ISTERI CEO YANG TERLUPAKAN

ISTERI CEO YANG TERLUPAKAN
Kenalan Orang Hebat


__ADS_3

Cahaya warna jingga makin memudar sisakan cahaya remang keabuan. Mentari akan segera kembali ke peraduan. Alvan mengajak anak-anak kembali ke villa untuk tunaikan sholat magrib.


Keluarga Thomas sedikit kecewa Alvan menolak undangan makan mereka. Tampaknya mereka memang ingin menjalin persahabatan dengan keluarga Alvan namun Alvan tidak ingin momen indah ini terkoyak oleh kehadiran pihak ketiga.


Alvan mengiring anak-anak dan isteri balik ke villa sewaan mereka. Rencana Alvan ingin makan di pantai bersama anak-anak buyar karena adanya keluarga bule ikut gabung. Malam ini Alvan bawa anak-anak makan di restoran tak jauh dari villa. Hari ini mereka juga lelah bermain satu sore di pantai.


Alvan tak ingin batasi ruang gerak anak-anak cari tempat jauh dari keramaian seperti yang dilakukan orang kaya lain. Berbaur biar anak-anak bisa melihat kehidupan bermasyarakat lebih luas. Bukan bergaul dengan segelintir orang-orang dari kalangan the have.


Gibran mungkin terdidik berada di lingkungan orang-orang tertentu. Sedangkan Citra membangun mental anak-anak dari bawah menuju ke atas. Karena dipupuk dari dasar maka tatkala mencapai puncak dasarnya telah kokoh.


Sesuai sholat magrib ntah dari mana sudah ada mobil menjemput mereka. Mobil dengan badan lebar lengkap dengan supirnya. Citra tidak tahu dari mana Alvan dapatkan fasilitas mendadak ini. Citra yang tak terbiasa dapatkan sesuatu secara instan tentu agak surprise. Beginikah cara hidup orang kaya? Tinggal jentik jari semua beres.


Mereka diiringi ke satu restoran cukup high class. Pengunjungnya rata-rata bule, ada juga beberapa pengunjung berkulit sawo matang. Alvan memilih tempat dekat laut agar dapat dengar deburan ombak sebagai pengantar makan malam mereka.


Mereka berenam duduk mengelilingi meja yang sudah disediakan. Kelihatannya Alvan sudah mengatur segalanya sebelum mereka berangkat makan. Begitu mereka duduk hidangan telah ready.


Anak-anak Alvan yang menyukai seafood tentu saja mendapat makanan sesuai selera mereka. Semua hidangan berasal dari laut tanpa ada daging merah. Alvan sengaja menjauhkan daging daripada anak-anak karena takut ada yang tidak halal.


Mata Afifa dan Afisa berbinar lihat udang besar berwarna merah terhidang di atas meja. Kepiting serta jenis kerang jadi hidangan pertama mereka sejak injak kaki di pulau Dewata ini.


"Wah...makan enak ini!" ujar Afisa kagum pada hidangan yang menurutnya pasti mahal.


"Ini untuk kalian biar cepat gede!" Alvan mengelus kepala Afisa dengan pelan. Mereka berdua jarang bicara dari hati ke hati bahkan nyaris tak ada. Mungkin kesempatan ini Alvan bisa membangun chemistry dengan Afisa.


"Amei mau kepiting.." Afifa tidak peduli pada obrolan siapapun. Dia lebih fokus pada hewan laut yang berkaki banyak.


Gibran cepat tanggap keinginan keponakan favoritnya. Lajang ini berinsiatif mengupas kulit hewan bercangkang keras ini. Afifa belum tentu bisa mengupas kulit yang cukup keras. Biarlah Gibran sebagai seorang Om melayani keponakan yang cantik.


Alvan melayani Afisa sedang Citra melayani Azzam membuka cangkang udang gede. Masing-masing punya tugas melayani anak-anak. Citra memuji kesabaran Gibran terhadap Afifa. Gibran memang sosok om idola.


Citra dan Alvan nyaris tak dapat cicipi makanan karena harus layani buah hati yang sedikit rakus terhadap sea food. Terutama Afisa yang selama ini makan makanan sederhana. Hidangan kali ini membuka mata Afisa bahwa papinya memang orang tajir.


Semua bergembira menikmati makan malam penuh arti. Beginilah keluarga utuh. Memang harus dimulai dari kebersamaan.


"Hai...jumpa lagi!"


Serentak semua menoleh melihat ke arah suara menyapa mereka. Alvan menghela nafas karena keluarga Thomas datang menyapa. Mengapa bisa jumpa pagi padahal Bali ini cukup gede. Pengacau kelas kakap.


"Thomas ..kalian juga datang untuk makan malam?" Afisa menyambut baik kehadiran Thomas beserta orang tua mereka.


"Iya... rencana mau makan di pantai tapi agak mendung maka pindah sini. Kita jumpa lagi artinya kita berjodoh."


Kegembiraan Gibran terusik oleh kehadiran bule penguntit. Dalam hati lajang muda ini ngomel tak henti. Memarahi Thomas tak tahu diri. Jodoh dari mana? Dari Hongkong? Tapi semua itu hanya ada dalam isi hati Gibran. Tak mungkinlah Gibran semprot Thomas merusak moments keluarga bahagia mereka.


"Kalian silahkan saja! Kami sudah pesan makanan." kata Afisa menyuruh Thomas dan kedua orang tua cari tempat. Meja mereka sudah penuh tak mungkin tambah orang lagi.


Orang tua Thomas bukan orang bodoh tak bisa lihat harga hidangan di meja. Alvan sekeluarga bukan dari kalangan bawah cuma mereka berpenampilan sederhana.

__ADS_1


"Ok...kami duduk sana! Aku mau minta nomor kontak kamu. Boleh kan?" Thomas mengeluarkan ponsel meminta nomor Afisa.


Untuk sementara Afisa belum punya kartu perdana tanah air. Dia masih gunakan kartu seluler dari negeri dia menetap. Paling Afisa kasih kode salah satu aplikasi yang digunakan di sana.


"Oh..aku tak punya aplikasi ini. Kamu kasih saja nomor kontak kamu biar nanti aku yang kontak kamu." kata Thomas.


"Ok.." Afisa menyebut nomor kontak yang dia pakai di Beijing. Nomor itu baru akan aktif bila sudah berada di negeri tirai bambu.


Thomas mengangguk senang lantas pergi mencari meja bersama kedua orang tuanya. Gibran menarik nafas lega anak bule itu tahu diri tidak menganggu lebih lama. Gibran benar tak suka Thomas tebar pesona pada Afisa. Keponakan yang nyangkut di hati.


Keadaan kembali kondusif. Mereka melanjutkan acara makan dengan tenang. Afisa dan Afifa paling jago bersihkan meja dari semua hidangan. Kulit kerang dan kepiting mulai bertumpuk karena isinya telah berpindah alam.


"Amei...sudah boleh nak! Nanti badanmu makin gendut lho! Tempat tidur kamu roboh kalau masih rajin makan." Citra mengomeli Afifa yang belum berhenti mengunyah.


"Biarkan saja! Kalau kenyang kan berhenti. Makan terus nak!" Alvan kurang sehat Citra batasi makan anaknya. Sanggup makan baru sehat. Anak beranjak remaja perlu energi lebih.


"Papi hebat..." puji Afifa acung jempol penuh dengan sisa saos tomat.


"Sekali-kali makan gini kan boleh. Cece memang dilarang makan makanan lemak karena akan merusak bentuk tubuh. Cuma Cece tak bisa tahan lihat banyak sea food." Afisa mengaku larangan dari pelatih. Seorang pesenam wajib jaga bentuk tubuh sempurna. Tak mungkin seorang pesenam tunjukkan lemak bergumpal sana sini di bawah pakaian super ketat.


"Maka itu Cece harus jaga pola makan. Mama bisa marah lho kalau Cece gendut kayak Amei." Citra ingatkan Afisa bahaya naikkan berat badan.


"Gendut kenapa? Paling nggak usah ikut senam lagi. Makan yang banyak anak papi. Tak usah dengar mami. Lihat mami kalian takut makan banyak! Kurus kayak ranting kayu. Papi sudah bilang makan banyak biar segede gajah." ujar Alvan melucu.


Citra mendelik dijadikan bahan candaan. Mana ada wanita segede gajah. Laki saja tak mungkin segede gajah apalagi cewek


"Kalau mami segede gajah Amei juga bisa. Amei kan anak mami!" Afifa peragakan kekuatan lengan kecilnya.


Gibran dengan telaten usap kotoran di sudut bibir keponakan lucunya. Gibran berani lakukan hal ini pada Afifa tapi segan pada Afisa. Afisa tidak seperti Afifa seorang anak kecil. Afisa lebih mirip anak remaja padahal umur mereka sama cuma beda jam.


"Manjanya anak kecil.." olok Azzam membuat Afifa cemberut.


"Amei kan tak minta. Om Gi yang mau ngelap bibir Amei. Amei sudah gede tahu." rengut Afifa lontarkan pancaran sinar mata tajam.


"Kamu ini usil banget Zam...om kan sayang pada keponakan om yang cantik. Ayo makan! Tak usah peduli Koko!" Gibran marahi Azzam yang usil.


Azzam tertawa senang lihat bibir Afifa meruncing. Makin marah adiknya itu makin menggemaskan. Kadang Azzam lupa kalau mereka lahir satu hari. Rasanya perbedaan mereka sangat jauh. Afifa hanya anak kecil nyangkut pada pikiran sederhana sesuai umur. Tapi Azzam dan Afisa berpikir panjang kali lebar sebelum temukan hasil.


"Dari sini kita mau ke mana lagi?" tanya Alvan tahu makan malam akan segera berakhir.


"Putar-putar sebentar sebelum balik villa. Langsung balik ntar tidur. Makin gemuk." kata Citra beri usul sederhana.


"Ok...kita jalan sebentar. Besok kita bertolak ke Legian. Nginap di sana semalam lalu lanjut ke Denpasar. Rute kita telah diatur oleh tour guide. Apa kalian tidak lelah maraton ke sana sini?" Alvan menatap keluarganya satu persatu.


"Ya nggaklah! Namanya juga liburan. Kalau lelah kita berhenti. Ya kan ko?" sahut Afisa semangat.


"Ya... sebenarnya Koko ngantuk. Tapi bolehlah kita putar sekali lagi di pantai. Koko mau lihat gimana suasana pantai di malam hari."

__ADS_1


"Ok...bersihkan tangan anak-anak dulu! Kita segera berangkat!" Alvan berkata pada Citra.


Dengan gesit anak-anak berhamburan ke tempat cuci tangan. Citra dampingi anak-anak agar tidak terjadi hal di luar dugaan. Menjaga lebih baik daripada terjadi bencana.


Alvan memberi kode pada pelayan untuk bawa kwitansi makan mereka. Alvan mengeluarkan kartu untuk digesek bayar seluruh hidangan. Di luar dugaan Alvan kalau makan mereka sudah dibayar oleh seseorang. Alvan cukup kaget siapa berbaik hati bayarin makan mereka yang lumayan mahal. Alvan sudah taksir pasti di atas jutaan.


"Siapa yang bayar?" tanya Alvan pada pelayan berpakaian seragam itu.


"Bapak yang duduk di sudut sana." pelayan itu menunjuk keluarga Thomas.


Alvan merasa tak enak hati dibayarin kenalan baru. Kalau Alvan balik bayar makanan mereka jadi cerita lucu. Saling bayar membayar. Alvan tak punya pilihan lain selain dekati orang itu minta terima kasih.


Alvan berjalan dengan gagah sesuai postur tubuh Alvan yang tinggi tegap. Keluarga Thomas menyadari kehadiran Alvan segera bangkit menyambut Alvan. Bapaknya Thomas berdiri menanti Alvan yang tingginya melebihi si bule.


"Terima kasih sudah bayar makan malam kami. Seharusnya tidak perlu terjadi." kata Alvan tanpa basa basi.


"Jangan omong gitu! Kami hanya tunjukkan keramahan saja! Semoga kelak kita jumpa lagi. Singgah lah di tempat kami kalau berkunjung ke London." bapak Si Thomas berkata ramah. Ibunya si Thomas juga ikutan angguk.


Alvan menjadi tak enak hati telah kesal pada pasangan ini. Niat mereka hanya ingin berteman tanpa niat lain.


"Pasti...Oya..ini nomor kontak aku! Kalau kalian ke J silahkan hubungi kami!" Alvan mengeluarkan dompet ambil kartu nama berikan pada bapak Thomas.


Bapak Thomas tak mau kalah juga keluarkan potongan karton kecil tercetak nama dan alamat lengkap. Keduanya saling tersenyum setelah lihat kartu nama masing-masing.


Sesama orang bisnis pasti tahu dengan siapa mereka saling berhadapan. Nama Alvan Lingga cukup terkenal sebagai pebisnis handal dan jujur. Sedang bapak Thomas yang bernama George Smith terkenal sebagai raja kapal yang menguasai sebagian kapal di Eropa.


"Kita akan jumpa lagi tuan Alvan."


"Tentu tuan Smith...anakku akan berulang tahun. Jika berkenan silahkan hadir. Aku akan kirim undangan via elektronik."


"Anak yang mana? Anakmu kan empat."


Alvan tertawa karena Smith mengira Gibran juga anaknya. Alvan tak menyalahkan Smith punya pikiran gitu. Yang namanya liburan keluarga sudah pasti orang tua dan anak.


"Anak aku tiga. Mereka kembar tiga dan yang agak remaja itu adik istri aku. Aku akan kirim undangan. Aku permisi dan senang jumpa tuan Smith." Alvan ulurkan tangan menyalami keluarga Smith. Alvan tak menyangka jumpa jutawan di sini. Orang kaya namun low profil. Beda dengan manusia sekarang. Ada sedikit kekayaan sombongnya ke langit pamer kekayaan.


Kalau orang tak tahu akan mengira mereka hanya keluarga sederhana sedang liburan. Di balik kesederhanaan tercipta power mumpuni. Alvan harus banyak belajar dari keluarga ini. Tidak sombong walau duit sudah bisa disusun jadi satu istana besar.


George Smith melambai pada keluarga Alvan yang bersiap hendak tinggalkan restoran. Thomas melambai pada Afisa sebagai tanda perpisahan. Afisa tentu saja membalas dengan ramah.


Kalau Thomas mengenalnya artinya Thomas itu salah satu penggemar Afisa. Gadis kecil ini tak tahu baru kenalan dengan seorang pewaris dari raja kapal Eropa.


Alvan tak mau buka rahasia siapa Thomas agar persahabatan mereka terbangun dari ketulusan, bukan dari status. Alvan merasa cukup kaya nyatanya ada yang lebih kaya. Hebatnya mereka tidak pernah pamer mereka dari kalangan the have.


Di sini Alvan petik pelajaran berharga. Tidak perlu pasang kembang api untuk menarik perhatian orang cukup bersinar dalam kesunyian. Bersinar di Antara bintang di langit. Kedipannya tetap menarik mata walau tidak berpendar kemilau cahaya dibarengi suara letupan.


Alvan tepati janji bawa anak-anak keliling pantai di malam hari. Sebenarnya Alvan kurang setuju anak-anak bercanda dengan angin laut di malam hari. Daya tahan tubuh anak-anak tidak sekuat orang dewasa. Mereka rawan terserang penyakit flu.

__ADS_1


Apa daya sang papi karena sang mami sudah beri restu boleh nikmati angin malam yang lumayan dingin. Ikuti arus saja supaya malam ini berlalu damai.


Gibran menggandeng Afifa menyusuri sepanjang pantai. Angin laut yang dingin segar mencubit pipi pengunjung dengan jari halus. Tak tidak sakit namun terasa.


__ADS_2