
"Besok kau ngobrol dengan dia tanya apa kebutuhan dia untuk menikah nanti. Mungkin dia malu pada mas tak berani omong. Dia bisa jujur padamu!"
"Iya mas...semoga apa yang dia lakukan sesuai kata hatinya."
"Kau tak marah pada mas ceraikan Karin?"
"Marah kalau tanpa alasan. Kalau memang Kak Karin menemukan pengganti mas kita harus dukung. Dia di sini juga jadi debu di mata mas. Mungkin di mata ustad dia bisa menjadi sebongkah berlian."
"Amin...terima kasih sudah memahami mas! Jujur mas takut buka cerita. Mas takut kamu salah paham."
"Salah paham kalau tidak ada kejujuran. Aku tak suka bila mas main rahasia. Suka atau duka tetap harus terbuka."
"Mas bukan mau tutupi rahasia ini tapi tunggu moments tepat. Mas sudah cerita pada Azzam tentang perceraian kami."
Citra menjauhkan badan dari Alvan tak percaya Alvan demikian konyol ajak anaknya tukar pendapat tentang Karin.
"Mas cerita pada Koko? Mas lebih takut pada Koko daripada aku?"
Alvan mengangguk lemah. Azzam terlalu mengerikan sebagai seorang anak. Apapun tak luput dari incaran mata anak itu maka Alvan memilih jujur pada Azzam.
"Azzam seperti anak panah! Salah sedikit langsung tancap ke daging. Kalau punya anak lagi aku order biasa saja. Punya dua tiga anak model gitu nafasku akan lebih pendek."
"Mas salah artikan sikap Azzam. Dia itu jadi begini karena merasa jadi anak sulung harus lindungi keluarga. Coba mas bisa jadi papi baik dia pasti akan menurunkan tingkat kewaspadaan."
"Beri aku kesempatan jadi imam kalian! Aku janji akan persembahan seluruh hidupku buat kalian semua. Tak ada wanita lain selain kamu dan kedua tuan putri kita. Mungkin akan tambah lagi satu dua."
"Doakan saja! Besok aku mau teleponi kak Karin! Mas tak keberatan?"
"Kenapa harus keberatan? Mas harap kalian bisa ngobrol sesama wanita. Tanyakan semua kebutuhan pernikahan dia. Kita persiapkan dari sekarang."
Citra menemukan kesungguhan di mata Alvan. Laki itu tidak ragu kucurkan dana untuk Karin sebagai balas jasa telah temani Alvan beberapa tahun ini walau jadi duka buat Citra.
Satu lagi persoalan Alvan clear. Alvan telah mengantar Karin menemukan pelabuhan terakhir. Biduk nya tak perlu berlayar lagi. Selesai di tangan ustad. Malam damai bagi Alvan. Jalannya makin lurus. Liku-liku yang selama ini hantui Alvan terurai satu persatu. Perlahan dan pasti fajar cerah akan menyinari hidup Alvan dan Citra.
Acara minum teh berakhir di tempat tidur. Pasangan ini melepaskan beban menyambut esok penuh harapan.
Seperti hari sebelumnya Alvan mengantar Citra ke rumah sakit untuk bertugas. Laki ini langsung pergi setelah menurunkan istri di tempat kerja.
Citra melapor telah hadir seperti dokter lain. Habis itu baru menuju ke tempat praktek. Di sana sudah ada suster Fitri masih setia menjadi partner Citra. Untuk di dalam Citra telah mendapat pengganti Nadine. Seorang perawat muda yang baru lepas pendidikan.
Citra harus sabar bimbing anak baru yang masih kaku dalam tugas. Citra tak masalahkan kekurangan anak itu, yang penting rajin saja.
"Bu...tadi dipesan pak Hans untuk kumpul di aula! Ada rapat untuk penerimaan dokter magang." lapor Fitri sebelum Citra masuk ke dalam ruangan.
"Baik...terima kasih Fit.. Jasmine di dalam?" tanya Citra pada Fitri mengenai perawat baru pengganti Nadine.
"Ada di dalam...dia takut sekali kalau dipindahkan ke bagian lain! Dia pernah jadi perawat dokter Gerry, tiap hari kena marah."
"Kita yang sabar didik anak baru. Dulu kita kan gitu juga! Kamu jangan ikutan bentak dia ya! Kalau salah kasih tahu yang baik."
"Iya dok! Aku tahu kok! Aku tunda dulu terima pasien sampai ibu selesai rapat."
"Terima saja! Aku akan duluan keluar setelah dapat info. Tak baik biarkan pasien kecewa. Kamu dan Jasmine lakukan seperlunya dulu."
__ADS_1
"Iya Bu!"
Citra masuk ke dalam ruang praktek mencari sosok pemalu pengganti Nadine. Gadis muda itu langsung berdiri siaga begitu Citra masuk.
"Selamat pagi Bu!"
"Pagi...nanti kalau ada pasien layani dengan ramah ya! Ibu mau pergi rapat sebentar."
"Siap Bu! Kalau Jasmine ada salah jangan segan tegur ya! Jasmine takut salah ngasih obat!"
Citra menyimpan tas ke dalam laci lalu ambil ponsel geser ke posisi diam. Di ruang rapat terdengar bunyi ponsel bukan hal sopan. Citra dokter punya etika hargai orang-orang dalam ruang rapat.
Citra menepuk bahu Jasmine sebelum pergi ikuti rapat.
"Kamu bisa...yang penting teliti. Ibu tinggal dulu!"
Jasmine mengangguk pasti dapat semangat dari Citra. Sikap keibuan Citra bikin Jasmine tidak gugup. Makin di marahin Jasmine akan makin kacau. Maka itu Jasmine takut ganti dokter.
Aula rumah sakit dihadiri beberapa puluh mahasiswa kedokteran yang akan segera lulus setelah magang di rumah sakit. Mereka butuh dokter pembimbing untuk sempurnakan pendidikan mereka.
Kehadiran Citra cukup menarik perhatian para mahasiswa. Sosok Citra cantik bertampang anak SMA mendatangkan pertanyaan di hati para calon dokter muda. Citra datang sebagai dokter spesialis atau mahasiswa seperti mereka.
Pertanyaan mereka terjawab tatkala Citra bergabung dengan dokter senior. Semua dokter menghormati Citra tanda Citra seorang dokter senior. Masalahnya dokternya tak mirip dokter punya jam terbang tinggi. Di mata mahasiswa Citra itu anak gadis penggoda hati.
Beberapa mahasiswa berbisik-bisik sambil menunjuk ke arah Citra. Ntah apa jadi topik pembahasan anak-anak itu. Yang pasti kagum pada sosok mungil ini.
Pak Hans naik ke pentas untuk beri kata sambutan pada para dokter dan mahasiswa kedokteran yang bakal magang di situ.
"Assalamualaikum...aku dokter Hans mengucapkan terima kasih pada rekanan dokter yang meluangkan waktu ikut rapat penerimaan mahasiswa mahasiswi magang tahun ini. Tahun ini kita cuma terima lima belas calon dokter. Sepuluh dokter umum dan lima dokter spesialis. Aku harap ada kerja sama sesama dokter untuk bantu adik-adik kita mencapai gelar mereka. Aku akan sebarkan nama dokter senior untuk rekanan mahasiswa. Kalian berhak memilih dokter sesuai keinginan. Sebelumnya kumohon rekanan mahasiswa harus patuh pada arahan dokter pembimbing kalian. Jangan sering keluar jalur agar tercipta kerja sama baik!"
Citra sudah paham tujuan rapat maka secara diam-diam mengundurkan diri keluar dari ruang rapat. Wanita ini tak tahu kepergiannya justru menarik perhatian para mahasiswa. Dokter cantik ini langsung jadi idola para calon dokter terutama yang berjenis cowok.
Citra kembali bertugas di ruang praktek biarkan dokter lain urus para mahasiswa. Citra bukan tak punya empati namun merasa tak punya waktu layani para calon dokter itu. Mereka akan tersiakan bila Citra tak bimbing mereka dengan benar.
Citra tenggelam dalam rutinitas sebagai dokter sampai jam istirahat. Citra ajak Fitri dan Jasmine makan siang bersama sebelum buka praktek lagi. Citra tidak sungkan semeja dengan perawat walau tingkatan mereka berbeda. Citra dokter senior dengan jam terbang lumayan tinggi di meja operasi. Namun Citra hapus segala jurang pembatas. Mereka saling membutuhkan maka tak perlu beri garis pembatas.
Fitri disuruh memesan makanan oleh Citra untuk mereka bertiga. Citra tentu saja bekali Fitri dengan uang. Tak mungkin anak buah bayarin atasan.
Citra dan Jasmine duduk di kursi menanti Fitri beli makanan. Tak lama kemudian Fitri balik bawa minuman. Makanan sama sekali belum di antar oleh Fitri.
"Mana makanannya?" tanya Citra heran Fitri hanya bawa minuman.
"Tanganku cuma dua Bu! Ayo Jasmine bantu angkat nampan!"
"Oh maaf ..aku lupa bantu ambil makanan!" Jasmine tahu diri segera bangkit ikuti Fitri ke stand tempat dia pesan makanan.
Citra menggeleng maklum mengapa Jasmine kurang percaya diri. Anak ini telat mikir. Hal penting saja luput dari perhatian. Seharusnya dari awal dia sadar kalau Fitri tak mungkin angkat semua makanan sendirian. Tak ada inisiatif bantu Fitri.
Orang model gini harus selalu diingatkan dalam bertugas. Citra kuatir kalau Jasmine dipindahkan ke ruang perawatan pasien. Bisa-bisa dia lupa ceking pasien, parahnya lupa beri obat pada pasien.
Kedua perawat itu kembali bawa dua nampan berisi makan siang mereka. Fitri meletakkan hidangan untuk Citra duluan barulah urus makan dia. Citra adalah dokter senior ditambah pula status sebagai nyonya pemilik rumah sakit maka harus diutamakan.
"Jasmine...Fitri...ayo bismillah!"
__ADS_1
"Terima kasih Bu!" sahut keduanya bareng.
Citra duluan mulai angkat sendok agar kedua gadis ini tidak canggung. Selanjutnya mereka membersihkan piring dari makanan. Semua pindah ke perut ketiga wanita dengan sukses.
"Bu dokter..." panggilan nyaring menyita perhatian Citra. Citra tak bisa mengelak panggilan itu untuknya karena di antara mereka bertiga cuma dia yang dokter.
Citra hentikan rencana menyuap sendok terakhir ke mulut. Mulut yang terlanjur terbuka terpaksa ditutup karena ada segerombolan anak muda keliling meja makan mereka.
"Kalian ini?" Citra menatap anak muda itu satu persatu sambil hitung berapa orang anak datang kepadanya. Berlima, tiga cowok dua cewek.
"Ach begini Bu! Kami calon dokter magang. Aku sepesial syaraf jurusan Bu dokter! Aku Laura." seorang gadis membungkuk hormat pada Citra.
"Aku Dahlia..dokter umum!"
"Sobri dokter umum."
"Bryan dokter syaraf!"
"Aku Gilang Bu dokter! Dokter umum. Kami ingin jadi murid Bu dokter."
Citra terpana tak sangka ada lima mahasiswa ingin magang dibawah bimbingan dia. Banyak amat sampai lima orang. Satu saja cukup bikin kepala puyeng apalagi lima siswa. Apa Citra sanggup mengawasi mereka?
"Duduklah! Nggak enak berdiri terus! Apa kalian sudah makan?" Citra berusaha menenangkan diri. Citra cukup kaget dihujani tanggung jawab sangat besar. Mana lagi sebentar lagi dia akan liburan.
"Sudah Bu...kami dengar reputasi ibu sangat bagus di sini maka kami mau belajar di bawah bimbingan ibu." kata Laura dengan suara penuh spirit penuh.
"Aku hanya dokter biasa. Kurasa kalian salah cari orang. Di sini masih banyak dokter senior. Aku bisa rekom kalian pada dokter lebih baik." Citra merendah karena tak sanggup mengemban tanggung jawab sebesar ini.
"Tidak Bu..kami sudah terlanjur jatuh pada ibu pada pandangan pertama. Ibu tak boleh tolak kamu lho! Ini tugas mulia didik kami seperti ibu." ujar Bryan diplomasi. Fitri dan Jasmine tak dapat sembunyikan tawa lihat semangat para dokter muda itu.
Sebenarnya pilihan anak-anak sudah tepat cuma Citra bingung bagaimana harus bawa segitu banyak calon dokter. Biasa seorang dokter paling banyak ambil dua siswa. Ini sampai lima orang.
"Kalian jangan berdiri terus seperti penagih hutang! Nanti orang pikir aku punya hutang segunung. Ayok duduk! Ambil tempat masing-masing!"
Kelima anak muda itu berebutan pilih kursi untuk duduk berdekatan dengan dokter idola mereka. Laura dan Bryan paling semangat karena Citra memang pakar syaraf lulusan luar negeri.
"Terima kami Bu! Kami janji akan jadi anak manis dan patuh pada arahan ibu." kata Gilang tak mau kalah bujuk Citra agar mau jadi pembimbing mereka.
"Aku juga Bu dokter! Aku juga mau ambil sepesial syaraf bila selesai dokter umum. Makanya aku pilih Bu dokter sebagai pembimbing." timpal Sobri
Kepala Citra mendadak membesar karena pusing. Dengar suara anak-anak ini saja kepala Citra pusing. Gimana tiap hari harus dengar ocehan anak-anak full energi ini.
"Begini anak muda...Aku akan cuti Minggu depan! Minggu aku akan cuti dua Minggu jadi untuk sementara kusarankan kalian cari dokter lain dulu. Tunggu aku balik baru kita diskusi lagi! Ok?" Citra menerangkan dengan sabar biar tak dianggap dokter angkuh tolak bagi ilmu.
"Bu dokter mau ke mana? Kami ikut dong!" tukas Laura sesuka hati. Sedang magang mau ikut liburan. Ada niat nggak sih selesaikan kuliah.
"Aku mau keluar negeri jenguk anak-anak aku!"
"Ibu sudah punya anak? Bohong kali.." Laura besarkan mata tak percaya Citra sudah punya pasukan. Citra tak tampak seperti emak-emak punya punya anak berjibun. Tampang masih remaja maka kelima orang itu jadikan dia idola.
"Aduh kalian ini! Apa untung aku bohong? Anakku tiga orang."
"Masa sih? Ibu kayak ABG kok! Aku malah ragu ibu ini dokter spesialis syaraf!" nimbrung Dahlia meneliti wajah Citra apa sudah pantas jadi ibu. Berkali dilihat tetap seperti anak remaja.
__ADS_1
"Kalian yang sopan sama Bu dokter! Bu dokter pakar syaraf terbaik di rumah sakit ini! Kalian jangan ngaco di sini!" bentak Fitri mulai kurang suka anak muda itu meragukan gelar dokter Citra. Meragukan tapi memaksa orang terima mereka jadi murid.
"Oh maaf bukan itu maksudku! Aku bukan meragukan keahlian Bu dokter tapi Bu dokter terlalu muda jadi spesialis. Masih muda cantik lagi." Dahlia menjadi tak enak hati salah omong. Bukan niat hati melecehkan gelar Citra tapi tampang Citra imut jauh dari kesan dokter berpengalaman. Citra lebih cocok jadi anak sekolahan.