ISTERI CEO YANG TERLUPAKAN

ISTERI CEO YANG TERLUPAKAN
Taring Azzam


__ADS_3

Cara Alvan menyenangkan anak pakai materi. Orang kaya terbiasa gunakan materi sebagai langkah menyelesaikan segala masalah. Bukan dengan hati nurani. Alvan mengira banjiri anaknya dengan limpahan barang mahal anak-anak itu akan takluk padanya. Alvan lupa ada Azzam yang pikirannya lebih panjang dari gerbong kereta api. Azzam tidak makan sogokan materi karena hati Azzam mementingkan kebahagiaan Citra dan Afifa.


Azzam dan Afifa akhirnya muncul. Afifa berseri-seri jumpa Alvan, bedanya Azzam. Lajang itu pasang muka seram tanpa ekspresi. Kedua tangannya berlipat di dada menatap Alvan meremehkan laki itu.


Alvan rasakan suasana horor dapat sambutan tak ramah. Azzam memang beda dengan Afifa. Sok cool tak ada hormatnya pada Alvan. Kehadiran Alvan bagai tak ada arti bagi Azzam.


"Papi beli boneka untuk Afifa dan laptop mini untuk Azzam. Silahkan ambil!" Alvan menunjuk kotak-kotak di atas meja.


Afifa bergerak maju memeriksa hadiah dari Alvan. Gadis kecil ini bersuka cita diberi hadiah sangat mahal. Citra tak pernah beli mainan mahal karena keterbatasan dana. Afifa cuma pernah dapat boneka beruang yang diberi nama Siau Siong. Itu pun hadiah tahun lalu.


Afifa sibuk buka kotak dibantu Andi. Sebentar-sebentar keluar suara kagum dari mulut Afifa. Sekali-kali terdengar sorak riang bangga pada pilihan Alvan. Afifa tenggelam dalam euforia boneka Barbie.


Beda dengan Azzam. Anak itu tak beranjak dari tempat semula tidak tertarik pada hadiah dari Alvan. Mata Azzam hanya perhatikan kegembiraan Afifa. Ekspresi Azzam tetap datar ntah memikirkan apa. Gayanya mirip Kakek Wira sedang kesal. Alvan tak sangka sifat kakek Wira menurun pada Azzam. Keduanya sama-sama kurang senang pada Alvan. Topik amarah mereka satu arah yakni Karin. Dulu kakek marah karena Alvan menolak Citra demi Karin. Sekarang kisah itu kembali terulang. Azzam marah juga karena Karin. Nasib Alvan emang apes. Tak bisa keluar dari lingkaran Karin si pembuat onar.


Alvan menelan air ludah basahi kerongkongan sebelum ngobrol dengan Azzam. Terdengar lucu ada bapak segan sama anak sendiri. Parahnya anak itu masih kecil. Di mana harga Alvan? Seorang pemimpin perusahaan besar kalah pamor dibanding anak kecil.


"Zam...tak suka hadiah dari papi?" tanya Alvan hati-hati takut terpeleset diserang Azzam.


"Koko tak butuh itu. Bawa pulang saja Om! Mana tahu anak Om perlu. Kami di sini tak kekurangan apapun."


Sudah Alvan duga bakal datang pukulan telak. Terlalu telak tepat menghujam di hati.


"Anak papi kalian. Mana ada anak lain. Kenapa Azzam berpikiran papi ada anak lain?"


"Dalam rumah tangga tetap ada kelahiran. Tak usah berkelit. Aku sudah dewasa bisa berpikir logika. Kehadiran Om merusak kebahagiaan kami. Sejak Om muncul mami aku sering melamun. Kami kehilangan mami kami yang ceria. Jadi kumohon om tak usah datang lagi!"


"Azzam...aku ini papi kalian! Aku berhak menjaga kalian bahkan bawa kalian pulang ke rumah papi. Hormati orang tua! Apa mami kalian tak ajar bagaimana jadi anak Soleh?"


"Mami tak pernah didik kami jadi anak nakal. Aku hormati orang tua selama orang tua bisa jaga kehormatan. Koko hormat banget sama mami karena beliau setia pada kami. Tidak pernah berpaling dari kami." ujar Azzam makin seram.


Avan goyang kepala pusing hadapi Azzam. Alvan tak ingin gunakan cara kekerasan menekan Azzam untuk akui dia. Bukan mendekat, takutnya makin jauh.


"Baik...sekarang Azzam bilang sama papi bagaimana caranya supaya Azzam tidak benci papi! Kasih tahu papi."


"Koko tak pernah benci om cuma tak suka om berada di lingkungan kami. Biarkan kami bahagia dengan cara kami! Om boleh datang sekali-kali lihat Afifa. Aku tahu dia sayang pada om. Tapi jangan sering dan jangan bawa hadiah lagi! Kami bukan tikus pengerat harta."


Dada Alvan bagai dihantam godam berskala raksasa. Remuk sampai ke seluruh organ tubuh. Kalau bukan ingat ada Afifa di situ Alvan ingin beri peringatan pada Azzam agar terlalu lancang hakimi bapak sendiri. Terlepas dari masa lalu Alvan tetap bapak kandung mereka.


"Azzam kenapa omong gitu? Papi datang dengan niat baik. Dulu papi tak tahu mami kalian hamil. Sekarang sudah tahu ada kalian maka papi datang ingin berkumpul dengan kalian. Beri papi waktu buktikan papi tulus pada kalian."


"Kutunggu waktu itu." Azzam melengos tinggalkan ruang tamu yang sempit. Hadiah Alvan tak dianggap sama sekali. Benar-benar anak bermental baja. Keras kepala tak bisa disogok kayak Afifa.


Alvan duduk lemas tak mendapat respon positif dari Azzam. Sia-sia Alvan putar otak cari hadiah bagus untuk Azzam. Sebagus apa pun tak dapat memancing perhatian Azzam. Gagal misi Alvan curi perhatian Azzam. Gatot alias gagal total.


Afifa dan Andi sibuk pasang pernak pernik boneka Barbie tak terusik debatan Alvan dan Azzam. Afifa tetap Afifa anak kecil sibuk dengan dunia seharusnya. Beda dengan Azzam melangkah jauh dari dunia anak-anak. Keadaan memaksa Azzam tampil sebagai pahlawan melindungi keluarga dari berbagai ancaman. Azzam cukup mengerti perasaan Citra besar kan tiga anak kembar seorang diri. Siapa tidak terharu lihat bagaimana perjuangan Citra bisa capai hari ini. Citra merangkak perlahan naik sampai ke puncak tangga. Citra sudah di atas tak perlu bantuan orang lain meniti ulang naik tangga. Perjuangan Citra sudah maksimal. Kini cukup bertahan agar tetap berada di puncak tangga. Jangan sampai terjungkal terjun bebas jatuh ke bawah.

__ADS_1


Citra pulang membawa banyak belanjaan. Hari ini Citra sengaja luangkan waktu pergi berbelanja kebutuhan sehari-hari. Kulkas kosong sejak Afifa masuk rumah sakit. Citra tak ada waktu pergi belanja sibuk urus anak yang sakit. Pas hari Minggu Citra gunakan waktu mencukupi belanjaan selama seminggu.


Citra tidak terkejut lihat Alvan berada di rumahnya. Sudah Citra duga laki itu pasti datang. Ntah sekedar basa basi ataupun memang tulus ingin jenguk anak-anak. Citra tidak menyapa Alvan walau laki itu menatapnya dalam-dalam.


Andi cekatan bantu bawa belanjaan ke dapur. Andi sudah biasa keliaran di rumah Citra tidak asing dengan seluk beluk rumah Citra. Laki feminim ini segera turun tangan bantu Citra susun belanjaan di kulkas. Pekerjaan tak asing buat Andi.


Citra tak menemukan minuman disuguhkan pada Alvan. Citra berinsiatif bikin kopi dengan sedikit cream untuk Alvan. Dulu Alvan suka sekali kopi buatan Citra tanpa gula. Cukup ditambah sedikit cream penyedap rasa.


Harum kopi memenuhi dapur mini Citra. Baunya membuat Andi memutar kepala cari tahu mengapa kopi seduhan Citra bisa sewangi gini.


"Wah... harum...kopi cinta ya!" gurau Andi mendapat hadiah delikan mata Citra.


"Cinta berbau sianida. Koko mana?" tanya Citra tak lihat Azzam.


"Pak dosen kita baru ngasih kuliah! Sudah kabur ke kamar."


Citra menghela nafas. Azzam masih belum berdamai dengan Alvan. Anak itu terlalu teguh pertahankan prinsip tak suka orang ingkar janji. Alvan telah lewatkan janji perdana jenguk anak-anak tadi malam. Citra bisa maklumi keadaan Alvan. Beda dengan Azzam anggap Alvan pendusta ulung.


"Koko..." desis Citra menyesali sifat keras Azzam. Buah jatuh tak jauh dari pohon. Sifat Azzam persis sifat Alvan keras kepala. Alvan sudah petik buah rasakan betapa pahit buah yang jatuh dari batangnya.


Citra membawa nampan berisi kopi ke ruang tamu. Alvan termangu mengingat sambutan tak ramah Azzam. Begini terus Alvan makin tersingkir dari Citra.


"Minum pak!" Citra meletakkan kopi persis di depan Alvan. Citra duduk di seberang Alvan perhatikan air muka Alvan keruh butek. Siapa lagi mampu buat laki itu kesal kalau bukan Azzam.


"Terima kasih."


"Positif HIV....aku bisa apa lagi?" keluh Alvan patah arang.


"Pak... HIV memang belum ada obat tapi kak Karin bisa hidup normal bila ikuti aturan pengobatan. Jangan kucilkan dia!" pinta Citra bijaksana sebagai seorang dokter.


Citra tak salahkan Alvan kaget Karin idap virus HIV. Manusia awam pasti takut berdekatan dengan pembawa virus mematikan itu. Padahal HIV tidak gampang menular bila dijaga benar.


"Aku masih ingin lihat anak-anak tumbuh dewasa! Aku tak mau ambil resiko tertular."


Citra tertawa mengejek nyali Alvan cuma segede biji beras. Dulu bak super Hero matian lindungi Karin. Karin kena masalah langsung ambil langkah mundur. Masih bisakah Alvan disebut cowok tulen.


"Pak...sudah berkali kubilang HIV tidak gampang berpindah. Dia bisa hidup normal. Kalian juga bisa berhubungan intim asal pakai pengaman. Tak ada yang berubah asal kalian pandai jaga diri. Kalau kak Karin terluka jangan sentuh kalau kalian juga terluka. Itu akan cepat menular. Kalau sekedar ciuman Kujamin tidak tertular." Citra terangkan secara ilmu medis.


Alvan menggeleng tak setuju omongan Citra. HIV momok semua orang. Dengar kata Aids dan HIV saja orang ambil langkah seribu. Apalagi Karin positif HIV. Itu real tak terbantahkan. Alvan belum gila masuk kubangan sarang penyakit.


"No...aku sudah bilang pada Karin akan tinggal pisah dengannya. Aku tak peduli apa maunya."


"Pak...ingat perjuangan kalian puluhan tahun! Semua orang pernah bersalah, memaafkan adalah perbuatan mulia. Bapak juga harus dapatkan kemuliaan itu."


"Lalu kau tak mau kemuliaan itu?" ejek Alvan balik serang Citra. Alvan merasa berhak dapat kata maaf dari Citra. Alvan pernah bersalah besar pada keluarganya, memohon maaf bukanlah dosa.

__ADS_1


"Untuk maaf dari masa lalu? Lupakan semuanya! Itu takkan terulang lagi. Aku sudah move on. Kini aku hidup tenang bersama anak-anak. Tinggal bimbing mereka mencari jati diri. Itu sudah memuaskan hati."


"Aku takkan menyerah Citra! Aku janji akan bawa kalian kembali ke tempat semestinya."


"Cobalah! Aku masak dulu ya! Mau numpang makan?" Citra bangkit bermaksud ke dapur meracik makan siang.


"Kalau diijinkan. Aku rindu masakanmu!"


"Rindu kadaluarsa." sungut Citra beranjak masuk ke dapur.


Di dapur Andi masih menyusun belanjaan di kulkas. Laki itu menyusun seperti menyusun barang mahal. Satu persatu bahan tertata rapi sesuai tempat. Buka kulkas mata melihat tataan penata profesional. Ini salah satu kelebihan Andi. Orangnya rapi mirip perempuan. Pencinta kebersihan dan kerapian. Citra tidak pusing bersihkan rumah bila ada Andi. Laki itu ringan tangan.


"Masak apa kita mbak?" tanya Andi tak beranjak dari depan kulkas.


"Emang Andi mau masak apa?"


"Kita masak soto ayam yok! Aku pingin tapi ibu selalu bilang repot masak soto. Kerjanya banyak."


"Ok...soto ayam. Kamu keluarkan ayam, kentang dan tahu! Andi bikin perkedel, mbak urus sotonya. Untung mbak beli bahannya."


Andi terkekeh senang Citra baik hati penuhi seleranya. Modal bikin soto lumayan besar. Mereka bukan orang kaya bisa makan besar tiap hari. Makan ala kadar sudah syukur.


"Andi lihat ada bahan bikin soto maka Andi minta dimasakin."


"Dasar kamu! Ayok mulai! Nanti telat. Koko bernyanyi lapar pula."


"Hhuuu anak itu kapan tidak lapar? Perut karet."


"Coba kalau tadi beli tauge! Pasti lebih enak."


"Ala kadar saja mbak! Yang penting soto ayam. Andi kupas kentang dulu! Oya..mbak bantu Andi ketik surat lamaran kerja ya,! Besok harus bawa ke kantor Pak Alvan! Andi akan kerja di kantor. Bisa bantu keluarga. Mbak Nadine tidak perlu matian banting tulang hidupi kami. Biarlah aku jadi tulang punggung sesungguhnya."


"Nah itu baru adik mbak! Mbak nasehati kamu jangan bawa gaya norak ke kantor. Di sana saingan banyak. Tidak semua orang suka lihat kita maju. Kau harus rajin dan jujur agar dapat penghargaan dari bos. Jangan pikir bos kamu papi Afifa kamu bisa seenak perut! Di rumah dan di kantor ada dinding pemisah. Di rumah kau adalah adik bagi papi Afifa tapi di kantor kau adalah karyawan. Ingat itu!"


"Iya nyonya Alvan!" olok Andi ingatkan status sesungguhnya Citra.


"Awas lidahmu keseleo nanti! Mau mbak pindahkan ke punggung?" sumpah mati Citra tidak suka panggilan mengerikan itu. Menjadi nyonya Alvan merupakan mimpi buruk kepanjangan bagi Citra. Citra menolak panggilan itu.


Andi tertawa kecil Citra hendak kaburkan status aslinya. Andi tak salah gunakan panggilan nyonya Alvan. Dalam kartu keluarga nama Citra masih isteri Alvan. Cuma nama para kurcaci belum terdaftar di KK. Andi yakin tak lama lagi Alvan pasti tuntut anak-anak dimasukkan dalam daftar kartu keluarga. Siapa tidak kepincut pada anak-anak mirip boneka India.


"Tak baik menolak rezeki mbak! Mbak kan emang bini pak Alvan! Andi lihat pak Alvan orangnya baik. Sayang pada anak-anak. Dia berusaha mencari perhatian Koko. Cuma koko kita yang sombong. Tuh dibawakan hadiah tak dianggap." lapor Andi iba pada Alvan dicueki Azzam.


Citra ngerti perasaan Azzam tak mau terima hadiah Alvan. Anaknya mau tunjukkan dia anak kuat tak gampang disogok oleh hadiah sebagus apapun.


"Koko hanya pertahankan areanya jangan diusik! Kita tak usah ikut campur urusan anak bapak itu. Biarkan semua mengalir seperti air! Ayok kita mulai." Citra sudahi obrolan menyangkut nama Alvan.

__ADS_1


Alvan adalah bapak anak-anak. Citra tak bisa ingkar hubungan darah mereka. Cuma Citra kapok jadi bagian dari Alvan. Apa lagi masih ada Karin di antara mereka. Sampai kapanpun hubungan mereka takkan berhasil.


__ADS_2