
Alvan menerima dari tangan Untung. Pertama Alvan datangi Azzam yang duduk di sofa memandang heran pada paper bag di tangan Alvan. Lajang kecil ini menduga apa yang akan dibagi Alvan pada mereka. Otak cerdas Azzam bisa baca kalau hadiah dari Alvan akan bertentangan dengan ajaran sang mami.
Kalau tidak mana mungkin tunggu Citra pergi dulu baru bagi hadiahnya. Azzam menanti apa hadiah dari Alvan. Dalam hati Azzam ingin menolak sogokan Alvan. Alvan sedang berjuang dapatkan simpatik kedua anaknya. Buang sedikit fulus tidaklah rugi asal dapat pengakuan Azzam.
Alvan mengeluarkan satu kotak tidak terlalu besar lalu sodorkan pada Azzam. Azzam perhatikan kotak di tangan Alvan tidak segera menyambut. Mata lajang itu membaca apa isi kotak itu.
"Ini hp untuk jagoan papi." ujar Alvan lembut.
"Mami takkan setuju." sahut Azzam segan terima hadiah sangat mahal. Azzam bukan anak gaptek tak tahu berapa harga ponsel di tangan papinya.
"Bilang papi kasih pinjam. Azzam harus bijak memakainya. Utamakan pelajaran sekolah. Main boleh asal ingat waktu. Semua boleh asal dalam kegiatan positif. Gunakan seperlunya! Ambillah! Itu hak Azzam. Azzam berhak atas semua uang papi. Kelak Azzam harus warisi perusahaan. Belajar yang rajin." Alvan meraih tangan Azzam untuk menerima hadiah darinya.
Keraguan masih terbayang di wajah ganteng itu. Dalam hati Azzam ingin sekali punya ponsel pribadi namun Citra tak ijinkan anak-anaknya miliki barang canggih tersebut takut kedua anaknya kecanduan gadget. Ponsel dan perangkat canggih lainnya bagai pisau bermata dua. Satu sisi melukai dan satunya lagi berguna mengupas sesuatu.
"Azzam tanya mami dulu ya! Tak baik bohongi mami. Kami dididik harus jujur. Apa pun kata mami tetap kami terima." ujar Azzam layak orang dewasa.
Untung salut pada Azzam. Tidak tamak walau hadiah itu datang dari papinya. Kedewasaan Azzam bikin Alvan makin bangga punya anak pengertian akan niat baik sang mami.
Alvan sebagai orang tua tak mau merusak jiwa Azzam ajar anak itu berbohong pada Citra. Rasa hormat dan salut berkembang di hati Alvan. Alvan bangga sekali punya anak berhati mulia macam Azzam. Mulut boleh tajam namun akhlak patut dapat acung jempol.
"Baiklah! Kita tunggu mami. Papi bangga pada Azzam. Nah sambil minta ijin mami, Azzam boleh kok belajar cara kerja hp ini. Ambillah!"
Mata Azzam bersinar lihat betapa canggih hp pemberian Alvan. Produk terbaru Samsung anyar model fold. Azzam bukan anak bodoh tak tahu harga ponsel itu. Satu ponsel harganya bisa bayar biaya hidup mereka berbulan.
Rasa segan berbaur rasa penasaran campur aduk satu dalam benak Azzam. Ingin Azzam sentuh ponsel tersebut masih ragu.
"Papi...untuk Amei mana? Masa cuma Koko yang dapat?" suara Afifa memecahkan konsentrasi Alvan pada Azzam.
"Anak papi yang cantik mana boleh ketinggalan. Ini papi beli yang gede untuk Afifa bisa enak video call dengan Afisa." Alvan tinggalkan Azzam dekati Afifa.
Alvan buka paper bag satu lagi. Tangan mungil Afifa tak sabar buka hadiah Alvan. Afifa beda dengan Azzam. Tuan putri kecil ini tak pikir panjang seperti Azzam. Afifa kayak anak kecil lain, senang saja terima hadiah dari papi. Azzam memang anak luar biasa. Alvan tak malu punya anak sepintar Azzam.
Untung melihat Azzam tak bergeming menyentuh ponsel yang tergeletak di meja. Anak itu mematung mata tak lepas dari kotak ponsel yang belum terbuka. Sementara Afifa berseru kegirangan bisa main tablet. Anak itu tak masalahkan harga tablet jauh di bawah ponsel Azzam. Afifa mana paham soal harga. Yang penting dapat ponsel.
Alvan membantu Afifa aktifkan tablet sambil beri petunjuk cara main ponsel besar itu.
Untung mendekati Azzam mengambil kotak ponsel untuk diserah pada Azzam. Untung berharap laki kecil itu tergerak hati terima hadiah Alvan. Niat Alvan hanya ingin menyenangkan kedua anaknya. Untuk sementara Alvan tak bisa beri yang lain selain materi. Kasih sayang baru Alvan bangun capai taraf lebih tinggi. Afifa lebih gampang dikuasai sedang Azzam bak landak berduri. Melindungi diri dengan duri panjang agar Alvan tak mudah dekati dia.
"Azzam...om Untung bantu unboxing ponselnya?" tawar Untung pasang wajah ramah. Azzam hanya manggut kecil tak perlihatkan euforia berlebihan. Lajang ini pandai menyimpan gejolak hati. Dari luar tampak biasa saja tapi di dalam bersorak senang. Lihat saja cukup menyenangkan. Azzam belum berani bayangkan memiliki. Kepala pabean di rumah sangat mengerikan. Bisa sita barang mewah tak peduli telah lolos pajak.
Untung buka ponsel mahal dengan hati-hati takut tergores. Harganya bukan seribu dua ribu melainkan puluhan juta. Untung sendiri tak pakai ponsel model kekinian itu. Anak kecil baru tumbuh sudah dihadiahkan barang semewah gini. Terlalu berlebihan.
Untung serahkan ponsel warna hitam pada Azzam. Pantulan cahaya dari layar ponsel berkilauan menyinari mata Azzam. Tanpa sadar tangan Azzam terulur terima ponsel itu dibarengi rasa kagum. Ponsel di tangan Azzam sepuluh kali lebih bagus dari punyaan Ance. Layarnya bisa dibuka jadi lebar mengeluarkan aneka warna cerah menggoda Azzam.
__ADS_1
"Bagusnya!" keluh Azzam seraya mengelus ponsel itu. Untung tersenyum melihat Azzam larut dalam rasa kagum. Tangan kecil Azzam mulai beraktifitas di atas layar lebar. Azzam cekatan buka setiap aplikasi. Untuk sejenak Azzam lupa pada komitmen harus ijin Citra. Rasa ingin tahu lebih dominan ketimbang rasa patuh.
Alvan dan Untung tersenyum senang lihat kedua anak itu puas dengan hadiah Alvan. Kedua anak itu tenggelam dalam daya tarik benda canggih itu. Misi pertama Alvan berjalan sukses berhasil mencuri perhatian kedua anaknya.
"Tung...kau balik kantor dengan mobil kantor! Sekalian kau selesaikan tagihan Karin di hotel. Jangan buka blokir kartunya! Cukup bayar tagihan." Alvan beri tugas pada Untung selesaikan segala kekacauan.
"Siap pak! Ada perintah lain?"
"Kau bantu Wenda selesaikan hasil rapat. Kalau ditanya Selvia ke mana aku tak perlu kasih tahu."
"Baiklah! Permisi pak!" Untung mengundurkan diri laksanakan perintah bos. Di luar kamar rawat Afifa tampak Nadine duduk sendirian di sudut koridor. Nadine tahu diri tak berani masuk ke kamar Afifa karena tak ada Citra. Nadine tak mau tambah bumbu dalam kisah hidup Alvan yang kacau. Alvan memang menarik hati cuma Nadine tak tertarik pada laki plin plan itu.
"Nadine...aku pergi dulu ya! Sorean aku balik." Untung kabari Nadine sebelum pergi.
"Oh iya... hati-hati di jalan."
"So pasti..kalaupun kecelakaan kan ada perawat cantik siap merawat." goda Untung disambut cibiran Nadine.
"Amit-amit...bercanda kok kebangetan! Pergi sono!" Nadine sewot Untung bercanda dengan maut.
"Sori...ok...aku pergi! Titip bos dan anaknya ya!"
"Cerewet..."
Bos pusing Untung ketiban sial. Tugasnya bertambah banyak. Muncul pula dua kurcaci menggemaskan warnai hidup Alvan. Imbasnya tetap Untung. Tak usah dijabar Untung harus ikut melayani tuan muda dan tuan putri cantik.
Kedua anak Alvan sibuk main ponsel abaikan Alvan. Citra tak salah bila melarang kedua anaknya main hp. Sekali main langsung hilang fokus. Alvan cemas juga kalau Azzam tenggelam dalam pesona hp.
Alvan merasa tak berguna di antara dua bocah abaikan dia. Kedua anak itu berlomba kutak katik isi perut ponsel yang baru mereka miliki. Alvan siap-siap disemprot Citra gara beliin anak benda larangan. Apa yang ditakutkan Citra sedikit mencuat. Azzam dan Afifa asyik main ponsel sampai lupa kalau ada papi di situ.
"Papi...Amei mau main game. Ini ada game masak-masak burger. Boleh ya?" Afifa minta ijin sebelum masuk ke aplikasi yang dimaksud.
"Boleh tapi janji main satu jam. Azzam juga gitu. Setiap hari cuma boleh main satu jam setelah belajar. Apa kalian tak kasihan pada papi disate mami kalian?" Alvan memelas mohon pengertian kedua anaknya. Azzam tertawa geli saksikan sang papi memohon kayak anak kecil. Baru kali ini Alvan lihat tawa lepas Azzam. Ternyata anaknya sangat ganteng bila tidak cemberut. Gen Alvan kuat mengalir dalam tubuh Azzam. Dari fisik dan juga karakter.
"Iya kami janji! Tapi janji bujuk mami agar kami bisa bawa pulang hp ini. Koko janji cuma main satu jam."
"Ok...tak boleh bohong lho! Papi takut nanti mami asah pisau bedah perut papi diisi ponsel kalian."
"Ngak gitulah Pi! Mami itu baik walau galak. Dia sayang kami kok! Afifa akan lindungi papi dari mami asal papi janji tak nakal tinggalkan kami."
"Papi janji...nah! Kita sama-sama janji jadi anak baik. Ok? Main sebentar lagi lalu istirahat ya!"
"Ok..." sahut Azzam dan Afifa serentak. Mata keduanya kembali tertuju pada layar ponsel. Tangan bergerak cepat klik aplikasi pilihan masing-masing.
__ADS_1
Saking asyiknya kedua anak itu tak sadar monster hp masuk ruangan. Citra tertegun lihat Alvan mengantuk di tepi ranjang Afifa. Dua bocah sibuk dengan ponsel di tangan. Citra sadar kalau ada musuh sedang masuk wilayah amannya.
Citra mendehem kagetkan ketiga orang itu. Reflek Azzam sembunyikan hp di belakang punggung sedangkan Afifa masih santai tak merasa bersalah. Citra pasang topeng sadis di wajah menakuti ketiga orang bersalah tesebut.
"Ide siapa?" bentak Citra pelan.
"Papi...papi yang beli!" Afifa bela diri menunjuk Alvan.
Alvan omel dalam hati. Barusan tadi janji akan lindungi papi dari amukan mami. Kini mulus salahkan Alvan sebagai pemberi barang terlarang itu.
"Untung yang beli. Tadi pagi kusuruh beli buku untuk belajar dia malah beli ponsel. Katanya buku ketinggalan jaman. Sekarang belajar dari ponsel." Alvan bela diri pakai jurus siluman buang badan.
"Barang ini berbahaya untuk anak. Mereka belum waktunya main ponsel. Waktu mereka belajar."
"Amei belajar kok! Ini belajar bikin burger. Sekalian latih bahasa Inggris. Mami lihat! Semua tertulis pakai bahasa Inggris." Afifa angkat tabletnya tinggi-tinggi kasih lihat Citra aplikasinya memang berbahasa Inggris. Apa yang dikatakan Afifa sesuai fakta. Bermain sambil belajar.
"Sayang bukan itu maksud mami. Mami takut kalian kecanduan main game lupa belajar. Ayok kembalikan pada papi!"
Azzam dan Afifa kontan lesu. Bunga yang baru bermekaran layu seketika. Rasa bahagia hanya terpancar sesaat bak kilat sekali menyambar. Sepintas lalu hilang.
Alvan dapat rasakan suasana duka di dalam ruang Afifa. Alvan tak tega saksikan kedua anak yang baru pertama kali dapat barang mewah sedikit sudah dipatahkan Citra. Citra seperti pembunuh berdarah dingin tak punya rasa empati. Alvan geram sekali lihat sikap diktator Citra pada kedua buah hatinya.
"Citra...anak-anak butuh refreshing otak. Kamu suruh belajar tiap hari yang ada bosan. Aku tahu niatmu baik cuma adalah sedikit toleransi pada anak kita. Mereka sudah janji sehari hanya main satu jam. Kamu kan bisa kontrol mereka." Alvan tampil sebagai pahlawan bagi kedua kurcacinya. Azzam dan Afifa angguk setuju pada kalimat Alvan. Mereka sudah janji pasti akan tepati. Didikan Citra tak pernah ingkar janji.
"Kalian yakin cuma satu jam?" Citra menyipitkan mata menagih kepastian janji. Citra tidak kuatir pada Afifa. Justru kendala pada Azzam. Rasa ingin tahu Azzam akan buat anak itu tak berhenti mencoba.
"Koko janji tapi hari Minggu minta tambah satu ronde. Minggu dua jam. Selebihnya hp sama mami. Koko akan tepati janji. I swear!" Azzam angkat jari hendak ikrarkan janji.
"Amei juga. Cuma malam Amei harus video call sama Cece pakai tab Amei. Ngak mau pakai hp mami lagi. Punya Amei gede bisa lihat Cece lebih jelas." Afifa ikutan tuang isi hati.
Citra tak berdaya kalah set dari kedua anak pintar itu. Semoga kedua anak itu tepati janji tak tenggelam dalam permainan game. Pelajaran sekolah bisa tertinggal bila asyik fokus pada game. Citra tak harap kedua anaknya tertinggal mata pelajaran gara permainan tak penting.
"Baiklah! Mami pegang janji kalian." Citra mengalah dapat sambutan hangat dari kedua anak Alvan. Alvan turut senang kedua anaknya dapat sedikit kebebasan. Senyum Alvan berkembang disusul senyum manis hiasi wajah kedua bocah cilik itu. Alvan tak berani bayangkan kekecewaan dua anak itu bila ponselnya ditarik Citra.
Alvan takut Afifa kecewa bisa memicu naiknya suhu badan. Rasa aman bahagia mampu stabilkan kesehatan seseorang. Kalau Afifa kehilangan mainan baru dia miliki takutnya bisa bikin anak itu ambruk.
"Terima kasih mami!" Azzam berlari memeluk Citra sebagai ungkapan tanda terima kasih.
"Amei juga mau dipeluk." teriak Afifa cemburu Azzam dapat pelukan mami. Citra tersenyum membawa Azzam serta memeluk Afifa. Selang infus tak halangi Afifa berpelukan kayak boneka Teletubbies. Afifa lincah melingkarkan tangan ke pinggang Citra.
Alvan terharu ikut bahagia. Kebahagiaan kecil keluarga yang pernah dia campakkan sungguh bawa makna sangat mendalam. Tak bicara soal materi ataupun segunung emas. Hanya segumpal kasih tulus bersarang dalam sanubari.
"Papi boleh ikut pelukan?" tanya Alvan curi kesempatan.
__ADS_1
"Ayok ikut Pi! Peluk mami biar kita sama-sama. Selamanya bersama." ajak Afifa semangat.