
Tanpa disuruh dua kali Alvan bergabung dengan keluarga kecilnya. Tangan panjang Alvan berusaha merangkul seluruh keluarga yang pernah dia buang. Tubuh mungil Citra masuk dalam pelukan Alvan. Alvan cium bau lembut dari tubuh Citra. Bukan bau minyak wangi karena Alvan tahu gimana harum alami dan harum berkat bahan kimia.
Citra tak nyaman berada dalam rengkuhan Alvan. Alvan sudah tak punya hak merangkul dirinya. Terhadap Azzam dan Afifa mungkin tak jadi masalah karena kedua anak itu anak Alvan. Citra hanya berstatus isteri dalam kertas, secara agama mereka hanya mantan.
"Papi akan lindungi kalian walau apa pun terjadi. Kalian adalah penerang jalan papi. Kita akan bersama selamanya." Alvan suarakan harapan besar bersatu kembali pada Citra.
"Amin...mulai hari ini papi harus tinggal bersama Amei dan Koko. Satu keluarga tak boleh pisah." ujar Afifa sok bijak.
"Pasti..." Alvan masih betah merangkul Citra cs. Tujuan Alvan hanya memeluk Citra lebih lama. Punya anak pengertian sungguh nikmat. Afifa bisa jadi jembatan penghubung antara Alvan dan Citra. Gadis kecil selalu berharap ada secercah sinar menerangi ruang hati mereka yang kelam tanpa kehadiran seorang ayah.
"Ok...acara pelukan selesai. Amei mau ke kamar mandi?" Citra menggeliat berusaha lepas dari rangkulan Alvan. Tangan kekar Alvan mencekam makin kuat tak ijinkan Citra lepaskan diri dari rengkuhan.
"Iya Amei mau pipis."
Dewa penolong Citra hadir. Afifa mau pipis bantu Citra lepas dari pelukan tak sehat ini. Azzam juga tak sabar ingin cepat kembali main ponsel. Lajang ini belum puas pelajari ponsel canggih pemberian Alvan. Dari dasar lubuk hati Azzam maunya tak terima pemberian Alvan. Azzam merasa Alvan cari keuntungan manfaatkan mereka cari perhatian Citra. Azzam tak ingin jadi batu sandung Citra berpisah dengan Alvan. Namun daya tarik ponsel mahal tersebut membeli pertahanan Azzam. Azzam kalah melawan hawa nafsu.
Citra berhasil lolos dari pelukan Alvan segera bawa Afifa ke kamar mandi. Afifa tak bisa melawan panggilan alam. Cepat ke kamar mandi atau pipis di tempat tidur.
Alvan sedang menjemput kebahagiaan. Berada bersama anak-anak segala beban di hati terangkat. Seberapa berat cobaan sedang menghadang tak terasa bila bersama orang tepat.
"Azzam...mau tidur sini atau pulang?" tanya Alvan setelah Citra dan Afifa masuk kamar mandi.
Mata lajang Alvan bersinar ditawari tidur di rumah sakit. Dari kemarin Azzam sangat berharap temani Afifa di rumah sakit. Mereka jarang berpisah selain masuk kelas berbeda di sekolah. Di rumah mereka tak pernah pisah. Di mana ada Azzam di situ ada Afifa.
"Boleh Om?"
"Papi akan minta ijin pada mami. Tapi pagi sekali harus pulang bersiap sekolah."
"Besok tak sekolah. Sekolah kami hanya sampai hari Jumat. Sabtu Minggu libur."
"Oh gitu! Kalau gitu papi jamin Azzam tidur sini. Papi minta kasur tambahan untuk Azzam."
"Tak usah Om! Koko tidur di sofa saja." sahut Azzam semangat.
"Lalu papi tidur di mana? Mami bisa tidur sama adikmu. Azzam di sofa. Papi di mana?"
Mata Azzam mengitari ruangan yang masih lapang. Diletakkan satu kasur lagi takkan ganggu ruang gerak penghuni situ. Sofa panjang cuma satu, cukup muat satu orang kecuali tidur model duduk.
"Iya sih! Terserah Om deh! Om tidur sini ya walau mami tak ijin. Koko belum selesai buka aplikasi hp barunya. Kalau tak ada mami pasti sita ponsel Koko."
Alvan mengangguk seraya mengelus kepala Azzam. Ini pertama kali Alvan menyentuh jagoannya yang sombong. Gimanapun Azzam tetap anak kecil yang bisa dirayu dengan benda kesukaan. Perlahan Azzam akan takluk bila Alvan pandai tangkap ekor Azzam. Tak perlu main kasar, main manis akan membuang jarak antara mereka.
"Nah Azzam simpan dulu ponselnya biar mami tak nampak Azzam asyik main hp. Ada pelajaran sekolah?"
"Ada... cuma pelajaran bahasa Inggris. Translate...Koko bisa kok!"
"Kalau boleh papi sarankan Azzam kerjakan soalnya biar nanti bebas main ponsel. Papi ijinkan main sampai sore kalau pr nya kelar."
"Benar Om?" seru Azzam kegirangan. Anak lajang itu berjoget memutar lantai saking senang dapat kesempatan main ponsel lebih lama. Alvan mengangguk yakinkan Azzam bahwa dia tak bohong.
Azzam berjalan pakai gerakan robot patah-patah menuju ke sofa untuk laksanakan permintaan Alvan. Lajang kecil itu mengeluarkan buku pelajaran mengerjakan pr dengan hati berbunga. Ternyata Azzam sudah lama ingin punya ponsel pribadi. Keinginan itu tak pernah terwujud akibat mami tak beri lampu hijau. Beli ponsel sederhana bukannya Citra tak mampu. Citra cuma tak mau kedua anaknya budidaya kebiasaan buruk pelototi benda pipih tersebut tanpa kenal waktu. Akibatnya bawa dampak buruk. Mata rusak, pelajaran sekolah berantakan, jadwal tidur terganggu. Citra tak salah terapkan peraturan tak boleh hp dalam tempo lama.
Citra dan Afifa kembali dari kamar mandi. Citra dengan telaten membantu Afifa naik ke kasur untuk istirahat. Citra mengambil tablet Afifa disimpan dalam laci meja kecil. Bagi Citra sudah saatnya Afifa tidur. Gadis kecil itu harus banyak istirahat agar cepat pulih.
Citra melirik anaknya satu lagi sedang berkutat dengan pr. Azzam tak pernah menyusahkan Citra soal mata pelajaran. Azzam punya IQ tinggi melewati batas anak seusianya. Pola pikir Azzam berbeda dengan teman umumnya. Azzam berpikir jauh layak orang dewasa. Di sekolah Azzam selalu dapat ranking walaupun sekolah di Beijing. Afisa ngekor di posisi kedua. Afifa sedikit payah walaupun tidak bodoh.
"Pak...sebentar lagi aku mau bantu teman operasi pasien kecelakaan! Urat kakinya putus kena beton pembatas jalan. Bapak jaga anak sebentar. Paling lama dua jam."
__ADS_1
"Pasien siapa?" Alvan heran mengapa Citra sedang cuti terlibat dalam operasi pasien.
"Pasien dokter Rahma. Dia minta aku bantu analisa kerusakan syaraf."
"Baiklah! Pesan pada Nadine berjaga di depan. Dia harus siaga untuk Afifa."
"Iya...Koko setelah buat pr coba tidur sebentar. Nanti ikut mami pulang. Mami mau pulang ambil baju ganti."
"Biar Azzam tidur sini. Besok dia kan libur. Afifa pasti lebih senang bersama abangnya. Aku akan minta kasur baru." ujar Alvan tak mau dibantah. Nada Alvan tegas bertindak selaku kepala rumah tangga.
"Tapi ini rumah sakit. Bukan hotel buat piknik." bantah Citra gusar Alvan bikin keputusan bertentangan dengan niatnya. Peraturan Citra akan runtuh satu persatu bila Alvan terlalu manjakan kedua anaknya.
"Anggap saja piknik biar tuan putri cepat sembuh. Kau bawa pakaian Azzam sekalian. Minggu sore aku akan antar Azzam pulang. Ya kan boy?"
"Yes sir!" Azzam senang bukan main ada penyelamat di saat kritis.
"Dasar sinting...rumah sakit dianggap tempat piknik. Kenapa tidak barbeque sekalian? Undang semua pasien." sungut Citra dikalahkan suara terbanyak.
"Amei mau Koko nginap sini! Nanti malam Amei mau video call sama Cece pakai hp baru. Wajah Cece akan nampak gede." timpal Afifa menambah suara buat Azzam. Skor tiga lawan kosong untuk Azzam. Citra tak berkutik terima suara terbanyak.
"Terserah! Mami pergi dulu! Amei tidur ya! Koko juga."
"Siap mami sayang!" seru Afifa riang gembira. Kalau bukan menunggu hasil test darah mungkin Afifa sudah diijinkan pulang. Gadis cilik itu tampak seperti orang sakit. Siapa percaya bila dibilang Afifa terserang demam berdarah. Gadis itu energik berwajah cerah. Mungkin itulah kekuatan ikatan keluarga. Afifa bahagia jumpa papi idola, disogok pakai tablet lagi. Klop jalan menuju sembuh.
Citra angkat tangan menyerah. Kini kedua anaknya punya backing kuat untuk melawannya. Semoga Alvan punya naluri kebapakan tak merusak image yang dia bangun selama ini. Menyayangi anak bukan berarti mesti memanjakan anak. Banyak cara positif salurkan rasa sayang itu.
Ruangan tinggal tiga orang. Alvan beri kode pada Afifa tidur. Perintah Citra bertujuan baik. Tak mungkin Alvan patahkan nilai Citra di mata anaknya. Anak-anak tetap harus junjung tinggi Citra sebagai ibu.
Afifa mengerti segera pejamkan mata istirahat seluruh anggota tubuh. Alvan bangga melihat kepatuhan anaknya. Citra wanita luar biasa mampu mendidik anak dengan sangat baik. Kilauan berlian tak bisa bohongi kerlingan mata. Di manapun dia diletakkan tetap akan memancarkan kemilau.
"Assalamualaikum...ma!"
"Waalaikumsalam...wah! Anak mama berubah alim! Angin apa bertiup rubah lidahmu jadi sopan?"
"Mama ini...sudah makan ma?"
"Sudah bersama papa. Mama kasih kabar amang di Kalimantan mau pesta. Dia undang Mama dan papa. Sayang papamu ada tugas ke Jogja. Apa pendapatmu?"
Alvan bersyukur semua berjalan sesuai rencana. Akhirnya Pak Jono mengalah bersedia ke Jogja untuk hindari Karin. Karin suspect Aids harus dihindari. Alvan kuatir papanya terjatuh pada rayuan Karin. Bisa berabe bila Pak Jono ikut terserang virus mematikan itu.
"Aduh ma! Orang sudah undang ya harus pergi! Mama kan sudah lama tidak pulang ke sana. Pergilah! Perlu Alvan kawani?"
"Tak usah! Karin sedang hamil mana boleh ditinggal. Kata amang mu Abdullah akan jemput mama. Besok dia ke sini. Lusa mama berangkat. Kau bisa jaga Karin?"
Alvan bersedih bayangkan betapa kecewa sang mama bila tahu kebenaran anak yang diperut Karin. Mamanya bisa kena serangan jantung andai dapat berita itu anak suaminya. Wanita mana bersedia menerima suami selingkuh sampai punya anak. Lebih sadis selingkuhan itu menantu sendiri.
"Mama tenang saja! Alvan bisa handel semuanya. Bersenang-senang di kampung mama. Nanti waktu Karin mau lahiran baru mama pulang."
"Lama amat...mama pergi paling seminggu. Mama kuatir kondisi kandungan Karin. Dia lasak tak bisa diam. Umurnya sudah tak muda. Mama harus dampingi dia."
Kalau saja Bu Dewi tahu fakta mana mau urus Karin. Jangankan urus mungkin akan usir Karin dari keluarga Lingga. Pak Jono tak bisa buang badan tak mau tahu. Laki tua itu punya andil menghancurkan rumah tangga sendiri.
"Mama tenang saja. Karin itu badak. Segalanya kuat."
"Huusss...masa bini sendiri diejek. Kapan kau ke sini?"
"Besok sore ya! Kita tunggu kehadiran Abdullah."
__ADS_1
"Baiklah! Mama kabari kamu kalau Abdullah tiba sini. Jaga Karin ya!"
"Beres ma! Assalamualaikum.."
"Waalaikumsalam..."
Alvan perhatikan hp di tangan dengan berbagai dugaan. Ke mana perginya wanita tak tahu malu itu? Lanjut hambur uangnya atau sudah pulang ke rumah. Alvan sudah tak peduli apa mau Karin. Martabat Karin sudah punah di mata Alvan. Alvan berjanji takkan pertahankan Karin bila segalanya jelas.
Azzam melirik ke wajah muram papinya. Azzam bukan tak tahu batin Alvan sedang dilanda badai. Sebagai anak Azzam tak mau sok-sokan ikut campur masalah orang dewasa. Azzam cukup tahu diri berdiri di posisi sekarang yakni sebagai anak.
Alvan menangkap lirikan Azzam. Anak itu pengertian tak buka mulut jadi anak kepo.
"Itu Oma Azzam. Kalau Afifa sudah sehat papi akan ajak kalian jumpa Oma. Azzam mau?"
"Tanya mami dulu. Koko tak ingin mami bersedih."
"Baiklah! Kita dengar pendapat mami. Pr Azzam sudah selesai?"
"Tinggal dikit lagi! Koko boleh main hp sebentar sebelum tidur?"
"Boleh asal pr nya kelar."
"Thank you om!" Azzam acung jempol setuju.
Afifa sudah terlelap dibuai mimpi. Avan yakin Afifa sedang mimpi indah. Raut wajah Afifa berseri dalam tidurnya. Ntah mimpi apa sampai tersenyum dalam tidur.
Alvan bosan sendiri tak ada kegiatan. Afifa tidur sedang Azzam kerjakan PR. Tak ada yang bisa Alvan lakukan selain bolak balik menatap kedua anaknya. Kedua anak itu merupakan keajaiban dalam hidup Alvan. Tanpa simsalabim muncul anak-anak cantik. Rezeki tak terhingga turun dari langit. Nikmat dari Allah tak terhingga.
"Om...sudah siap! Koko boleh main hp?"
"Boleh...habis itu tidur ya! Azzam harus patuh pada mami supaya tidak disita ponselnya. Niat mami itu baik. Mami takut Azzam ketinggalan pelajaran."
"Koko ngerti kok! Koko akan lebih rajin lagi belajar buktikan pada mami hp tak pengaruhi Koko."
"Bagus...itu baru anak papi! Azzam jaga adik bentar. Papi minta bed baru dulu. Azzam tak boleh keluar ya! Kalau ada apa-apa telepon papi. Nomor papi sudah ada di kontak Azzam."
"Tapi mami suruh papi jaga kami"
Alvan tertawa lihat keseriusan Azzam takut melanggar janji.
"Papi ke depan sebentar. Tidak lebih dari lima menit."
"Oh..om cepat balik sebelum mami datang. Bisa kena kuliah gratis kita."
"Iya boy!" Alvan tidak pergi jauh. Hanya ingin minta tambah kasur untuk Azzam. Alvan mau kasur tebal dan selimut agar Azzam nyaman tidur.
Sepergi Alvan. Azzam menekan beberapa angka di layar ponsel. Ntah nomor siapa tertulis di otak Azzam. Lancar sekali Azzam menekan angka demi angka. Habis itu Azzam angkat hp dekatkan ke telinga.
"Assalamualaikum...kak Ancur!"
"Waalaikumsalam...bocah beracun! Ini nomor siapa? Lhu pakai hp siap"
"Hp aku! Hadiah papi. Samsung lipat. Layarnya bisa dibuka sampai dua kali lipat. Keren banget!"
"Wow...Kak Ance pingin lihat! Kak Ance boleh pinjam?"
"Boleh pinjam lihat doang! Amei dapat tablet Samsung juga. Punyaan Amei biasa saja. Amei suka tablet biar puas lihat muka Cece. Kapan kak Ance mau datang? Koko tidur sini malam ini."
__ADS_1