Afifa Alvan temui Bu Sobirin agar jangan dibilang orang bar-bar tak tahu adat. Alvan tetap harus tunjukkan kesopanan.


"Oma..."


"Nak Alvan...ayok duduk! Mamamu gimana?" Bu Sobirin meletakkan kitabnya di atas meja memilih ngobrol dengan bantu cucunya.


"Sudah siap dioperasi oleh Citra. Namun sampai sekarang mama belum sadar. Mama di bawah pantauan Citra."


Bu Sobirin termenung mendengar penjelasan Alvan. Nasib seorang manusia itu tidak dapat kita tentukan sendiri. Setiap saat akan berubah dengan sendirinya. Tak ada yang mampu melawan takdir. Maka itu semakin banyak kita memupuk pahala maka berkah akan datang sendirinya kepada kita.


Bu Dewi telah menanam buah busuk akhirnya tertimpa oleh buah busuk itu sendiri.


"Apakah mamamu akan sadar seperti semula?"


"Aku tak bisa jawab Oma. Hanya Allah yang dapat memberi jawaban yang pasti. Aku tidak akan menyalahkan Citra walaupun apa yang akan terjadi. Dia telah berusaha namun akhirnya yang tentukan bukan Citra melainkan yang di atas."

__ADS_1


"Iya .. memang demikian adanya. Kita hanya bisa berusaha tetapi hasilnya bukan kita yang tentukan."


Alvan mengelus punggung Afifa yang bersatu dengan tubuhnya. Berkat anak-anak ini Alvan menjadi kuat. Tanpa dukungan anak-anak mungkin Alvan sudah tak berbentuk.


"Oma .. bolehkah Alvan ajak anak-anak keluar?"


"Kau sanggup?"


Alvan tersenyum hambar. Sanggup tidak sanggup harus dia jalani. Janji pada anak-anak adalah hutang yang harus dibayar tunai.


"Alvan sudah janji mau bawa anak-anak jalan."


"Oma sih tak ada masalah asal nak Alvan sanggup. Besok biarlah Heru yang mengantar Afisa berangkat ke Singapura Heru memang ada bisnis di sana. Jadi nak Alvan tidak perlu membuang waktu mengantar Afisa."


"Tapi Afisa anakku! Tanggung jawab aku!" tukas Alvan melirik Afisa yang menatapnya.


"Papi tak usah merepotkan diri. Cece bisa kok berangkat sendiri. Oma dan opa lagi sakit. Perusahaan juga perlu papi. kKalau opa Heru kebetulan ada bisnis di Singapura biarlah Afisa mengikut opa Heru saja." kata Afisa sambil mengibas kaki yang agak kebas karena terlalu lama duduk. Gadis kecil ini datang hampiri Alvan seraya duduk di samping Alvan. Niat baik Alvan telah diterima Afisa namun si kecil tak ingin merepotkan Alvan yang cukup banyak problem.


"Tidak sayang ..kalian semua adalah permata papi. Papi ingin yang terbaik untuk kalian." ujar Alvan terharu Afisa mulai bisa bicara dengan lembut padanya. Satu malam saja telah mengubah sosok Afisa yang keras menjadi avisa yang lembut.


Ini tidak terlepas dari peran Azzam yang memberi kuliah gratis pada Afisa. Keduanya lama ngobrol tentang masa lalu Alvan dan Citra termasuk Karin di dalam obrolan. Perlahan Afisa mulai menerima semua penjelasan Azzam. Menjadi seorang Alvan juga tidak mudah. Jalan penuh labirin ketat menghalangi Alvan mencapai tujuan akhir. Andaikata Afisa bersikeras bersikap kasar pada Alvan maka makin jauh langkah Alvan menuju titik akhir.


"Papi tidak perlu merasa bersalah. Papi cukup bayar janji bawa Koko dan Amei ke Beijing selesai ujian nanti! Kita tour seluruh daratan Tiongkok. Masih banyak tempat belum Cece kunjungi seperti great wall, Guangzhou ocean world dan gunung pelangi Zhangye Danxia. Sudah lama Cece ingin ke sana tapi papa dan mama sibuk."


Alvan melepaskan satu tangan dari rangkulan Afifa agar bisa meraih tubuh Afisa dekat dengannya. Alvan ingin sekali menangis diterima Afisa. Namun Alvan menelan air mata dalam hati. Rasa haru Alvan simpan dalam-dalam di dalam hati.


Afisa membalas rangkulan Alvan dengan memeluk papinya di pinggang. Tubuh Afifa sedikit tersingkir gara-gara Afisa memeluk papinya.


Bu Sobirin ikut terharu melihat momen indah Alvan dan Afisa. Azzam yang masih duduk di atas karpet tidak bereaksi hanya matanya berkaca-kaca. Azzam turun berbahagia melihat Afisa bersedia dekat dengan papinya. Artinya Afisa dapat menerima segala penjelasan Azzam mengenai suka duka Alvan selama ini.


"Kita akan ke sana sayang! Kalian belajar yang rajin agar mendapat yang terbaik. kita berlima akan turut seluruh Tiongkok ke manapun Afisa mau." janji Alvan dengan suara serak.


"Cece tak sabar menunggu hati itu. Semoga Cece tidak banyak pertandingan."


"Kapan Cece liburan sekolah?"


"Sekitar bukan Juli. Di sini tahun ajaran baru. Bagaimana kita bisa libur bareng bila jadwal sekolah liburnya beda." keluh Afisa memikirkan kendala tidak seragam waktu liburan.


"Papi akan pikir bagaimana kalian bisa libur bersama. Tahun ajaran baru pelajaran belum banyak. Kita ambil liburan sebelum masuk sekolah. Cuti seminggu gitu!" usul Alvan


"Apa tidak sayang bolos sekolah sampai seminggu hanya untuk liburan?" timpal Azzam ikut bergabung dengan saudara di atas sofa.


Bu Sobirin salut pada Azzam demikian mencintai pelajaran. Utamakan pelajaran daripada liburan. Anak lain bahkan senang kalau liburan tanpa perlu ingat pelajaran sekolah. Apalagi yang malas. Tidak usah masuk lebih bagus.


"Begini saja! Begitu liburan koko dan Amei ke Beijing. Kita libur tempat dekat dulu. Kalau ada waktu kita kunjungi tempat lain." usul Afisa


"Boleh...Afisa liburan ke tempat yang Afisa impikan bersama papa dan mama kamu. Papi yang akan beli tiket dan semua biaya selama kalian tour."


"Boleh?" seru Afisa berbinar. Keluarga Chen bukan keluarga kaya. Liburan jauh butuh biaya cukup besar. Dari mana mereka korek uang sebanyak itu hanya untuk liburan.


"Tentu saja boleh!" kata Alvan mengecup ubun kepala Afisa.


Afifa mencolek Alvan lalu menunjuk kepalanya. Afifa beri kode pada Alvan untuk lakukan hal sama di ubun kepalanya.

__ADS_1


__ADS_2