
Andi dan Bu Menik sudah menanti kepulangan Afifa dengan hati was-was. Keluarga Bu Menik sudah anggap Citra dan anak-anaknya seperti keluarga sendiri. Hubungan baik terjalin sejak Citra pindah ke situ. Bu Menik kasihan pada Citra mengurus dua anak tanpa suami. Citra jadi ibu sekaligus bapak bagi kedua bocah itu. Maka itu Bu Menik ringan hati membantu Citra menjaga Afifa dan Azzam kalau Citra pergi kerja. Secara tak langsung kedua anak Citra dekat dengan Bu Menik sekeluarga.
Kini Afifa sudah berada kembali di rumah sederhana namun surga bagi anak-anak Citra. Di situ ada kehangatan yang tak dapat digambarkan ke atas kanvas. Sesuatu yang hanya bisa dirasakan lubuk hati.
Bu Menik menyediakan singkong goreng dilumuri karamel gula pesanan Azzam. Makanan murah meriah kesukaan Azzam. Lajang kecil itu langsung comot begitu disuguhkan Bu Menik. Afifa ingin makan namun teringat kata dokter kalau dia belum boleh makan gorengan. Afifa terpaksa tahan selera.
Bu Menik melihat keraguan di wajah Afifa untuk santap gorengan lezat. Bu Menik mengambil sepotong lalu berikan pada Afifa. Dilarang makan bukan berarti Afifa tak boleh makan sama sekali. Satu potong sekedar penuhi selera mungkin tak langgar nasehat dokter.
"Makanlah sayang!"
Afifa ragu menerima pemberian Bu Menik. Takut gara makan gorengan masuk rumah sakit lagi. Membayangkan rasa bosan di sana cukup menjatuhkan mental Afifa.
"Tapi kata dokter Amei tak boleh makan gorengan."
"Satu potong tak jadi racun. Nenek jamin. Ini nenek buat khusus untuk Koko dan Amei. Setelah makan banyak minum ya!"
Tangan mungil Amei menerima potongan ubi sedikit ragu. Namun senyum Bu Menik menenangkan Afifa lanjut santap penganan rakyat kalangan menengah. Perlahan ubi tersebut pindah ke mulut Afifa. Azzam tidak terlalu peduli obrolan Afifa dan Bu Menik. Azzam fokus habisin gorengan lezat buatan Bu Menik. Ntah berapa potong berpindah ke perut lajang itu.
Sementara itu Citra sibuk di dapur masak untuk makan siang. Di Kulkas mulai kosong karena berapa hari tidak belanja. Kapan sempat belanja karena asyik merawat Afifa di rumah sakit. Masih untung rumah dalam kondisi bersih tidak menyita waktu Citra kerja bakti bersihkan rumah.
Citra bermaksud pergi belanja pas ada yang bantu jaga kedua kurcacinya. Kalau Bu Menik repot maka Andi akan jadi baby sister dadakan. Ntah ke mana cowok bertulang lunak itu. Dari tadi tak tampak batang hidungnya. Tak biasa Andi libur datang ke rumah bila ada Azzam dan Afifa.
"Bu...Andi mana?" tanya Citra tak jua jumpa Andi.
"Katanya lagi fotokopi KTP untuk buat surat lamaran kerja. Benarkah papi Azzam mau terima Andi?" Bu Menik balas bertanya meragukan kesungguhan Alvan terima Andi kerja di kantor.
"Insyaallah..Bu...Citra mau belanja sebentar! Bisa titip anak-anak?"
"Belanja apa? Untuk makan siang sudah ibu siapkan! Kamu istirahat sehari dulu. Lihat wajahmu lecek! Nanti ibu antar ke sini makan siangnya."
Citra bersyukur punya tetangga sangat baik. Di jaman sekarang sudah langka rasa persaudaraan tanpa ikatan darah. Yang ada ikatan darahpun kadang saling memusuhi dengan berbagai alasan. Yang paling sering terjadi adalah gara-gara rebut harta. Demi materi tak jarang saling menghabisi satu sama lain. Harta berdiri di atas nafsu manusia serakah.
"Terima kasih Bu! Citra tetap harus belanja. Semua mulai kosong."
"Biar ibu yang belanja! Kau urus anak-anak saja. Buat catatan di kertas. Kadang ibu suka lupa kalau sudah di pasar."
"Apa tidak merepotkan ibu?" Citra makin tak enak hati terusan merepotkan orang tua itu.
"Huusss...ngomong apa itu? Ayo cepat tulis!" Bu Menik mendorong Citra agar mencatat belanjaan agar semua terbeli.
"Iya Bu!"
Di tempat lain. Alvan berada di rumah orang tuanya mengurus mamanya berangkat ke Kalimantan. Saudara sepupu Alvan datang dari Kalimantan khusus jemput Bu Dewi. Pak Jono tak berkutik lihat isterinya berangkat jauh tanpa dia dampingi. Cara Alvan termasuk kejam memisahkan kedua orang tuanya.
Alvan tak punya pilihan lain selain amankan sang mama dari rasa sedih yang bisa membunuhnya. Kelakuan Pak Jono dan Karin bisa dikategori kelakuan setan. Hanya manusia berhati iblis sanggup melakukan hal memalukan itu.
__ADS_1
Alvan masih menjaga nama baik keluarga Lingga. Kalau bukan ingat itu ingin rasanya Alvan hajar kedua manusia terkutuk itu.
Alvan dan Pak Jono mengantar Bu Dewi ke bandara di mana Abdullah anak On Khairul sudah menanti. Alvan muak lihat tampang Pak Jono bersedih. Kesedihan dibuat-buat cari simpati Bu Dewi.
Suasana Bandara tidak seramai dulu karena banyak prosedur dan pemeriksaan sejak merebak wabah covid 19. Yang punya kartu vaksin tidak terlalu dipersulit. Bagi yang belum vaksin adalah musibah bila ingin melakukan perjalanan. Banyak pemeriksaan bahkan ada yang batal terbang gara tak bisa penuhi protokol pemeriksaan.
"Dewi...begitu sampai kasih kabar pada mas ya!" pinta Pak Jono lebay sok sedih.
"Aduh mas! Perginya cuma seminggu. Kalau mas selesai tugas di Jogja kan bisa susul. Jaga diri baik-baik! Jangan ngerokok ya! Jangan telat tidur!" Bu Dewi memberi senyum damai pada Pak Jono. Andai Bu Dewi tahu kelakuan bejat sang suami apa masih ada senyum tulus itu? Mungkin Bu Dewi akan hajar suaminya sampai keok.
"Mama tenang saja! Papa ada obat anti ngantuk kok!" sindir Alvan melirik papanya. Pak Jono tertawa pahit ngerti makna kalimat Alvan. Masih untung Avan tidak anarkis hajar papa tak punya moral.
"Obat apa? Macam saja kamu ini! Oya mana Abdullah? Kok belum datang?" Bu Dewi edarkan mata cari keponakannya yang khusus datang dari jauh hanya untuk jemput dia. Satu penghormatan besar bagi Bu Dewi dijemput sama keponakan bertugas sebagai Kadis di salah satu instansi pemerintah Kalimantan.
"Lagi urus tiket cek in! Mama boleh lama di sana kalau betah."
"Mana boleh mama lama. Kau tahu Karin sedang hamil. Mama perlu pantau kesehatannya." sahut Bu Dewi polos belum ngerti siapa bapak dari anak di kandungan Karin. Coba kalau tahu, Karin auto diusir jauh dari lingkungan Lingga.
"Mama tak perlu kuatir. Anak Karin anak badak! Dia kuat karena tercipta dari api bawah tanah." Alvan kembali menyindir Pak Jono.
Pak Jono mendehem malu harap Alvan tak provokasi mamanya. Bisa meletus perang dunia ketiga.
"Kamu kok ngawur terus? Salah sarapan ya! Eh itu Abdullah! Wah keren keponakan mama!"
Dari jauh seorang lelaki bertubuh kekar datang hampiri kelompok keluarga Lingga. Di wajah laki itu terukir senyum lebar. Abdullah tidak setampan Alvan namun punya kharisma tersendiri. Kulitnya gelap khas kulit orang Asia. Wajahnya sangar cermin betapa kokoh jiwa laki ini.
"Lumayan...sudah beres?" Alvan maju menyalami Abdullah. Cukup lama mereka tak jumpa. Terakhir jumpa empat tahun lalu waktu Alvan kecelakaan mobil.
"Sudah...tinggal tunggu panggilan boarding! Tante Dewi mau balik jadi orang Banjar ya!" gurau Abdullah bikin hati Pak Jono perih. Kalimat yang paling tak dia sukai. Dewi keturunan orang Banjar Dayak. Mereka sangat agamis, suka berkeluarga dan sangat mencintai kelompoknya. Kalau orang berpikir suku Dayak primitif berpola pikir kanibal itu hanya sekedar mitos. Itu kejadian jaman dulu. Suku Dayak kini memiliki sifat peramah dan pencinta selama wilayah mereka tidak diganggu.
"Huusss...Tante hanya berkunjung sebentar. Kasihan om Jono tak ada yang urus kalau Tante pergi lama." ujar Bu Dewi meralat ucapan Abdullah.
"Mama tak usah kuatir. Papa susah tua bisa urus diri sendiri. Mama bersenang sampai puas. Kalau bosan nanti biar Alvan yang jemput. Ya kan Dullah?"
"Alvan benar Tante... lama-lama pulang sekali! Mainnya sebentar saja. Kan rugi buang ongkos. Pokoknya harus berapa purnama."
Alvan tersenyum senang Abdullah wakili dia menahan Bu Dewi di Kalimantan. Alvan tak perlu kuatir lagi mamanya akan pulang cepat. Alvan berharap mamanya pulang setelah badai dalam keluarga reda. Harus ada satu keputusan mengenai hubungan Karin dan Pak Jono. Belum lagi masalah HIV yang sedang berkembang dalam tubuh Karin.
Alvan sendiri waspada ingin lakukan cek up terhadap diri sendiri. Dia adalah suami Karin. Bisa saja tertular walau terakhir mereka hubungan sebelum Karin ketangkap basah dengan Zaki. Bisa jadi Karin dan Zaki hubungan dari dulu.
Panggilan boarding pesawat ke Kalimantan berkumandang. Seluruh penumpang diminta masuk ke gate ditentukan untuk penerbangan ke Kalimantan. Abdullah mengambil alih bawaan Bu Dewi agar bisa ke tubuh pesawat.
"Tuh sudah dipanggil! Kita berangkat Tante!"
Bu Dewi mengangguk tak rela meninggalkan anak dan suami. Kalau bukan adik kandungnya yang undang Bu Dewi berat tinggalkan keluarga melakukan perjalanan jauh.
__ADS_1
Tak urung mata Bu Dewi berkaca-kaca menahan rasa sedih. Pak Jono salah tingkah ingin menahan Bu Dewi tak punya nyali. Kepergian Bu Dewi akan bangun neraka bagi Pak Jono. Ntah tindakan apa akan dilakukan Alvan bila mamanya telah aman.
"Hati-hati ya ma! Tak usah memikirkan kami di sini. Semua akan baik-baik saja. Nikmati liburan bersama keluarga di sana." Alvan memeluk mamanya sebagai sama perpisahan. Alvan menepuk bahu mamanya dengan rasa iba. Wanita sebaik Bu Dewi sial ketemu laki mesum macam Pak Jono. Alvan berjanji akan bayar rasa sakit hati mamanya. Yang salah tetap harus terima hukuman.
"Iya...jaga papa dan Karin ya! Karin itu teledor. Kamu harus rajin ingatkan Karin cek kandungan."
"Mama tak usah kuatir. Cucu mama sehat semua." Alvan berkata demikian bukan untuk anak Karin tapi anak-anak Citra. Peduli amat sama anak haram di perut Karin.
Bu Dewi tidak menyimak kalimat Alvan yang rada aneh. Bu Dewi galau harus pergi jauh di saat ada kabar gembira di keluarga. Anak di perut Karin sudah dinanti bertahun-tahun lalu. Bu Dewi takut terjadi sesuatu pada anak itu soalnya Bu Dewi kenal baik sifat buruk Karin. Menganut pola hidup tak sehat.
Abdullah menggandeng tangan Bu Dewi agar segera masuk ke gate boarding. Panggilan kedua sudah berkumandang. Pesawat tak mungkin menanti penumpang yang lelet.
"Mama pergi ya! Mas jaga kesehatan!" seru Bu Dewi masih berat langkah.
Alvan manggut begitu juga Pak Jono. Mereka berdua menanti sampai bayangan Abdullah dan Bu Dewi hilang dari pandangan mata. Kini tinggal dua anak bapak. Suasana berubah jadi kaku sepergi Bu Dewi. Alvan menatap papanya dengan pandangan memandang rendah.
"Alvan pergi dulu!" Alvan ucapkan kalimat pendek lantas tinggalkan Pak Jono termangu di bandara.
"Alvan tunggu..." seru Pak Jono menahan langkah Alvan.
Alvan berhenti menanti apa yang akan diucapkan papanya. Setiap perkataan Pak Jono seperti kalimat sampah bagi Alvan. Tega sekali laki itu melukai hati orang terdekatnya.
"Ada apa lagi?"
"Anak itu tak bersalah. Yang salah papa dan Karin. Papa mohon kamu terima anak itu. Anggap itu anakmu! Lupakan semuanya! Kita kembali seperti dulu!"
"Papa tidak berada di posisi aku maka tak tahu bagaimana sakitnya aku! Dikhianati orang terdekat. Apa sih isi otak kalian? Aku tak butuh anak itu sebagai anak. Akui saja anak itu sebagai anakmu!" ketus Alvan tidak mau beri kata maaf pada Karin dan Pak Jono.
"Lalu papa harus bagaimana agar kamu memaafkan papa dan Karin?"
"Maaf??? Segampang itukah? Karin itu mengidap virus HIV. Anak dalam perutnya juga bakal kena. Itu anak yang mau jadi pewaris kekayaan keluarga kita? Aku tak butuh anak gitu."
"Karin kan belum tentu HIV...belum ada bukti."
"Semua wanita yang pernah berhubungan dengan Zaki terpapar virus itu. Tak ada yang lolos. Karin sering hubungan dengan laki itu. Kau dan aku juga harus cek di rumah sakit. Kita bisa saja kena."
Pak Jono termenung bingung harus omong apa lagi. Semua ini gara-gara rencana busuk Karin. Pak Jono terjebak oleh kenakalan Karin. Pak Jono bukan mau cuci tangan berbuat seolah dia juga korban Karin. Pak Jono tak menyangkal terpikat tubuh ranum Karin. Bu Dewi sudah berumur tak bisa melawan pesona Karin.
"Lalu apa keluarga kita harus berhenti di sini? Papa anak tunggal dan kamu juga anak tunggal. Ke mana akan dibawa semua ini?"
"Papa tak perlu kuatir! Alvan akan punya keturunan darah daging sendiri yang akan warisi semua harta keluarga Lingga. Tak perlu anak haram kalian. Sekarang papa berangkat ke Jogja hindari Karin. Jauhi dia dulu!"
"Apa yang akan kau lakukan padanya?" panik Pak Jono mengira Alvan akan melukai Karin. Selama Karin belum terdeteksi mengidap virus HIV masih ada harapan bagi keluarga Lingga punya penerus.
"Aku takkan melukainya. Aku akan bawa dia test HIV dan kontrol bayi di perutnya. Aku masih punya moral."
__ADS_1
Pak Jono menarik nafas lega. Pak Jono sudah duga Alvan akan terima anak Karin walau dengan terpaksa. Anak itu satu-satunya tumpuan harapan Lingga. Sayang Pak Jono tak tahu di salah sudut kota tersembunyi tiga sosok anak mengalir darah Lingga. Anak kandung Alvan.