ISTERI CEO YANG TERLUPAKAN

ISTERI CEO YANG TERLUPAKAN
Suap-suapan


__ADS_3

Alvan bersorak dalam hati dapat durian runtuh. Tak perlu susah dapat perhatian Citra. Anak kesayangan telah buka jalan bagi Alvan masuk ke lingkup Citra. Perlahan dan pasti Alvan akan menarik simpatik isteri maksudnya mantan isteri.


Suka atau tidak suka Citra dengan berat hati sediakan bubur untuk Afifa dan Alvan. Citra lakukan semua ini tanpa keikhlasan. Seumur hidup Citra takkan lupakan perlakuan Karin dan Alvan padanya selama tinggal bersama di Jogja. Alvan seperti bukan manusia terbuat dari darah dan daging yang tak tahu rasa sakit. Alvan apa tak sadar dia telah menyakiti hati seorang gadis muda.


Citra tak peduli Alvan punya selusin gundik namun tak sepantasnya bawa gundik pulang tinggal barengan. Lebih parah isteri sah dianggap babu layani ratu kecantikan dunia. Ratu yang dibanggakan tak lebih penganut pergaulan bebas.


Alvan menerima mangkok berisi bubur untuk Afifa dari tangan Citra. Sikap Citra kaku seolah baru kenal Alvan hari ini. Mereka seperti orang asing baru jumpa.


Alvan meniup bubur sebelum di angsur ke bibir mungil Afifa. Asap halus mengepul dari mangkok tanda masih cukup panas. Alvan harus hati-hati layani puteri tercinta kalau tak mau dapat ponten nol. Nilai Alvan memang merah di mata Citra. Salah sedikit bisa tinggal kelas seumur hidup.


"Lama sekali papi...Amei lapar!" Afifa perlihatkan ketidak sabaran ingin cicipi makanan perdana dari tangan Alvan. Bukan pertama kali Afifa makan bubur tapi pertama kali dilayani orang dipanggil papi.


"Masih panas sayang! Ini coba! Sudah dingin belum." Alvan angsurkan sendok plastik ke bibir Afifa. Afifa tiup-tiup kecil sebelum buka mulut lebar agar sendok mulus nyelonong ke mulutnya.


"Enak Pi...mami suap papi dong! Enak sekali..." Afifa tagih janji Citra harus suap Alvan sesuai permintaan Afifa.


Citra bangkit dari sofa bawa mangkok berisi bubur panas dekat Alvan yang duduk di pinggir ranjang Afifa. Citra langsung sodorkan sendok ke mulut Alvan tanpa tiup. Citra pura-pura tak tahu bubur itu panas. Mau melepuh bibirnya peduli amat! Misi balas dendam pertama sedang bekerja.


Alvan kaget diberi bubur panas. Sebagai lelaki jantan tak boleh perlihatkan kelemahan membuat Alvan menerima suapan pertama Citra. Alhasil Alvan meringis menahan rasa panas di lidah. Alvan bukan bodoh tak tahu Citra sengaja kerjain dia. Salah sendiri mau saja disuap orang yang paling tak suka padanya.


Citra tertawa dalam hati lihat Alvan menahan panas di lidah. Laki itu tak mengeluh selain menatap Citra dengan tatapan mengancam.


"Rasain kampret!" rutuk Citra cuma bisa dalam batin.


"Ayo mami! Suap papi lagi! Tuh papi senang kayak Amei!" suara centil Amei kasih support pada Citra lanjutkan bermesraan dengan Alvan.


"Tentu Amei!" Citra dekatkan mangkok ke wajah Alvan dengan senyum maut. Dari senyum itu dipastikan maut bagi Alvan. Alvan ingin sekali menolak takut Afifa kecewa idenya ditolak Alvan.


Asap dari mangkok bubur sudah seperti lelehan timah panas siap melumerkan bibir Alvan. Senyum licik Citra dianggap Afifa keikhlasan sang mami layani papi songong itu.


"Ayo papi aaakkk..." seru Afifa riang. Ini pertama kali Afifa lihat kedua orang tuanya akur. Selama ini cuma ada Citra di mata Afifa. Mendadak muncul sosok papi bagai dapat hiburan baru.


Alvan memohon pada Citra lewat tatapan mata agar berbelas kasihan pada bibirnya. Tidak terbakar habis namun cukup melepuh. Citra ambil kesempatan baik memberi pelajaran berharga pada Alvan agar jangan sok hebat! Ada masanya harus berada di bawah.


Citra gasak sendok ke mulut Alvan dengan kasar. Alvan tak punya daya lawan keinginan sang puteri tercinta. Suap demi suap bubur panas lewati kerongkongan Alvan trans ke lambung.


Afifa tepuk tangan gembira lihat Alvan patuh pada maminya. Makan dengan baik tanpa membantah. Anak kecil itu tak tahu Alvan menangis dalam hati merasa lidahnya tebal kena bubur panas. Memohon secara langsung pada Citra tentu akan merusak image sebagai papi berkharisma. Mana ada papi menangis gara-gara makan bubur. Betapa kecil nyali papi bila ketahuan tak berdaya karena bubur. Afifa bisa ikut tak mau makan pikir buburnya tak enak.


"Enak Pi?" tanya Afifa lugu.


Alvan manggut dengan wajah merah menahan pedih di lidah.


"Enak...sekarang Afifa makan pula biar cepat sehat!" bujuk Alvan bertingkah seakan tak ada masalah.


"Ok...papi anak baik! Mami pasti sayang papi. Biasa mami akan beri hadiah kecupan di kening bila Afifa tidak nakal. Papi baik harus dicium juga. Ayok mami! Kasih hadiah sweet Kiss buat papi!" mata bening Afifa berharap maminya akan perlakukan Alvan seperti perlakukan dia dan Azzam.

__ADS_1


Hidung mancung Alvan membesar dapat lotre nomor satu dari rumah sakit. Afifa memang maskot keberuntungan Alvan. Alvan tak perlu ragu terdepak dari Citra dan Azzam karena dia punya backing sangat kuat.


"Papi tak suka dikecup." ketus Citra pelototi Alvan agar jangan bersuara. Jangan cari kesempatan dalam kesempitan.


"Benar papi?" Afifa tampak kecewa harapan melihat papi dan mami akur sirna. Ada apa dengan papi dan maminya. Mami papi orang lain tinggal bersama selalu mesra. Kenapa giliran punya dia dingin bak tinggal di Kutub Utara.


"Ehh.." sahut Alvan canggung hendak iya atau tidak. Maunya sih Citra turuti keinginan Afifa biar dapat jatah bau bibir Citra.


"Papi harus mau! Kalau tidak Amei tak mau makan!" Afifa kembali pasang layar cemberut di wajah.


Alvan bersorak dalam batin. Alvan menang banyak punya anak seromantis Afifa. Kini giliran Citra nelangsa dipaksa Afifa lakukan hal tabu bagi Citra. Secara agama mereka bukan muhrim. Apa pantas main kecupan di depan anak.


"Papi terserah Afifa dan mami! Yang penting Afifa mau makan!" Alvan pasang wajah memelas tak berdaya. Citra gemas melihat gaya Alvan berbuat seolah dia takut pada Citra. Yang iya dulu laki ini garang kayak singa gunung dikte makhluk lain yang lemah.


Singa garang itu mulai tanggal satu persatu gigi taring. Sudah ompong kena dokter gigi kelas kakap. Cabut semua gigi hingga ke akar.


"Mami...go ahead! Kiss my papi with love! (Mami...lanjutkan! Cium papiku dengan cinta!)" ujar Afifa sok bijak.


Tangan Citra sudah gatal ingin cekik leher Alvan tajamkan kuku. Cuma sayang sebagai dokter Citra tak boleh punya kuku runcing kayak ibu-ibu sosialita lain. Citra punya tugas operasi yang butuh higienis. Kuku runcing bisa saja melukai jaringan yang dia operasi. Citra tak punya kans pamer kuku indah selain kuku buntung untuk keselamatan pasien.


"Amei...biar mami suap ya! Papi mau pulang tuh! Di rumah papi ada rubah liar yang nakal. Papi harus pulang rawat rumah itu agar jangan mati!"


"Rubah? Apa itu?" Afifa baru kali ini dengar kata rubah karena perbendaharaan kosa kata bahasa Indonesia masih dalam tahap belajar.


Afifa manggut ngerti. Alvan surprise lihat Afifa lebih ngerti bahasa asing dari bahasa ibu sendiri. Afifa fasih bahasa Mandarin dan Inggris. Giliran bahasa tanah air kayak orang bengong. Citra didik anak-anak dengan pendidikan luar tentu dengan tujuan bawa lari anaknya ke luar negeri kelak.


"Papi suka rubah? Amei tak suka. Rubah itu nakal dan jahat. Tak ada imutnya. Ya sudah papi boleh pulang urus rubahnya! Kurung kalau nakal." Afifa tak memaksa Citra untuk kecup Alvan lagi. Gadis kecil itu berusaha memahami kesusahan Alvan punya piaraan nakal. Citra selalu tekankan yang nakal itu tak baik. Dengan bekal nasehat Citra yang melekat di otak maka Afifa mengalah.


Alvan menunduk kecewa tak berhasil dapat hadiah. Kenapa pula Alvan sangat mengharap kecupan Citra padahal dulu sebelah mata pun enggan di arahkan ke Citra. Apa karena Alvan kecewa pada Karin jadikan Citra sebagai pelarian.


"Papi di sini kawani Afifa! Papi takkan ke mana sebelum Afifa sehat." Alvan tetap menyuapi Afifa tak peduli tatapan ejekan Citra.


Citra sedang berada di atas angin telah kalahkan Alvan. Laki itu pendam kekesalan dalam hati cuma tak berani tampakkan di depan Afifa. Jadi papi haruslah sempurna.


Pintu ruang rawat Afifa di ketok dari luar. Citra tinggalkan anak bapak itu lihat siapa datang menjenguk di saat hari menjelang magrib.


Citra mendorong pintu agar tamunya bisa masuk. Seorang wanita seumuran Citra masuk dengan tampang cemas. Wanita itu memakai seragam perawat rumah sakit tempat Citra bekerja. Putih bersih bergaris hijau.


"Kak Nadine..." seru Citra kaget perawat itu nyelonong tanpa kasih salam.


Nadine tak open Citra. Perawat itu langsung hampiri Afifa yang sedang disuap Alvan. Alvan segitu besar berubah jadi semut hilang dari pandangan mata Nadine. Fokus Nadine cuma pada Afifa.


"Ya Allah anakku! Sakit kok tak bilang?" Nadine menyentuh kedua bahu Afifa cemas banget.


"Kalau sakit dibilang duluan artinya Amei pura-pura sakit. Amei tak mau sakit. Pingin pulang ke rumah!"

__ADS_1


"Pulang? Tunggu apa kata dokter. Tak bisa main pulang. Kan ada mami dan bunda Nadine." Nadine menepuk dada jamin Afifa betah di rawat olehnya.


"Ada papi lagi,?" Afifa menunjuk Alvan pakai ujung bibir meruncing ke depan bikin gemas.


"Papi?" Nadine tersadar kalau ada satu sosok besar sedang memegang mangkok bubur di samping Afifa. Nadine menatap curiga pada Alvan cari tahu mengapa tiba-tiba muncul papi di antara keluarga Citra.


"Bapak ini siapa ya?" tegur Nadine belum tahu sedang berhadapan dengan siapa.


Citra mencolek Nadine agar jangan kelepasan hajar Alvan pakai kalimat tak sedap. Posisi Nadine di rumah sakit pasti terancam bila nyerocos kayak petasan. Wanita itu ceplas ceplos kalau buang kalimat dari mulut. Kadang tak pakai saringan.


"Alvan Lingga...papinya Afifa dan suaminya Citra?" Alvan perkenalkan lengkap dengan nama dan marga supaya otak Nadine tak ke mana-mana.


Nadine terbelalak dengan nama Alvan Lingga. Bukankah itu nama pemilik rumah sakit? Kok jadi suami Citra dan papinya anak-anak Citra. Nadine cubit kuping takut salah dengar suara pria ganteng itu. Drama apa sedang dilakoni Citra sembunyikan siapa ayah biologis Azzam dan Afifa. Tak diduga orang kaya di tanah air.


"Maaf pak! Aku tak tahu bapak ini keluarga Citra."


"Sekarang sudah tahu. Selama Afifa di rumah sakit kau kubebaskan dari jam piket. Tugasmu merawat Afifa sampai sembuh. Aku akan lapor pada dokter Hans. Citra juga bebas piket selama Afifa di rawat."


"Iya pak!" sahut Nadine riang bisa bersama anak tetangga yang dia anggap anak sendiri saking manisnya Afifa dan Azzam. Nadine menyayangi kedua anak Citra. Mereka harus panggil Nadine bunda sesuai harapan Nadine.


"Kalian pulang mandi dulu! Biar kukawani Afifa selama kalian pergi. Jangan lama! Afifa butuh kalian! Ini sudah mau senja. Cepat dikit!" Alvan berkata lebih mirip perintah.


Bos besar kerjanya memang beri perintah. Mulut yang kerja, pelaksana tetap orang bawahan. Jadi bos emang super enak. Ada batu segede gajah halangi jalan tak jadi soal. Tinggal perintah anak buah singkirkan penghalang jalan. Dalam sekejap mata rintangan teratasi.


Tidak seperti mereka yang kelas teri. Kerikil saja bisa hambat rencana yang sudah tersusun. Tanpa dukungan dolar jalan pasti penuh hambatan.


"Tak usah pak! Ini merepotkan bapak! Lebih baik bapak pulang saja istirahat! Afifa biar kami urus sendiri." ujar Citra pelan takut Alvan tersinggung niat baiknya ditolak.


"Aku di sini sampai anakku sehat. Ya kan sayang papi?" Alvan melempar senyum manis pada Afifa yang puas diperhatikan Alvan sepenuh hati. Rindu akan sosok figur ayah buat Afifa tak mau lupa punya papi.


"Amei mau papi di sini! Tapi gimana rubah papi? Apa tak gigit orang lain? Bahaya lho kalau kena gigit binatang! Kita bisa kena bisa." jelas Afifa seakan paham ilmu pengobatan. Tidak memalukan jadi anak dokter. Pengetahuan anak kecil ini lumayan bagus.


"Rubah apa? Itu karangan mami mu! Sini minum air!" Alvan ambil botol air mineral sodorkan ke bibir Afifa.


Citra dan Nadine saling lempar pandangan lihat betapa Afifa bahagia bersama orang yang mengaku papi Afifa. Nadine ingin korek penjelasan lebih dalam dari tetangganya itu. Mengapa kisah hadir terlalu mendadak. Nadine sampai belum persiapkan mental dengar Afifa anak dari Alvan Lingga yang digilai puluhan wanita. Karin beruntung menjabat sebagai bini Alvan.


Dokter Syaraf Citra tiba-tiba mencuat ke atas rebut posisi Karin sebagai bini Alvan. Lebih keren Alvan punya anak dari Citra. Siapa pelakor antara Citra dan Karin. Kalau dinilai dari umur Azzam dan Afifa sudah bisa diambil kesimpulan Citra duluan hadir dalam hidup Alvan. Lalu mengapa berpisah? Alvan selingkuh dengan Karin membuat Citra kabur?


"Pak...kami pergi sholat sebentar! Jaga Afifa! Jangan bawa kabur ya!"


Alvan tertawa ngejek diingatkan Citra tak boleh bawa lari Afifa. Adzan magrib sudah berkumandang memanggil umat dirikan sholat magrib. Sholat pergantian waktu siang ke malam. Citra dan Nadine tak mau ketinggalan laksanakan salah satu rukun Islam itu.


"Pergilah! Kau tahu ke mana cari aku bila anakmu hilang." jawab Alvan santai menggoda kesabaran Citra.


Citra melengos malas jawab. Bertengkar di depan anak bukan gaya Citra. Citra selalu ingin tampak elegan di depan anak untuk jaga wibawa seorang ibu.

__ADS_1


__ADS_2