
"Bukan...ada sedikit salah paham antara aku dan Azzam." Alvan bercerita sejujurnya pada Citra tentang foto yang tersimpan dalam komputernya. Itu hanya foto lama. Alvan tak mau terjadi salah paham berkepanjangan dalam keluarga.
Citra tersenyum tidak terlalu ambil hati karena tahu masa lalu Alvan itu bagaimana. Azzam hanya anak kecil. Citra tidak terlalu ambil hati karena tahu Alvan tentu tak mungkin demikian kejam langsung menghapus kenangan bersama Karin. Citra juga tak senang punya suami tak punya hati.
"Mas...aku tidak peduli bagaimana masa lalu mas! Yang kita lihat masa depan. Kalau Azzam masih curiga pada mas maka mas harus lebih giat cuci pikiran Azzam biar tidak terjadi salah paham makin panjang. Kita tidur saja. Besok masih banyak tugas menanti kita."
Alvan surprise Citra menerima kesilapan tidak menghapus semua foto di komputer. Alvan sendiri nyaris melupakan foto-foto. Banyak sekali kejadian menyita seluruh perhatian Alvan. Untung satu persatu mulai terurai.
Punya isteri bijak sungguh nikmat. Semula Alvan mengira Citra akan beri reaksi sama dengan Azzam. Ternyata Alvan terlalu banyak pikir menciptakan bayangan buruk pada diri sendiri.
Citra mencari posisi nyaman untuk melanjutkan rencana harungi lautan mimpi. Hal yang tak perlu jadi beban jangan dibawa ke dalam hati. Nanti akan menjadi bibit penyakit menyakiti hati sendiri.
Hari yang dijanjikan tiba juga. Heru mengawal anak-anak Alvan dan Gibran liburan ke tempat Afisa sekalian jumpa orang tua mereka yang sedang berobat di sana. Semua ikut mengantar ke bandara untuk melihat keberangkatan orang-orang tercinta. Citra berusaha tegar kehilangan anak-anak untuk sementara waktu. Memang waktu singkat mereka akan segera berkumpul di Beijing. Begitu Heru balik, pasangan Citra dan Alvan akan segera menyusul ke sana.
Citra ingin menangis di hadapan anak-anaknya tapi malu. Anak-anak saja tegar masak sebagai mami Citra bertingkah cengeng. Acara berpelukan berulang-ulang terjadi pada perpisahan ini.
Yang paling lucu adalah Andi tidak dapat menahan air mata tatkala harus berpisah dengan Azzam dan Afifa. Andi tidak malu menangis tersedu-sedu seperti kehilangan kekasih tercinta. Yang lain hanya menahan rasa haru karena tidak dapat berjumpa dengan Azzam da Afifa dan waktu yang cukup lama. Butuh waktu 3 minggu untuk bisa berkumpul kembali.
Setelah Heru dan anak-anak berangkat Alvan dan Citra berangkat ke rumah sakit. Kali ini Alvan ingin Citra memeriksa tentang keluhan penyakitnya. Kebetulan hari ini Alfan tidak banyak tugas di kantor. makanya waktu yang sangat tepat untuk mengobati penyakit Alvan.
Sebenarnya Citra merasa penyakit Alvan bukanlah penyakit yang urgen harus segera diobati. Dan lagi Citra juga belum siap menambah momongan dikarenakan kesibukan di rumah dan di rumah sakit. Berhubung Alvan selalu mendesak mau tak mau Citra harus meluluskan permintaan suaminya itu.
Sesampai di rumah sakit Alvan ditangani sesuai prosedur seorang pasien. Di CT scan serta MRI untuk lihat di mana sumber penyakit Alvan. Citra lakukan yang terbaik untuk suaminya. Citra hanya perantara, yang bisa tentukan apakah Alvan bisa sembuh total tergantung kuasa Tuhan.
Alvan tidak bisa langsung dioperasi karena Citra harus pelajari di mana kesalahan syaraf Alvan. Tidak mungkin Citra babi buta operasi suami bila belum ada diskusi dengan dokter senior. Gimanapun Citra butuh masukan agar operasi berjalan sukses.
Seusai jalani rangkaian test Alvan mengajak Citra makan siang berduaan. Mereka berdua bagai pasangan baru pacaran. Tak ada gangguan dari kiri kanan. Dulu mereka tak sempat nikmati bersamaan karena salah teknis. Kini Alvan membayar waktu yang terbuang memulai hubungan dari awal.
Alvan sengaja bawa Citra makan di restoran yang agak jauh dari keramaian biar kebahagiaan mereka tidak terusik oleh hiruk pikuk orang lain.
Alvan menarik kursi buat Citra layak lelaki gentle terhadap wanita. Suara gemercik air terjun buatan di sekitar resto menambah keromantisan pasangan tua di recycle ulang.
Alvan meraih tangan Citra lalu mengecupnya lembut. Entah itu tanda cinta atau tanda terima kasih atas semua kesabaran Citra. Citra hanya tersenyum simpul menanggapi kemesraan Alvan.
"Terima kasih sayang...baru hari ini kita bisa bicara tenang tanpa gangguan."
"Tiap hari kita bicara. Anak-anak toh bukan pengacau!"
"Isshhh..rusak deh semua rencana aku gombalin kamu!"
"Sudah tua mas! Bukan masa kita sok remaja. Sudah ada rambut putih di pelipis mas!"
"Masak? Aku tak merasa tua."
Citra lagi-lagi umbar senyum sejuk bikin hati Alvan makin terpanah. Mereka tidak pacaran di jaman dulu, tiap hari hanya ada lengkingan Karin dan kata hinaan dari Alvan.
Semua telah berubah. Citra telah balikkan keadaan menjadi the Winner. Citra keluar sebagai pemenang dari persaingan merebut Alvan.
"Aku mencintaimu Citra! Maukah kamu menjadi isteriku untuk selamanya?" tanya Alvan serius. Ketegangan tersirat di wajah ganteng itu.
Citra sengaja tak segera jawab untuk beri rasa tegang pada Alvan. Pertanyaan ini seharusnya diucapkan sepuluh tahun lalu. Apa tidak terlambat diucapkan sekarang?
"Kau sedang melamarku? Mana cincin lamaran?" olok Citra membiaskan rasa tegang Alvan.
__ADS_1
"Iya...secara resmi aku melamarmu jadi isteriku selamanya. Cincin? Ada..." Alvan berdiri merogoh saku celana mengeluarkan satu kotak berudu warna biru tua.
Alvan membuka kotak itu perlihatkan sebentuk cincin bertahta batu berlian. Kilauan batu itu mengundang rasa kagum pada pengunjung lain. Cincin itu jelas bukan cincin seharga jutaan tapi ratusan juta. Dalam pikiran mereka sungguh beruntung wanita yang dapat cinta dari lelaki ganteng pastinya kaya.
Citra menutup mulut tak sangka Alvan berubah romantis sediakan acara lamaran yang tertunda sepuluh tahun.
"Beginikah cara melamar cewek? Nggak berlutut?" goda Citra ingin menyusahkan Alvan.
Seorang CEO kaya raya apa mungkin mau berlutut rendahkan harga diri demi seorang cewek yang telah memberinya tiga orang anak.
Alvan melirik kiri kanan agak malu karena semua mata mengarah padanya. Semua menanti kesungguhan Alvan utarakan cinta tulus pada Citra.
Alvan mengalah berlutut bertumpu pada satu kaki. Tangan Alvan mengangsurkan cincin kepada Citra berharap wanita itu ulurkan jari tangan untuk memakai cincin tanda ikatan.
Citra agak jengah Alvan benar-benar melakukan permintaan Citra padahal Citra hanya iseng menggoda Alvan. Mereka bukan pasangan baru menikah, keromantisan model gini mungkin tak laku lagi.
"Ayok terima nona..." seru pelayan restoran yang ikut euforia acara lamaran telat Alvan.
"Terima .."
"Terima..." puluhan suara meminta Citra menerima lamaran Alvan. Mereka tentu tak tahu Alvan dan Citra adalah pasangan suami isteri. Cuma dulu Alvan tidak ucapkan kata lamaran.
Citra ulurkan jari manis menerima cincin Alvan agar laki itu tak malu. Bagaimana bila ada yang kenal Alvan? CEO group Lingga romantis melamar cewek di tempat umum. Jamin jadi santapan media.
"Cium dong!" seru ntah suara dari sudut mana.
"Cium..."
"Cium..."
Tepuk tangan bergema merestui pasangan ini. Alvan melepaskan Citra lantas membungkuk tanda terima kasih.
"Terima kasih saudaraku! Hari ini makan siang kalian masuk bon aku! Anggap kita berpesta untuk aku dan isteri aku. Wanita ini adalah isteri yang telah kunikahi sama sepuluh tahun. Aku melamarnya lagi agar bersedia dampingi aku hingga akhir hayat. Terima kasih."
Lagi-lagi Alvan mendapat aplaus dari pengunjung restoran. Pidato singkat Alvan membuat mereka makin salut pada pasangan ini. Sudah menikah sepuluh tahun masih ada acara lamaran romantis.
"Romantisnya. Aku juga mau lamar isteri aku enam tahun lagi. Sekarang pernikahan kami baru empat tahun." ujar salah satu pengunjung menatap isterinya. Isterinya tentu saja bahagia mendapat janji setia dari suami. Semoga mereka langgeng kayak Alvan dan Citra.
"Aku juga..."
Suara janji setia berdengung sana sini. Alvan dan Citra termasuk telah berbuat kebajikan jadi inspirasi bagi pasangan muda untuk gandengan bersama hingga akhir hayat.
Alvan memesan makanan tanpa banyak mengandung lemak. Usia Alvan mulai harus jaga kesehatan agar tak menimbun lemak jahat. Lemak kolesterol yang jadi momok bagi manusia sekarang ini.
Citra tak habis mengagumi cincin pemberian Alvan. Sangat pas di jari dan tampak indah di jari tangan tepat.
"Kau suka?" tanya Alvan senang Citra puas pada pilihannya.
"Suka...pasti bukan mas yang pilih!"
"Kok omong gitu? Mas beli ditemani Daniel. Ini sudah lama mas persiapkan! Tunggu moments tepat melamarmu lagi. Sekarang kamu resmi jadi pacar Alvan."
Citra terkekeh digoda Alvan. Sudah jadi isteri diajak pacaran lagi. Ini mengundang tawa cicak di dinding. Diam-diam mengintip pasangan tua ini ulang pacaran.
__ADS_1
"Aku jadi pacar mas lalu gimana mami dari anak-anak mas? Aku jadi perusak rumah tangga mas dong!" timpal Citra menambah kekonyolan mereka.
"Itu akan kutangani! Aku akan jujur sudah punya pacar bernama Citra. Di luar aku pacar Citra dan di rumah aku suami dari mami anak-anak aku. Gimana? Adil kan?"
Citra mencubit punggung tangan Alvan gemas digoda balik. Tak urung Citra bahagia digombalin Alvan. Wanita seluruh dunia tetap senang digombalin walau tahu kadang itu bohong. Citra juga wanita maka senang saja digombal suami sendiri.
"Nah...sekarang aku mau tanya kapan rencana operasi aku?"
"Mas...kasus mas tidak sulit karena tidak tertekan oleh tulang. Tadi aku takut syaraf mas terjepit di antara tulang. Syukurlah tidak terjadi! Masalah operasi aku harus diskusi sama dokter spesialis andrologi. Mereka lebih ngerti struktur dan fungsi sistim reproduksi pria. Aku ini dokter syaraf. Harus ada kerja sama. Mas sabar dulu. Hasil mas sudah kuserahkan pada dokter bagian andrologi."
"Gitu ya! Betapa rumit dunia medis."
"Tidak juga...kami yang berkecimpung di dunia kesehatan tidak merasa kesulitan. Mungkin tangani proyek lebih sulit cuma di dunia medis butuh tanggung jawab besar karena menyangkut nyawa manusia."
"Mas paham. Kita berdiri di atas keahlian masing-masing. Mas tak paham kerja kamu makanya Mas merasa sangat sulit. Sementara kamu merasa dunia Mas juga sulit dicerna. Maka itu kita harus saling menghormati profesi masing-masing."
Citra mengangguk setuju pada perkataan Alvan. Setiap manusia mempunyai kelebihan dan kekurangan. Tak ada seorangpun sanggup meraup semua profesi dalam satu badan.
"Seharusnya memang begitu mas! Oya...ada kabar kak Karin?"
Alvan menegang mendengar Citra ungkit nama Karin. Citra belum tahu kalau Karin telah menjadi mantan Alvan. Wanita itu sudah tak ada sangkut paut dengan Alvan lagi. Alvan juga telah penuhi kewajiban transfer dana sebagai pemberian ikhlas. Karin memang tak minta namun Alvan masih hati nurani tidak biarkan Karin hidup tanpa pegangan.
Alvan diselamatkan oleh kehadiran pelayan menghidangkan makanan pesanan Alvan. Makanan yang masih mengepul asap mencolek hidung Alvan dan Citra. Alvan tak ingin jawab pertanyaan Citra pura-pura sibuk hidangan di meja.
"Selamat menikmati hidangan pak Bu!" pelayan itu mempersilahkan pasangan ini mulai menyantap hidangan.
"Terimakasih...nanti semua pengunjung masukkan ke bill aku!" kata Alvan yakin sanggup bayarin pengunjung yang tidak terlalu banyak.
"Siap pak!" pelayan itu mengundurkan diri.
Alvan membantu Citra ambil lauk pauk ke piring. Cara makan anak baru pacaran. Saling mengisi piring, lama menikah saling lempar piring pula. Sama-sama gunakan piring sebagai penghias mahligai rumah tangga. Pertama saling berbagi piring, selanjutnya saling lempar piring. UFO beterbangan di dapur rumah sebagai korban keganasan tuan rumah yang perang dunia ketiga. Semoga piring terbang tak terjadi di rumah tangga Citra ke depannya.
"Setelah makan kita pergi nonton ya!" usul Alvan ingin gunakan waktu senggang ini sebaik mungkin. Jarang mereka dapat kesempatan habiskan waktu bersama. Sama-sama punya tanggung jawab tugas.
"Aku masih harus operasi jam empat nanti mas!"
Alvan menaikkan alis kecewa Citra menolak ajakannya. Tapi mampukah Alvan menentang Citra lakukan kewajiban sebagai dokter. Citra bukan pergi bermain namun memberi kehidupan pada orang yang membutuhkan.
"Jam berapa selesai?"
"Target satu jam, bisa kurang bisa lebih dikit. Kami sudah perhitungkan waktu operasi karena perhitungan waktu anastesi harus dijaga. Jangan sedang operasi orangnya siuman."
"Emang pernah gitu?" Alvan takjub bayangkan operasi sedang berlangsung orangnya sadar. Gimana kacaunya ruang operasi dapat kasus begini.
"Pernah tapi bukan aku dokternya. Aku hanya dokter bantu. Pasiennya seorang pemabuk juga konsumsi obat terlarang jadi dia sudah agak kebal terhadap obat. Jadwal dua jam tapi satu jam dia mulai sadar. Untunglah kami cepat tanggap suntik anestesi lokal!"
"Lalu gimana reaksi dia?"
"Kami tambah anestesi bius agar dia tidak melawan. Orangnya parah. Siap operasi tiap hari bikin ulah. Aku pernah dia gampar gara lukanya terasa perih. Obat pereda sakit tidak mempan. Jalan satunya beri dia obat penenang biar tidur. Itupun tidak lama."
Alvan menatap kasihan pada Citra. Niat mau membantu malah dijadikan lahan pelampiasan amarah. Citra tersenyum getir ingat suka duka di awal jadi dokter bedah syaraf.
"Kalau kau tak sanggup berhenti saja! Aku sanggup biayai hidupmu kok!"
__ADS_1
Citra tertawa sambil menyuapkan sayur brokoli ke dalam mulut. Sayuran hijau yang amat berguna bagi kesehatan.
"Kalau tantangan sekecil gitu aku menyerah aku tak pantas di wisuda jadi dokter."