
Tina dan Indah capek berpikir apa kelebihan Citra. Rasanya biasa saja di mata mereka, cuma sayang di mata dua lelaki kaya itu beda. Di pelupuk mata kedua orang kaya itu sosok Citra wanita luar biasa. Sorot mata Citra mampu menyihir para pejantan tunduk tak berkutik. Terbukti di daerah pengungsian terdapat tiga sosok lelaki jantan menitip hati pada Citra.
Citra sendiri belum menentukan siapa bakal jadi imam di keluarga kecilnya. Pilih satu atau tidak sama sekali.
"Cit...yang mana bapak anak-anak kamu?" bisik Melati kecil takut terdengar Alvan. Alvan duduk di samping Citra mudah menangkap bisikan Melati walau sehalus jarum.
"Menurutmu?"
"Laki di sampingmu!"
Citra tidak menjawab cuma beri jempol pada Melati berarti tebakan Melati jitu. Insting Melati patut dipuji. Sekilas mata tahu yang mana bapak dari anak-anaknya.
Melati tertawa pahit tak sangka dokter yang dia anggap wanita sederhana punya backing maha dahsyat. Kehadiran dua pesohor kaya itu ternyata untuk menjaga wanita pujaan mereka.
"Hebat kau..." puji Melati iri. Itulah penyakit wanita. Melihat teman sendiri digandrungi para pejantan kaya terselip rasa iri.
"Terima kasih." Citra menanggapi pujian Melati sebagai ejekan. Citra tidak merasa lebih dari wanita manapun. Banyak kekurangan melekat di tubuhnya. Citra hanya wanita biasa punya perasaan nyaris sama dengan yang lain. Citra hanya mengajar diri sendiri untuk lebih kuat demi anak-anak yang beranjak dewasa.
Acara sarapan berlangsung cepat karena heli Heru harus segera pergi agar heli Alvan bisa turun. Heru harus duluan take off baru Alvan bisa menyusul.
Pak Hasan selaku kades tak henti-hentinya bersyukur telah terbantu oleh kehadiran kelompok Citra. Kini Citra cs mendadak harus pergi karena misi mereka telah tuntas. Pihak Pemda telah mengambil alih tugas mereka.
Pak Hasan secara resmi mengucapkan terima kasih pada Citra dkk serta Heru dan Alvan selaku donatur desa. Pak Hasan berdiri di tengah tenda di damping petugas dari Pemda mengeluarkan sepatah dua patah kata sebagai ungkapan terima kasih pada mereka yang tulus pada warga desa.
"Assalamualaikum...saya selaku kades desa ini mengucapakan ribuan terima kasih pada pengabdian para dokter selama berada di desa ini. Jasa dan Budi kalian takkan kami lupakan! Tak lupa kami haturkan terima kasih sebesar-besarnya pada dua donatur kita pak Heru dan pak Alvan. Bantuan bapak-bapak adalah harapan bagi kami. Sekarang desa sudah ada air bersih berkat bantuan pak Heru. Kita tak perlu mengambil air bersih dari desa seberang. Semoga bapak-bapak dan para medis tidak melupakan kami dan akan berkunjung ke tempat kami sebagai tamu terhormat. Akhir kata tetap kusematkan kata terima kasih. Wassalam."
Tepuk tangan bergema menyambut akhir pidato singkat Pak Hasan. Kalimat Pak Hasan sederhana namun ke pokok tujuan. Tidak bertele-tele bikin otak orang mumet mendengarnya.
Heru tahu saatnya dia berangkat karena hari makin panas. Tak ada alasan bagi Heru bertahan di situ karena untuk sementara Citra berada di bawah cengkraman Alvan. Heru harus pintar siasati agar Citra terlepas dari Alvan. Mundur dulu untuk menang.
"Aku Heru Perkasa mohon pamit. Kalau selama aku di sini ada salah kata maupun perbuatan mohon maaf! Ada yang mau ikut denganku?" tawar Heru berharap Citra bersedia dia kawal sampai ke kota. Harapan itu kecil namun tetap semangat berharap. Jangan kendor walau benteng tebal telah mengurung Citra.
"Mungkin kelompok dokter Melati bisa ikut Pak Heru! Kita berbagi penumpang agar terangkut semua." usul Citra cepat. Kalau harap Melati yang omong sampai sore hari belum tentu dia bisa keluar dari daerah bencana ini.
"Ok...kuberi waktu setengah jam. Bersiap di landasan."
Tina dan Indah kaget tak menyangka Heru akan pergi dari desa. Mereka mengira Heru akan berada di situ sampai baksos selesai. Nyatanya Heru pulang pagi ini. Harapan menggoda Heru makin jauh. Mengharap Heru kembali sama saja menunggu intan berlian jatuh dari langit.
"Aku Alvan juga pamit. Aku janji tetap akan perhatikan desa ini. Bantuan akan tetap kukirim sampai masa tanggap darurat berakhir." Alvan menyusul Heru beri kata-kata perpisahan.
Tina dan Indah merasa dunia ini berubah jadi bongkahan es batu. Dingin mencekam tanpa ada aura kehidupan. Baru saja Heru pamitan kini mangsa kedua juga pamit. Apa yang telah terjadi?
__ADS_1
Alvan menggenggam tangan Citra tanpa malu-malu berlalu dari tenda. Pak Hasan yang telah tahu hubungan kedua orang itu hanya tersenyum bahagia. Pasangan serasi yang berhati emas. Pasangan serasi versi pak Hasan. Secara kasat mata tak ada keserasian antara Alvan dan Citra. Satu besar dan satunya lagi kayak anak kecil. Dipaksa serasi ya serasi.
Tina mencibiri Citra yang dia anggap memalukan. Berbakti ke desa untuk menggoda pengusaha kaya.
"Hhuuu...dasar *****!" omel Tina kasar.
Pak Hasan mendengar omelan Tina dengan rasa tak suka. Apa hak Tina menjelekkan Citra yang jelas wanita berkelas. Beberapa hari di pengungsian Citra berkelakuan sopan tidak menunjukkan sifat buruk. Dari mana julukan kotor Tina pada Citra.
"Bu dokter...pak Alvan itu suami dokter Citra! Beliau datang ke sini untuk menjaga isterinya. Ada yang salah?" serang pak Hasan bukan tak tahu niat Tina dan Indah. Orang buta pun punya feeling tujuan para dokter kabupaten datang bertugas. Kalau bukan dengar dua kumbang kaya di situ sampai mati keduanya takkan datang berbakti di situ.
"Apa??? Dokter Citra isteri pak Alvan? Bagaimana mungkin orang sekaya pak Alvan punya bini kayak orang kampung?" seru Tina tak terima fakta Citra bukan sembarang dokter. Mana mungkin isteri orang kaya bersedia baksos di desa terisolasi. Cerita karangan apa?
"Itulah dokter Citra! Punya suami kaya raya tapi dia bersedia membantu dengan tulus. Kita harus makin hormat padanya. Citra kaya harta dan kaya hati." Pak Hasan makin bela Citra untuk menyudutkan dokter penuh trik nakal itu.
Tina dan Indah tergugu. Kata-kata pak Hasan seperti cambuk melecut seluruh tubuh kedua dokter kabupaten itu. Seharusnya kedua dokter itu malu ditelanjangi pak kades. Mereka datang berbakti dengan rencana busuk. Siapa sangka dalam sekejab mata rencana itu berantakan. Bukan dapat ikan kelas kakap malah dapat gumpalan lumpur.
"Apa hebatnya jadi isteri pak Alvan? Paling isteri simpanan tak bisa dipertunjukkan ke umum." timpal Indah mengecilkan nilai Citra.
"Apa ini bukan tempat umum? Pak Alvan terangan menggandeng dokter Citra. Ini menunjukkan pak Alvan akui Citra itu isterinya." Daniel bangkit meninggalkan meja sarapan jengkel Citra dianggap rendahan. Daniel mengenal Citra lebih dari sepuluh tahun. Citra wanita model apa dia tahu betul.
Tina dan Indah saling berpandangan. Muncul pula cowok lumayan menarik membela Citra. Seberapa hebat Citra sampai semua laki membelanya. Berapa harga jual Citra sampai dapat penghargaan luar biasa.
Daniel segera bergabung dengan Alvan untuk angkat kaki dari daerah yang semula nyaman dikunjungi. Hadir orang dengan rencana busuk menebar bau polusi menyebabkan orang angkat kaki.
Satu persatu relawan medis tinggalkan pengungsian untuk kembali pada kehidupan nyata mereka. Pulang ke rumah berkumpul dengan keluarga itu yang paling utama. Alvan tentu saja bahagia Citra pulang ke rumahnya. Untuk menemui Citra tak perlu harus seberangi lautan. Cukup ikuti rute aspal hitam.
Singkatnya Alvan berhasil membawa Citra balik ke rumah dengan selamat. Alvan dengan gesit mengantar Citra pulang agar Heru tak ada kesempatan tebar pesona di hadapan Citra. Dilihat dari kegigihan Heru mengejar Citra bukan tidak mungkin Alvan terhapus dari bikin harian Citra.
Masih Untung Alvan punya kartu as menaklukkan Citra yakni bocil-bocil yang terlahir dari rahim Citra. Bocil-bocil itu membawa gen Alvan jadi Citra tak bisa mengelak kenyataan Alvan memang papi anak-anak. Alvan bisa gunakan anak-anak sebagai senjata untuk bertahan di sisi Citra.
Azzam dan Afifa senang bukan main jumpa dengan kedua orang tua mereka. Afifa meloncat ke pelukan Citra mengurai rasa rindu yang menyesak dalam dada. Azzam lebih dewasa hanya menyalami Citra dan Alvan. Reaksi Azzam tenang menghanyutkan. Gaya Azzam tak ubah anak remaja paham kata malu.
Afifa tak henti mencium pipi Citra ungkap betapa rindu dia pada Citra. Mata si cantik kecil itu berbinar-binar ingin katakan betapa bahagia dia jumpa Citra.
Citra membawa anak-anak masuk ke dalam rumah diiringi Alvan dari belakang. Tokcer ikut masuk membawa tas Citra dan Alvan. Tokcer makin rapi setelah berpakaian lebih necis. Sisa sosok preman luntur sudah dari profil Tokcer. Cowok muda itu tampak klimis bersih.
Bonar berada di luar pagar tidak berani masuk sebelum ada perintah dari komandan. Posisi Bonar belum jelas di kantor maka Bonar belum yakin dekati keluarga calon bos.
Tokcer menemui Bonar di luar setelah meletakkan bekal Citra di dalam rumah. Tugas hari ini berjalan sukses tanpa ada kesalahan. Tokcer tepat waktu jemput Alvan dan Citra di parkiran helikopter. Lalu mereka antar Daniel balik ke cafe baru pulang ke rumah Citra. Rute panjang hari ini berjalan aman sentosa.
Bonar menatap iri pada Tokcer yang mendadak naik daun jadi supir kesayangan Azzam. Andai dia berada di posisi Tokcer hidupnya akan lebih terjamin.
__ADS_1
Tokcer merangkul Bonar dari samping senang jumpa temannya pulang dengan selamat. Tokcer tak tahu Bonar sedang berduka tidak dapat keterangan pasti tentang kerjanya. Hanya disuruh temani Alvan belum tentu direkrut secara resmi.
Tokcer mencolek pipi kasar Bonar memancing tawa Bonar yang biasa meledak kayak petasan bocor.
"Woi...kok mendung?"
"Lhu sih enak! Punya jabatan keren. Gue??? Jadi gantungan kunci pak Alvan."
"Duh yang sewot! Andi takkan biarkan lhu merana. Gue yakin dia akan atur tempat untuk lhu! Sekarang posisi Andi keren lho! Tangan kanan bos! Siapa tahu lhu jadi tangan kiri bos."
"Ogah tangan kiri..." Bonar merengut.
"Lha...tangan kiri apa salahnya?"
"Buat basuh siap buang air besar." wajah si Batak makin hitam diminta jadi tangan kiri. Pikirannya mengarah ke arah lain padahal maksud Tokcer hanya berguyon.
"Hahaha...sewot banget lhu! Percayalah sama gue! Andi pasti akan bantu lhu! Cuma lhu jangan bawa gaya pasar ke kantor. Di sana orang berbicara sopan dan halus. Tak ada jeritan kayak kambing kejepit pagar. Jangan permalukan Andi ya!"
"Lhu yakin?"
"Yakin...kalau Andi berani ajak lhu pasti dengan perhitungan matang. Walau tubuhnya lunak tapi otaknya tajam. Bos sayang banget padanya. Yok kita duduk di teras! Sini panas!"
Bonar melirik ke dalam rumah yang pintunya masih terbuka. Bonar tahu diri segan masuk ke rumah Citra tanpa ijin empunya. Dia memang kawan dengan Azzam tapi bukan berarti boleh berbuat sesuka hati.
"Apa Kak Citra tidak marah kita masuk ke halaman rumahnya? Kau kan tahu dia tidak terima tamu cowok."
"Itu ada pak Alvan! Pak Alvan kan suami kak Citra jadi tak masalah toh kita masuk selagi ada suaminya. Kita harus yakin kalau kita bukan preman tak tahu sopan santun. Tampang boleh preman tapi hati harus ustadz." Tokcer urai panjang lebar sok alim.
"Bisa aja lhu! Kalau dikemplang pake palang pintu lhu tanggung jawab ya!"
Tokcer menepuk dada sok tahu. Citra bukan orang barbar mana mungkin main kemplang. Akhirnya kedua beranikan diri berteduh di teras rumah Citra hindari sinar ultra violet matahari. Tokcer harus pandai merawat diri agar jangan tampak kusam di antara pegawai kinclong. Pegawai kantor Alvan rata-rata bersih berpakaian rapi. Baik cewek atau cowok berpenampilan menarik.
Tokcer tak kalah mulai jaga penampilan biar tidak kalah fashion. Semalam dia dan Andi berbelanja lumayan banyak sampai duit nyaris kandas. Dari baju, celana hingga sepatu diborong demi menunjang penampilan agar tidak malu-maluin pak Alvan.
Andi lebih parah, cowok itu borong underwear model terbaru untuk cowok. Andi tidak tanggung habiskan uang untuk mendongkrak pamor. Tokcer masih ada pertimbangan sisakan sedikit untuk uang belanja ibunya. Kalau dihabiskan lauknya pasti sayur rebus dan goreng tempe. Dari mana gizi kalau lauknya tak pernah ganti.
Tokcer dan Bonar mengaso di teras Citra menanti perintah selanjutnya. Kedua anak muda berharap ada perintah biar tampak keren punya tugas seabrek.
Lama menanti tak ada perkembangan. Dari dalam rumah juga tak ada suara bising. Apa seisi rumah tertidur siang?
Bonar memanjangkan leher mengintip ke dalam lihat ke mana penghuni rumah. Di ruang tamu tak ada orang. Sunyi sepi.
__ADS_1
"Ssssttt...lagi bobok siang kali!" bisik Bonar kepada Tokcer yang mulai terkantuk di kursi rotan Azzam.
"Jangan berisik! Mereka majikan. Mau ngapain ya terserah! Oya Bo! Andi ada beliin lhu baju dan gue beli celana. Sepatu lhu kami patungan! Barangnya ada di rumah Andi. Lhu jangan keceplosan panggil tuh orang dengan sebutan Ance! Kujamin lhu bakal dihukum pancung ma tuh orang!"